How it ends

Sore itu, langit seakan mendukung agenda pertemuan Ajisaka dan Aleysha. Awalnya Ajisaka khawatir bahwa hujan akan turun saat nanti pergi ke Ancol karena sejak pagi, langit terlihat mendung. Namun, sesampainya Ajisaka di tepi pantai, ia tersenyum lebar melihat langit yang kembali terang.

Sebenarnya, janji temunya dengan Aleysha itu pukul 17.00 WIB tetapi Ajisaka sudah lebih dulu menikmati angin Pantai Ancol setengah jam lebih cepat.

“Ajisaka.”

Lelaki yang sedang duduk di atas hamparan pasir itu membuka matanya saat namanya dipanggil.

“Oh, udah dateng. Hai,” sapa Ajisaka sambil berdiri di hadapan Aleysha.

“Udah lama nunggunya?”

Ajisaka menggeleng cepat, “engga kok. Baru banget 10 menit yang lalu dateng,” ucapnya berbohong.

Wajah Aleysha tampak gusar, ia tidak berani menatap Ajisaka yang ada di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya kasar sambil berusaha menenangkan dirinya yang semakin gugup.

“Sambil jalan aja mau ga?” tawar Ajisaka.

Tawaran tersebut dibalas dengan anggukan pelan dari Aleysha. Keduanya lalu berjalan bersisian menyusuri pantai.

“Lo apa kabar?” tanya Ajisaka, “eh maksudnya, persiapan pindahan lo gimana? Udah aman?”

“Udah. Tadi terakhir buat ngurus segala macem, abis ini tinggal berangkat aja,” jawab Aleysha.

Ajisaka menganggukkan kepalanya. Kakinya sedari tadi tidak bisa diam, menendang-nendang pasir.

“Lo ke sini naik apa, Cha?”

“Mobil. Tadi dianter kakak gue.”

“Nanti pulangnya gimana?”

“Sama kakak gue juga kok, dia nunggu di sini sambil ngerjain kerjaan kantornya.”

“Oohhh, kalo Cili gimana kabarnya? Suka jamuran kayak dulu gitu ga? Inget banget gue ketemu dia pas di petshop itu galak bang—“

“Ajisaka, why do you act like nothing happened between us?”

Pertanyaan Ajisaka terpotong oleh ucapan Aleysha. Gadis itu berhenti dan memberanikan diri menatap manik mata Ajisaka yang sekarang terkejut.

Ajisaka mengerjapkan matanya pelan, “Cha-“

“Dua hari yang lalu, gue secara terang-terangan nolak perasaan lo dan ninggalin lo gitu aja. Kenapa lo masih mau ketemu sama gue? Kenapa lo masih bisa nanyain kabar orang yang nyakitin hati lo? Kenapa lo ga nunjukkin amarah lo ke gue? Kenapa lo masih baik sama gue?”

Aleysha mengucapkan itu semua dengan nada yang tenang tetapi Ajisaka bisa merasakan jeritan di setiap kata yang gadis itu lontarkan.

Ajisaka melangkah mendekat dan memandang Aleysha yang kini berdiri dengan menundukkan kepalanya.

“Cha, lo kenapa?” ucapnya sambil membungkukkan badannya untuk dapat melihat wajah Aleysha.

“Aji, gue lebih pengen lo benci gue daripada lo sekarang baik ke gue dengan nanyain gue kenapa. Rasa bersalah gue makin banyak liat lo masih bisa baik ke gue.”

Ajisaka terkekeh mendengar ucapan Aleysha. Ia lalu meraih tangan kanan Aleysha dan menggeggamnya erat sambil membawa gadis itu untuk lanjut berjalan di sisinya.

Napas Aleysha tersentak, ia terkejut sampai-sampai ia tidak bisa berbuat atau berkata apapun.

“Aleysha, lo ga perlu ngerasa bersalah kayak gitu. Kan yang milih buat suka sama lo itu gue. Kalo gue ditolak atau diterima, itu urusan gue. Lo berhak buat ga bales perasaan gue.”

“Lo juga berhak buat marah sama gue karena gue nyakitin lo,” ucap Aleysha.

Ajisaka menghentikan langkahnya, membuat Aleysha juga berhenti. Keduanya diselimuti keheningan dengan tangan sang lelaki yang masih setia menggenggam milik sang perempuan.

Keduanya kini telah berdiri di jembatan kayu yang dibuat panjang mengelilingi bagian dangkal pantai.

“Gue ga pernah naro dendam ke orang lain, Cha. Gue ga bisa marah ke orang lain. Apalagi kalo marahnya ke orang yang gue sayang,” ucap Ajisaka, “jadi stop minta gue buat marah ke lo karena itu mustahil.”

Ajisaka melepas genggaman tangannya lalu berjalan mendekat ke pagar jembatan kayu tersebut. Ia menatap ke arah laut yang terbentang di hadapannya.

“Tau ga sih, Cha, cara gue buat ngubah hal-hal di hidup gue yang menurut gue rasanya bikin sedih, kecewa, marah jadi sesuatu yang bikin seneng?”

Tanpa disadari, Aleysha sudah berdiri di samping kirinya ikut memandang laut lepas.

Dari ekor mata Ajisaka, ia melihat gadis itu menggeleng pelan.

“Tiap gue dihadapin dengan rasa sedih, kecewa, marah, khawatir, gue selalu nyari sisi baik dari apa yang lagi gue alamin.”

“Maksudnya?”

“Contohnya sekarang. Jujur, gue juga ngerasa sedih dan kecewa pas tau lo ga bisa ngebales perasaan gue. Rasanya kayak pait banget. Tapi makin ke sini, gue makin bisa nerima itu semua. Gue bilang ke diri sendiri, kalo kemarin lo bales perasaan gue, pasti gue bakal ngerasain yang namanya patah hati belakangan dan menurut gue, ngerasain patah hati nanti-nantian tuh lebih parah.”

Ajisaka menatap Aleysha yang masih memfokuskan pandangannya ke laut di hadapannya, “nah, akhirnya gue seneng deh. Seenggaknya gue tau dari sekarang, oh gini rasanya patah hati.”

Ucapan Ajisaka membuat Aleysha menyernyitkan dahi dan menatap balik lelaki itu, “aneh. Lo patah hati tapi bisa-bisanya seneng?”

Ajisaka tertawa pelan, “loh justru itu tujuannya. Recycle yang pait-pait jadi seneng.”

Aleysha tersenyum kecil, “tetep aneh.”

“HAHAH Ya udah berarti tips and trick gue ga mempan di lo. At least gue udah ngasih tau lo gimana cara gue nyenengin diri gue kalo lagi marah, sedih, atau kecewa.”

“Thanks buat tips and tricknya, mungkin itu bakal berguna nanti di masa depan.”

Setelah itu, keduanya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing dengan pandangan yang masih tertuju kepada laut lepas dan langit yang perlahan mulai meredup.

“Cha, makasih ya udah bikin gue jatuh cinta sama lo. Makasih juga udah bikin gue ngerasain rasanya ditolak dan patah hati,” ucapan Ajisaka terhenti sejenak, “gue ngomong gini serius. Selama ini gue penasaran rasanya jatuh cinta tuh gimana sih? Rasanya kasmaran dan deg degan nunggu balessn chat dari orang yang ditaksir tuh gimana? Atau rasanya galau karena gebetan lo nge-friendzone-in? Soalnya gue belom pernah ngerasain itu.”

Ajisaka berdiri menghadap Aleysha, “dan akhirnya gue bisa ngerasain itu sekarang. Gue ngerasa udah official jadi manusia normal yang pernah naksir sama orang.”

Aleysha ikut menghadap Ajisaka yang sekarang sedang menatap manik matanya dengan dalam.

“Aji, lo orang yang baik banget. Gue belom pernah ketemu orang sebaik lo. Makasih banyak udah jatuh cinta sama gue, it makes me feel special to be loved by you. Apalagi gue sebagai first love. Makasih banyak buat waktunya selama 2 bulan terakhir. I cherish it a lot. Dan maaf juga karena harus pergi dari lo.”

Senyum di wajah Ajisaka mengembang, ia maju selangkah dan merentangkan kedua tangannya, membawa tubuh mungil Aleysha ke dalam pelukannya.

This is my first and last chance to hug you. Tolong kayak gini sebentar aja.”

Aleysha mengangguk pelan. Ia membalas pelukan tersebut.

Hening. Keduanya sama-sama diam. Keduanya memeluk satu sama lain dengan erat seakan-akan tidak ada hari esok untuk bisa seperti ini (kenyataannya memang tidak ada hari esok untuk mereka berdua). Ajisaka menaruh wajahnya di ceruk leher Aleysha sedangkan Aleysha dengan nyaman menyenderkan kepalanya di dada Ajisaka.

“Aleysha, gua harap lo bisa selalu bahagia setelah ini. Tolong jangan pergi dengan rasa bersalah.”

Setelah itu, Ajisaka melepas pelukan tersebut dengan pelan. Ia menatap manik mata Aleysha sambil memegang kedua bahu gadis itu, “masih ngerasa bersalah sama gue ga sekaeang?

Aleysha tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.

“Good,” ucap Ajisaka sambil mengusap kepala Aleysha pelan.

Lelaki itu menghela napas lalu menatap langit yang mulai berwarna jingga.

“Ajisaka, makasih banyak. Semoga lo bisa dipertemukan sama orang yang bisa tulus ngebales perasaan lo di masa depan,” tutur Aleysha.

Senyuman masih tercetak jelas di wajah Ajisaka saat mendengar ucapan Aleysha tersebut.

Kini keduanya sama-sama memandangi hamparan laut dan langit yang warnanya semakin jingga, tanda bahwa matahari mulai tenggelam.

“Aleysha,” panggil Ajisaka.

“Yaa?”

“The sunset is beautiful, isn’t it?”

”the sunset is beautiful, isn’t it?” means “i love you, but i’m letting you go” but in a beautiful way. sunset is beautiful, but we can’t force it to stay like that, the sun must go down because that’s how it work. same as someone we loved but they doesnt love us back, we can’t force them to stay.