When a Carnation Blooms For the First Time

Perpusat UI adalah comfort zone bagi Anyelir. Sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, bundanya telah membawanya mengunjungi perpustakaan yang terletak di sebelah Danau Kenanga tersebut. Pertama kali menginjakkan kaki di dalam bangunan yang cukup megah itu, matanya berbinar. Sang bunda membawanya mengitari isi perpustakaan sambil bercerita bahwa perpusat menjadi saksi bisu dirinya belajar dan mengerjakan tugas semasa kuliah. Kali pertama itu juga, ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang mengerjakan tugas-tugas kampusnya di perpusat setelah selesai menghadiri kelas.

Mungkin keinginan Anyelir tersebut terdengar remeh, tetapi itu yang menjadi salah satu motivasi dirinya untuk mengejar kampus kuning impiannya tersebut. Ia membuktikan bahwa keinginan sederhana yang ada di hidup kita dapat menjadi motivasi besar untuk mewujudkan mimpi yang kita punya karena sekarang, gadis itu tengah berkutat dengan tugasnya di salah satu ruangan perpusat UI sebagai salah satu mahasiswa kampus tersebut.

Sejak semester 1 hingga kini dirinya berada di semester 2, perpusat menjadi tempat favorit bagi Anyelir untuk mengerjakan tugas atau sekadar duduk menyendiri setelah kelas selesai. Ditambah lagi, perpusat letaknya bersebelahan dengan gedung lama Fasilkom - gedung fakultasnya - membuat Anyelir hampir setiap hari mengunjungi perpusat.

Jadwal kunjungannya ke perpustat setiap harinya tidak menentu, menyesuaikan jadwal kegiatan dan suasana hatinya. Namun, ia akan selalu mengunjungi perpustakaan setiap hari Jumat di mana pada hari itu, dirinya ditugaskan oleh sang bunda untuk menjemput adik keduanya yang masih kelas 3 SD pulang dari sekolahnya. Anyelir selalu menunggu di perpusat sambil mengerjakan tugas atau menonton Netflix (jika ia sedang malas nugas atau tidak ada tugas) hingga jam menunjukkan pukul setengah 5 sore di mana ia harus segera berangkat untuk menjemput adiknya.

Menurutnya, “nongkrong” di perpusat sangat amat nyaman dan membuat dirinya lebih fokus dan produktif saat belajar atau mengerjakan tugas di sana. Sampai-sampai dirinya bisa lupa waktu ketika sudah fokus dan hanyut dalam tugas atau materi yang sedang ia dalami. Anyelir baru akan sadar bahwa dirinya sudah berjam-jam duduk di perpusat saat pemberitahuan perpustakaan akan tutup dalam 15 menit lagi telah terdengar pada pukul 18.45 WIB. Sejak jam 4 sore tadi, ia hanyut mengerjakan PR salah satu mata kuliah yang tenggat waktunya adalah malam ini.

“Huaaahh gila udah malem ternyata.”

Kalimat pertama yang akan ia ucapkan saat pemberitahuan perpusat akan tutup telah masuk ke telinganya lalu ia menengok ke luar jendela dan menyadari bahwa matahari telah tenggelam digantikan oleh rembulan. Setelahnya, gadis yang pada hari Jumat ini mengenakan cardigan crop berwarna biru muda tersebut membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

“Pemadaman listriknya kira-kira kapan ya? Atau Mas Mika kemakan hoax,” ucapnya sambil memasukkan laptop ke dalam totebag yang ia gunakan. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, hanya tersisa beberapa orang yang hendak pulang juga. Mereka lebih dulu keluar dari ruangan menyisakan Anyelir seorang diri di sana.

“Duh cepet-cepet pulang deh gue, belom scan jawaban PR matdis.”

Tepat saat Anyelir menyampirkan totebag ke pundak kanannya, semua lampu padam dan keadaan menjadi gelap gulita.

“AAAAAAAAAAAAAAA!”

Teriakan Anyelir mungkin dapat terdengar hingga seluruh kawasan kampus. Ia refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berjongkok. Fakta tentang dirinya adalah ia takut gelap. Dirinya tidak bisa berada di tempat yang gelap dan minim penerangan. Tubuhnya akan membeku ketika berada di tempat yang gelap. Oleh karena itu, sekarang ia masih berteriak walau tidak sekencang sebelumnya, sambil berharap bahwa lampu akan menyala kembali.

Teriakannya terhenti saat ia merasakan ada lampu senter yang menyorot wajahnya.

Ia merasakan tepukan pelan di pundaknya.

“Hey, tenang tenang, lo ga sendirian, ada gue.”

Suara lembut seorang laki-laki membuat Anyelir menurunkan tangannya. Rasanya ia ingin berteriak lagi saat ia melihat wajah familiar yang kemarin-kemarin ia hindari untuk bertemu di perpustakaan. Wajahnya terkejut pada saat melihat sosok yang sedang ikut berjongkok di depannya sekarang.

ANJRIT mas mas yang ngomel kemaren yang manggil gue komeng, jeritnya dalam hati.

Sedangkan Raja, laki-laki yang saat ini masih menyorot Anyelir dengan flashlight handphone-nya, menunjukkan wajah yang tenang, “Ayo bangun, gue temenin turun buat keluar.”

Jika Anyelir tidak takut gelap, dirinya akan menolak tawaran tersebut dan berjalan sendiri keluar dari perpustakaan. Sayangnya, untuk berdiri saat ini saja, ia sedikit linglung.

Oleh karena itu, setelahnya ia hanya bisa berjalan dengan kikuk di belakang Raja sambil ikut menyalakan flashlight handphone miliknya untuk memberikan penerangan di sekitar mereka berdua.

Lalu tiba-tiba Raja menengok ke belakang, “jalan di depan gue aja.”

Anyelir hanya bisa menurut dan membiarkan Raja berjalan di belakangnya. Ia tidak mengerti mengapa cowok di belakangnya ini tiba-tiba menyuruhnya pindah ke depan tetapi setelah kembali berjalan, dirinya sadar bahwa penerangan di depan jauh lebih terang dibanding di belakang. Membuatnya lebih mudah untuk berjalan. Ditambah lagi sekarang ia merasa lebih aman karena ia tahu Raja berada di belakangnya.

Sesampainya di dekat pintu masuk perpustakaan, Anyelir menghela napas pelan karena cahaya rembulan di lantai 1 jauh lebih membantu untuk memberikan penerangan di sekitar.

Thank you, ya. Maaf kalo tadi ngagetin pas gue teriak,” ucap Anyelir sambil sedikir membungkukkan badannya kepada Raja.

“Sama-sama. Gapapa, santai aja.”

Anyelir menggigit bibir bawahnya pelan, “mmmm mau nanya… lo tau ga ini pemadaman listrik di Depok aja atau gimana?”

Raja mengecek handphone-nya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anyelir.

“Kata temen gue Jakarta juga,” jawab Raja.

Anyelir menghela napas kasar. Sekarang ia berdiri dengan bingung yang melanda pikirannya. Jika ia pulang sekarang, sudah pasti rumahnya juga sedang gelap gulita dan akan sulit bagi dirinya untuk scan dan mengumpulkan jawaban PR-nya. Lebih baik ia selesaikan itu sekarang sehingga saat pulang nanti, ia tidak memiliki tanggungan tugas lagi.

“Oohhh oke oke makasih lagi.”

Gadis itu pun pamit meninggalkan Raja, berjalan menuju pintu perpustakaan yang menuju taman lingkar. Dirinya berniat untuk scan jawaban dan mengumpulkan tugasnya di sana.

“Mau ke mana? Pintu keluarnya di sini?” tanya Raja saat melihat Anyelir melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan dengan pintu keluar.

“Gue mau ngumpulin tugas sebentar sebelum pulang,” ucap Anyelir pelan.

Raja hanya mengangguk pelan lalu berjalan mendekat ke arah Anyelir, “oke ayo.”

“Hah?”

Gadis itu menatap Raja dengan pandangan bingung.

“Kenapa? Lo mau ke taman lingkar kan? Ayo gue temenin, di luar juga lumayan gelap. Lo yakin berani sendirian di sana?”

Pertanyaan dari Raja membuat Anyelir terdiam.

Benar juga, ia sudah pasti tidak berani sendirian di taman lingkar yang sekelilingnya banyak pohon dan berada di pinggir danau.

Anyelir memandang punggung Raja yang sekarang berjalan mendahuluinya keluar menuju taman lingkar sebelum akhirnya ia pun juga mengikuti langkah laki-laki itu di belakangnya.

Keduanya duduk di taman lingkar yang menghadap ke hamparan Danau Kenanga yang luas.

Tidak ada pembicaraan di antara keduanya selama Anyelir mengeluarkan buku catatan yang berisi jawaban tugas miliknya bahkan ketika Raja dengan sengaja menyalakan flashlight handphone-nya untuk membantu memberikan penerangan saat Anyelir hendak men-scan jawabannya. Laki-laki itu hanya duduk dengan tenang di samping Anyelir tanpa berbicara atau menanyakan apapun kepada gadis tersebut.

“Udah?” tanya Raja saat melirik layar handphone gadis tersebut yang telah berhasil mengumpulkan file tugas miliknya.

“Udah, makasih ya,” jawab Anyelir pelan yang hanya dibalas dengan anggukan karena sang laki-laki tengah memandang langit. Anyelir pun ikut mendongakkan wajahnya ke atas, penasaran dengan apa yang sedang Raja lihat.

“WOAH…. Bintangnya banyak banget???” ucapnya refleks saat pandangannya terjatuh pada gemerlap bintang yang menghiasi langit.

Pandangan Raja berpindah kepada gadis di sampingnya. Ada senyuman tipis yang muncul di wajah Raja ketika melihat Anyelir yang kini sedang mengangkat tangan kanannya, berusaha menggapai bintang-bintang yang bertebaran di langit. Ujung bibirnya semakin berkedut menahan senyum saat menyadari Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya sehingga ada helai-helai rambut yang terurai dengan bebas. Kakinya yang tidak cukup panjang untuk menapakkan kaki ke tanah ia ayunkan ke depan dan belakang layaknya seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku yang terlalu tinggi.

“Depok ternyata langitnya bisa kayak gini juga ya? Tumben,” ucap Anyelir sambil menengok ke arah Raja, mengajak laki-laki itu berbicara.

Raja mengangguk pelan sambil menengok ke arah Anyelir. Ketika pandangan mata keduanya bertubrukan, Raja menyadari satu hal, gadis di sampingnya ini memiliki mata yang cantik. Walaupun penerangan di sana tidak terlalu terang, Raja dapat dengan jelas melihat warna kornea mata hitam legam yang saat ini terlihat memancarkan kilauan milik gadis tersebut. Bulu mata lentik milik Anyelir seakan-akan hadir untuk mempercantik mata miliknya.

Sepersekian detik berikutnya, Raja memutus kontak matanya dengan Anyelir saat sadar ia sempat hanyut ke dalam sorot mata hitam legam tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah danau yang berada di depannya.

“Nama gue bukan komeng, in case setelah ini lo mau manggil gue dengan nama itu,” ucap Anyelir secara tiba-tiba membuat Raja mau tidak mau kembali menengok kepada gadis tersebut sambil menahan senyumnya.

Raja pikir, gadis itu akan berpura-pura tidak tahu tentang hal tersebut. Ia pun sebenarnya tidak ada niatan untuk memanggilnya dengan nama “Komeng” sebelum gadis itu memperkenalkan namanya dengan resmi.

“Kalo bukan komeng, nama lo siapa?” tanya Raja.

“Anyelir tapi panggil aja Anya,” jawab Anyelir, “kalo lo? Nama lo siapa?”

“Raja. Nama gue Raja.”

Anyelir hanya menangguk pelan dengan pandangannya yang kini kembali memandang langit.

“Gue dari sistem informasi 2020,” ucap Anyelir tanpa ditanya.   “Kalo gue dari arsitektur 2019,” jawab Raja juga sambil memandang langit di atas.

Jawaban Raja membuat Anyelir buru-buru menengok ke arah laki-laki tersebut dengan wajah terkejut, “LO KATING???”

Raja menaikkan salah satu alisnya, “Iya, emang kenapa?”

Damn…. sorry banget buat airdrop kemaren… lo ga omongin sama temen-temen teknik lo yang lain kan?” tanya Anyelir dengan wajah khawatir.

Kelakuannya 2 minggu yang lalu soal airdrop berisi teguran kepada Raja kalau dipikir kembali cukup nekat dan beresiko. Malam saat setelah Anyelir mengirim airdrop itu pun, ia langsung merenungkan perbuatannya tersebut. Ia khawatir dirinya akan dicari-cari oleh Raja karena merasa tidak terima atas teguran yang ia berikan. Apalagi saat ia tahu bahwa Raja adalah anak fakultas teknik. Hampir 2 semester menjadi mahasiswa, Anyelir selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan cowok teknik setelah diperingatkan oleh orang-orang di sekitarnya untuk tidak nekat PDKT dengan cowok teknik.

Raja tertawa pelan mendengar ucapan anyelir.

“Ya enggak lah. Dan lo ga usah minta maaf soal airdrop itu karena gue yang salah,” jawab Raja.

Anyelir menghela napas lega. Rasa panik yang tadi sempat menjalar di dalam hatinya seketika reda sat mendengar jawaban Raja.

“Lo sering ke perpus?” tanya Raja.

Anyelir mengangguk, “iya, terutama hari Jumat, gue selalu ke perpus.”

“Kalo lo Kak? Gue kayaknya baru 2 minggu yang lalu pertama kali liat lo di perpus,” tanya Anyelir balik.

Raja mengangkat salah satu alisnya, “kak?”

“Iya…? Is there anything wrong? Lo kan kating?”

Setelah itu, Raja hanya mengangguk.

“Iya emang ga pernah ke perpus, baru 2 minggu yang lalu ke perpus. Niatnya sih mau kerkel. Tapi berujung kerja mandiri. Terus ternyata nugas di perpus oke juga jadinya gue iseng balik lagi tiap Jumat,” jawab Raja dicampur dengan sedikit curhatan sekaligus keluhan tersirat.

“Ih iya kannn! Emang nugas di perpus tuh enaakkk!” jawab Anyelir dengan antusias, “btw inget kak, temen lo nanti bakal kena azabnya. Trust me.”

“Udah kok, gue bilang aja ke asdos kalo dia ga kerja.”

Jawaban Raja membuat mata Anyelir membulat kaget. la merasa cowok di sampingnya ini cukup tegas dan berani jika berhubungan dengan urusan tugas dan pekerjaan.

“Terus temen lo gimana?”

“Ditegur asdos. Tobat sementara kayaknya, kemarin akhirnya ikut bantu ngerjain,” jawab Raja sambil menggidikkan bahu.

“Keren…” timpal Anyelir.

Setelahnya, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara malam yang mengisi ruang di antara dua mahasiswa yang sedang duduk bersisian tersebut. Keduanya sibuk memandangi gemerlap bintang.

Suara telfon dari handphone Anyelir masuk membuyarkan keheningan. Anyelir pun menangkat telfon tersebut.

“Halo Mas? Kenapa?”

“Di perpusat, di taman lingkar sih lebih tepatnya.”

“Abis submit tugas sebentar. Iya ini mau pulang kok, sorry tadi ga ngecek Whatsapp.”

“Iyaa oke.”

Raja yang sejak tadi memperhatikan Anyelir, beranjak berdiri, “udah mau pulang kan?”

Anyelir hanya mengangguk dan ikut berdiri.

“Anyelir, lo pulangnya gimana?” tanya Raja.

“Anya aja kak panggilnya, gue bawa mobil sih parkir di fasilkom, lo gimana?” koreksi Anyelir.

Sorry, iya maksudnya Anya. Oke, mobil gue di depan perpus, sejalan sama lo.”

Setelahnya, Anyelir dan Raja berjalan berisisian. Kembali masuk ke dalam perpusat dan bertemu dengan penjaga perpustakaan. Keduanya menyapa dan berpamitan kepada penjaga tersebut. Sang penjaga perpustakaan sempat meminta maaf kepada mereka perihal pemadaman listrik hari ini sebelum keduanya melangkah menuju pintu keluar. Raja tadi sempat memberi tahu Anyelir bahwa dirinya akan mengantar gadis tersebut sampai ke parkiran Fasilkom di mana mobilnya terparkir.

Seperti yang tadi Raja sempat singgung, Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya yang sepanjang bahu lebih sedikit. Ikatannya tidak terlalu kencang sehingga saat gadis itu banyak bergerak atau berjalan, pulpen tersebut akan dengan mudah terjatuh seperti sekarang. Raja pun mengambilnya sambil terkekeh pelan karena sepertinya Anyelir tidak sadar.

“Anyelir, pulpen lo jatoh,” ucap Raja sambil mensejajarkan lagi langkahnya dengan Anyelir dan memberikan pulpennya kepada gadis itu. Anyelir hanya tertawa kecil, kembali menggulung rambutnya dan menggunakan pulpen tersebut.

“Anya aja kak, sekali lagi lo panggil Anyelir, dapet piring cantik ya tapi dilempar pas dikasih ke lo,” ucap Anyelir sambil sibuk dengan ikatan rambutnya.

Raja di sampingnya menatap Anyelir, “emang kenapa sih kalau gue panggil Anyelir?”

Anyelir terdiam sejenak. Merangkai kalimat secara sederhana untuk menjawab pertanyaan Raja yang sebenarnya sangat sederhana tapi bagi Anyelir itu adalah pertanyaan yang jawabannya cukup sulit untuk dijelaskan.

“Mmmm gue prefer Anya daripada Anyelir. Dulu pas SMP, ada yang bilang nama gue aneh dan ribet. Terus katanya gue ga cocok sama nama Anyelir karena gue kan anaknya urakan, kayak ga represents a flower gitu guenya HAHAH gue setuju sih. Setelah itu akhirnya gue milih Anya sebagai nama panggilan.”

Hening mengisi rang di antara Raja dan Anyelir sebelum akhirnya Raja mengangkat suara.

“Beneran ga ada yang manggil lo Anyelir?” tanga Raja penasaran. Anyelir terkekeh pelan mendengar rentetan pertanyaan dari kakak tingkat yang baru ia kenal itu.

“Adaaa. Either dosen or my family,” jawab Anyelir memberikan jeda, “atau kalo ada orang yang suka nama Anyelir dan ngerasa namanya cantik, mungkin mereka bakal manggil gue Anyelir sih….. GADENG BERCANDA DONG ITU HAHAHAH tapi ga ada sejauh ini yang manggil Anyelir selama gue kenalan gitu ya pada langsung nurut aja pas gue bilang panggilnya Anya.”

Raja mengangguk pelan, paham maksud dari penjelasan perempuan di sampingnya itu. la tidak berniat memberikan jawaban lagi karena keduanya telah sampai di parkiran Fasilkom.

“Nah udah sampe, itu mobil gue di sana. Lo cukup anterin gue sampe sini aja ya kak, thank you banget udah bantuin gue turn dan nemenin di luar tadi. I'll see you around kalo minggu depan hari Jumat mau ke perpus lagi! Bye!”

Anyelir lalu berbalik memunggungi Raja dan berjalan menjauh.

Raja mengangguk pelan. “Hati-hati nyetirnya, Anyelir,” ucapnya dengan suara agak keras.

Anyelir berhenti melangkahkan kakinya setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Raja. Ia lalu membalikkan badan, menatap Raja dengan heran sambil menahan senyumnya.

“Anyelir?”

Raja hanya tersenyum sambil menaikkan alis kanannya, “iya, Anyelir. Nama lo kan Anyelir?”

Ucapan Raja disambut dengan tawa pelan dari Anyelir. Ia bukan seseorang yang suka geer tapi untuk saat ini Anyelir paham maksud dari panggilan Raja kepada dirinya itu. Candaan dirinya tentang orang yang memanggilnya dengan nama Anyelir beberapa saat yang lalu sepertinya tidak dianggap candaan oleh Raja.

Thank you, Kak.”

“Makasih kenapa?”

For calling me Anyelir.”

Tidak ada jawaban lagi dari Raja. la hanya tersenyum menatap Anyelir. Senyuman yang tercetak di wajah Raja seakan menvalidasi apa yang sedang Anyelir pikirkan. Anyelir terkekeh pelan sebelum akhirnya gadis itu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari pandangan Raja.

Anyelir bergegas menuju ke mobilnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

la memang terlahir dengan nama Anyelir. Namanya diambil dari nama bunga yaitu bunga anyelir. Ia selalu mempertanyakan kenapa kedua orang tuanya memilih Anyelir. Menurutnya bunga Anyelir tidak terlalu spesial, tidak banyak orang yang mengetahui bunga ini, menurutnya. Ucapan teman SMP-nya beberapa tahun yang lalu tentang pendapatnya mengenai nama bunga Anyelir yang dijadikan nama orang bersarang di pikirannya hingga sekarang. Hingga akhirnya ia masih kurang menyukai nama yang ia punya tersebut.

Anyelir akan merasa aneh saat ada seseorang yang memanggilnya Anyelir di samping para dosen dan keluarganya. Namun, hari ini ia bertemu seseorang yang baru ia kenal yang memilih untuk memanggilnya Anyelir walaupun dirinya sudah mengingatkan beberapa kali untuk memanggilnya Anya. Dan ketika Raja memanggilnya dengan nama Anyelir, bukan rasa tidak nyaman dan tidak suka yang muncul di dalam hatinya, melainkan rasa hangat yang muncul. Ia merasa rasa tidak sukanya kepada nama Anyelir ini luntur pada detik di mana Raja memanggil nama tersebut. la merasa nama Anyelir terdengar seratus kali lebih cantik dari biasanya. Seakan-akan bunga anyelir adalah bunga paling cantik yang ada di dunia ini.

And when the King called her as a carnation, the “Carnation” inside her blooms for the first time.