Prom Date

“Kayla, gue titip Naya ya. Maaf banget nih ngerepotin lo,” ucap Aleysha di ambang pintu.

Rambut bergelombang yang sebelumnya tergerai indah menutupi bahu kini sudah ia ikat dengan kuciran hitam yang selalu ia bawa.

“Iya, Cha. Santai aja. Lagian juga gue emang niatnya mau langsung istirahat di kamar. Males ikut after party.”

Jawaban dari Kayla membuat Aleysha menghela napas lega, “oke deh gue pamit ya. Kalo Naya tiba-tiba mau muntah, tolong bawa ke kamar mandi langsung.”

“Cha, mending lo cepetan cabut daripada cowok lo nunggu kelamaan di bawah,” usir Kayla sambil mendorong Aleysha pelan untuk keluar.

“BUKAN COWOK GUE!”

Setelah itu Aleysha berjalan menyusuri lorong hotel yang sepi sambil mengabarkan Ajisaka melalui Whatsapp. Rupanya cowok itu sedari tadi sudah menunggu di lobby. Aleysha pun bergegas menghampiri mobil Ajisaka.

“Hai!” ucap Aleysha sesaat setelah duduk di kursi penumpang.

Aleysha menengok ke arah Ajisaka saat ia tak mendapat respon dari lelaki itu, “hai?”

Didapati bahwa sekarang Ajisaka tengah memandang Aleysha dengan kagum dan tanpa berkedip. Kalau Ajisaka boleh jujur saat itu juga, dia ingin langsung spontan bilang bahwa gadis di sampingnya ini sekarang terlihat sangat amat cantik dengan balutan dress putih sebetis yang simple dan justru itu yang membuat kecantikan di wajah Aleysha tidak tertutupi.

Cakep banget dah pingsan aja kali ya gue, batin ajisaka.

“Hah? Oh iya! Hai! Sorry sorry. Gue agak kaget liat lo,” ucap Ajisaka yang mulai menjalanlan mobil mazda berwarna silver miliknya.

“Kaget kenapa tuh?”

“Kaget soalnya lo cantik banget,” jawab Ajisaka secara tidak sadar, “EH HAH GUA NGOMONG APA TADI?”

Tawa Aleysha langsung pecah setelah mendengar celotehan Ajisaka, “makasih loh pujiannya.”

Beruntung cahaya di dalam mobil itu gelap karena sekarang pipi Ajisaka sudah dipastikan mulai memerah seperti tomat.

Sebenarnya, Ajisaka sudah menunggu di Hotel Westin tempat prom night sekolah Aleysha sejak pulul 11 lewat. Jarak antara Westin dan Fairmont tidak terlalu jauh, sekitar 8 Km dan malam itu jalanan terasa lebih lengang dari biasanya sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pergi ke Westin.

“Halo prom date, jadi sekarang kita ke mana?” tanya Aleysha sambil sibuk melepas heels miliknya.

Ajisaka terkekeh pelan, “halo prom date, lo laper ga?”

Aleysha tampak berpikir sejenak sambil menepuk pelan perutnya, “mmmm laper deh kayaknya.”

“Lo mau makan apa?” tanya Ajisaka.

“Apa ya…. Hmmm… OH! Gue tau!”

“Apa?”

Dan satu jawaban dari Aleysha membuat mata Ajisaka terbelalak.

“Cha? Serius?”

Pertanyaan Ajisaka disambut dengan anggukan semangat dari sang perempuan yang sekarang sedang tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapihnya Ajisaka.


“The power of love and new love, in particular, is primitive,” says Hekster.

This means that when someone you’re falling in love with does something you might perceive as unattractive, whether it’s being untidy or leaving the toilet seat up, you won’t mind. In fact, you might not even notice it.

Ajisaka terdiam melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka permintaan dari Aleysha akan sangat amat random dan unik.

“Kok bengong! Ayo cari tempat duduk,” ucap Aleysha sambil menarik lengan jas milik Ajisaka.

“Cha, lo ngajak ke sate taichan senayan dengan baju prom kayak gini?” Ajisaka bertanya setelah duduk di hadapan perempuan yang sedang sibuk melihat sekeliling.

Aleysha memang mengajak Ajisaka untuk makan di sate taichan senayan yang selalu buka hingga tengah malam. Suasana tempat itu pada malam hari ini— lebih tepatnya pagi hari karena jam menunjukkan pukul 00.25 WIB— masih terbilang ramai. Beruntungnya kedua orang ini bisa mendapatkan tempat kosong dengan cepat.

Dan sekarang, keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung dan para penjual sate taichan. Bagaimana tidak? Ketika orang lain datang ke sana dengan pakaian biasa pada umumnya, Aleysha dan Ajisaka malah datang dengan baju pesta yang sangat mencolok.

Falling in love can warp your sense of reality a little, says Hekster.

So whilst you might be inclined to be critical of someone else doing or saying something, if your partner does or says them, you might love them for it, because in your eyes, they can do no wrong.

“Iya, kan lo tadi nanya, gue mau makan di mana, ya gue jawab di sini.“

Jawaban Aleysha membuat Ajisaka tertawa pelan, “lo unik ya, lucu. Gue kira lo bakal ngajak ke mana gitu, ke restoran atau tempat yang seenggaknya masih prom vibes.”

“Duh, gue capek tau harus jaga image anggun kalo ke restoran. Mending ke sini aja, lebih bebas ga perlu jaim. Gue tuh ga bisa jadi cewek anggun, Ji.”

Ajisaka terkekeh pelan mendengar jawaban Aleysha yang. Lalu ja beranjak berdiri, “gue pesen satenya, ya. Lo mau berapa tusuk?”

“Segerobakk!”

“Echa…” panggil Ajisaka pelan, bermaksud untuk menyuruh Aleysha untuk menjawab dengan benar.

Lalu gadis itu membuat gerakan tangan untuk menjawab pertanyaan Ajisaka, “LIMA PULUH TUSUK?” seru Ajisaka membuat orang di sekelilingnya menatapnya heran.

Sadar menjadi pusat perhatian, Ajisaka buru-buru memakai sepatunya, “ya udah bentar. Lo tungguin di sini ya, jangan ke mana-mana.”

Tidak butuh waktu lama bagi Ajisaka untuk memesan sate taichan karena ia sudah sering makan di sini bersama teman-temannya. Bahkan ia juga sudah hapal sate langganannya yang selalu ia beli tiap ke sana.

Setelah memesan dan berjalan kembali ke mejanya, Ajisaka mendapati Aleysha sedang mengusap kedua lengannya. Lelaki itu pun terkekeh pelan lalu menghampiri Aleysha dari belakang.

“Pake,” ucap Ajisaka sambil menyampirkan jas hitamnya ke bahu Aleysha.

Aleysha spontan sedikit terlonjak saat tubuhnya terasa lebih hangat, “Aji! Kaget banget, gue kira siapaaaaa.”

Kalau Aleysha boleh jujur, Ajisaka malam ini sangat berbeda dari yang biasa ia lihat. Biasanya ia bertemu dengan Ajisaka yang selalu memakai pakaian simple seperti baju putih dan luaran kemeja flanel atau sekadar memakai sweatshirt berwarna gelap, kali ini yang ada di hadapannya adalah Ajisaka yang memakai pakaian formal. Tanpa mengenakan jas hitam karena telah diberikan kepadanya, membuat tubuh Ajisaka hanya terbalut kemeja putih dengan lengan yang sekarang ia lipat sampai ke siku.

Iya, Ajisaka jauh lebih attractive malam ini.

“Kenapa lo mau makan di sini? Sebenernya gue ga masalah sih, tapi harusnya ada specific reason dari lo ga sih?” tanya Ajisaka lalu meminum air mineral yang tadi ia beli.

“Karena gue mau aja (?)” jawab Aleysha ragu, “gue belom pernah makan ke sini, Ji. Dari dulu mau ke sini tapi selalu ga sempet atau ga jadi.”

Ajisaka hanya ber-oh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Nah ini sate 50 tusuk bonus 10 tusuk paket express buat neng cantik,” ucap seorang penjual sate yang menghampiri meja mereka dengan membawa 3 piring berisi sate dan lontong.

“Asikkk, mantep banget dah bang. Emang paling juara deh lo. Dikasih bonus pula,” Mata Ajisaka berbinar memandangi puluhan tusuk sate yang masih hangat di hadapannya.

“Woaaa cepet banget!” seru Aleysha lalu memakan satu tusuk sate sambil tersenyum senang.

“Neng, harusnya ya, ini neng nunggunya 1 jam. Biasanya sampe selama itu, tapi tadi cowok neng ngancem saya. Kalo pesenan dia ga dateng kurang dari 15 menit, nanti neng berubah jadi tikus.”

Penjelasan dari abang tukang sate membuat tawa Aleysha pecah seketika. Sedangkan Ajisaka buru-buru mengusir abang tukang sate yang sudah menjadi sohibnya itu.

“Makasih ya bang!” seri Aleysha saat abangnya sudah berjalan menjauh setelah tadi diusir Ajisaka.

“Sumpah ga usah didengerin omongan dia, Cha. Pamali,” ucap Ajisaka yang sekarang malu sekaligus salah tingkah. Masalahnya, tadi si abang menyebut kata “cowok neng” padahal saat Ajisaka memesan sate, dia hanya bilang kalau cewek dengan dress putih yang sedang duduk itu temannya.

Setelah itu, keduanya menyantap berpuluh-puluh tusuk sate tersebut sambil saling bertukar cerita. Awalnya keduanya saling menceritakan tentang prom hari ini.

“Gue tadi pergi ga izin Hansel sama Syauqi sih, mereka udah mulai mabok jadinya gue kabur aja,” ucap Ajisaka.

“SAMA! Gue juga, si Naya udah ga sadar. Lumayan sih gue ga harus jelasin ke dia. Nanti dia berisik.”

Obrolan mengalir begitu saja layaknya kaset lama yang diputar, menceritakan deretan-deretan kisah lama keduanya entah itu tentang pengalaman Ajisaka yang secara tidak sengaja masuk BK saat SMP atau Aleysha yang pernah kabur ke Taman Safari Puncak bersama temannya.

Hingga mereka selesai makan dan kembali ke mobil pun, obrolan keduanya masih belum terputus. Baik Aleysha maupun Ajisaka sama-sama nyaman dengan situasi sekarang. Entah kenapa Ajisaka merasa semakin terbuka kepada Aleysha, ia merasa dirinya aman untuk bercerita kepada gadis yang kini sedang bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar di speaker mobil.

“Jakarta kalo jam segini sepi banget ya. Terus di kawasan ini cantik banget, kayak bukan di Jakarta.”

Ucapan Aleysha benar, Kawasan Sudirman yang menjadi tempat mereka tuju sekarang pada jam 1.30 WIB terlihat sepi. Hanya ada satu atau dua mobil yang melintasi jalanan.

Sekarang keduanya sedang berjalan di trotoar pejalan kaki sepanjang kawasan sudirman. Mobil Ajisaka tadi diparkirkan di suatu parkiran gedung yang masih buka.

“ENAK BANGEETTTTT! SEPI!” teriak Aleysha sambil berlari kecil sambil berputar, “berasa jalanan punya kita ga sih? HAHAHA.”

“Pelan-pelan, Echa. Lo lagi pake heels,” Ajisaka meringis melihat Aleysha yang dari tadi bergerak ke sana ke mari.

Saat tadi makan, Ajisaka bertanya lagi setelahnya ingin ke mana. Aleysha hanya menjawab dia ingin berjalan keliling Jakarta saja. Dan sekarang Ajisaka membawa gadis itu untuk menikmati kawasan sudirman yang sepi.

“Lo jarang keliling Jakarta ya?” tanya Ajisaka sambil menahan tangan Aleysha untuk bertahan di sisi kirinya sebelum gadis itu berjalan terlalu jauh.

Aleysha menganggukan kepalanya, “jarang! Funfact, gue baru pindah ke Jakarta lagi kelas 11. Sebelumnya gue tinggal di Bandung selama SMP sampe kelas 10. Jadinya gue belom explore banyak tempat di Jakarta.”

“Kalo lo? Kayaknya lo udah hafal banget sama jalanan Jakarta,” tanya Aleysha balik.

“Hehe iya, gue sama temen-temen gue sering jalan buat explore tempat baru di Jakarta. Makanya lo kalo mau jalan-jalan, ajak gue aja. Gue lebih hafal Jakarta daripada Gubernur.”

Ucapan Ajisaka mengundang tawa Aleysha, “HAHAH apaansih gubernur!” ucapnya sambil memukul lengan Ajisaka pelan.

Ajisaka menatap gadis di samping kirimya yang tingginya hanya selehernya, “tapi serius. Kalo lo mau, gue bisa ngajak lo kemana aja selama masih di Jakarta. Lo bisa booking Tour Ajisaka buat dianter keliling. Nanti dikasih diskon.”

“AJI KOK LO JADI SUKA NGELAWAK!” seru Aleysha.

Ajisaka hanya mengangkat bahu sambil tertawa tawa kecil. Ia lanjut berjalan dan memandangi sekitar.

Keduanya diam sambil berjalan bersisian, hanya ada angin malam dan gedung-gedung tinggi yang mengisi kesunyian di antara keduanya.

Aleysha tenggelam dalam pikirannya. Ia sadar, ia ingat bahwa ada sesuatu yang harus ia bicarakan kepada Ajisaka. Gadis itu pun menggigit bibirnya pelan sambil sesekali melirik Ajisaka yang tengah mengecek handphonenya. Nyali Aleysha ciut, ia tidak berani membuka suara. Namun, ia tahu bahwa ia harus sesegara mungkin membicarakan ini kepada Ajisaka.

Dengan satu tarikan napas untuk meyakinkan dirinya, Aleysha membuka mulutnya.

“Ajisaka, gue mau ngomong— AAHH ADUH!”

Teriakan Aleysha membuat Ajisaka kaget, “CHA KENAPA?” Tangan lelaki itu memegang pergelangan tangan Aleysha.

Air muka Ajisaka terihat panik, lelaki itu pun lalu berjongkok untuk mengecek keadaan kaki Aleysha. Gadis itu merutuki nasibnya karena secara tiba-tiba, kakinya kehilangan keseimbangan lalu berakhir hampir jatuh.

“Aduh, aw, Ji kayaknya kaki gue keseleo deh,” ucapan Aleysha membuat Ajisaka membulatkan kedua matanya sambil mendongak menatap Aleysha, “HAH?”

Buru-buru ia mengecek lagi kaki kanan gadis itu dan benar saja, kaki kanannya terlihat memerah dan ada beberapa lecet di belakang kakinya.

“Tuh kan. Tadi di mobil udah gue tawarin buat ganti pake sendal gue, lo ga mau,” omel Ajisaka sambil melepas heels Aleysha. Sedangkan Aleysha hanya meringis sambil berpegangan pada kedua bahu Ajisaka.

Setelah Ajisaka melepas kedua heels Aleysha, lelaki itu membalikkan badannya, “ayo sini naik.”

“Hah?”

“Kita balik aja, lo ga bisa jalan kan? Kaki lo keseleo,” ucap Ajisaka sambil menengok ke belakang.

Aleysha terlihat ragu. Ia sangat amat kaget melihat aksi lelaki yang ada di hadapannya ini. Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan kata apapun untuk membalas ucapan Ajisaka. Jantungnya berdegup cepat.

“Aleysha, kalo lo ga naik sekarang, gue tinggal ya,” ancam Ajisaka membuat Aleysha buru-buru menenteng heelsnya dan mendekatkan tubuhnya ke punggung lelaki itu lalu memeluk lehernya dari belakang.

“Kalo berat maaf ya,” ucap Aleysha pelan.

Keduanya tidak berbicara apa-apa lagi. Ajisaka berjalan pelan dengan Aleysha yang ia gendong di punggung belakangnya.

“Cha.”

“Hm?”

“Tadi mau ngomong apa?” tanya Ajisaka.

Aleysha menggeleng pelan, “engga. Ga jadi.”

“Cha,” panggil Ajisaka lagi.

“Apaa?” jawab Aleysha di dekat kuping Ajisaka.

“Lo deg degan ya?”

“Hah? Engga kok…” ucap Aleysha berbohong.

“Masa sih… Padahal kalo lo deg degan, lo ada temennya sekarang. Jadi gapapa kalo deg degan, lo ga sendirian kok.”

Ucapan dari Ajisaka membuat wajah Aleysha seketika memerah. Ia pun lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Ajisaka, kepalang malu untuk menjawab perkataannya.

Sedangkan Ajisaka sedari tadi merasakan dengan jelas detak jantung Aleysha yang berdegup kencang. Sama seperti dirinya yang sekarang menahan diri untuk tidak pingsan di tempat karena bau parfum milik Aleysha yang terasa sangat dekat dengannya.

“Aleysha,” panggil Ajisaka sekali lagi.

“Hmmm,” ucap Aleysha masih tidak berani mengangkat wajahnya.

“The moon is beautiful, isn’t it?”

月が綺麗ですね | tsuki ga kirei desu ne translates to “The moon is beautiful, isn’t it?” This phrase is a more poetic way of saying I love you. During Japanese writer Natsume Sōseki’s (1867-1916) teaching years, he supposedly overheard a student translating “I love you” rather awkwardly into its literal and direct translation: “Ware Kimi wo Aisu.” Soseki believed—as a product of his time and culture in the Meiji period—that this direct translation rejected Japanese sensibility. Thus, this more subtle, nuanced translation of “the moon is beautiful…” was born.