23.

Aleysha sekarang menjadi pusat perhatian para pengunjung starbucks karena tingkah uniknya yang melambai-lambaikan tangan di tengah ruangan seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Ajisaka.

Ajisaka pun mengangkat tangannya tidak terlalu tinggi. Entahlah Aleysha bisa melihatnya atau tidak, ia hanya tidak mau menjadi pusat perhatian seperti gadis itu. Beruntungnya, Aleysha langsung menyadarinya dan segera menghampirinya.

“Haloo, Ajisaka kan?” tanya Aleysha sedikit ragu.

“Iyaa, ini Ajisaka.”

Aleysha mengangguk-anggukan kepala. Sempat hening beberapa saat, Aleysha masih berdiri sedangkan Ajisaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau menurut Aleysha, ini adalah situasi paling canggung yang pernah ia rasakan selama ia hidup di dunia ini.

“Ini gue boleh duduk ga?” Tanya Aleysha yang akhirnya memecah keheningan di antara keduanya.

Ajisaka terlihat kebingungan lalu tersadar, “ha? OH IYA MAAF! boleh boleh, iya duduk aja gapapa boleh kok iya aduh maaf,” jawab Ajisaka dengan ekspresinya yang kikuk.

“Hehe oke thanks!”

“By the way, kita belom kenalan in a proper way. Halo Ajisaka! Salam kenal ya, gue Aleysha, temen satu sekolahnya Naya!”

“Ajisaka, temen satu kelas intennya Naya. Salken juga,”

Kemudian, Ajisaka menyerahkan powerbank dan kabel charger miliknya, “ini, kebetulan gue tadi bawa powerbank juga.”

“Ajisaka makasih banyaaaakkkk!” pekik Aleysha pelan.

Setelah itu, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ajisaka yang sedang bermain handphone dan Aleysha yang beranjak dari duduk untuk memesan minuman.

“Ajisaka,” panggil Aleysha.

Yang dipanggil hanya menaikkan kedua alisnya, seakan berkata “kenapa?”

“Ini boleh gue pinjem sampe baterai handphone gue 50% ga?”

“Boleh, abisin juga gapapa.”

“Waduh kelamaan kalo nunggu sampe 100%, lo kan harus inten ya?”

“Gue udah ga inten, gue masih lama kok disini.”

Mata Aleysha membulat, “LOH? UDAH DAPET KULIAH?”

Ajisaka agak bingung melihat reaksi kaget Aleysha, “iya, kemaren dapet di snm.”

Ucapan Ajisaka disambut tepukan tangan dari Aleysha, “keren... dapet apa dan dimana?”

“ilmu komputer di UI.”

“Serius?? Keren bangeett! congrats ya, Ajisaka!”

“Makasihh,” ucap Ajisaka. Sebenarnya ia sedikit enggan untuk menambah pembicaraan dengan Aleysha, ia merasa kurang percaya diri berbicara dengan orang baru terutama orang itu adalah seorang perempuan. Namun, entah kenapa kali ini Ajisaka ingin balik bertanya kepada gadis di hadapannya yang sedang meminum vanilla latte.

“Kalo lo gimana?”

“Gue? Gimana apanya? Kuliah?”

Ajisaka hanya menganggukkan kepala.

“Sama kayak lo juga, udah dapet hehehe.”

“Jurusan apa?”

“Arsitektur interior!” jawab Aleysha dengan suara yang lebih bersemangat.

“Wow, kenapa ambil itu kalo boleh tau?”

Aneh. Ajisaka bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa ia menjadi kepo dan banyak tanya?

Pertanyaan yang Ajisaka lontarkan membuat Aleysha tersenyum di balik masker putihnya. Aleysha suka ketika ada seseorang menanyakan alasan kenapa ia ingin melanjutkan pendidikan ke bidang arsitektur interior. Sayangnya, yang sering ia dapatkan adalah pertanyaan “loh kenapa ga ambil kedokteran aja? Kamu kan pinter.” atau “kirain mau ambil jurusan kayak mama atau papa kamu.” Aleysha sudah sangat amat terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Pada awalnya, ia masih punya kesabaran untuk menjawabnya dengan panjang lebar, tetapi semakin kesini, ia hanya menjawab ala kadarnya karena toh setelah dijelaskan pun mereka yang bertanya tidak akan peduli lagi.

Ketika Ajisaka bertanya tentang alasannya mengambil arsitektur interior, ia sangat bersemangat untuk menjawab. Setidaknya, Ajisaka bukan termasuk orang yang bisanya hanya berkomentar tentang hidupnya.

Dengan satu tarikan napas, Aleysha menjawab pertanyaan Ajisaka panjang lebar. Ajisaka mendengarkan penjelasan Aleysha dengan seksama sambil memperhatikan bagaimana gadis itu bercerita dengan mata berbinar.

Lucu. Itu yang ada dalam batin Ajisaka selama Aleysha bercerita tiada henti. Ajisaka baru pertama kali bertemu cewek yang mau ngobrol dengannya seperti ini. Kalau di sekolah, teman-temannya yang cewek sudah keburu malas berbicara dengannya. Kata mereka, Ajisaka ga seru kalau diajak ngobrol, kalau jawab cuma seperlunya aja. Sedangkan Aleysha sekarang nampaknya tidak peduli dengan bagaimana Ajisaka akan merespon ceritanya itu.

Pada siang hari yang cerah itu, senyum Ajisaka merekah di balik masker hitam yang sedang ia pakai.

Sifat keduanya bertolak belakang, tetapi obrolan singkat dan ringan pada siang hari itu mengalir begitu saja di antara keduanya. Aleysha yang banyak bicara dan Ajisaka yang kikuk.

Pada siang itu, Ajisaka bertemu seorang ‘teman’ baru yang akan mewarnai waktu liburnya selama menunggu perkuliahan dimulai.

Seorang teman baru yang akan membuatnya merasakan adanya kupu-kupu di perutnya untuk pertama kali dalam hidup Ajisaka.