Sign 1

“You cant't stop staring at them”

Hal yang paling Ajisaka hindari dan masuk ke dalam catatan hitamnya adalah wahana ekstrim di seluruh taman hiburan yang ada di dunia ini.

Kalau disuruh memilih menjadi tukang jaga tas teman-temannya atau naik wahana ekstrim di Dufan, Ajisaka akan memilih opsi pertama. Selama 17 tahun ia hidup, Ajisaka hanya pernah sekali menaiki satu wahana “ekstrim” di Dufan yaitu alap-alap. Iya, alap-alap si roller coaster mini yang bentuk keretanya seperti ulat dan biasa dinaiki oleh para orang tua dan anak-anak kecil mereka.

Berkali-kali Ajisaka pergi ke Dufan bersama teman-teman atau keluarganya, semuanya sudah tau dengan ketakutan lelaki tersebut akan wahana ekstrim. Tidak ada yang memaksa Ajisaka untuk ikut naik.

Namun, hari ini, hari Kamis, 23 April 2020, Ajisaka dengan wajah tertekuk menerima tawaran Hansel dan Syauqi (lebih tepatnya kesepakatan bersama) untuk naik kora-kora. Ketiganya bersepakat, Hansel dan Syauqi akan membantu Ajisaka dengan segala urusan naksir-naksirnya itu jika Ajisaka mau naik kora-kora.

“Ini cuma kayak naik ayunan versi raksasa. Geli doang perutnya. Seru anjir,” ucap Hansel ketika mereka sudah mengantre di antrean wahana kora-kora.

Ajisaka hanya pasrah. Awalnya, ia pikir itu memang seperti ayunan tapi versi raksasa. Ia suka main ayunan. Dulu saat kecil, papanya membelikannya ayunan yang ditaruh di halaman rumahnya. Ajisaka suka naik ayunan, dulu kecil ia akan meminta abangnya, Nakula, untuk mendorong ayunan yang ia naiki dengan kencang.

Ajisaka berpikir mungkin kora-kora bisa ia toleransi. Awalnya.

Seketika pemikirannya berubah saat kora-kora yang ia sedang naiki mencapai titik tertinggi.

“SYAUQI HANSEL LO BERDUA ANJINGGGG!!! GUE MAU MUNTAH!!!” kira-kira begitu teriakan Ajisaka membuat semua yang sedang menaiki kora-kora tersebut menertawakannya. Bagaimana tidak ditertawai? Di saat semua orang menikmati wahana tersebut, Ajisaka satu-satunya yang mengeluarkan sumpah serapah sepanjang permainan berlangsung.

Ketika kora-kora yang ia naiki selesai mengayun, Ajisaka buru-buru keluar dan berlari menuju toilet sambil menutup mulutnya.

Sial. Satu kata yang menggambarkan Ajisaka saat ini.

Ia pikir, ditertawakan banyak orang saat naik kora-kora dan nyaris muntah sudah sangat sial. Ternyata kesialannya berlanjut saat ia bertemu dengan sesosok perempuan yang akhir-akhir ini menyita pikirannya. Sebenarnya tidak sial sih kalau saja ia bertemu dengan gadis itu dengan keadaan yang tidak memalukan seperti sekarang.

“Aji? Lo gapapa?” ucap gadis itu saat Ajisaka melangkah keluar dari toilet.

“Eh Aleysha?”

Gadis itu sengaja menunggu Ajisaka. Pertama tadi berpapasan, ia menyadari wajah Ajisaka yang pucat dan gelagatnya yang panik.

“Echa aja, Ji,” koreksi gadis itu.

Ajisaka hanya mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Tadi pas papasan sebelum masuk toilet, muka lo pucet banget. Lo abis muntah?” tanya Echa.

Ajisaka meringis pelan lalu mengangguk lagi, “iya hehe.”

Tidak ada raut menahan tawa di wajah Aleysha. Yang Ajisaka lihat hanya wajah khawatir sekaligus bingung.

“Gue abis naik kora-kora, hehe. Ya gitu deh langsung mual,” lanjut Ajisaka sebelum Aleysha bertanya lebih lanjut.

Tangan Aleysha terulur memberikan sebotol tupperware berwarna biru kepada Ajisaka, “minum air putih dulu biar perut lo mendingan.”

Mau tidak mau Ajisaka menerimanya, “gapapa gue minum?”

“KAN GUE TAWARINNN! Ya boleh lah.”

Selanjutnya, Aleysha sibuk mencari sesuatu di dalam ransel kecilnya selagi Ajisaka minum sambil memperhatikan gerak gerik gadis di hadapannya yang tingginya sebatas leher Ajisaka.

“Nih minyal telon. Lo oles aja di perut biar anget,” ucap Aleysha sambil memberikan botol kecil berwarna hijau kepadanya.

Jujur, sebenarnya perut Ajisaka sudah tidak terlalu mual. Justru yang perlu dikhawatirkan adalah keadaan jantungnya yang sekarang berdetak tidak karuan. Belum lagi perutnya yang malah terasa geli seperti masih berada di kora-kora. Semuanya karena ia bertemu dengan Aleysha.

Ajisaka terkekeh pelan menahan senyumnya.

“Lo ke sini sama siapa?” tanya Aleysha.

“Sama temen-temen gue berempat. Lo?”

“Sama temen-temen gue juga bertiga,” jawab Aleysha lalu disambut dengan anggukan pelan dari Ajisaka yang sedang mengoleskan minyak telon ke perutnya.

Drrt drrt drrrt

“Bentar, temen gue nelfon,” Aleysha menjauh sambil mengangkat telfonnya.

Ajisaka menunggunya sambil mengabarkan Hansel dan Syauqi kalau ia telah selesai dengan agenda mabuk kora-koranya.

“Aji, lo abis ini mau ke mana?” tanya Aleysha setelah selesai menelfon.

“Temen-temen gue lagi pada di Mcdonald's, pada mau makan dulu.”

“EH SAMAAA! Temen-temen gue juga lagi pada istirahat di Mcdonald's. Ayo ke sana bareng!”

Sepanjang perjalanan menuju mcdonalds, keduanya tidak banyak bicara. Hanya ada pertanyaan-pertanyaan singkat tentang sudah main apa saja hari ini, lalu membicarakan tentang kejadian kebetulan yang keduanya tidak sengaja bertemu lagi di Dufan.

Ketika keduanya telah masuk ke dalam Mcdonald's, Aleysha dan Ajisaka disambut dengan wajah kaget dari teman-teman mereka yang secara kebetulan juga duduk di meja yang bersebelahan.

“Waduh kok bisa kebetulan banget nih,” celetuk Naya lalu melirik Aleysha dengan pandangan curiga.

Setelahnya, kedua kubu pertemanan Aleysha dan Ajisaka berakhir makan bersama setelah Hansel dengan sengaja menawarkan teman-teman Aleysha untuk bergabung.

Beruntungnya, semua yang ada di meja saat itu tidak canggung. Hansel yang memang mengenal Aleysha, lalu Adam, Naya, dan Syauqi yang easy going serta pacar Hansel yang mudah beradaptasi dengan orang baru.

“Eh tapi dulu gue pernah loh nangis pas naik alap-alap!” cerita Aleysha dengan semangat.

“MASA ALAP-ALAP AJA SAMPE NANGIS?” ledek Adam.

“Pas kecil itu. Gue masih TK kayaknya, pas itu dapet tiket Dufan gratis terus gue pergi berempat sama keluarga.”

“Terus terus kok bisa sampe mau naik?” tanya Syauqi sambil mengunyah kentang miliknya.

“Iya gue pas itu diboongin kakak gue katanya seru kayak naik kereta biasa,” lanjut Aleysha dengan ceritanya. Semua orang memperhatikan cerita gadis itu yang memang bercerita dengan semangat.

Begitu pula dengan satu orang yang sejak tadi menjadikan Aleysha sebagai pusat perhatiannya. Pandangan satu orang ini tidak pernag lepas dari Aleysha, bahkan ia sampai lupa menghabiskan makanannya karena terlalu sibuk memperhatikan gadis itu.

“Aji.”

“Ji.”

“WOY!” panggil Hansel sambil menepuk kedua tangannya di depan wajah Ajisaka.

“Hah? Kenapa? Lo manggil gue?” tanya Ajisaka sedikit terkejut.

“Seru banget ya ceritanya si Echa sampe lo ga sadar lagi dipanggilin buat BAYAR MAKANAN LO YANG TADI GUE TALANGIN!” ucap Hansel sambil menekan kalimat terakhir.

Wajah Ajisaka seketika memerah. Malu karena Hansel sadar bahwa ia dari tadi memperhatikan Aleysha. Entahlah, pandanganya selalu menuju tempat Aleysha duduk.

Ajisaka merasa ia tidak bisa berhenti memperhatikan gadis yang kini sedang bercerita tentang pengalamannya yang lain di Dufan. Ada magnet di dalam diri Aleysha yang membuat Ajisaka ingin terus memperhatikan gerak-geriknya.

“Jatuh cinta emang ga perlu bayar, Ji. Tapi kalo makanan Mcdonald's harus bayar ya bro,” celetuk Hansel.

It’s a classic sign of infatuation: losing yourself in the eyes of the one you love. Consultant psychologist Marc Hekster explains that this is one of the most obvious signs that you’re falling in love with someone. “Why wouldn’t you want to look into the eyes of someone who you experience as the most beautiful and attractive person in your world?” he says.