Raja

“Kamu mau makan apa?”

“Mmmmm... apa ya? Aku bingung, belom terlalu laper juga sih. Kamu maunya apa?”

“Belom laper juga.”

“Yaudah ga usah makan. Mau kemana ini jadinya?”

“Gak tau.”

Jawaban singkat dari Raja membuatku menengok ke arahnya. Mobil yang ia kendarai sudah keluar dari area kampus kami sejak 15 menit yang lalu.

“Terserah Raja deh mau kemana. Aku ikut aja,” ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke jalanan luar.

Kalau sudah seperti ini, bisanya Raja akan membawaku mengelilingi Kota Jakarta lalu sesekali berhenti untuk membeli jajanan kaki lima yang tak sengaja aku lihat. Aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Raja di dalam mobil sambil mengelilingi kota Jakarta tanpa tujuan yang pasti. Aku dan Raja akan mengobrol tentang banyak hal selama perjalanan, entah itu membicarakan dosen Raja yang rese, kucing milik ibu kosku yang hamil lagi tanpa tau siapa yang menghamili, atau sekadar menghitung berapa lampu merah yang kami lewati. Kami juga suka mendengarkan playlist spotify yang kami buat khusus ketika sedang berkendara.

Tanganku bergerak mengeluarkan handphone dari dalam totebagku dan segera menyambungkan bluetoothnya ke bluetooth mobil.

“Raja,” panggilku tanpa melepaskan fokusku dari handphone, memilih lagu untuk dimainkan, “kamu inget Dimas ga?”

Raja melirik ke arahku sekilas, “Dimas? Yang pas itu pernah deket sama kamu? Pas semester 2?”

“Iyaaa! Yang berantem sama aku pas java jazz.”

“Kenapa?”

“Tadi aku ketemu di kantin FEB, kan dia anak manajemen ya. Aku kaget banget pas lagi makan sama temenku. Dia nyapa kayak ‘apa kabar?’ BINGUNG MAU JAWAB APA! Mana aku itu makan juga sama Aji dan Hansel ya, mereka kan gak tau. Cengo banget mereka liat ada Dimas tiba-tiba dateng ke meja kita. AH POKOKNYA AWKWARD BANGET DEH! Untung abis aku jawab basa-basi, Dimas langsung pergi.”

Tidak ada respon dari Raja. Aku menoleh untuk memastikan apakah cowok di sampingku ini masih hidup atau ternyata hanya hantu.

“Ja? Kok ga direspon?”

“Hah? Oh iya maaf, aku bingung mau jawab apa, lagi ga fokus,” ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.

Mobil kami berhenti di lampu merah. Raja lalu mengambil botol minum yang selalu ia bawa ke kampus dan meminumnya. Aku masih menatap lekat wajahnya.

Sadar sedang ditatap, Raja yang sedang minum balik menatapku dengan satu alis terangkat seakan bertanya “kenapa ngeliatin?”

Aku masih tetap memperhatikan wajah Raja setelah 2 minggu tidak bertemu. Wajahnya terlihat lebih redup dari terakhir aku melihatnya secara langsung. Lingkaran hitam di bawah matanya yang sebelumnya lumayan hitam, sekarang semakin parah. Sejak tadi aku masuk ke mobil, Raja memang tidak banyak bicara. Walaupun memang biasanya dia tidak banyak bicara kalau belum dipancing, hari ini ia terlihat berbeda. Penampilannya tidak berubah, Raja masih selalu memakai pakaian yang rapih kalau ke kampus. Mungkin rambutnya saja yang sekarang tumbuh lebih panjang dan menurutku berantakan.

“Kamu capek ya hari ini?”

Raja menggeleng pelan, “engga.”

Aku menatapnya dengan tatapan curiga, Raja sadar bahwa aku tahu dia berbohong.

“Dikit, capek dikit,” sambungnya.

Aku menghela napas panjang, “Kenapa? Ada masalah di kampus?”

Lagi-lagi aku tidak mendapat respon darinya.

“Mau aku yang gantiin nyetir? Kalo kamu ngantuk, tidur aja gapapa.”

“Engga kok, aku ga ngantuk. Kamu mau beli jajanan apa? Ada banyak nih disini,” ujarnya sambil menurunkan kecepatan mobil sehingga kami bisa melihat satu persatu jajanan kali lima yang ada di sepanjang jalan.

“Gak ada, aku engga mau makan. Kamu gak mau cerita sama aku, aku juga engga mau makan.”

Raja menghela napas pelan.

Aku tau Raja menyembunyikan sesuatu dariku.

“Raja, kita udah dua minggu gak ketemu. Selama itu juga kita jarang ngobrol. Paling sempet pas pagi atau malem. Aku juga mau tau kabar kamu, Ja. Tiap aku ajak telfon, kamu kadang ketiduran atau kamunya matiin telfon karena lagi nugas. Aku kangen ngobrol sama kamu, Ja. Mau denger cerita kamu,” ucapku panjang lebar tanpa melihat Raja.

“Maaf.”

Satu kata tersebut berhasil membuat benteng pertahanan hatiku ambruk. Satu kata tersebut berarti banyak hal bagiku.

Aku memberanikan diri untuk melihat Raja dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kalau ditanya, kenapa aku menangis? Aku kangen Raja.

Raja terlihat sedikit terkejut saat melihat mataku berkaca-kaca. Ia lalu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, beruntungnya jalanan itu sepi dan bukan jalan besar.

“Kamu kenapa nangis? Maaf aku jarang ngabarin kamu dua minggu terakhir. Banyak banget tugas,” ucap Raja sambil mengubah posisi duduknya sedikit lebih menghadapku.

“Raja, aku nangis karena liat kamu begini. Aku gak tau sebanyak apa tugas kamu, seberat apa kuliahmu sekarang, sesusah apa kamu ngehadapin ujian-ujian. Tapi aku tau kamu capek banget. Kamu pikir aku gatau kalo kamu jarang makan malem? Haikal ngechat aku tiap kamu gak mau makan malem, padahal anak-anak udah ngajak kamu. Katanya kamu gak mau diganggu dulu. Terus Nakula juga bilang kamu selalu masih bangun jam 2 pagi ngerjain maket kamu dan tugas kamu yang lain. Katanya kamu baru tidur biasanya jam 4 pagi.”

Raja hanya diam mendengar penjelasanku. Ia masih menatapku dengan wajah sedikit terkejut.

“Raja, kalo capek, jangan sendirian. Kalo ngerasa berat, jangan dipikul sendiri selagi ada orang di sekitar kamu yang peduli sama kamu. Ada aku. Kalo kamu ngerasa gak mau cerita sama aku, ada Haikal, Nakula, sama Bara yang selalu ada di deket kamu.”

“Maaf.”

Maaf lagi. Raja harusnya minta maaf ke dirinya sendiri. Raja terlalu keras kepada diri sendiri.

Tangisanku sudah mulai reda, tetapi ternyata langit yang mulai menangis.

Aku enggan menatap Raja. Kalau liat dia, rasanya aku ingin menangis lagi.

“Final project di semester ini yang lagi aku kerjain lagi kacau banget.”

Ucapan Raja membuatku menoleh kepadanya dengan wajah terkejut. Sedangkan Raja menatap ke bawah, memainkan jari-jari tangan kananku.

“Dua minggu terakhir aku ngerjain final project. Aku nyelesain maket terakhir buat semester ini. Aku juga nyiapin presentasinya karena ini buat jadi sidang akhir salah satu matkul itu. Itu yang bikin aku ga bisa ketemu kamu dan jarang ngabarin kamu, soalnya kadang aku ngerjain projectnya sampe lupa kalo handphone mati atau tiba-tiba ketiduran. Kemarin sidangnya akhirnya, tapi ternyata aku harus ngulang. Bukan harus ngulang matkul tapi dosen aku ngasih waktu buat perbaikin project aku ini.”

“Raja...”

“Engga, gapapa. Aku udah gapapa kok kalo kamu nanya aku gimana. Kemarin aja sedihnya,” selanya.

“Raja, makasih ya udah cerita. Makasih udah kerja keras selama dua minggu terakhir. Makasih ya, Raja,” ucapku sambil menatap matanya yang terlihat sangat lelah.

Ia balik menatapku sambil tersenyum, “makasih juga karena sabar nunggu aku selama dua minggu terakhir.”

Tangan kirinya bergerak mengusak puncak kepalaku. Walaupun kelihatan lelah, senyuman yang ia berikan kepadaku sekarang sangat aku rindukan.

“Kemarin abis tau harus perbaikin lagi, rasanya capek banget mau tidur 5 hari penuh soalnya aku begadang terus. Tapi aku inget hari ini mau ketemu kamu, gak jadi deh. Aku akhirnya cuma tidur 10 jam.”

Aku terkekeh, Raja kalau gombal cupu. Yang barusan ia bilang itu namanya gombal menurut dia.

“Boleh peluk kamu ga?”

Aku langsung menghambur ke pelukannya tanpa menjawab pertanyaan yang Raja lontarkan. Wangi Raja masih sama, parfum jo malone yang selalu ia pakai. Pelukan Raja masih sama, masih sehangat dua minggu yang lalu, masih sehangat pertama kali aku merasakannya satu tahun yang lalu.

Raja menenggelamkan wajahnya di pundakku. Cukup lama pelukan itu berlangsung sampai tiba-tiba punggung Raja bergetar dan aku merasakan pundakku basah.

Raja menangis.

Aku tidak bisa mendengar isakan tangisnya karena langit pun sedari tadi juga menangis. Sekarang langit menangis lebih keras menemani Raja.

“Aku mau istirahat sebentar,” ucap Raja dengan suara seraknya tanpa melepaskan pelukan kami.

Aku mengerti. Raja ingin istirahat. Raja ingin istirahat di pundakku.