And Let Me Kiss you!

cw // kissing

“Siang, Mas Raja. Alamatnya sesuai aplikasi aja ya, Mas.”

Ucapan pertamaku setelah membuka pintu depan mobil Raja dan disambut dengan wajah datar Raja yang sudah terbiasa dengan kelakuanku yang kadang bikin dia sakit kepala.

“Ya, masuk, Mba, gak dikunci,” jawabnya masih dengan wajah yang datar.

“Garing banget lawakan lo,” ucapku lalu tersadar bahwa kursi penumpang di depan sudah terisi dengan maket milik Raja, “INI GIMANA AKU MAU DUDUK YA, RAJA SYAILENDRA?”

“Duduk di belakang.”

“KAK RAJA, BERCANDA YA LO?”

“Beneran.”

Aku mendengus pelan, “rese banget dah punya cowok kayak lo.”

“Eh eh mau ngapain?” jawabnya dengan wajah bingung saat melihatku mengangkat maketnya, berniat memindahkannya ke kursi belakang agar aku bisa duduk.

“Mau mindahin ini ke belakang (?)” ucapku dengan nada ragu.

“ENAK AJA! GA BOLEH! Taro lagi,” tangan Raja bergerak mengambil maketnya dariku dan menaruhnya lagi di kursi.

“TERUS GUE DUDUK DI BELAKANG BENERAN???”

Kalau kalian mau tau, daritadi aku masih berdiri di luar mobil Raja yang terparkir di parkiran fakultasku. Raja tadi pagi memang mengajakku makan siang bersama setelah kelas terakhir kami yang kebetulan selesainya di jam yang berdekatan.

“Sabar. Tenang dulu. Jangan emosi dulu. Ini kita naro maket aku dulu di kostan, baru abis itu makan.”

Aku menepuk jidatku sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi aku kalah sama Maket. Bisa dibilang prioritas Raja itu: 1. Keluarga – Maket 2. Maket 3. Maket 4. Maket 5. Pacar

Seperti sekarang ini. Raja rela buang-buang bensin mobil demi mengantarkan maketnya ke kostan dengan selamat.

“Kenapa ga minta Bara aja? Dia kan satu kos sama kamu? Satu kelas juga kan tadi?” ucapku sambil berkacak pinggang.

“Dia ada urusan abis kelas tadi, lansung cabut engga tau ke mana.”

“Terus aku beneran di belakang gitu duduknya?”

“Engga, kamu tetep duduk di depan,” ucapannya terhenti sebentar, ia menatapku sambil sedikit nyengir, “tapi kamu pegangin maketku, ya? Hehe, aku takut rusak kalo ditaro di belakang.”

“Ck. Ya udah sini. Aku pegangin,” ucapku.

Sebenarnya aku lumayan jengkel karena harus megangin maket ini, tetapi aku malas memperpanjang perdebatanku dengan Raja. Capek juga berdiri 5 menit, ditambah lagi cuaca hari ini sangat panas.

Aku mengangkat maketnya pelan-pelan, takut rusak, nanti Raja ngamuk.

Akhirnya setelah 5 menit berdebat, aku duduk di kursi penumpang depan yang tadi hampir direbut oleh maket rumah milik Raja yang sekarang sudah berada di pangkuanku.

“Mba, sesuai aplikasi ya ini alamatnya,” ucap Raja yang sengaja meledekku. Dia tau bahwa aku sedikit kesal.

“Hm,” jawabku singkat dengan wajah datar.

“Yah mba, saya gak bisa nganterin kalo penumpangnya galak gini mukanya,” ucap Raja sambil menahan tawa.

Aku menengok ke Raja dan menunjukkan semyum terpaksaku, “nih saya udah senyum ya, Mas Raja. Ayo sekarang jalan, Mas. Keburu maag saya kambuh nih.”

“Aduh mba, pait banget senyumnya.”

“Kak Raja, sekali lagi lo ngeledek, gue acak-acak ya ini maket lo,” ancamku.

Raja menengok dengan wajah panik, “ehhh iya iya, ini jalan kok iya jangan diacak-acak ya maket aku, susah itu bikinnya!” ucapnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran fakultasku.

“Bodoamaaaattt.”

“Hari ini dapet penumpang galak ya, semangat Mas Raja,” ucap Raja sok-sokan menyemangati diri sendiri.

Aku menatap Raja dengan tatapan datar sedangkan yang ditatap malah sedang menahan tawa.

Setelah perdebatan dan kerusuhan tadi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Raja fokus menyetir sedangkan aku sibuk bernyanyi mengikuti alunan lagu dari album Take Me Home yang sengaja aku setel melalui speaker mobil.

“Raja.”

Raja yang duduk di kursi kemudi sebelahku hanya melirik. Mobil yang ia kendarai berhenti menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.

“Raja,” panggilku sekali lagi.

“kenapa?” Raja menoleh ke arahku. Ia menatapku seraya menaikkan sebelah alisnya.

Sejak tadi membuka pintu mobil, aku menyadari rambut Raja yang kian memanjang. Terakhir bertemu seminggu yang lalu, aku rasa tidak sepanjang ini. Oh iya, walaupun satu kampus, kami jarang bertemu kalau kegiatan kami sedang padat dan tugas dari dosen sedang menumpuk.

Rambut depan Raja bahkan bisa menghalangi pandangannya jika ia tidak menyugar rambutnya ke belakang.

Aku dengan hati-hati mengubah posisi dudukku menghadap ke Raja. Takut maketnya jatuh.

“Majuan deh.”

“Ngapain?”

“Majuan aja dulu ih!”

Kami berdua duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

“Rambut kamu udah panjang banget,” ujarku sambil menyelipkan rambut panjang Raja ke samping kupingnya dengan tangan kananku.

Raja menatap wajahku dengan tatapan heran, “kenapa? aneh ya?”

“Engga dong! ganteng. Bisa diselipin kan nih rambutnya, keren.”

Aku terkekeh geli sambil merapihkan rambut panjangnya yang menurutku berantakan. Ia masih memandang wajahku sambil menahan senyum. aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menerpa wajahku.

“Kamu tuh ganteng rambutnya panjang, tapi harus dirapihin juga biar potongannya bagus. Sekarang nih panjangnya compang-camping, terus juga rada kusut. Kamu terakhir keramas kapan deh, Kak? Engga bau sih rambutnya tapi keliatan belom keramas. Nih kalo aku rapihin kayak gini kan bentuknya rapih, jadi makin—“

Ucapanku terputus saat tiba-tiba Raja mengecup bibirku sebelum akhirnya memundurkan badannya dan kembali menghadap ke setir kemudi.

“Iya, nanti aku rapihin,” ujarnya lalu kembali menjalankan mobil saat lampu sudah berganti menjadi hijau.

“APA-APAAN TUH TIBA-TIBA NYIUM?” pekikku dengan wajah kaget sekaligus mulai merah.

Raja tidak merespon ucapanku, ia tetap memandang lurus ke jalanan depan sambil menahan senyum.

“KAK RAJAAA!”

“Apaaaa?”

“ANJIRRR GATAU DEH AH!”

Demi apapun, aku kepalang salting. Raja manusia paling rese.

“Kamu bawel sih dari pertama buka mobil,” ucap Raja sambil melirik ke arahku.

“YA TAPI PERMISI DULU KEK KALO MAU NYIUM?”

Tawa Raja seketika pecah. Tangan kirinya bergerak mengacak-acak rambutku hingga sedikit berantakan.

“Makanya ga usah bawel.”

Aku enggan melihat ke arah Raja. Wajahku sekarang pasti merah seperti kepiting rebus. Dari tadi aku hanya melihat ke jendela di samping kiriku. Bodo amat sama Raja.

“Wah lampu merah lagi nih,” ucap Raja setelah mobilnya berhenti di lampur merah.

Aku masih enggan menengok ke arahnya, “emang kenapa kalo ada lampu merah?”

“Kan tadi katanya kalo mau nyium harus permisi dulu,” ucapannya terhenti sebentar.

Ucapan Raja membuatku menoleh ke arahnya dengan wajah yang pastinya kaget banget. Saat aku menengok, Raja melepas seatbeltnya dan memajukan badannya ke arahku. Wajah kami mungkin sekarang hanya berjarak 10cm, aku bisa merasakan hembusan napasnya. Lagi-lagi ia menatapku sambil menahan senyum.

“Permisi, kalo sekarang boleh engga nih?” ucap Raja.

Demi apapun Raja Syailendra adalah orang paling gila di muka bumi ini.

Bibirku masih terkatup rapat karena seketika aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku hanya diam menatap manik mata Raja yang ada di hadapanku.

Tepat sebelum aku hendak menjawab ucapannya, Raja sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya dan sekali lagi, dia mencium bibirku sedikit lebih lama dari sebelumnya. Aku merasakan bibirnya tersenyum sebelum melepas tautan kami. Raja memundurkan badannya dan kembali menjalankan mobil karena tepat sekali lampu sudah berganti menjadi warna hijau.

Aku bisa melihat Raja sekarang senyum-senyum sendiri seperti orang gila sambil menyetir.

“Kak Raja tadi aku belom jawab ya…” ucapku masih menatapnya.

“Kelamaan, keburu lampunya ganti jadi ijo.”

“TETEP AJA JANGAN MAIN CIUM!” teriakku sambil memukul lengan Raja.

“Aduh sakit, jangan dipukul.”

“TUNGGU DULU DIJAWAB BARU CIUM, GA SOPAN LO!!”

Raja seketika tertawa sambil menengok ke arahku, “yah, udah mau sampe kostan nih. Gak ada lampu merah lagi nih abis ini, gak bisa diulang lagi deh biar nunggu kamu jawab dulu.”

“ORANG GILAAAAA!” teriakku sekali lagi sambil menutup wajahku yang sekarang terasa panas.

“Kalo salting ga usah banyak gerak, itu maket aku kalo rusak karena kamu, kamu yang ngerjain ulang ya.”

“RAJA SYAILENDRAAA!”