Sakit

Sore tadi setelah selesai mengerjakan tugas kuliah kami di perpustakaan kampus, Raja mengajakku pergi ke Margo City untuk menemaninya membeli barang yang ia cari. Lalu kami berdua berniat untuk makan malam karena ternyata saat selesai, jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Namun batal saat Raja sadar bahwa aku sedari tadi merasa pusing.

Iya, memang dari tadi malam, keplaku terasa berat. Seperti ada batu beton yang menghantam kepalaku.

Setelah membeli obat dan makanan yang dibungkus, Raja membawaku ke apartemen milik Bara, salah satu temannya, anak teknik sipil. Sebenarnya aku bisa saja pulang ke kosan dan beristirahat sendiri tetapi Raja menolak untuk meninggalkanku sendirian. Ia khawatir nanti aku pingsan atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kebetulan juga teman-teman satu kosku banyak yang sedang pulang ke rumah mereka atau tidak pulang hari in sehingga tidak ada yang bisa dititipkan kalo kata Raja.

“Ini minum obatnya, kan udah makan. Tadi aku nanya omku yang dokter, katanya disuruh minum itu,” ucap Raja sambil memberi satu tablet obat dan menaruh secangkir air putih di hadapanku.

Aku segera meminumnya sambil melihat Raja yang sedang duduk di sampingku dengan tatapan khawatir, “Raja aku ga kenapa-napa. Palingan flu sama kecapean aja,” ucapku sambil meletakkan cangkir tersebut di meja dan menyenderkan tubuhku di sofa.

“Beneran gak mau ke dokter?”

Aku menggeleng pelan. Sebenarnya aku sering merasakan pusing seperti ini kalau sedang capek atau kurang istirahat sehingga aku sudah terbiasa dan merasa tidak perlu ke dokter lagi. Namun ini kali pertama aku sakit dengan menyandang gelar sebagai pacar seorang Raja Syailendra. Rasanya jauh lebih pusing dari sebelumnya karena Raja daritadi cerewet banget. Setiap 5 detik dia akan menanyakan keadaanku atau sekadar mengecek suhu tubuhku. Sebenarnya suka sih, jadi ada yang khawatirin.

“Terus harus gimana dong?” tanya Raja lagi dengan tangannya yang menempel di dahiku, mengecek apakah badanku mulai panas.

“Emang gak bisa pulang aja ya?”

Raja menggeleng cepat, “gak bisa.”

“Tapi aku ga enak sama Bara.”

Iya, aku merasa tidak enak hati dengan Bara. Yang aku tahu, apartemen Bara ini sebenarnya dijadikan basecamp Bara, Raja dan teman-temannya yang lain untuk kumpul bareng. Orang tuanya memberikan apartemen ini untuk Bara kuliah tetapi ia menolak untuk tinggal di sini dan memilih untuk ngekos bersama Raja dan yang lainnya. Bara memberi akses kepada 6 temannya termasuk Raja untuk memakai apartemen ini. Namun ada peraturan tertulis bahwa ia tidak mengizinkan siapapun untuk membawa perempuan ke apartemennya.

“Aku tadi udah minta izin Bara. Udah aku jelasin juga alesannya, katanya gapapa asalkan aku ga ngapa-ngapain sama kamu,” ucap Raja.

“Iya siapa juga yang mau ngapa-ngapain sama kamu,” jawabku terkekeh. Sejujurnya kalau tertawa seperti ini, kepalaku tambah sakit.

Aku memegang kepalaku sambil menunduk, mengerang pelan.

“Pusing ya?”

Aku mengangguk pelan. Kepalaku terasa sangat berat. Sungguh aku hanya ingin merebahkan badanku di kasur.

“Tidur aja di kamar. Bersih kok, anak-anak jarang pake. Sering dirapihin juga,” ucap Raja sambil menuntunku ke kamar.

Raja memastikan bahwa aku mengistirahatkan tubuhku dengan nyaman sebelum akhirnya berjalan keluar.

“Raja mau kemana?” tanyaku.

“Mau keluar (?)” ucapnya sedikit bingung.

“Temenin di sini aja. Aku asing sama tempatnya, takut.”

Aku melihat raut wajah Raja yang sedikit ragu sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki untuk mendekat ke tempat tidur, “mau aku temenin gimana? Serius gapapa nih?”

Kalian harus liat ekspresi Raja sekarang. Lucu banget kalau lagi bingung seperti ini.

Aku terkekeh pelan, “ya gapapa lah? Emangnya kenapa? Kamu mau ngapa-ngapain aku?”

Ucapanku membuat kedua bola mata Raja membesar, “ENGGAK LAH! Aneh aneh aja ngomongnya!” sanggah dia, “engga enak aja. Kamu ngerti kan?”

Aku menganguk pelan sambil mengeratkan selimut ke badanku. Entah kenapa badanku agak kedinginan padahal aku tahu bahwa suhu tubuhku mulai naik.

Raja tadi sudah mengambil kursi meja rias dan menempatkan di sisi ranjang kiriku. Ia mempehatikanku yang mulai memejamkan mata. Sungguh aku ingin tidur tapi kalau kondisi badanku seperti ini, sepertinya akan susah untuk terlelap.

Setelah beberapa lama mencoba untuk tidur, aku membuka mataku lagi. Melihat apakah Raja masih ada di sini.

“Kenapa?” tanyanya. Sepertinya daritadi ia hanya bengong memperhatikanku yang mencoba untuk tidur tapi gagal.

“Gapapa, aku susah tidur.”

Tangan Raja lalu memegang dahiku, “mulai panas sedikit. Kalo ngerasa lemes banget kita ke rumah sakit ya?”

Aku hanya bisa mengangguk lemah lagi.

“Mau aku peluk biar kamu cepet tidur ga?”

Senyum kecilku merekah saat mendengar pertanyaan itu. Raja lucu. Dia membuang muka saat menanyakannya kepadaku.

Sekadar informasi, selama kurang lebih 10 bulan PDKT sama Raja dan 9 bulan berpacaran dengannya, kami memang jarang melakukan skinship. Itu wajar karena dulu kami pernah mengecek love language masing-masing dan skinship berada di urutan terbawah.

“MAUUU!” ucapku sedikit keras. Sengaja, aku mau membuat dia salah tingkah dan berhasil! Sekarang dia berjalan ke sisi ranjang di sebelah kananku sambil menggaruk tengkuk belakangnya yang aku yakin tidak gatal sama sekali.

Aku mengubah posisi berbaringku ke arah kanan agar bisa menghadap ke Raja yang sekarang sudah tiduran sambil menghadap ke arahku.

“Raja, maaf ya ngerepotin kamu. Harusnya tadi aku ga ke kampus aja. Kalo istirahat di kosan kan bisa aja ga separah ini,” ucapku sambil menatap kedua manik matanya.

Raja menghela napas pelan sambil mendekat kepadaku. Ia merentangkan tangannya untuk memelukku. Lengan kirinya ia jadikan sebagai bantal untukku.

Hangat.

Aku tahu bahwa pelukan Raja sangat hangat tetapi sekarang aku merasa pelukannya jauh lebih hangat dan nyaman. Bau parfume jo malone miliknya sangat menusuk indra penciumanku. Aku menenggelamkan wajahku di ceruk leher Raja. Menyembunyikan wajahku yang kepalang merah karena malu. Ini kali pertama kamu berpelukan seperti ini. Entahlah aku merasa semakin lemas sekarang.

“Jangan minta maaf sekarang. Minta maaf besok pagi pas tanganku mati rasa karena jadi bantal dadakan buat kamu,” ucap Raja sambil mengelus pelan kepalaku dengan tangan kanannya yang bebas.

Tubuhku refleks ingin mundur menjauhi Raja karena tersadar bahwa lebgan Raja sedikit pegal kalau berasa di posisi seperti ini terus. Namun Raja menahan pergerakanku dan mengeratkan pelukannya.

“Gapapa. Ga usah kaget gitu. Aku gapapa kok,” ucapnya.

Aku mendongakkan wajahku untuk melihat wajah Raja yang jaraknya sangat dekat. Memastikan bahwa ia benar-benar tidak apa-apa jika semalaman berada di posisi seperti ini.

Raja lucu. Sudah berapa kali aku bilang Raja lucu tapi dia memang lucu. Wajah khawatirnya membuat Raja semakin lucu di mataku. Ia sering mengerutkan hidung dan dahinya kalau sedang bingung atau khawatir. Lucu banget.

“Raja makasih ya udah mau nemenin aku yang lagi sakit gini,” ucapku sambil merapihkan rambutnya yang menutupi dahinya. Raja malah ikut-kutan memainkan rambut depanku yang sedikit kusut dan berantakan.

Kami terdiam cukup lama sambil memandang satu sama lain. Tangan Raja yang tadinya memainkan rambutku, kini ia letakkan di pipiku sambil sesekali ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya.

“Tau ga?”

“Ga tau.”

Aku terkekeh geli saat menjawabnya. Iya lah aku tidak tahu. Raja hanya bertanya seperti itu.

Raja memajukan wajahnya lebih dekat dan sejajar dengan wajahku. Ia tersenyum kecil, “kamu lagi sakit gini lucu. Mukanya merah, apalagi pipinya. Itu efek sakit atau efek dipeluk ya?”

Sial.

Kenapa Raja sadar…

Aku membuang wajahku, enggan menatapnya lagi tetapi tangan Raja yang berada dipipiku membuatku mau tidak mau kembali menatap wajah Raja.

“Cepet sembuh ya, sayang.”

Sebelum aku menjawab, Raja sudah lebih dulu mengecup bibirku singkat lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya.

Aduh… Raja… kenapa tingkahnya selalu benar-benar di luar dugaan…

Aku tahu Raja juga sedang salah tingkah. Sampai-sampai ia memelukku erat sambil meletakkan dagunya di atas kepalaku. Sungguh, sekarang aku juga malu dan hanya bisa menenggelamkan wajahku di dadanya.

Kalau seperti ini, kayaknya besok pagi aku malah demam karena sekarang suhu ruangan terasa panas.

“Tadi kamu nawarinnya cuma peluk, Ja. Kok malah ada bonusannya,” ucapku pelan.

“Obat biar cepet tidur.”

Mana bisa cepet tidur kalau obatnya kayak gitu, Raja…