Ketika Ajisaka Bertemu Tiga Teman Barunya

Ada banyak hal yang Ajisaka khawatirkan ketika dirinya resmi menjadi mahasiswa. Salah satunya adalah makan di kantin sendirian seperti sekarang ini. Ia duduk sendiri di sisi sudut BelYos - belakang Yoshinoya, salah satu spot kantin fakultasnya - dengan menyantap sate Fasilkom yang katanya legendaris karena harganya murah dan rasanya enak sambil membuka laptopnya.

BelYos pada siang hari itu mulai diisi oleh para mahasiswa yang hendak makan siang. Ajisaka sendiri baru selesai kelas dan memutuskan untuk makan sebentar sebelum kembali ke kost. Sebenarnya duduk dan makan sendirian seperti sekarang ini bukan menjadi masalah besar baginya, ia merasa nyaman sendirian. Namun ia khawatir dirinya akan dianggap sebagai orang ansos yang tidak punya teman - walaupun sebenarnya dirinya memang belum memiliki banyak teman. Teman barunya di perkuliahan ini bisa dihitung jari. Ia hanya berkenalan dengan satu kelompok ospeknya atau orang yang secara tiba-tiba mengajaknya berkenalan. Itu pun hanya ia anggap sebagai teman sekadar kenal karena setelahnya ia jarang berbicara dengan mereka lagi.

Menurutnya, baru dua minggu perkuliahan dimulai, tidak apa-apa jika belum memiliki teman. Mungkin nanti akan ada keajaiban di mana Tuhan akan mengirimkannya seseorang yang akan menjadi teman baiknya di masa perkuliahannya.

Ajisaka kembali menyantap sate yang tinggal tersisa 3 tusuk dengan tenang hingga tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampirinya dan duduk di hadapannya dengan senyum yang tercetak jelas di wajahnya.

“Hai!” sapanya dengan nada yang ramah.

Sedangkan yang disapa masih menunjukkan raut wajah yang bingung karena ia tidak menyangka akan ada orang yang secara random menghampirinya di saat dia sekarang sudah cocok untuk dicap anak ansos.

“Hai?” jawab Ajisaka dengan ragu.

Perempuan di hadapannya tertawa kecil.

“Sorry banget tiba-tiba gue samperin lo gini. Pasti lo kaget, tapi - ” ucapannya terhenti sejenak ketika tangannya bergerak menunjuk laptop Ajisaka yang sejak tadi ia pakai, “remember the rules?”

Ajisaka sempat terdiam sebelum akhirnya menyadari apa yang perempuan itu maksud.

Dilarang membuka laptop di meja kantin Fasilkom saat istirahat makan siang, mulai dari jam 11 sampai jam 1 siang. Itu salah satu peraturan yang berlaku di fakultasnya. Tujuannya untuk memberikan tempat bagi orang lain yang ingin makan di kantin karena biasanya kantin akan penuh saat jam makan tiba.

“Oohhh! Iya anjir lupa banget! Makasih udah ngingetin!” ucap Ajisaka sambil bergegas menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam ransel.

“Santai ajaaa! Untungnya gue yang ngingetin lo. Kalo tiba-tiba kating yang nyamperin apa gak pingsan tuh lo?” perempuan di hadapannya tertawa kecil melihat Ajisaka yang terlihat cukup panik saat memasukkan laptopnya.

Ajisaka mengangguk pelan, “iya gue bakal pingsan di tempat.”

Jawabannya mengundang tawa si perempuan, membuat orang-orang di sekitar menengok ke arah mereka berdua.

Ia pikir, perempuan di hadapannya ini akan pergi setelah mengingatkannya tentang laptop. Ternyata ia masih setia duduk di kursinya.

“Kita satu kelompok PMB kan?” tanyanya.

“Iya, sekelompok,” jawab Ajisaka.

“Inget nama gue gak?”

Ajisaka melihat ke arah teman sekelompoknya itu. Ia mengenalnya. Lebih tepatnya, siapa yang tidak kenal perempuan ini? 

“Inget lah, siapa yang gak tau Anyelir?” jawab Ajisaka.

Anyelir mengerutkan keningnya, “ aneh banget lo ngomongnya kenapa begituuu! Panggil aja Anya jangan Anyelir.”

Faktanya, memang satu angkatan mengenal Anyelir. Ia adalah wakil koordinator angkatan selama masa ospek fakultas berjalan. Ditambah lagi ia adalah orang yang ramah, atau bahkan bisa dibilang sangat ramah dan supel sehingga ia sudah berteman dengan banyak orang walaupun perkuliahan serta ospek baru saja dimulai. Berbanding terbalik dengan Ajisaka.

“Ya wakoor masa gue ga kenal?”

“Oke gue emang wakoor tapi stop jangan sebut-sebut, gue di sini duduk sebagai teman satu kelompok PMB lo,” ucap Anyelir.

Ajisaka tertawa pelan sebagai bentuk jawaban.

“Lo Ajisaka kan?” tanya Anyelir.

Ajisaka membulatkan matanya, cukup terkejut karena Anyelir mengingat namanya padahal ia belum pernah berinteraksi secara langsung dengan Anyelir.

“Kenapa muka lo kayak kaget gitu anjir?”

“Iya Kaget lo tau nama gue,” jawab Ajisaka singkat.

“YA TAU LAAHH! Lo kan satu kelompok sama gue masa gue gak tau nama lo, kacau banget itu,” jawab Anyelir dengan wajah heran.

Ajisaka menggidikkan bahunya, “bisa aja ga sih? Gue soalnya jarang nongol di group atau kalo ngumpul ga banyak ngomong.”

Anyelir menggelengkan kepalanya, “inget kok pasti! Temen-temen gue yang sekelompok sama kita berdua aja tau nama lo.”

“Oh? Iya? Siapa?”

“Iya! Nanti deh pasti lo tau orangnya, mereka masih beli makan. Tunggu aja mereka dateng ke sini,” jawab Anyelir, “BTW! Gapapa kan kalo gue sama temen-temen gue join di sini? Atau lo juga lagi nunggu temen lo makanya sendirian?”

Sebenarnya, Ajisaka berniat untuk segera pulang setelah selesai makan. Namun melihat Anyelir yang sepertinya sengaja menghampiri mejanya untuk makan bersama - bukan hanya untuk menegur Ajisaka - membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi dari kantin.

“Gapapa, gue sendirian juga.”

“Duh mana sih ini anak dua lama banget beli makannya di ujung Depok apa gimana deh?” gerutu Anyelir sambil membuka handphone-nya dan menghubungi kedua temannya yang sejak tadi ia tunggu.

ANTRI ANJIR SABARRR!

Teriakan tersebut yang Ajisaka dengar saat Anyelir menelfon salah satu temannya. Gadis itu menjauhkan handphone-nya dari telinganya sebelum akhirnya sambungan telfon terputus. Setelah itu, ia meletakkan handphone-nya dan mengalihkan pandangannya kepada Ajisaka yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.

“Jadiii, lo udah mulai ngerjain tugas MA belom?” tanya Anyelir.

Tugas MA, Mengenal Angkatan. Salah satu tugas ospek fakultasnya yang mengharuskan para mahasiswa baru untuk mewawancari minimal 50 teman satu angkatan. Mungkin terdengar sangat membebankan namun sebenarnya tugas tersebut cukup membantu para mahasiswa baru untuk dapat berkenalan dengan teman-teman baru dan lebih mengenal satu sama lain. Ditambah lagi, hasil wawancaranya tidak ditulis tangan melainkan diisi melalui website yang telah dirancang khusus oleh mahasiswa Fasilkom untuk kegiatan ospek.

“Udah, tapi masih dikit. Kalo lo?” jawab Ajisaka.

“Udah lumayaaan cuma lagi pengen marathon lagi mau ajak-ajak orang biar cepet selesai.”

“Udah berapa lo?”

“26, lo berapaa?”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar Ajisaka. Mulutnya terbuka sedikit saat mendengar jawaban dari Anyelir. Dua puluh enam orang. Bahkan jumlah orang yang sudah ia wawancari saja belum mencapai setengahnya.

“Lo bener-bener definisi temennya ada di mana-mana ya. Gue setengahnya punya lo aja belom,” jawab Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Anyelir menggelengkan kepalanya, “kemaren tuh pas sore-sore pada ngumpul gituuu buat ngerjain MA, sekitar belasan orang, ya udah deh gue ikutan. Lumayan walaupun kelarnya maghrib.”

“Tetep aja….” jawab Ajisaka.

Anyelir berdecak pelan mendengar jawaban Ajisaka. “Lo tuh… ngiranya gue kayak punya temen dimana-mana gitu ya? Yang temennya segudang? Yang maceman social butterfly abis deh?” tanya Anyelir.

Ajisaka mengangguk pelan, “iya semacam itu. Makanya pas ini lo nyamperin gue tuh aneh aja soalnya gue aja ibaratnya tak kasat mata di angkatan.”

Setelahnya, Anyelir tertawa membuat Ajisaka memandangnya dengan tatapan bingung.

“Anjir lo kenapa gitu sih ngomongnyaaa! Emangnya salah kalo gue ngajak ngobrol lo kayak gini? Kasat atau gak kasat matanya lo di angkatan, gue tetep kenal sama lo kok. Lagian yaaa Ajisaka, gue gak se-social butterfly yang lo pikirin sumpah…. iya gue emang kenal sama banyak orang tapi temen deket gue di sini yang personally kenal gue cuma dikit, gak banyak!“ 

Jawaban Anyelir mengundang keraguan di benak Ajisaka. Ia merasa perempuan ini hanya mengada-ada.

“Muka lo ga percaya banget ya….” ucap Anyelir yang membuat Ajisaka hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya.

“Gini, kenalan gue banyak tapi temen gue ga banyak? Gue berusaha memperluas koneksi kenalan gue sekarang apalagi ini baru masuk kuliah supaya kedepannya bisa lebih mudah aja karena kenalan yang banyak. Despite all of that, temen yang kenal gue secara lebih personal dan bisa jadi temen buat cerita-cerita di fakultas ini gak banyak.” jelas Anyelir dengan panjang lebar, wajahnya terlihat meyakinkan Ajisaka bahwa dirinya sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.

Ajisaka mengangukkan kepalanya, tanda bahwa ia sekarang percaya dengan ucapan gadis dengan rambut hitam kecoklatan yang bergelombang tersebut.

“Nah, kalo lo masih ga percaya, tuh temen-temen gue yang emang deket sama gue di sini baru dua itu,” ucap Anyelir sambil menunjuk ke arah belakang Ajisaka membuat lelaki itu ikut menengok ke belakang. Matanya mendapati sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang berjalan ke meja yang sedang keduanya duduki. Sang perempuan berjalan membawa 3 gelas es teh manis dengan wajah tertekuk sedangkan yang laki-laki dengan cengiran yang jelas tercetak di wajahnya berjalan di belakangnya membawa satu nampan berisi 3 piring ketoprak.

“Anya! Gue kapan-kapan gak mau lagi disuruh beli makanan sama ini orang gila satu ini! Ogah gue!” ucap Kiara saat dirinya berhasil mendudukkan diri di samping Anyelir.

Anyelir sedari tadi sudah tertawa karena dirinya tahu kedua temannya pasti terlibat dalam pertikaian saat membeli makanan.

“Dih kok gue dikatain orang gila! Gue kan ga sadar ternyata gue ga bawa cash broooo!” jawab Zaki sambil memindahkan 3 piring ketoprak dari nampan lalu duduk di samping Ajisaka.

“Ya lo ga usah belagu anjir bilangnya lu aja yang bayar mau traktir, mending bilangnya pelan, ini ngomongnya kenceng sampe satu antrian kayaknya denger! Terus ternyata lo ga bawa cash HADEEEHHHH GUE JUGA YANG BAYAARRR!” omel Kiara.

Anyelir hanya menepuk-nepuk pundak temannya tersebut lalu memberikan segelas es teh manis kepadanya. “Iya, minum dulu.”

Zaki hendak membalas omelan Kiara namun Anyelir sudah lebih dulu memberi isyarat untuk tidak lagi memperpanjang perdebatannya. Lalu ia menoleh ke samping, melihat ke arah Ajisaka yang sejak tadi terdiam memperhatikan kejadian yang menurutnya berlangsung secara random di hadapannya.

“Weits ada Ajisaka! Halo Ji!” sapa Zaki sambil mengajak Ajisaka untuk melakukan tos.

“Halo halo,” jawab Ajisaka dengan canggung.

“Kenal gue gak?” tanya Zaki yang membuat Ajisaka terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat nama kawannya itu. Ia familiar dengan wajah laki-laki tersebut karena mereka satu kelompok PMB.

“Hmmmm… Zaki… kan?” tanya Ajisaka agak ragu.

Zaki memukul pelan meja kantin, “MANTAP BENER! 100 RIBU BUAT LU! Hadiahnya minta ke Kiara aja!” ucapan laki-laki tersebut membuat Kiara yang sedang memegang sebotol handsanitizer reflek menyemprotkannya kepada Zaki.

“MULUT LOOOO SEMBARANGAN!” pekik Kiara, “sori banget, Ji. lo harus kenal sama orang kayak dia padahal masih ada 400 mahasiswa lain yang bisa lo ajak kenalan. Btw gue Kiara ya! Salken!”

Ajisaka hanya tertawa pelan melihat kelakuan kedua teman barunya itu, “iya salken juga.”

“Ajisaka lo anak ilmu komputer kan? Sama kayak Zaki?” tanya Kiara sambil menyantap ketopraknya.

“Iya, gue IK.”

“Ooo kalo gue sama Anya sistem informasi,” jawab Kiara.

“Gak ada yang nanyaaaa!” ledek Zaki.

“UDAHHH udah udah ga usah berantem! Makan dulu!” ucap Anyelir saat Kiara hendak membalas ucapan Zaki.

“Wah anjir sendoknya kurang! Parah banget gimana sih lu Kiara!” protes Zaki saat melihat sendok yang tadi ia bawa hanya dua, lalu ia bergegas pergi sebelum Kiara melemparnya dengan sepatu. Setelah itu Kiara juga pamit untuk ke toilet sebentar meninggalkan Anyelir dan Ajisaka kembali berdua seperti sebelumnya.

Suasana meja menjadi lebih tenang saat Kiara dan Zaki pergi.

“Jadi tenang banget ya tom and jerry lagi pergi?” ucap Anyelir yang disambut tawa Ajisaka.

“Kocak temen-temen lo, heboh banget,” timpal Ajisaka.

“Emang begitu mereka tapi sebenernya saling peduli satu sama lain. Gengsi aja mereka.“ 

Anyelir menatap Ajisaka sambil meminum es teh manis miliknya, “besok-besok kalo mau makan di kantin atau yang lain, join aja sama kita. Biar gue ga sendirian stresnya liat dua orang ribut.”

“Ini maksudnya gue diajak temenan beneran nih? Bukan temen koneksi?” tanya Ajisaka.

Anyelir hampir menyemburkan minumnya mendengar pertanyaan Ajisaka.

“HAHAH bener bener ya lo… hmmmm tergantung sih lo asik atau engga,” jawab Anyelir.

Ajisaka menegakkan duduknya, “wah gue harus jadi asik nih biar diajak sahabatan sama wakil koordinator angkatan gue!”

Tawa Anyelir pecah, “ANJIIIRRR AJISAKA HAHAHAH RESE BANGET NGOMONGNYA SUMPAH!”

Setelah itu, Kiara kembali ke meja diikuti Zaki yang membawa sendok di tangannya.

“Ngomongin apa neeehhh? Seru banget sampe ketawa-tawa?” tanya Zaki.

“Ngomongin lo!” jawab Anyelir.

“Weitssss parah banget ngomongin temen di belakang!”

Obrolan-obrolan, candaan, dan ledekan turut hadir menghiasi suasana meja yang tadinya hanya Ajisaka duduki sendirian. Walaupun dirinya adalah orang baru di antara pertemanan tiga orang yang sedang makan ketoprak ini, ia selalu diajak untuk terlibat dalam percakapan mereka. Ketiganya tidak membuatnya merasa tertinggal dalam obrolan mereka. 

Sepertinya Tuhan telah mengabulkan doa-nya untuk mengirimkan teman baik untuknya. Karena sejak siang itu, Anyelir, Zaki, dan Kiara secara resmi menjadi teman dekat sekaligus teman pertama Ajisaka di perkuliahan.

Dan sejak ia mengobrol dengan Anyelir, gadis itu mengajaknya untuk mengerjakan tugas MA bersama. Gadis itu pula yang bagaikan penolong Ajisaka, memperkenalkan Ajisaka kepada teman kenalannya yang lain dan membuat Ajisaka mengenal banyak orang di fakultasnya. Sejak saat itu, Ajisaka berterima kasih kepada Kiara, Zaki dan terutama Anyelir yang secara tidak langsung merubah Ajisaka menjadi lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Membuatnya dirinya memiliki banyak teman baru baik itu di angkatan maupun dengan kakak tingkat dan menjadikan sosok Ajisaka lebih terbuka daripada sebelumnya.