“Siang, Mas Raka. Alamatnya sesuai aplikasi aja ya, Mas.”

Ucapan pertamaku setelah membuka pintu depan mobil Raka dan disambut dengan wajah datar Raka yang sudah terbiasa dengan kelakuanku yang kadang bikin dia sakit kepala.

“Ya, masuk, Mba, gak dikunci,” jawabnya masih dengan wajah yang datar.

“Garing banget lawakan lo,” ucapku lalu tersadar bahwa kursi penumpang di depan sudah terisi dengan maket milik Raka, “INI GIMANA AKU MAU DUDUK YA, RAKA WIJAYA?”

“Duduk di belakang.”

“RAKA BERCANDA YA LO?”

“Beneran.”

Aku mendengus pelan, “rese banget dah punya cowok kayak lo.”

“Eh eh mau ngapain?” jawabnya dengan wajah bingung saat melihatku mengangkat maketnya, berniat memindahkannya ke kursi belakang agar aku bisa duduk.

“Mau mindahin ini ke belakang (?)” ucapku dengan nada ragu.

“ENAK AJA! GA BOLEH! Taro lagi,” tangan Raka bergerak mengambil maketnya dariku dan menaruhnya lagi di kursi.

“TERUS GUE DUDUK DI BELAKANG BENERAN???”

Kalau kalian mau tau, daritadi aku masih berdiri di luar mobil Raka yang terparkir di parkiran fakultasku. Raka tadi pagi memang mengajakku makan siang bersama setelah kelas terakhir kami yang kebetulan selesainya di jam yang berdekatan.

“Sabar ya, Mbaknya. Tenang dulu. Jangan emosi dulu. Ini kita naro maket aku dulu di apartemen, baru abis itu makan.”

Aku menepuk jidatku sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi aku kalah sama Mmaket. Bisa dibilang prioritas Raka itu:

  1. Keluarga – Maket
  2. Maket
  3. Maket
  4. Maket
  5. Pacar

Seperti sekarang ini. Raka rela buang-buang bensin mobil demi mengantarkan maketnya ke apartemen dengan selamat.

“Kenapa ga minta Naufal aja? Dia kan punya Ojan?” ucapku sambil berkacak pinggang.

Ojan itu mobil brio kesayangannya Naufal yang selalu dibawa dan disayang layaknya Raka menyayangi maketnya.

“Tadi katanya dia ada kelas sampe sore.”

“Terus aku beneran di belakang gitu duduknya?”

“Engga, kamu tetep duduk di depan,” ucapannya terhenti sebentar, ia menatapku sambil sedikit nyengir, “tapi kamu pegangin maketku, ya? Hehe, aku takut rusak kalo ditaro di belakang.”

“Ck. Ya udah sini. Aku pegangin,” ucapku.

Sebenarnya aku lumayan jengkel karena harus megangin maket ini, tetapi aku malas memperpanjang perdebatanku dengan Raka. Capek juga berdiri 5 menit, ditambah lagi cuaca hari ini sangat panas.

Aku mengangkat maketnya pelan-pelan, takut rusak, nanti Raka ngamuk.

Akhirnya setelah 5 menit berdebat, aku duduk di kursi penumpang depan yang tadi hampir direbut oleh maket rumah milik Raka yang sekarang sudah berada di pangkuanku.

“Mba, sesuai aplikasi ya ini alamatnya,” ucap Raka yang sengaja meledekku. Dia tau bahwa aku sedikit kesal.

“Hm,” jawabku singkat dengan wajah datar.

“Yah mba, saya gak bisa nganterin kalo penumpangnya galak gini mukanya,” ucap Raka sambil menahan tawa.

Aku menengok ke Raka dan menunjukkan semyum terpaksaku, “nih saya udah senyum ya, Mas Raka. Ayo sekarang jalan, Mas. Keburu maag saya kambuh nih.”

“Aduh mba, pait banget senyumnya.”

“Raka sekali lagi lo ngeledek, gue acak-acak ya ini maket lo,” ancamku.

Raka menengok dengan wajah panik, “ehhh iya iya, ini jalan kok iya jangan diacak-acak ya maket aku, susah itu bikinnya!” ucapnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran fakultasku.

“Bodoamaaaattt.”

“Hari ini dapet penumpang galak ya, semangat Mas Raka,” ucap Raka sok-sokan menyemangati diri sendiri.

Aku menatap Raka dengan tatapan datar sedangkan yang ditatap malah sedang menahan tawa.


Setelah perdebatan dan kerusuhan tadi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Raka fokus menyetir sedangkan aku sibuk bernyanyi mengikuti alunan lagu dari playlist spotify Raka yang sengaja aku setel melalui speaker mobil.

“Raka.”

Raka yang duduk di kursi kemudi sebelahku hanya melirik. Mobil yang ia kendarai berhenti menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.

“Raka,” panggilku sekali lagi.

“kenapa?” Raka menoleh ke arahku. Ia menatapku seraya menaikkan sebelah alisnya.

Sejak tadi membuka pintu mobil, aku menyadari rambut Raka yang kian memanjang. Terakhir bertemu seminggu yang lalu, aku rasa tidak sepanjang ini. Oh iya, walaupun satu kampus, kami jarang bertemu kalau kegiatan kami sedang padat dan tugas dari dosen sedang menumpuk.

Rambut depan Raka bahkan bisa menghalangi pandangannya jika ia tidak menyugar rambutnya ke belakang.

Aku dengan hati-hati mengubah posisi dudukku menghadap ke Raka. Takut maketnya jatuh.

“Majuan deh.”

“Ngapain?”

“majuan aja dulu ih!”

Kami berdua duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

“Rambut kamu udah panjang banget,” ujarku sambil menyelipkan rambut panjang Raka ke samping kupingnya dengan tangan kananku.

Raka menatap wajahku dengan tatapan heran, “kenapa? aneh ya?”

“Engga dong! ganteng. Bisa diselipin kan nih rambutnya, keren.”

Aku terkekeh geli sambil merapihkan rambut panjangnya yang menurutku berantakan. Ia masih memandang wajahku sambil menahan senyum. aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menerpa wajahku.

“Kamu tuh ganteng rambutnya panjang, tapi harus dirapihin juga biar potongannya bagus. kan kalo bentuknya rapih, jadi makin—“

Ucapanku terputus saat tiba-tiba Raka melakukan hal gila.

“Iya, nanti aku rapihin,” ujarnya sambil memundurkan badannya dan kembali menghadap ke depan dan memegang setir. Ia kembali menjalankan mobil saat lampu sudah berganti menjadi hijau.

“APA-APAAN TUH TIBA-TIBA NYIUM???” pekikku dengan wajah kaget sekaligus mulai merah.

Raka tidak merespon ucapanku, ia tetap memandang lurus ke jalanan depan sambil menahan senyum.

“RAKAAA!”

“Apaaaa?”

“ANJIR LAHH RAKA ORANG GILAAA!”

Demi apapun, aku kepalang salting. Raka manusia paling rese.

“Kamu bawel sih dari pertama buka mobil.”

“Ya tapi—“

“Udah diem aja. Kalo salting ga usah banyak gerak, itu maket aku kalo rusak karena kamu, kamu yang ngerjain ulang ya.”

“RAKA WIJAYAAAA!!!!!”