KRL dan Ceritanya

Langit Kota Depok pada sore hari itu sedikit mendung tetapi kecil kemungkinan untuk turun hujan. Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Stasiun Pondok Cina pada sore itu mulai dipadati para pekerja dan mahasiswa yang hendak pulang.

“Hai kak,” sapa Nabila saat Raja sudah berdiri di depannya yang sedang duduk di kursi kayu panjang Stasiun Pondok Cina.

Lelaki itu berdiri dengan ransel hitam yang ia sampirkan di pundak kanannya dan tas tabung gambar berwarna hitam yang ia pegang. Raja membalas sapaan gadis di depannya itu dengan senyuman tipis, “boleh duduk di samping lo?”

“Boleh kakkk, nenek aku bukan yang punya stasiunnya kok. Ga usah izin juga gapapa,” ucap Nabila sambil terkekeh pelan.

“Lo belom jawab pertanyaan gue.”

Ucapan Raja membuyarkan lamunan Nabila. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menengok ke arah Raja, “pertanyaan yang mana kak?”

“Yang tadi di chat.”

“Oohhhh! Gapapa kok. Tadi gue nunggu kereta selanjutnya aja soalnya males kalo rame.”

Raja tau bahwa Nabila berbohong. KRL yang beberapa menit lalu meninggalkan Stasiun Pocin itu tidak ramai, tergolong lengang. Justru KRL yang selanjutnya kemungkinan besar akan padat karena sudah masuk jam pulang kerja.

“Emangnya lo mau ke mana?”

Pertanyaan itu membuat Nabila bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa, kini ia memalingkan wajahnya dari Raja lalu menjawab pertanyaan Raja dengan asal.

“Mau ke tebet.”

Raja menaikkan sebelah alisnya sambil memandang gadis berambut hitam kecoklatan di sampingnya tersebut dengan tatapan heran, “mau ke tebet tapi nunggunya di jalur 2.”

Nabila membulatkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya. ia baru sadar bahwa dirinya sekarang berada di jalur 2 yang mana jalur ini adalah jalur kereta menuju bogor, “hahaha oh iya salah! Tadi lupa,” ucap Nabila sambil meringis pelan. Setelah itu, ia segera beranjak dari duduk, “kalo gitu aku pindah jalur dul—“

Ucapan Nabila terputus saat Raja menarik pergelangan tangan kirinya pelan, menyuruh Nabila untuk duduk kembali di sampingnya, “ga usah kemana-mana.”

“Tapi kan—“

“Gue tau lo sebenernya ga mau ke tebet.”

Bibir Nabila terkatup rapat, ia hanya menunduk menatap ujung sepatunya yang kotor setelah tadi diinjak mas-mas tidak dikenal. Tangannya kembali memainkan tali totebag-nya dengan kasar. Ia tidak berani menengok ke arah Raja. Nabila tidak mengerti kenapa Raja muncul seperti ini di saat ia sedang kehilangan arah hingga akhirnya kakinya membawanya ke Stasiun Pocin.

“Ayo,” ucap Raja membuyarkan lamunan Nabila. Ternyata KRL selanjutnya telah datang. Ia menatap Raja yang sudah berdiri dan KRL di depannya secara bergantian. Sejujurnya ia bingung, kenapa Raja mengajaknya masuk? Raja memangnya mau ke Bogor? Dan kenapa mengajak dirinya?

“Mau naik atau gue tinggal sendiri di sini?” tanya Raja.

Nabila sudah terlanjur di sini. Ia tidak tahu mau ke mana setelah ini. Ia sedang tidak ingin bertemu teman atau pun keluarganya. Ia hanya ingin menjauh dari dunianya sebentar saja. Lebih baik dia ikut Raja saja. Ia tidak tau Raja akan membawanya ke mana tapi entah kenapa ia merasa aman dengan Raja.

“Sebelum kita naik ke KRL, gue ada satu pertanyaan penting. Di dalem kayaknya bakal rame banget karena jam pulang kerja. Lo liat kan itu? Banyak yang naik kereta ini. Kayaknya bakal desek-desekkan, gue takut kita berdua kepisah. Gue ga mau berakhir jadi tersangka penculikan kalo lo tiba-tiba ilang. Makanya gue mau nanya, lo bersedia gue gandeng tangannya ga biar ga kepisah? Tapi gapapa juga kok kalo ga mau. Lo bisa pegangan sama ransel gue,” ucap Raja panjang dan lebar.

Nabila terkekeh kecil mendengar penjelasan panjang dari Raja. Orang-orang banyak yang bilang kalau Raja itu tidak banyak bicara. Namun, entah kenapa setiap bersamanya, ia merasa Raja menjadi banyak bicara seperti tadi, “karena gue takut ransel lo robek, jadi gue lebih milih pegangan sama tangan lo aja deh.”

Ia tersenyum tipis sambil beranjak dari duduk dan menerima uluran tangan lelaki berkaos flanel kotak-kotak warna biru-merah yang kini mengajaknya masuk ke dalam KRL. Ucapan Raja benar, di dalam ramai dan padat bahkan hampir semua kursi terisi.

“Lo duduk di sini,” ucap Raja sambil menuntun Nabila untuk duduk di kursi kosong yang berada di depannya.

“Kak Raja, tas tabungnya gue bawain aja sini. Takut bikin ga nyaman penumpang yang lain,” Raja tanpa menjawab langsung memberikan tas tabungnya itu kepada Nabila. Sekarang ia berdiri tepat di hadapan gadis itu sambil berpegangan pada hand strap.

KRL mulai melanjutkan perjalanannya lagi menuju stasiun berikutnya. Raja dan Nabila sama-sama diam. Nabila enggan mengajak ngobrol Raja karena takut orang di samping kanan kirinya terganggu. Sedangkan Raja sibuk menatap jendela di hadapannya sambil sesekali melirik Nabila yang lagi-lagi sedang menunduk.

Pemberhentian berikutnya adalah Stasiun Depok Baru. KRL semakin padat, banyak penumpang yang naik termasuk seorang kakek tua yang sekarang berdiri di samping Raja. Nabila yang sadar akan keberadaan kakek tua itu lalu berdiri, “permisi pak, ini duduk aja di sini pak,” ucapnya mempersilakan kakek tua itu duduk. Setelahnya, Nabila berdiri di samping Raja dengan tangan kanannya yang berpegangan pada hand strap. Raja lalu mengambil tas tabung yang sedang di pegang oleh Nabila dan menyampirkannya di pundak.

Nabila yang sebelumnya duduk, sedikit kehilangan keseimbangan saat KRL kembali melaju. Hampir saja ia jatuh kalau saja ia tidak berpegangan erat pada hand strap. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia yakin Raja melihat saat tadi dirinya hampir jatuh. Napasnya tercekat saat tangan kirinya tiba-tiba digenggam oleh Raja, “sini berdiri deketan ke gue. Cowok di samping lo bisa aja tiba-tiba nyenggol lo kalo keretanya berenti,” bisik Raja sangat dekat dengan kupingnya sambil menarik Nabila untuk mendekat.

Bau parfum yang dikenakan Raja sangat terasa dan menusuk indra penciuman Nabila hingga membuat ia menahan napas sesaat. Ia tidak tahu apakah itu karena bau parfum Raja yang kuat atau karena jarak di antara mereka berdua sangat dekat. Genggaman tangan Raja sangat kuat tapi Nabila bersyukur karena itu sangat membantu dirinya menjaga keseimbangan.

Sejujurnya sejak tadi Raja menggenggam tangannya, jantung Nabila berdetak sangat kencang. Ia sangat ingin KRL ini cepat sepi agar keduanya bisa duduk dengan tenang tanpa harus berpegangan tangan seperti sekarang. Bukannya tidak nyaman dengan Raja tetapi jantungnya tidak bisa diajak kerja sama. Keinginan Nabila terkabul saat KRL berhenti di Stasiun Depok. Banyak penumpang yang turun di stasiun ini sehingga terdapat kursi kosong untuk Raja dan Nabila duduk. Nabila menghela napas lega saat tangannya bebas dari genggaman Raja.

“Maaf ya kalo lo ga nyaman pas tadi gue gandeng,” ucap Raja sambil mengapit tas tabungnya di antara kedua kakinya.

“Engga kok, gue malah berterima kasih sama lo, Kak. Kalo tadi Kak Raja ga megangin gue, kayaknya kita berdua bakalan jatoh,” Nabila menengok ke arah Raja yang sedang menyugar rambut hitam legamnya ke belakang.

Nabila mengalihkan pandangannya dari lelaki di sampingnya itu. Jantungnya kembali berdebar entah karena apa. Ia lalu memandang ke sekitarnya yang sekarang sudah lumayan lengang. KRL tidak sepadat tadi, masih banyak yang harus berdiri tapi itu hal yang wajar. Setidaknya oksigen di sini tidak minim seperti sebelumnya.

Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya dari tadi Raja ingin menanyakan keadaan gadis di sampingnya itu. Kenapa ia duduk melamun di jalur 2 Stasiun Pocin? Kenapa ia bingung saat ditanyakan kemana arah tujuannya tadi? Pertanyaan itu masih tersimpan, enggan untuk ia tanyakan. Raja sengaja mengajak Nabila untuk naik KRL menuju Bogor. Ia menunggu adik tingkatnya itu bercerita. Ia tahu Nabila sedang butuh seseorang untuk menemaninya. Ia tahu ada benang kusut di dalam pikiran gadis yang kini sedang melamun memandang gerbong KRL.

“Kak Raja kenapa ngajak gue naik KRL? Emangnya Kak Raja mau ke Bogor?” tanya Nabila yang akhirnya membuka suara.

Raja sedikit mengubah duduknya menghadap ke arah Nabila, “kalo lo? Kenapa lo mau gue ajak naik KRL sampe Bogor? Ga takut gue culik?”

Pertanyaannya membuat Nabila tertawa kecil, “mending diculik sama lo sih kak daripada diculik sama orang ga kenal di Stasiun Pocin.”

“Gue ga mau ke Bogor sih sebenernya. Lagi pengen naik KRL aja mumpung hari ini gue senggang, ga ada tugas atau kerjaan,” Raja tentu berbohong soal 'lagi pengen naik KRL' tetapi ia memang sedang senggang. Niat awalnya tadi ingin pulang ke rumah orang tuanya menggunakan KRL untuk mengambil mobil yang ia tinggalkan di sana beberapa hari yang lalu dan kembali ke kosannya. Namun, semua itu ia urungkan saat bertemu Nabila.

Gadis itu hanya ber-oh ria. Ia tidak lagi menjawab ucapan Raja.

KRL kembali berhenti ke Stasiun berikutnya. Penumpang banyak yang turun membuat KRL menjadi lengang. Tempat duduk masih terisi penuh tetapi hanya sedikit yang terpaksa berdiri.

“Lo mau ngomong apa ke gue? Dari tadi ngelirik ke gue terus. Cerita aja kalo ada yang mau diceritain,” ucap Raja yang sedang memainkan ponselnya.

Nabila membulatkan matanya, kaget karena ternyata Raja sadar bahwa dari tadi ia memang melirik Raja, ingin mengucapkan sesuatu tetapi ragu, “hehe keren bisa tau gue lagi ngelirik Kak Raja.”

Raja memandang wajah Nabila sebelum akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi, “kenapa? Lo ada yang mau ditanyain?”

Nabila menggigit bibir bawahnya pelan sambil memandang ke bawah, memainkan kuku tangannya, “Kak Raja pernah ga ngerasa capek banget kuliah. Rasanya pengen ngilang aja dari bumi?”

“Mmmm, kalo capek sih sering tapi ga pernah pengen ilang dari bumi soalnya nanti mama sama papa gue nyariin.”

“Ih serius Kak!”

“Gue juga serius,” ucap Raja menatap mata Nabila dengan lekat.

Nabila menghela napas kasar, “kok gue pengen ya.”

“Kenapa lo mau ilang dari bumi?”

Gadis itu terdiam sesaat, “gapapa. Pengen aja. Soalnya capek banget kuliah. Gue ngerasa burnout sama tugas, ujian, dan segala kegiatan di luar akademik yang gue jalanin sekarang,” ucapan Nabila terhenti membuat Raja bingung.

“Terus?”

“Kak Raja gapapa kalo gue cerita gini? Maaf gue ga enak cerita masalah gue ke lo, Kak. Takut nambahin pikiran lo.”

“Ngapain minta maaf? Lo ga ngebebanin gue kok. Lagian gue juga lagi senggang. Santai aja kalo mau cerita,” jawab Raja.

Nabila sebenarnya enggan untuk bercerita lebih lanjut. Ia tipikal orang yang jarang menceritakan masalahnya kepada orang lain. Menurutnya, ia takut membebani orang lain dengan masalahnyakarena ia tahu, orang yang ia ceritakan juga pasti memiliki masalah. Ia tidak ingin menambah beban pikiran orang lain. Namun, entah mengapa ia ingin bercerita kepada kakak tingkatnya yang sekarang bersamanya tersebut. Ia merasa aman untuk bercerita tentang masalahnya.

“Gue ngerasa kayak kerja rodi ngerjain ini itu padahal semua itu gue yang mau. Ga ada yang minta gue buat ngelakuin ini semua. Gue punya kegiatan banyak banget. Ikut kepanitiaan sana sini, ikut BEM Fakultas, ikut volunteering, ngurus komunitas sama temen-temen gue, siap-siap buat ikut lomba, dan gue juga tetep harus ngejaga IPK gue supaya stabil atau malah naik,” jelas Nabila sebelum akhirnya ia menghela napas kasar dan menyenderkan kepalanya ke jendela, “capek banget.”

Raja mengangguk pelan, “gue mau nanya sama lo. Semua yang lo lakuin itu tujuannya apa? Apakah lo punya target dan impian sehingga lo ngelakuin itu semua?”

“Gue... gak tau....” jawab Nabila pelan sambil menggigit bibir bawahnya.

“Terus terang, gue salut banget sama lo yang ikut banyak kegiatan dan aktif sana sini. Menurut gue itu keren banget. Tapi pas tadi gue tanya, target sama impian lo apa, lo jawab ga tau. Wajar lo ngerasa burnout. Lo gak tau apa sebenernya yang lo kejar. Lo belom punya plan jangka panjang untuk kedepannya. Lo belom tau apa tujuan kenapa lo ngelakuin itu semua.”

Nabila mengiyakan perkataan Raja dalam hati. Semuanya memang benar, ia tidak tahu kenapa ia melakukan semua ini. Untuk apa ia lelah untuk sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu tujuannya apa.

“Gue yakin lo udah dewasa buat nentuin jalan hidup dan rencana hidup lo. Gue cuma ngingetin, aktif di banyak kegiatan dan punya pengalaman yang banyak ga akan berarti apa-apa kalo lo belom punya tujuan utama, target, dan impian yang bikin lo terpacu buat ngelakuin itu semua. Cari target dan impian hidup lo, bikin rencana hidup lo untung jangka panjang. Seenggaknya sampe nanti lo lulus dan cari kerja, tentuin lo pengen ngelakuin apa setelah lulus. Dari situ, lo tarik mundur ke belakang, apa langkah yang harus lo lakuin supaya lo bisa mewujudkan keinginan lo dan mimpi lo setelah lulus. Dengan begitu, menurut gue lo akan terfokus ke hal-hal yang emang berguna buat mencapai target lo di masa depan.”

Raja menjelaskan semuanya panjang lebar tanpa sadar kalau Nabila telah menundukkan kepalanya sedari tadi, menahan diri untuk tidak menangis tetapi gagal karena sekarang tangannya sudah dibanjiri oleh air matanya.

“EH? Kok nangis??” ucap Raja panik sambil memegang pundak kanan Nabila, mecoba untuk melihat wajah gadis itu. Perasaan panik tercetak jelas di wajah Raja. Ia tidak menyangka ucapannya akan membuat gadis itu menangis. Tepat saat ia berusaha menenangkan Nabila, KRL yang mereka naiki telah tiba di pemberhentian terakhir yaitu Stasiun Bogor.

“Ayo berdiri dulu. Udah sampe, kita turun.”

Raja lalu menggandeng tangan Nabila yang masih menunduk sambil mengusap wajahnya dengan tangan kirinya. Raja membawa Nabila menuju minimarket yang ada.

“Tunggu di sini ya, gue beli minum dulu,” ucap Raja sambil melepas kaos flanelnya, menyisakan kaos putih yang ia kenakan, “pake ini biar ga kedinginan. Jangan kemana-mana ya.”

Lelaki itu lalu bergegas masuk dan membeli air mineral secepat kilat. Saat kembali, ia menemukan Nabila yang sudah duduk jongkok memeluk kedua lututnya sambik menyender ke tembok. Air matanya sudah berhenti mengalir tapi ia masih melamun dengan pandangan kosong.

Lamunan gadis itu buyar saat Raja berdiri di hadapannya sambil memberikan sebotol air mineral, “minum dulu.”

Nabila lalu berdiri dan meminumnya, “makasih ya, Kak Raja. Maaf gue jadi nangis gini. Gue terlalu emosional denger omongan lo. Lebay banget ga sih gue, Kak?”

Raja terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, “engga kok. Sama sekali engga. Wajar lo bereaksi kayak gitu. Oh ya dan maaf kalo omongan gue tadi ada yang kesannya sok tau dan kelewatan.”

“Engga kakk, gue malah berterima kasih ke Kak Raja karena udah ngingetin gue sebelum gue makin gila.”

Ucapan Nabila membuat senyuman tercetak di wajah Raja. Lelaki itu lalu memegang kedua pundak gadis di hadapannya dan menatap lekat bola mata hitam legam milik gadis itu, “lo ga boleh ilang dari bumi ini. Gue mau lo tetep ada di bumi ini terus. Jangan pernah mikir buat pergi.”

“Kenapa Kak Raja ngomong kayak gini? Lagian kalo gue ngilang emangnya lo bakal nyariin?” tanya Nabila sambil terkekeh pelan.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Soalnya gue belom sempet ngajak lo buat nyobain makanan kesukaan gue di bogor padahal kita udah sampe sini karena ini udah mau malem. Kita harus pulang,” ucap Raja dengan tangan yang masih memegang kedua pundak Nabila.

Tawa kecil dan senyuman menghiasi wajah Nabila, “apa hubungannya deh kak?”

“Kalo lo ngilang dari bumi ini, gue ga bisa ngajak lo balik lagi ke sini buat nyobain makanan kesukaan gue itu. Lo bakal nyesel deh,” ucap Raja.

Nabila tersenyum menatap wajah Raja yang ada di hadapannya sekarang, “berarti Kak Raja janji ya bakal ngajak gue balik ke sini lagi?”

“Iya, gue bakal ajak lo ke sini lagi,” jawab Raja sambil mengacak rambut Nabila pelan, “udah yuk balik. Mau maghrib, gue beneran kayak nyulik lo.”

Setelahnya, keduanya berjalan menuju KRL dengan tangan Raja yang menggenggam tangan Nabila erat, sangat erat sampai-sampai Nabila mengubur niatnya untuk menghilang dari bumi ini.

Keduanya duduk di dalam gerbong KRL yang telah sepi. Sepanjang 30 menit perjalanan, Nabila tertidur di pundak Raja.

“Gue ga mau lo ilang dari bumi ini karena gue mau terus ketemu lo. Gue mau liat lo jadi orang hebat. Jadi jangan kemana-mana ya?” ucap Raja sambil menatap wajah gadis yang tertidur di pundaknya tersebut.

Pada hari itu, Raja menjadi alasan bagi Nabila untuk tetap berada di bumi ini.

Dan di masa depan, Nabila yang akan menjadi alasan bagi Raja untuk tetap berada di bumi ini.