bataraily

Sakit

Sore tadi setelah selesai mengerjakan tugas kuliah kami di perpustakaan kampus, Raja mengajakku pergi ke Margo City untuk menemaninya membeli barang yang ia cari. Lalu kami berdua berniat untuk makan malam karena ternyata saat selesai, jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Namun batal saat Raja sadar bahwa aku sedari tadi merasa pusing.

Iya, memang dari tadi malam, keplaku terasa berat. Seperti ada batu beton yang menghantam kepalaku.

Setelah membeli obat dan makanan yang dibungkus, Raja membawaku ke apartemen milik Bara, salah satu temannya, anak teknik sipil. Sebenarnya aku bisa saja pulang ke kosan dan beristirahat sendiri tetapi Raja menolak untuk meninggalkanku sendirian. Ia khawatir nanti aku pingsan atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kebetulan juga teman-teman satu kosku banyak yang sedang pulang ke rumah mereka atau tidak pulang hari in sehingga tidak ada yang bisa dititipkan kalo kata Raja.

“Ini minum obatnya, kan udah makan. Tadi aku nanya omku yang dokter, katanya disuruh minum itu,” ucap Raja sambil memberi satu tablet obat dan menaruh secangkir air putih di hadapanku.

Aku segera meminumnya sambil melihat Raja yang sedang duduk di sampingku dengan tatapan khawatir, “Raja aku ga kenapa-napa. Palingan flu sama kecapean aja,” ucapku sambil meletakkan cangkir tersebut di meja dan menyenderkan tubuhku di sofa.

“Beneran gak mau ke dokter?”

Aku menggeleng pelan. Sebenarnya aku sering merasakan pusing seperti ini kalau sedang capek atau kurang istirahat sehingga aku sudah terbiasa dan merasa tidak perlu ke dokter lagi. Namun ini kali pertama aku sakit dengan menyandang gelar sebagai pacar seorang Raja Syailendra. Rasanya jauh lebih pusing dari sebelumnya karena Raja daritadi cerewet banget. Setiap 5 detik dia akan menanyakan keadaanku atau sekadar mengecek suhu tubuhku. Sebenarnya suka sih, jadi ada yang khawatirin.

“Terus harus gimana dong?” tanya Raja lagi dengan tangannya yang menempel di dahiku, mengecek apakah badanku mulai panas.

“Emang gak bisa pulang aja ya?”

Raja menggeleng cepat, “gak bisa.”

“Tapi aku ga enak sama Bara.”

Iya, aku merasa tidak enak hati dengan Bara. Yang aku tahu, apartemen Bara ini sebenarnya dijadikan basecamp Bara, Raja dan teman-temannya yang lain untuk kumpul bareng. Orang tuanya memberikan apartemen ini untuk Bara kuliah tetapi ia menolak untuk tinggal di sini dan memilih untuk ngekos bersama Raja dan yang lainnya. Bara memberi akses kepada 6 temannya termasuk Raja untuk memakai apartemen ini. Namun ada peraturan tertulis bahwa ia tidak mengizinkan siapapun untuk membawa perempuan ke apartemennya.

“Aku tadi udah minta izin Bara. Udah aku jelasin juga alesannya, katanya gapapa asalkan aku ga ngapa-ngapain sama kamu,” ucap Raja.

“Iya siapa juga yang mau ngapa-ngapain sama kamu,” jawabku terkekeh. Sejujurnya kalau tertawa seperti ini, kepalaku tambah sakit.

Aku memegang kepalaku sambil menunduk, mengerang pelan.

“Pusing ya?”

Aku mengangguk pelan. Kepalaku terasa sangat berat. Sungguh aku hanya ingin merebahkan badanku di kasur.

“Tidur aja di kamar. Bersih kok, anak-anak jarang pake. Sering dirapihin juga,” ucap Raja sambil menuntunku ke kamar.

Raja memastikan bahwa aku mengistirahatkan tubuhku dengan nyaman sebelum akhirnya berjalan keluar.

“Raja mau kemana?” tanyaku.

“Mau keluar (?)” ucapnya sedikit bingung.

“Temenin di sini aja. Aku asing sama tempatnya, takut.”

Aku melihat raut wajah Raja yang sedikit ragu sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki untuk mendekat ke tempat tidur, “mau aku temenin gimana? Serius gapapa nih?”

Kalian harus liat ekspresi Raja sekarang. Lucu banget kalau lagi bingung seperti ini.

Aku terkekeh pelan, “ya gapapa lah? Emangnya kenapa? Kamu mau ngapa-ngapain aku?”

Ucapanku membuat kedua bola mata Raja membesar, “ENGGAK LAH! Aneh aneh aja ngomongnya!” sanggah dia, “engga enak aja. Kamu ngerti kan?”

Aku menganguk pelan sambil mengeratkan selimut ke badanku. Entah kenapa badanku agak kedinginan padahal aku tahu bahwa suhu tubuhku mulai naik.

Raja tadi sudah mengambil kursi meja rias dan menempatkan di sisi ranjang kiriku. Ia mempehatikanku yang mulai memejamkan mata. Sungguh aku ingin tidur tapi kalau kondisi badanku seperti ini, sepertinya akan susah untuk terlelap.

Setelah beberapa lama mencoba untuk tidur, aku membuka mataku lagi. Melihat apakah Raja masih ada di sini.

“Kenapa?” tanyanya. Sepertinya daritadi ia hanya bengong memperhatikanku yang mencoba untuk tidur tapi gagal.

“Gapapa, aku susah tidur.”

Tangan Raja lalu memegang dahiku, “mulai panas sedikit. Kalo ngerasa lemes banget kita ke rumah sakit ya?”

Aku hanya bisa mengangguk lemah lagi.

“Mau aku peluk biar kamu cepet tidur ga?”

Senyum kecilku merekah saat mendengar pertanyaan itu. Raja lucu. Dia membuang muka saat menanyakannya kepadaku.

Sekadar informasi, selama kurang lebih 10 bulan PDKT sama Raja dan 9 bulan berpacaran dengannya, kami memang jarang melakukan skinship. Itu wajar karena dulu kami pernah mengecek love language masing-masing dan skinship berada di urutan terbawah.

“MAUUU!” ucapku sedikit keras. Sengaja, aku mau membuat dia salah tingkah dan berhasil! Sekarang dia berjalan ke sisi ranjang di sebelah kananku sambil menggaruk tengkuk belakangnya yang aku yakin tidak gatal sama sekali.

Aku mengubah posisi berbaringku ke arah kanan agar bisa menghadap ke Raja yang sekarang sudah tiduran sambil menghadap ke arahku.

“Raja, maaf ya ngerepotin kamu. Harusnya tadi aku ga ke kampus aja. Kalo istirahat di kosan kan bisa aja ga separah ini,” ucapku sambil menatap kedua manik matanya.

Raja menghela napas pelan sambil mendekat kepadaku. Ia merentangkan tangannya untuk memelukku. Lengan kirinya ia jadikan sebagai bantal untukku.

Hangat.

Aku tahu bahwa pelukan Raja sangat hangat tetapi sekarang aku merasa pelukannya jauh lebih hangat dan nyaman. Bau parfume jo malone miliknya sangat menusuk indra penciumanku. Aku menenggelamkan wajahku di ceruk leher Raja. Menyembunyikan wajahku yang kepalang merah karena malu. Ini kali pertama kamu berpelukan seperti ini. Entahlah aku merasa semakin lemas sekarang.

“Jangan minta maaf sekarang. Minta maaf besok pagi pas tanganku mati rasa karena jadi bantal dadakan buat kamu,” ucap Raja sambil mengelus pelan kepalaku dengan tangan kanannya yang bebas.

Tubuhku refleks ingin mundur menjauhi Raja karena tersadar bahwa lebgan Raja sedikit pegal kalau berasa di posisi seperti ini terus. Namun Raja menahan pergerakanku dan mengeratkan pelukannya.

“Gapapa. Ga usah kaget gitu. Aku gapapa kok,” ucapnya.

Aku mendongakkan wajahku untuk melihat wajah Raja yang jaraknya sangat dekat. Memastikan bahwa ia benar-benar tidak apa-apa jika semalaman berada di posisi seperti ini.

Raja lucu. Sudah berapa kali aku bilang Raja lucu tapi dia memang lucu. Wajah khawatirnya membuat Raja semakin lucu di mataku. Ia sering mengerutkan hidung dan dahinya kalau sedang bingung atau khawatir. Lucu banget.

“Raja makasih ya udah mau nemenin aku yang lagi sakit gini,” ucapku sambil merapihkan rambutnya yang menutupi dahinya. Raja malah ikut-kutan memainkan rambut depanku yang sedikit kusut dan berantakan.

Kami terdiam cukup lama sambil memandang satu sama lain. Tangan Raja yang tadinya memainkan rambutku, kini ia letakkan di pipiku sambil sesekali ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya.

“Tau ga?”

“Ga tau.”

Aku terkekeh geli saat menjawabnya. Iya lah aku tidak tahu. Raja hanya bertanya seperti itu.

Raja memajukan wajahnya lebih dekat dan sejajar dengan wajahku. Ia tersenyum kecil, “kamu lagi sakit gini lucu. Mukanya merah, apalagi pipinya. Itu efek sakit atau efek dipeluk ya?”

Sial.

Kenapa Raja sadar…

Aku membuang wajahku, enggan menatapnya lagi tetapi tangan Raja yang berada dipipiku membuatku mau tidak mau kembali menatap wajah Raja.

“Cepet sembuh ya, sayang.”

Sebelum aku menjawab, Raja sudah lebih dulu mengecup bibirku singkat lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya.

Aduh… Raja… kenapa tingkahnya selalu benar-benar di luar dugaan…

Aku tahu Raja juga sedang salah tingkah. Sampai-sampai ia memelukku erat sambil meletakkan dagunya di atas kepalaku. Sungguh, sekarang aku juga malu dan hanya bisa menenggelamkan wajahku di dadanya.

Kalau seperti ini, kayaknya besok pagi aku malah demam karena sekarang suhu ruangan terasa panas.

“Tadi kamu nawarinnya cuma peluk, Ja. Kok malah ada bonusannya,” ucapku pelan.

“Obat biar cepet tidur.”

Mana bisa cepet tidur kalau obatnya kayak gitu, Raja…

KRL dan Ceritanya

Langit Kota Depok pada sore hari itu sedikit mendung tetapi kecil kemungkinan untuk turun hujan. Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Stasiun Pondok Cina pada sore itu mulai dipadati para pekerja dan mahasiswa yang hendak pulang.

“Hai kak,” sapa Nabila saat Raja sudah berdiri di depannya yang sedang duduk di kursi kayu panjang Stasiun Pondok Cina.

Lelaki itu berdiri dengan ransel hitam yang ia sampirkan di pundak kanannya dan tas tabung gambar berwarna hitam yang ia pegang. Raja membalas sapaan gadis di depannya itu dengan senyuman tipis, “boleh duduk di samping lo?”

“Boleh kakkk, nenek aku bukan yang punya stasiunnya kok. Ga usah izin juga gapapa,” ucap Nabila sambil terkekeh pelan.

“Lo belom jawab pertanyaan gue.”

Ucapan Raja membuyarkan lamunan Nabila. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menengok ke arah Raja, “pertanyaan yang mana kak?”

“Yang tadi di chat.”

“Oohhhh! Gapapa kok. Tadi gue nunggu kereta selanjutnya aja soalnya males kalo rame.”

Raja tau bahwa Nabila berbohong. KRL yang beberapa menit lalu meninggalkan Stasiun Pocin itu tidak ramai, tergolong lengang. Justru KRL yang selanjutnya kemungkinan besar akan padat karena sudah masuk jam pulang kerja.

“Emangnya lo mau ke mana?”

Pertanyaan itu membuat Nabila bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa, kini ia memalingkan wajahnya dari Raja lalu menjawab pertanyaan Raja dengan asal.

“Mau ke tebet.”

Raja menaikkan sebelah alisnya sambil memandang gadis berambut hitam kecoklatan di sampingnya tersebut dengan tatapan heran, “mau ke tebet tapi nunggunya di jalur 2.”

Nabila membulatkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya. ia baru sadar bahwa dirinya sekarang berada di jalur 2 yang mana jalur ini adalah jalur kereta menuju bogor, “hahaha oh iya salah! Tadi lupa,” ucap Nabila sambil meringis pelan. Setelah itu, ia segera beranjak dari duduk, “kalo gitu aku pindah jalur dul—“

Ucapan Nabila terputus saat Raja menarik pergelangan tangan kirinya pelan, menyuruh Nabila untuk duduk kembali di sampingnya, “ga usah kemana-mana.”

“Tapi kan—“

“Gue tau lo sebenernya ga mau ke tebet.”

Bibir Nabila terkatup rapat, ia hanya menunduk menatap ujung sepatunya yang kotor setelah tadi diinjak mas-mas tidak dikenal. Tangannya kembali memainkan tali totebag-nya dengan kasar. Ia tidak berani menengok ke arah Raja. Nabila tidak mengerti kenapa Raja muncul seperti ini di saat ia sedang kehilangan arah hingga akhirnya kakinya membawanya ke Stasiun Pocin.

“Ayo,” ucap Raja membuyarkan lamunan Nabila. Ternyata KRL selanjutnya telah datang. Ia menatap Raja yang sudah berdiri dan KRL di depannya secara bergantian. Sejujurnya ia bingung, kenapa Raja mengajaknya masuk? Raja memangnya mau ke Bogor? Dan kenapa mengajak dirinya?

“Mau naik atau gue tinggal sendiri di sini?” tanya Raja.

Nabila sudah terlanjur di sini. Ia tidak tahu mau ke mana setelah ini. Ia sedang tidak ingin bertemu teman atau pun keluarganya. Ia hanya ingin menjauh dari dunianya sebentar saja. Lebih baik dia ikut Raja saja. Ia tidak tau Raja akan membawanya ke mana tapi entah kenapa ia merasa aman dengan Raja.

“Sebelum kita naik ke KRL, gue ada satu pertanyaan penting. Di dalem kayaknya bakal rame banget karena jam pulang kerja. Lo liat kan itu? Banyak yang naik kereta ini. Kayaknya bakal desek-desekkan, gue takut kita berdua kepisah. Gue ga mau berakhir jadi tersangka penculikan kalo lo tiba-tiba ilang. Makanya gue mau nanya, lo bersedia gue gandeng tangannya ga biar ga kepisah? Tapi gapapa juga kok kalo ga mau. Lo bisa pegangan sama ransel gue,” ucap Raja panjang dan lebar.

Nabila terkekeh kecil mendengar penjelasan panjang dari Raja. Orang-orang banyak yang bilang kalau Raja itu tidak banyak bicara. Namun, entah kenapa setiap bersamanya, ia merasa Raja menjadi banyak bicara seperti tadi, “karena gue takut ransel lo robek, jadi gue lebih milih pegangan sama tangan lo aja deh.”

Ia tersenyum tipis sambil beranjak dari duduk dan menerima uluran tangan lelaki berkaos flanel kotak-kotak warna biru-merah yang kini mengajaknya masuk ke dalam KRL. Ucapan Raja benar, di dalam ramai dan padat bahkan hampir semua kursi terisi.

“Lo duduk di sini,” ucap Raja sambil menuntun Nabila untuk duduk di kursi kosong yang berada di depannya.

“Kak Raja, tas tabungnya gue bawain aja sini. Takut bikin ga nyaman penumpang yang lain,” Raja tanpa menjawab langsung memberikan tas tabungnya itu kepada Nabila. Sekarang ia berdiri tepat di hadapan gadis itu sambil berpegangan pada hand strap.

KRL mulai melanjutkan perjalanannya lagi menuju stasiun berikutnya. Raja dan Nabila sama-sama diam. Nabila enggan mengajak ngobrol Raja karena takut orang di samping kanan kirinya terganggu. Sedangkan Raja sibuk menatap jendela di hadapannya sambil sesekali melirik Nabila yang lagi-lagi sedang menunduk.

Pemberhentian berikutnya adalah Stasiun Depok Baru. KRL semakin padat, banyak penumpang yang naik termasuk seorang kakek tua yang sekarang berdiri di samping Raja. Nabila yang sadar akan keberadaan kakek tua itu lalu berdiri, “permisi pak, ini duduk aja di sini pak,” ucapnya mempersilakan kakek tua itu duduk. Setelahnya, Nabila berdiri di samping Raja dengan tangan kanannya yang berpegangan pada hand strap. Raja lalu mengambil tas tabung yang sedang di pegang oleh Nabila dan menyampirkannya di pundak.

Nabila yang sebelumnya duduk, sedikit kehilangan keseimbangan saat KRL kembali melaju. Hampir saja ia jatuh kalau saja ia tidak berpegangan erat pada hand strap. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia yakin Raja melihat saat tadi dirinya hampir jatuh. Napasnya tercekat saat tangan kirinya tiba-tiba digenggam oleh Raja, “sini berdiri deketan ke gue. Cowok di samping lo bisa aja tiba-tiba nyenggol lo kalo keretanya berenti,” bisik Raja sangat dekat dengan kupingnya sambil menarik Nabila untuk mendekat.

Bau parfum yang dikenakan Raja sangat terasa dan menusuk indra penciuman Nabila hingga membuat ia menahan napas sesaat. Ia tidak tahu apakah itu karena bau parfum Raja yang kuat atau karena jarak di antara mereka berdua sangat dekat. Genggaman tangan Raja sangat kuat tapi Nabila bersyukur karena itu sangat membantu dirinya menjaga keseimbangan.

Sejujurnya sejak tadi Raja menggenggam tangannya, jantung Nabila berdetak sangat kencang. Ia sangat ingin KRL ini cepat sepi agar keduanya bisa duduk dengan tenang tanpa harus berpegangan tangan seperti sekarang. Bukannya tidak nyaman dengan Raja tetapi jantungnya tidak bisa diajak kerja sama. Keinginan Nabila terkabul saat KRL berhenti di Stasiun Depok. Banyak penumpang yang turun di stasiun ini sehingga terdapat kursi kosong untuk Raja dan Nabila duduk. Nabila menghela napas lega saat tangannya bebas dari genggaman Raja.

“Maaf ya kalo lo ga nyaman pas tadi gue gandeng,” ucap Raja sambil mengapit tas tabungnya di antara kedua kakinya.

“Engga kok, gue malah berterima kasih sama lo, Kak. Kalo tadi Kak Raja ga megangin gue, kayaknya kita berdua bakalan jatoh,” Nabila menengok ke arah Raja yang sedang menyugar rambut hitam legamnya ke belakang.

Nabila mengalihkan pandangannya dari lelaki di sampingnya itu. Jantungnya kembali berdebar entah karena apa. Ia lalu memandang ke sekitarnya yang sekarang sudah lumayan lengang. KRL tidak sepadat tadi, masih banyak yang harus berdiri tapi itu hal yang wajar. Setidaknya oksigen di sini tidak minim seperti sebelumnya.

Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya dari tadi Raja ingin menanyakan keadaan gadis di sampingnya itu. Kenapa ia duduk melamun di jalur 2 Stasiun Pocin? Kenapa ia bingung saat ditanyakan kemana arah tujuannya tadi? Pertanyaan itu masih tersimpan, enggan untuk ia tanyakan. Raja sengaja mengajak Nabila untuk naik KRL menuju Bogor. Ia menunggu adik tingkatnya itu bercerita. Ia tahu Nabila sedang butuh seseorang untuk menemaninya. Ia tahu ada benang kusut di dalam pikiran gadis yang kini sedang melamun memandang gerbong KRL.

“Kak Raja kenapa ngajak gue naik KRL? Emangnya Kak Raja mau ke Bogor?” tanya Nabila yang akhirnya membuka suara.

Raja sedikit mengubah duduknya menghadap ke arah Nabila, “kalo lo? Kenapa lo mau gue ajak naik KRL sampe Bogor? Ga takut gue culik?”

Pertanyaannya membuat Nabila tertawa kecil, “mending diculik sama lo sih kak daripada diculik sama orang ga kenal di Stasiun Pocin.”

“Gue ga mau ke Bogor sih sebenernya. Lagi pengen naik KRL aja mumpung hari ini gue senggang, ga ada tugas atau kerjaan,” Raja tentu berbohong soal 'lagi pengen naik KRL' tetapi ia memang sedang senggang. Niat awalnya tadi ingin pulang ke rumah orang tuanya menggunakan KRL untuk mengambil mobil yang ia tinggalkan di sana beberapa hari yang lalu dan kembali ke kosannya. Namun, semua itu ia urungkan saat bertemu Nabila.

Gadis itu hanya ber-oh ria. Ia tidak lagi menjawab ucapan Raja.

KRL kembali berhenti ke Stasiun berikutnya. Penumpang banyak yang turun membuat KRL menjadi lengang. Tempat duduk masih terisi penuh tetapi hanya sedikit yang terpaksa berdiri.

“Lo mau ngomong apa ke gue? Dari tadi ngelirik ke gue terus. Cerita aja kalo ada yang mau diceritain,” ucap Raja yang sedang memainkan ponselnya.

Nabila membulatkan matanya, kaget karena ternyata Raja sadar bahwa dari tadi ia memang melirik Raja, ingin mengucapkan sesuatu tetapi ragu, “hehe keren bisa tau gue lagi ngelirik Kak Raja.”

Raja memandang wajah Nabila sebelum akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi, “kenapa? Lo ada yang mau ditanyain?”

Nabila menggigit bibir bawahnya pelan sambil memandang ke bawah, memainkan kuku tangannya, “Kak Raja pernah ga ngerasa capek banget kuliah. Rasanya pengen ngilang aja dari bumi?”

“Mmmm, kalo capek sih sering tapi ga pernah pengen ilang dari bumi soalnya nanti mama sama papa gue nyariin.”

“Ih serius Kak!”

“Gue juga serius,” ucap Raja menatap mata Nabila dengan lekat.

Nabila menghela napas kasar, “kok gue pengen ya.”

“Kenapa lo mau ilang dari bumi?”

Gadis itu terdiam sesaat, “gapapa. Pengen aja. Soalnya capek banget kuliah. Gue ngerasa burnout sama tugas, ujian, dan segala kegiatan di luar akademik yang gue jalanin sekarang,” ucapan Nabila terhenti membuat Raja bingung.

“Terus?”

“Kak Raja gapapa kalo gue cerita gini? Maaf gue ga enak cerita masalah gue ke lo, Kak. Takut nambahin pikiran lo.”

“Ngapain minta maaf? Lo ga ngebebanin gue kok. Lagian gue juga lagi senggang. Santai aja kalo mau cerita,” jawab Raja.

Nabila sebenarnya enggan untuk bercerita lebih lanjut. Ia tipikal orang yang jarang menceritakan masalahnya kepada orang lain. Menurutnya, ia takut membebani orang lain dengan masalahnyakarena ia tahu, orang yang ia ceritakan juga pasti memiliki masalah. Ia tidak ingin menambah beban pikiran orang lain. Namun, entah mengapa ia ingin bercerita kepada kakak tingkatnya yang sekarang bersamanya tersebut. Ia merasa aman untuk bercerita tentang masalahnya.

“Gue ngerasa kayak kerja rodi ngerjain ini itu padahal semua itu gue yang mau. Ga ada yang minta gue buat ngelakuin ini semua. Gue punya kegiatan banyak banget. Ikut kepanitiaan sana sini, ikut BEM Fakultas, ikut volunteering, ngurus komunitas sama temen-temen gue, siap-siap buat ikut lomba, dan gue juga tetep harus ngejaga IPK gue supaya stabil atau malah naik,” jelas Nabila sebelum akhirnya ia menghela napas kasar dan menyenderkan kepalanya ke jendela, “capek banget.”

Raja mengangguk pelan, “gue mau nanya sama lo. Semua yang lo lakuin itu tujuannya apa? Apakah lo punya target dan impian sehingga lo ngelakuin itu semua?”

“Gue... gak tau....” jawab Nabila pelan sambil menggigit bibir bawahnya.

“Terus terang, gue salut banget sama lo yang ikut banyak kegiatan dan aktif sana sini. Menurut gue itu keren banget. Tapi pas tadi gue tanya, target sama impian lo apa, lo jawab ga tau. Wajar lo ngerasa burnout. Lo gak tau apa sebenernya yang lo kejar. Lo belom punya plan jangka panjang untuk kedepannya. Lo belom tau apa tujuan kenapa lo ngelakuin itu semua.”

Nabila mengiyakan perkataan Raja dalam hati. Semuanya memang benar, ia tidak tahu kenapa ia melakukan semua ini. Untuk apa ia lelah untuk sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu tujuannya apa.

“Gue yakin lo udah dewasa buat nentuin jalan hidup dan rencana hidup lo. Gue cuma ngingetin, aktif di banyak kegiatan dan punya pengalaman yang banyak ga akan berarti apa-apa kalo lo belom punya tujuan utama, target, dan impian yang bikin lo terpacu buat ngelakuin itu semua. Cari target dan impian hidup lo, bikin rencana hidup lo untung jangka panjang. Seenggaknya sampe nanti lo lulus dan cari kerja, tentuin lo pengen ngelakuin apa setelah lulus. Dari situ, lo tarik mundur ke belakang, apa langkah yang harus lo lakuin supaya lo bisa mewujudkan keinginan lo dan mimpi lo setelah lulus. Dengan begitu, menurut gue lo akan terfokus ke hal-hal yang emang berguna buat mencapai target lo di masa depan.”

Raja menjelaskan semuanya panjang lebar tanpa sadar kalau Nabila telah menundukkan kepalanya sedari tadi, menahan diri untuk tidak menangis tetapi gagal karena sekarang tangannya sudah dibanjiri oleh air matanya.

“EH? Kok nangis??” ucap Raja panik sambil memegang pundak kanan Nabila, mecoba untuk melihat wajah gadis itu. Perasaan panik tercetak jelas di wajah Raja. Ia tidak menyangka ucapannya akan membuat gadis itu menangis. Tepat saat ia berusaha menenangkan Nabila, KRL yang mereka naiki telah tiba di pemberhentian terakhir yaitu Stasiun Bogor.

“Ayo berdiri dulu. Udah sampe, kita turun.”

Raja lalu menggandeng tangan Nabila yang masih menunduk sambil mengusap wajahnya dengan tangan kirinya. Raja membawa Nabila menuju minimarket yang ada.

“Tunggu di sini ya, gue beli minum dulu,” ucap Raja sambil melepas kaos flanelnya, menyisakan kaos putih yang ia kenakan, “pake ini biar ga kedinginan. Jangan kemana-mana ya.”

Lelaki itu lalu bergegas masuk dan membeli air mineral secepat kilat. Saat kembali, ia menemukan Nabila yang sudah duduk jongkok memeluk kedua lututnya sambik menyender ke tembok. Air matanya sudah berhenti mengalir tapi ia masih melamun dengan pandangan kosong.

Lamunan gadis itu buyar saat Raja berdiri di hadapannya sambil memberikan sebotol air mineral, “minum dulu.”

Nabila lalu berdiri dan meminumnya, “makasih ya, Kak Raja. Maaf gue jadi nangis gini. Gue terlalu emosional denger omongan lo. Lebay banget ga sih gue, Kak?”

Raja terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, “engga kok. Sama sekali engga. Wajar lo bereaksi kayak gitu. Oh ya dan maaf kalo omongan gue tadi ada yang kesannya sok tau dan kelewatan.”

“Engga kakk, gue malah berterima kasih ke Kak Raja karena udah ngingetin gue sebelum gue makin gila.”

Ucapan Nabila membuat senyuman tercetak di wajah Raja. Lelaki itu lalu memegang kedua pundak gadis di hadapannya dan menatap lekat bola mata hitam legam milik gadis itu, “lo ga boleh ilang dari bumi ini. Gue mau lo tetep ada di bumi ini terus. Jangan pernah mikir buat pergi.”

“Kenapa Kak Raja ngomong kayak gini? Lagian kalo gue ngilang emangnya lo bakal nyariin?” tanya Nabila sambil terkekeh pelan.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Soalnya gue belom sempet ngajak lo buat nyobain makanan kesukaan gue di bogor padahal kita udah sampe sini karena ini udah mau malem. Kita harus pulang,” ucap Raja dengan tangan yang masih memegang kedua pundak Nabila.

Tawa kecil dan senyuman menghiasi wajah Nabila, “apa hubungannya deh kak?”

“Kalo lo ngilang dari bumi ini, gue ga bisa ngajak lo balik lagi ke sini buat nyobain makanan kesukaan gue itu. Lo bakal nyesel deh,” ucap Raja.

Nabila tersenyum menatap wajah Raja yang ada di hadapannya sekarang, “berarti Kak Raja janji ya bakal ngajak gue balik ke sini lagi?”

“Iya, gue bakal ajak lo ke sini lagi,” jawab Raja sambil mengacak rambut Nabila pelan, “udah yuk balik. Mau maghrib, gue beneran kayak nyulik lo.”

Setelahnya, keduanya berjalan menuju KRL dengan tangan Raja yang menggenggam tangan Nabila erat, sangat erat sampai-sampai Nabila mengubur niatnya untuk menghilang dari bumi ini.

Keduanya duduk di dalam gerbong KRL yang telah sepi. Sepanjang 30 menit perjalanan, Nabila tertidur di pundak Raja.

“Gue ga mau lo ilang dari bumi ini karena gue mau terus ketemu lo. Gue mau liat lo jadi orang hebat. Jadi jangan kemana-mana ya?” ucap Raja sambil menatap wajah gadis yang tertidur di pundaknya tersebut.

Pada hari itu, Raja menjadi alasan bagi Nabila untuk tetap berada di bumi ini.

Dan di masa depan, Nabila yang akan menjadi alasan bagi Raja untuk tetap berada di bumi ini.

Raja

“Kamu mau makan apa?”

“Mmmmm... apa ya? Aku bingung, belom terlalu laper juga sih. Kamu maunya apa?”

“Belom laper juga.”

“Yaudah ga usah makan. Mau kemana ini jadinya?”

“Gak tau.”

Jawaban singkat dari Raja membuatku menengok ke arahnya. Mobil yang ia kendarai sudah keluar dari area kampus kami sejak 15 menit yang lalu.

“Terserah Raja deh mau kemana. Aku ikut aja,” ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke jalanan luar.

Kalau sudah seperti ini, bisanya Raja akan membawaku mengelilingi Kota Jakarta lalu sesekali berhenti untuk membeli jajanan kaki lima yang tak sengaja aku lihat. Aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Raja di dalam mobil sambil mengelilingi kota Jakarta tanpa tujuan yang pasti. Aku dan Raja akan mengobrol tentang banyak hal selama perjalanan, entah itu membicarakan dosen Raja yang rese, kucing milik ibu kosku yang hamil lagi tanpa tau siapa yang menghamili, atau sekadar menghitung berapa lampu merah yang kami lewati. Kami juga suka mendengarkan playlist spotify yang kami buat khusus ketika sedang berkendara.

Tanganku bergerak mengeluarkan handphone dari dalam totebagku dan segera menyambungkan bluetoothnya ke bluetooth mobil.

“Raja,” panggilku tanpa melepaskan fokusku dari handphone, memilih lagu untuk dimainkan, “kamu inget Dimas ga?”

Raja melirik ke arahku sekilas, “Dimas? Yang pas itu pernah deket sama kamu? Pas semester 2?”

“Iyaaa! Yang berantem sama aku pas java jazz.”

“Kenapa?”

“Tadi aku ketemu di kantin FEB, kan dia anak manajemen ya. Aku kaget banget pas lagi makan sama temenku. Dia nyapa kayak ‘apa kabar?’ BINGUNG MAU JAWAB APA! Mana aku itu makan juga sama Aji dan Hansel ya, mereka kan gak tau. Cengo banget mereka liat ada Dimas tiba-tiba dateng ke meja kita. AH POKOKNYA AWKWARD BANGET DEH! Untung abis aku jawab basa-basi, Dimas langsung pergi.”

Tidak ada respon dari Raja. Aku menoleh untuk memastikan apakah cowok di sampingku ini masih hidup atau ternyata hanya hantu.

“Ja? Kok ga direspon?”

“Hah? Oh iya maaf, aku bingung mau jawab apa, lagi ga fokus,” ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.

Mobil kami berhenti di lampu merah. Raja lalu mengambil botol minum yang selalu ia bawa ke kampus dan meminumnya. Aku masih menatap lekat wajahnya.

Sadar sedang ditatap, Raja yang sedang minum balik menatapku dengan satu alis terangkat seakan bertanya “kenapa ngeliatin?”

Aku masih tetap memperhatikan wajah Raja setelah 2 minggu tidak bertemu. Wajahnya terlihat lebih redup dari terakhir aku melihatnya secara langsung. Lingkaran hitam di bawah matanya yang sebelumnya lumayan hitam, sekarang semakin parah. Sejak tadi aku masuk ke mobil, Raja memang tidak banyak bicara. Walaupun memang biasanya dia tidak banyak bicara kalau belum dipancing, hari ini ia terlihat berbeda. Penampilannya tidak berubah, Raja masih selalu memakai pakaian yang rapih kalau ke kampus. Mungkin rambutnya saja yang sekarang tumbuh lebih panjang dan menurutku berantakan.

“Kamu capek ya hari ini?”

Raja menggeleng pelan, “engga.”

Aku menatapnya dengan tatapan curiga, Raja sadar bahwa aku tahu dia berbohong.

“Dikit, capek dikit,” sambungnya.

Aku menghela napas panjang, “Kenapa? Ada masalah di kampus?”

Lagi-lagi aku tidak mendapat respon darinya.

“Mau aku yang gantiin nyetir? Kalo kamu ngantuk, tidur aja gapapa.”

“Engga kok, aku ga ngantuk. Kamu mau beli jajanan apa? Ada banyak nih disini,” ujarnya sambil menurunkan kecepatan mobil sehingga kami bisa melihat satu persatu jajanan kali lima yang ada di sepanjang jalan.

“Gak ada, aku engga mau makan. Kamu gak mau cerita sama aku, aku juga engga mau makan.”

Raja menghela napas pelan.

Aku tau Raja menyembunyikan sesuatu dariku.

“Raja, kita udah dua minggu gak ketemu. Selama itu juga kita jarang ngobrol. Paling sempet pas pagi atau malem. Aku juga mau tau kabar kamu, Ja. Tiap aku ajak telfon, kamu kadang ketiduran atau kamunya matiin telfon karena lagi nugas. Aku kangen ngobrol sama kamu, Ja. Mau denger cerita kamu,” ucapku panjang lebar tanpa melihat Raja.

“Maaf.”

Satu kata tersebut berhasil membuat benteng pertahanan hatiku ambruk. Satu kata tersebut berarti banyak hal bagiku.

Aku memberanikan diri untuk melihat Raja dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kalau ditanya, kenapa aku menangis? Aku kangen Raja.

Raja terlihat sedikit terkejut saat melihat mataku berkaca-kaca. Ia lalu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, beruntungnya jalanan itu sepi dan bukan jalan besar.

“Kamu kenapa nangis? Maaf aku jarang ngabarin kamu dua minggu terakhir. Banyak banget tugas,” ucap Raja sambil mengubah posisi duduknya sedikit lebih menghadapku.

“Raja, aku nangis karena liat kamu begini. Aku gak tau sebanyak apa tugas kamu, seberat apa kuliahmu sekarang, sesusah apa kamu ngehadapin ujian-ujian. Tapi aku tau kamu capek banget. Kamu pikir aku gatau kalo kamu jarang makan malem? Haikal ngechat aku tiap kamu gak mau makan malem, padahal anak-anak udah ngajak kamu. Katanya kamu gak mau diganggu dulu. Terus Nakula juga bilang kamu selalu masih bangun jam 2 pagi ngerjain maket kamu dan tugas kamu yang lain. Katanya kamu baru tidur biasanya jam 4 pagi.”

Raja hanya diam mendengar penjelasanku. Ia masih menatapku dengan wajah sedikit terkejut.

“Raja, kalo capek, jangan sendirian. Kalo ngerasa berat, jangan dipikul sendiri selagi ada orang di sekitar kamu yang peduli sama kamu. Ada aku. Kalo kamu ngerasa gak mau cerita sama aku, ada Haikal, Nakula, sama Bara yang selalu ada di deket kamu.”

“Maaf.”

Maaf lagi. Raja harusnya minta maaf ke dirinya sendiri. Raja terlalu keras kepada diri sendiri.

Tangisanku sudah mulai reda, tetapi ternyata langit yang mulai menangis.

Aku enggan menatap Raja. Kalau liat dia, rasanya aku ingin menangis lagi.

“Final project di semester ini yang lagi aku kerjain lagi kacau banget.”

Ucapan Raja membuatku menoleh kepadanya dengan wajah terkejut. Sedangkan Raja menatap ke bawah, memainkan jari-jari tangan kananku.

“Dua minggu terakhir aku ngerjain final project. Aku nyelesain maket terakhir buat semester ini. Aku juga nyiapin presentasinya karena ini buat jadi sidang akhir salah satu matkul itu. Itu yang bikin aku ga bisa ketemu kamu dan jarang ngabarin kamu, soalnya kadang aku ngerjain projectnya sampe lupa kalo handphone mati atau tiba-tiba ketiduran. Kemarin sidangnya akhirnya, tapi ternyata aku harus ngulang. Bukan harus ngulang matkul tapi dosen aku ngasih waktu buat perbaikin project aku ini.”

“Raja...”

“Engga, gapapa. Aku udah gapapa kok kalo kamu nanya aku gimana. Kemarin aja sedihnya,” selanya.

“Raja, makasih ya udah cerita. Makasih udah kerja keras selama dua minggu terakhir. Makasih ya, Raja,” ucapku sambil menatap matanya yang terlihat sangat lelah.

Ia balik menatapku sambil tersenyum, “makasih juga karena sabar nunggu aku selama dua minggu terakhir.”

Tangan kirinya bergerak mengusak puncak kepalaku. Walaupun kelihatan lelah, senyuman yang ia berikan kepadaku sekarang sangat aku rindukan.

“Kemarin abis tau harus perbaikin lagi, rasanya capek banget mau tidur 5 hari penuh soalnya aku begadang terus. Tapi aku inget hari ini mau ketemu kamu, gak jadi deh. Aku akhirnya cuma tidur 10 jam.”

Aku terkekeh, Raja kalau gombal cupu. Yang barusan ia bilang itu namanya gombal menurut dia.

“Boleh peluk kamu ga?”

Aku langsung menghambur ke pelukannya tanpa menjawab pertanyaan yang Raja lontarkan. Wangi Raja masih sama, parfum jo malone yang selalu ia pakai. Pelukan Raja masih sama, masih sehangat dua minggu yang lalu, masih sehangat pertama kali aku merasakannya satu tahun yang lalu.

Raja menenggelamkan wajahnya di pundakku. Cukup lama pelukan itu berlangsung sampai tiba-tiba punggung Raja bergetar dan aku merasakan pundakku basah.

Raja menangis.

Aku tidak bisa mendengar isakan tangisnya karena langit pun sedari tadi juga menangis. Sekarang langit menangis lebih keras menemani Raja.

“Aku mau istirahat sebentar,” ucap Raja dengan suara seraknya tanpa melepaskan pelukan kami.

Aku mengerti. Raja ingin istirahat. Raja ingin istirahat di pundakku.

Raja Syailendra

tw // kiss

“Siang, Mas Raja. Alamatnya sesuai aplikasi aja ya, Mas.”

Ucapan pertamaku setelah membuka pintu depan mobil Raja dan disambut dengan wajah datar Raja yang sudah terbiasa dengan kelakuanku yang kadang bikin dia sakit kepala.

“Ya, masuk, Mba, gak dikunci,” jawabnya masih dengan wajah yang datar.

“Garing banget lawakan lo,” ucapku lalu tersadar bahwa kursi penumpang di depan sudah terisi dengan maket milik Raja, “INI GIMANA AKU MAU DUDUK YA, RAJA SYAILENDRA?”

“Duduk di belakang.”

“KAK RAJA, BERCANDA YA LO?”

“Beneran.”

Aku mendengus pelan, “rese banget dah punya cowok kayak lo.”

“Eh eh mau ngapain?” jawabnya dengan wajah bingung saat melihatku mengangkat maketnya, berniat memindahkannya ke kursi belakang agar aku bisa duduk.

“Mau mindahin ini ke belakang (?)” ucapku dengan nada ragu.

“ENAK AJA! GA BOLEH! Taro lagi,” tangan Raja bergerak mengambil maketnya dariku dan menaruhnya lagi di kursi.

“TERUS GUE DUDUK DI BELAKANG BENERAN???”

Kalau kalian mau tau, daritadi aku masih berdiri di luar mobil Raja yang terparkir di parkiran fakultasku. Raja tadi pagi memang mengajakku makan siang bersama setelah kelas terakhir kami yang kebetulan selesainya di jam yang berdekatan.

“Sabar. Tenang dulu. Jangan emosi dulu. Ini kita naro maket aku dulu di apartemen, baru abis itu makan.”

Aku menepuk jidatku sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi aku kalah sama Mmaket. Bisa dibilang prioritas Raja itu: 1. Keluarga – Maket 2. Maket 3. Maket 4. Maket 5. Pacar

Seperti sekarang ini. Raja rela buang-buang bensin mobil demi mengantarkan maketnya ke apartemen dengan selamat.

“Kenapa ga minta Bara aja? Dia kan satu kos sama kamu? Satu kelas juga kan tadi?” ucapku sambil berkacak pinggang.

“Dia ada urusan abis kelas tadi, lansung cabut engga tau ke mana.”

“Terus aku beneran di belakang gitu duduknya?”

“Engga, kamu tetep duduk di depan,” ucapannya terhenti sebentar, ia menatapku sambil sedikit nyengir, “tapi kamu pegangin maketku, ya? Hehe, aku takut rusak kalo ditaro di belakang.”

“Ck. Ya udah sini. Aku pegangin,” ucapku.

Sebenarnya aku lumayan jengkel karena harus megangin maket ini, tetapi aku malas memperpanjang perdebatanku dengan Raja. Capek juga berdiri 5 menit, ditambah lagi cuaca hari ini sangat panas.

Aku mengangkat maketnya pelan-pelan, takut rusak, nanti Raja ngamuk.

Akhirnya setelah 5 menit berdebat, aku duduk di kursi penumpang depan yang tadi hampir direbut oleh maket rumah milik Raja yang sekarang sudah berada di pangkuanku.

“Mba, sesuai aplikasi ya ini alamatnya,” ucap Raja yang sengaja meledekku. Dia tau bahwa aku sedikit kesal.

“Hm,” jawabku singkat dengan wajah datar.

“Yah mba, saya gak bisa nganterin kalo penumpangnya galak gini mukanya,” ucap Raja sambil menahan tawa.

Aku menengok ke Raja dan menunjukkan semyum terpaksaku, “nih saya udah senyum ya, Mas Raja. Ayo sekarang jalan, Mas. Keburu maag saya kambuh nih.”

“Aduh mba, pait banget senyumnya.”

“Kak Raja, sekali lagi lo ngeledek, gue acak-acak ya ini maket lo,” ancamku.

Raja menengok dengan wajah panik, “ehhh iya iya, ini jalan kok iya jangan diacak-acak ya maket aku, susah itu bikinnya!” ucapnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran fakultasku.

“Bodoamaaaattt.”

“Hari ini dapet penumpang galak ya, semangat Mas Raja,” ucap Raja sok-sokan menyemangati diri sendiri.

Aku menatap Raja dengan tatapan datar sedangkan yang ditatap malah sedang menahan tawa.

Setelah perdebatan dan kerusuhan tadi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Raja fokus menyetir sedangkan aku sibuk bernyanyi mengikuti alunan lagu dari playlist spotify Raja yang sengaja aku setel melalui speaker mobil.

“Raja.”

Raja yang duduk di kursi kemudi sebelahku hanya melirik. Mobil yang ia kendarai berhenti menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.

“Raja,” panggilku sekali lagi.

“kenapa?” Raja menoleh ke arahku. Ia menatapku seraya menaikkan sebelah alisnya.

Sejak tadi membuka pintu mobil, aku menyadari rambut Raja yang kian memanjang. Terakhir bertemu seminggu yang lalu, aku rasa tidak sepanjang ini. Oh iya, walaupun satu kampus, kami jarang bertemu kalau kegiatan kami sedang padat dan tugas dari dosen sedang menumpuk.

Rambut depan Raja bahkan bisa menghalangi pandangannya jika ia tidak menyugar rambutnya ke belakang.

Aku dengan hati-hati mengubah posisi dudukku menghadap ke Raja. Takut maketnya jatuh.

“Majuan deh.”

“Ngapain?”

“Majuan aja dulu ih!”

Kami berdua duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

“Rambut kamu udah panjang banget,” ujarku sambil menyelipkan rambut panjang Raja ke samping kupingnya dengan tangan kananku.

Raja menatap wajahku dengan tatapan heran, “kenapa? aneh ya?”

“Engga dong! ganteng. Bisa diselipin kan nih rambutnya, keren.”

Aku terkekeh geli sambil merapihkan rambut panjangnya yang menurutku berantakan. Ia masih memandang wajahku sambil menahan senyum. aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menerpa wajahku.

“Kamu tuh ganteng rambutnya panjang, tapi harus dirapihin juga biar potongannya bagus. Sekarang nih panjangnya compang-camping, terus juga rada kusut. Kamu terakhir keramas kapan deh, Kak? Engga bau sih rambutnya tapi keliatan belom keramas. Nih kalo aku rapihin kayak gini kan bentuknya rapih, jadi makin—“

Ucapanku terputus saat tiba-tiba Raja mengecup bibirku sebelum akhirnya memundurkan badannya dan kembali menghadap ke setir kemudi.

“Iya, nanti aku rapihin,” ujarnya lalu kembali menjalankan mobil saat lampu sudah berganti menjadi hijau.

“APA-APAAN TUH TIBA-TIBA NYIUM???” pekikku dengan wajah kaget sekaligus mulai merah.

Raja tidak merespon ucapanku, ia tetap memandang lurus ke jalanan depan sambil menahan senyum.

“KAK RAJAAA!”

“Apaaaa?”

“ANJIRRR GATAU DEH AH!”

Demi apapun, aku kepalang salting. Raja manusia paling rese.

“Kamu bawel sih dari pertama buka mobil,” ucap Raja sambil melirik ke arahku.

“YA TAPI PERMISI DULU KEK KALO MAU NYIUM??”

Tawa Raja seketika pecah. Tangan kirinya bergerak mengacak-acak rambutku hingga sedikit berantakan.

“Makanya ga usah bawel.”

Aku enggan melihat ke arah Raja. Wajahku sekarang pasti merah seperti kepiting rebus. Dari tadi aku hanya melihat ke jendela di samping kiriku. Bodo amat sama Raja.

“Wah lampu merah lagi nih,” ucap Raja setelah mobilnya berhenti di lampur merah.

Aku masih enggan menengok ke arahnya, “emang kenapa kalo ada lampu merah?”

“Kan tadi katanya kalo mau nyium harus permisi dulu,” ucapannya terhenti sebentar.

Ucapan Raja membuatku menoleh ke arahnya dengan wajah yang pastinya kaget banget. Saat aku menengok, Raja melepas seatbeltnya dan memajukan badannya ke arahku. Wajah kami mungkin sekarang hanya berjarak 10cm, aku bisa merasakan hembusan napasnya. Lagi-lagi ia menatapku sambil menahan senyum.

“Misi, boleh nyium lagi ga?” ucap Raja.

Demi apapun Raja Syailendra adalah orang paling gila di muka bumi ini.

Bibirku masih terkatup rapat karena seketika aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku hanya diam menatap manik mata Raja yang ada di hadapanku.

Tepat sebelum aku hendak menjawab ucapannya, Raja sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya dan sekali lagi, dia mencium bibirku sedikit lebih lama dari sebelumnya. Aku merasakan bibirnya tersenyum sebelum melepas tautan kami. Raja memundurkan badannya dan kembali menjalankan mobil karena tepat sekali lampu sudah berganti menjadi warna hijau.

Aku bisa melihat Raja sekarang senyum-senyum sendiri seperti orang gila sambil menyetir.

“Kak Raja tadi aku belom jawab ya…” ucapku masih menatapnya.

“Kelamaan, keburu lampunya ganti jadi ijo.”

“TETEP AJA JANGAN MAIN CIUM!” teriakku sambil memukul lengan Raja.

“Aduh sakit, jangan dipukul.”

“TUNGGU DULU DIJAWAB BARU CIUM, GA SOPAN LO!!”

Raja seketika tertawa sambil menengok ke arahku, “yah, udah mau sampe apartemen ini. Gak ada lampu merah lagi nih abis ini, gak bisa diulang lagi deh biar nunggu kamu jawab dulu.”

“ORANG GILAAAAA!” teriakku sekali lagi sambil menutup wajahku yang sekarang terasa panas.

“Kalo salting ga usah banyak gerak, itu maket aku kalo rusak karena kamu, kamu yang ngerjain ulang ya.”

“RAJA SYAILENDRAAA!!!!!”

“Siang, Mas Raka. Alamatnya sesuai aplikasi aja ya, Mas.”

Ucapan pertamaku setelah membuka pintu depan mobil Raka dan disambut dengan wajah datar Raka yang sudah terbiasa dengan kelakuanku yang kadang bikin dia sakit kepala.

“Ya, masuk, Mba, gak dikunci,” jawabnya masih dengan wajah yang datar.

“Garing banget lawakan lo,” ucapku lalu tersadar bahwa kursi penumpang di depan sudah terisi dengan maket milik Raka, “INI GIMANA AKU MAU DUDUK YA, RAKA WIJAYA?”

“Duduk di belakang.”

“RAKA BERCANDA YA LO?”

“Beneran.”

Aku mendengus pelan, “rese banget dah punya cowok kayak lo.”

“Eh eh mau ngapain?” jawabnya dengan wajah bingung saat melihatku mengangkat maketnya, berniat memindahkannya ke kursi belakang agar aku bisa duduk.

“Mau mindahin ini ke belakang (?)” ucapku dengan nada ragu.

“ENAK AJA! GA BOLEH! Taro lagi,” tangan Raka bergerak mengambil maketnya dariku dan menaruhnya lagi di kursi.

“TERUS GUE DUDUK DI BELAKANG BENERAN???”

Kalau kalian mau tau, daritadi aku masih berdiri di luar mobil Raka yang terparkir di parkiran fakultasku. Raka tadi pagi memang mengajakku makan siang bersama setelah kelas terakhir kami yang kebetulan selesainya di jam yang berdekatan.

“Sabar ya, Mbaknya. Tenang dulu. Jangan emosi dulu. Ini kita naro maket aku dulu di apartemen, baru abis itu makan.”

Aku menepuk jidatku sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi aku kalah sama Mmaket. Bisa dibilang prioritas Raka itu:

  1. Keluarga – Maket
  2. Maket
  3. Maket
  4. Maket
  5. Pacar

Seperti sekarang ini. Raka rela buang-buang bensin mobil demi mengantarkan maketnya ke apartemen dengan selamat.

“Kenapa ga minta Naufal aja? Dia kan punya Ojan?” ucapku sambil berkacak pinggang.

Ojan itu mobil brio kesayangannya Naufal yang selalu dibawa dan disayang layaknya Raka menyayangi maketnya.

“Tadi katanya dia ada kelas sampe sore.”

“Terus aku beneran di belakang gitu duduknya?”

“Engga, kamu tetep duduk di depan,” ucapannya terhenti sebentar, ia menatapku sambil sedikit nyengir, “tapi kamu pegangin maketku, ya? Hehe, aku takut rusak kalo ditaro di belakang.”

“Ck. Ya udah sini. Aku pegangin,” ucapku.

Sebenarnya aku lumayan jengkel karena harus megangin maket ini, tetapi aku malas memperpanjang perdebatanku dengan Raka. Capek juga berdiri 5 menit, ditambah lagi cuaca hari ini sangat panas.

Aku mengangkat maketnya pelan-pelan, takut rusak, nanti Raka ngamuk.

Akhirnya setelah 5 menit berdebat, aku duduk di kursi penumpang depan yang tadi hampir direbut oleh maket rumah milik Raka yang sekarang sudah berada di pangkuanku.

“Mba, sesuai aplikasi ya ini alamatnya,” ucap Raka yang sengaja meledekku. Dia tau bahwa aku sedikit kesal.

“Hm,” jawabku singkat dengan wajah datar.

“Yah mba, saya gak bisa nganterin kalo penumpangnya galak gini mukanya,” ucap Raka sambil menahan tawa.

Aku menengok ke Raka dan menunjukkan semyum terpaksaku, “nih saya udah senyum ya, Mas Raka. Ayo sekarang jalan, Mas. Keburu maag saya kambuh nih.”

“Aduh mba, pait banget senyumnya.”

“Raka sekali lagi lo ngeledek, gue acak-acak ya ini maket lo,” ancamku.

Raka menengok dengan wajah panik, “ehhh iya iya, ini jalan kok iya jangan diacak-acak ya maket aku, susah itu bikinnya!” ucapnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran fakultasku.

“Bodoamaaaattt.”

“Hari ini dapet penumpang galak ya, semangat Mas Raka,” ucap Raka sok-sokan menyemangati diri sendiri.

Aku menatap Raka dengan tatapan datar sedangkan yang ditatap malah sedang menahan tawa.


Setelah perdebatan dan kerusuhan tadi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Raka fokus menyetir sedangkan aku sibuk bernyanyi mengikuti alunan lagu dari playlist spotify Raka yang sengaja aku setel melalui speaker mobil.

“Raka.”

Raka yang duduk di kursi kemudi sebelahku hanya melirik. Mobil yang ia kendarai berhenti menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.

“Raka,” panggilku sekali lagi.

“kenapa?” Raka menoleh ke arahku. Ia menatapku seraya menaikkan sebelah alisnya.

Sejak tadi membuka pintu mobil, aku menyadari rambut Raka yang kian memanjang. Terakhir bertemu seminggu yang lalu, aku rasa tidak sepanjang ini. Oh iya, walaupun satu kampus, kami jarang bertemu kalau kegiatan kami sedang padat dan tugas dari dosen sedang menumpuk.

Rambut depan Raka bahkan bisa menghalangi pandangannya jika ia tidak menyugar rambutnya ke belakang.

Aku dengan hati-hati mengubah posisi dudukku menghadap ke Raka. Takut maketnya jatuh.

“Majuan deh.”

“Ngapain?”

“majuan aja dulu ih!”

Kami berdua duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

“Rambut kamu udah panjang banget,” ujarku sambil menyelipkan rambut panjang Raka ke samping kupingnya dengan tangan kananku.

Raka menatap wajahku dengan tatapan heran, “kenapa? aneh ya?”

“Engga dong! ganteng. Bisa diselipin kan nih rambutnya, keren.”

Aku terkekeh geli sambil merapihkan rambut panjangnya yang menurutku berantakan. Ia masih memandang wajahku sambil menahan senyum. aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menerpa wajahku.

“Kamu tuh ganteng rambutnya panjang, tapi harus dirapihin juga biar potongannya bagus. kan kalo bentuknya rapih, jadi makin—“

Ucapanku terputus saat tiba-tiba Raka melakukan hal gila.

“Iya, nanti aku rapihin,” ujarnya sambil memundurkan badannya dan kembali menghadap ke depan dan memegang setir. Ia kembali menjalankan mobil saat lampu sudah berganti menjadi hijau.

“APA-APAAN TUH TIBA-TIBA NYIUM???” pekikku dengan wajah kaget sekaligus mulai merah.

Raka tidak merespon ucapanku, ia tetap memandang lurus ke jalanan depan sambil menahan senyum.

“RAKAAA!”

“Apaaaa?”

“ANJIR LAHH RAKA ORANG GILAAA!”

Demi apapun, aku kepalang salting. Raka manusia paling rese.

“Kamu bawel sih dari pertama buka mobil.”

“Ya tapi—“

“Udah diem aja. Kalo salting ga usah banyak gerak, itu maket aku kalo rusak karena kamu, kamu yang ngerjain ulang ya.”

“RAKA WIJAYAAAA!!!!!”

23.

Aleysha sekarang menjadi pusat perhatian para pengunjung starbucks karena tingkah uniknya yang melambai-lambaikan tangan di tengah ruangan seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Ajisaka.

Ajisaka pun mengangkat tangannya tidak terlalu tinggi. Entahlah Aleysha bisa melihatnya atau tidak, ia hanya tidak mau menjadi pusat perhatian seperti gadis itu. Beruntungnya, Aleysha langsung menyadarinya dan segera menghampirinya.

“Haloo, Ajisaka kan?” tanya Aleysha sedikit ragu.

“Iyaa, ini Ajisaka.”

Aleysha mengangguk-anggukan kepala. Sempat hening beberapa saat, Aleysha masih berdiri sedangkan Ajisaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau menurut Aleysha, ini adalah situasi paling canggung yang pernah ia rasakan selama ia hidup di dunia ini.

“Ini gue boleh duduk ga?” Tanya Aleysha yang akhirnya memecah keheningan di antara keduanya.

Ajisaka terlihat kebingungan lalu tersadar, “ha? OH IYA MAAF! boleh boleh, iya duduk aja gapapa boleh kok iya aduh maaf,” jawab Ajisaka dengan ekspresinya yang kikuk.

“Hehe oke thanks!”

“By the way, kita belom kenalan in a proper way. Halo Ajisaka! Salam kenal ya, gue Aleysha, temen satu sekolahnya Naya!”

“Ajisaka, temen satu kelas intennya Naya. Salken juga,”

Kemudian, Ajisaka menyerahkan powerbank dan kabel charger miliknya, “ini, kebetulan gue tadi bawa powerbank juga.”

“Ajisaka makasih banyaaaakkkk!” pekik Aleysha pelan.

Setelah itu, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ajisaka yang sedang bermain handphone dan Aleysha yang beranjak dari duduk untuk memesan minuman.

“Ajisaka,” panggil Aleysha.

Yang dipanggil hanya menaikkan kedua alisnya, seakan berkata “kenapa?”

“Ini boleh gue pinjem sampe baterai handphone gue 50% ga?”

“Boleh, abisin juga gapapa.”

“Waduh kelamaan kalo nunggu sampe 100%, lo kan harus inten ya?”

“Gue udah ga inten, gue masih lama kok disini.”

Mata Aleysha membulat, “LOH? UDAH DAPET KULIAH?”

Ajisaka agak bingung melihat reaksi kaget Aleysha, “iya, kemaren dapet di snm.”

Ucapan Ajisaka disambut tepukan tangan dari Aleysha, “keren... dapet apa dan dimana?”

“ilmu komputer di UI.”

“Serius?? Keren bangeett! congrats ya, Ajisaka!”

“Makasihh,” ucap Ajisaka. Sebenarnya ia sedikit enggan untuk menambah pembicaraan dengan Aleysha, ia merasa kurang percaya diri berbicara dengan orang baru terutama orang itu adalah seorang perempuan. Namun, entah kenapa kali ini Ajisaka ingin balik bertanya kepada gadis di hadapannya yang sedang meminum vanilla latte.

“Kalo lo gimana?”

“Gue? Gimana apanya? Kuliah?”

Ajisaka hanya menganggukkan kepala.

“Sama kayak lo juga, udah dapet hehehe.”

“Jurusan apa?”

“Arsitektur interior!” jawab Aleysha dengan suara yang lebih bersemangat.

“Wow, kenapa ambil itu kalo boleh tau?”

Aneh. Ajisaka bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa ia menjadi kepo dan banyak tanya?

Pertanyaan yang Ajisaka lontarkan membuat Aleysha tersenyum di balik masker putihnya. Aleysha suka ketika ada seseorang menanyakan alasan kenapa ia ingin melanjutkan pendidikan ke bidang arsitektur interior. Sayangnya, yang sering ia dapatkan adalah pertanyaan “loh kenapa ga ambil kedokteran aja? Kamu kan pinter.” atau “kirain mau ambil jurusan kayak mama atau papa kamu.” Aleysha sudah sangat amat terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Pada awalnya, ia masih punya kesabaran untuk menjawabnya dengan panjang lebar, tetapi semakin kesini, ia hanya menjawab ala kadarnya karena toh setelah dijelaskan pun mereka yang bertanya tidak akan peduli lagi.

Ketika Ajisaka bertanya tentang alasannya mengambil arsitektur interior, ia sangat bersemangat untuk menjawab. Setidaknya, Ajisaka bukan termasuk orang yang bisanya hanya berkomentar tentang hidupnya.

Dengan satu tarikan napas, Aleysha menjawab pertanyaan Ajisaka panjang lebar. Ajisaka mendengarkan penjelasan Aleysha dengan seksama sambil memperhatikan bagaimana gadis itu bercerita dengan mata berbinar.

Lucu. Itu yang ada dalam batin Ajisaka selama Aleysha bercerita tiada henti. Ajisaka baru pertama kali bertemu cewek yang mau ngobrol dengannya seperti ini. Kalau di sekolah, teman-temannya yang cewek sudah keburu malas berbicara dengannya. Kata mereka, Ajisaka ga seru kalau diajak ngobrol, kalau jawab cuma seperlunya aja. Sedangkan Aleysha sekarang nampaknya tidak peduli dengan bagaimana Ajisaka akan merespon ceritanya itu.

Pada siang hari yang cerah itu, senyum Ajisaka merekah di balik masker hitam yang sedang ia pakai.

Sifat keduanya bertolak belakang, tetapi obrolan singkat dan ringan pada siang hari itu mengalir begitu saja di antara keduanya. Aleysha yang banyak bicara dan Ajisaka yang kikuk.

Pada siang itu, Ajisaka bertemu seorang ‘teman’ baru yang akan mewarnai waktu liburnya selama menunggu perkuliahan dimulai.

Seorang teman baru yang akan membuatnya merasakan adanya kupu-kupu di perutnya untuk pertama kali dalam hidup Ajisaka.