<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>bataraily</title>
    <link>https://bataraily.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 19:54:13 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Gue selalu suka nonton pertandingan basket.</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/dbl-dan-kael?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gue selalu suka nonton pertandingan basket. Walaupun gue gak bisa main basket, seenggaknya gue paham istilah-istilah dan peraturan main dalam dunia perbasketan ini. Semua itu berkat adik laki-laki dan ayah gue yang selalu mengajak gue untuk menjadi penonton 1-on-1 match mereka setiap hari minggu pagi setelah kami sekeluarga selesai jogging. Jadi, gak mengherankan kalau gue berteriak penuh api semangat sejak pertandingan final DBL East Region antara sekolah gue dan sma lain dimulai.&#xA;&#xA;“FOUL WOY FOUL!!!” teriak gue.&#xA;&#xA;“Mal minum dulu, Mal. Tenggorokan lu sakit nanti,” ucap teman gue yang sejak tadi justru lebih mengkhawatirkan pita suara gue daripada menang-kalah pertandingan yang ada di depan mata. Gue pun meraih botol minum yang disodorkan olehnya tanpa mengalihkan perhatian dari bola basket yang kini hendak dilempar ke dalam ring basket. Dan ketika bola tersebut berhasil masuk, riuh teriakan pun pecah di bagian tribun suporter sekolah kami.&#xA;&#xA;Suporter sekolah kami pun mulai kembali menyanyikan ultras kebangaan kami dengan diiringi suara perkusi yang menggelegar seantero GOR Pulogadung. Walaupun gue hafal hampir keseluruhan lirik ultras tersebut, gue lebih memilih untuk berteriak secara asal pada momen-momen penting selama bola basket tersebut masih terus diperebutkan. Mata gue berpindah ke papan skor.&#xA;&#xA;71- 64&#xA;&#xA;Gue menghela napas kasar melihat skor tersebut. Skor sekolah kami memang lebih besar dan ini adalah quarter terakhir. Namun, masih ada sisa waktu 5 menit hingga pertandingan selesai. Dalam waktu 5 menit tersebut, banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Kemungkinannya 1) Sekolah kami mempertahankan kedudukan, atau 2) Sekolah lawan membalap skor yang hanya berselisih 7 poin tersebut.&#xA;&#xA;Gue mulai merasa lemas di sisa-sisa 5 menit ini, berharap skenario terburuk yang ada di kepala gue tidak menjadi kenyataan. Gue pun merasa seperti berkeringat dingin sejak tadi. Perasaan gugup menguasai diri gue sekarang. Rasanya seperti ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perut gue.&#xA;&#xA;Lalu, sekolah kami kembali mencetak three point yang membuat gue berteriak sekencang mungkin hingga anak-anak sekolah gue menengok ke arah gue. Cukup memalukan sehingga gue pun menundukkan kepala sejenak. Setelah merasa perhatian mereka telah teralihkan, gue kembali memfokuskan perhatian ke arah lapangan. Pandangan gue pun tidak sengaja terjatuh kepada seorang cowok dengan baju basket nomor punggung 05 yang kini juga sedang menatap gue.&#xA;&#xA;Kaelan.&#xA;&#xA;Lelaki itu menatap gue selama beberapa saat sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu kepada gue yang membuat gue reflek membaca gerakan bibirnya.&#xA;&#xA;“Jelek lo,” ucap dia dengan memasang wajah tengil sebelum akhirnya melemparkan senyum meledek kepada gue.&#xA;&#xA;Seharusnya gue merasa kesal dengan ejekkan Kaelan itu. Seharusnya gue balik mengejek dia. Tetapi justru tubuh gue mendadak membeku. Detak jantung gue terasa lebih kencang dari sebelumnya. Pandangan gue masih tertuju pada Kaelan yang kini kembali bermain di lapangan. Gue baru menyadari eksistensi Kaelan sebagai pemain dalam pertandingan ini setelah kejadian tadi. Kaelan yang kini memakai baju basket, berbeda ketika gue melihat dia sehari-hari dengan seragam putih abu-abunya. Kaelan yang sekarang tampak berbeda. &#xA;&#xA;Jersey basket dengan nomor punggung 05 inisial KAEL dan celana pendek se-lutut itu terlihat sangat cocok dikenakan oleh Kaelan. Rambutnya yang cukup panjang dan basah terkena keringat itu terlihat berantakan. Sesekali ia menyisir surat rambutnya itu ke belakang menggunakan tangan kirinya. Kakinya yang panjang itu lincah bergerak kesana-kemari sambil membawa bola basket di tangannya. Ia berdiri di posisinya sekarang dengan tangan kanan yang men-dribble bola basketnya dan tangan kirinya menghadang lawan. Wajahnya fokus melihat sekitar sebelum akhirnya melempar bola tersebut kepada kawannya di seberang. Lalu ia berlari mendekati ring basket dan meminta bola kembali sebelum akhirnya ia berhasil mencetak 2 poin.&#xA;&#xA;Sesaat setelah Kaelan berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket, teriakan dari suporter sekolah kami kembali memenuhi GOR Pulogadung ini. Seharusnya, gue pun ikut berteriak, bahkan seharusnya yang paling kencang di antara yang lain. Namun, sebelum itu terjadi, napas gue tercekat ketika Kaelan menengok ke arah gue. Pandangan mata kami berdua kembali bertemu. Sambil menatap gue, dia memberikan senyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih itu dan menggerakkan dagunya ke atas sebelum akhirnya beberapa kawan timnya menghampirinya untuk melakukan selebrasi kecil. Dan selama sisa beberapa menit pertandingan itu, gue menjadi kesulitan untuk fokus menonton pertandingan.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sekolah kami menang dengan skor akhir 76- 68.&#xA;&#xA;Kaelan mencetak 5 skor di 5 menit terakhir. Setelah sebelumnya dia memberikan 2 skor lalu dengan anehnya melemparkan senyum yang (menurut gue) sekilas cukup berkarisma, dia balik melakukan three-point secara dramatis di 10 detik terakhir pertandingan. Momen dramatis tersebut diakhiri (lagi) dengan Kaelan yang kembali mencari keberadaan gue. Namun, kali kedua ini, dia melemparkan senyum “tengil”-nya yang sering ia tunjukkan setiap hari di kelas dan sukses membuat gue menyernyit lalu berpura-pura mau muntah setelahnya. Kaelan yang melihat itu hanya tertawa-tawa sebelum akhirnya ditarik oleh salah satu kawan tim basketnya untuk melakukan selebrasi kemenangan.&#xA;&#xA;Gue masih setia berdiri di tribun penonton bersama teman-teman gue yang lain. Suasana kemenangan di GOR Pulogadung masih sangat terasa. Semua warga sekolah gue masih merayakan kemenangan ini. Gue pun turut merasa berbahagia karena sekolah kami bisa maju ke babak Championship Series DKI Jakarta. Dari atas tribun, gue bisa melihat dengan jelas momen-momen yang terjadi di lapangan saat ini. Tim basket sekolah kami sedang bersalaman dengan tim basket sekolah lawan. Setelah itu mereka kembali melakukan selebrasi kemenangan. Bukan hanya anak-anak basket saja yang ikut meramaikan suasana kemenangan di lapangan, anak-anak modern dance sekolah kami pun juga berada di sana. Mereka juga ikut berfoto bersama tim basket dengan posisi menghadap ke tribun.&#xA;&#xA;Mata gue pun menangkap dua orang yang entah kenapa menarik perhatian gue.&#xA;&#xA;Kaelan dan Nadia.&#xA;&#xA;Keduanya berdiri bersisian dengan tangan kanan Kaelan merangkul Nadia. Tinggi mereka jauh berbeda sehingga Nadia terlihat sangat mungil di samping Kaelan yang setinggi galah bambu. Setelah melakukan sesi foto bersama, Kaelan pun membawa Nadia ke dalam pelukannya. Kejadian tersebut menyebabkan riuh di tengah lapangan. Keduanya pun menjadi pusat perhatian. Lalu setelah itu gue tidak tahu apa lagi yang terjadi di antara keduanya karena teman gue mengajak gue keluar untuk pulang dan mencari makan malam.&#xA;&#xA;Malam itu, gue meninggalkan GOR Pulogadung dengan perasaan campur aduk yang sulit gue pahami. Seharusnya gue merasa bahagia karena sekolah kami menang tapi entah kenapa ada yang mengganjal di hati gue. Sesuatu hal aneh yang membuat gue menghela napas keras selagi melangkahkan kaki menuju parkiran mobil.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gue selalu suka nonton pertandingan basket. Walaupun gue gak bisa main basket, seenggaknya gue paham istilah-istilah dan peraturan main dalam dunia perbasketan ini. Semua itu berkat adik laki-laki dan ayah gue yang selalu mengajak gue untuk menjadi penonton 1-on-1 match mereka setiap hari minggu pagi setelah kami sekeluarga selesai jogging. Jadi, gak mengherankan kalau gue berteriak penuh api semangat sejak pertandingan final DBL East Region antara sekolah gue dan sma lain dimulai.</p>

<p>“FOUL WOY FOUL!!!” teriak gue.</p>

<p>“Mal minum dulu, Mal. Tenggorokan lu sakit nanti,” ucap teman gue yang sejak tadi justru lebih mengkhawatirkan pita suara gue daripada menang-kalah pertandingan yang ada di depan mata. Gue pun meraih botol minum yang disodorkan olehnya tanpa mengalihkan perhatian dari bola basket yang kini hendak dilempar ke dalam ring basket. Dan ketika bola tersebut berhasil masuk, riuh teriakan pun pecah di bagian tribun suporter sekolah kami.</p>

<p>Suporter sekolah kami pun mulai kembali menyanyikan ultras kebangaan kami dengan diiringi suara perkusi yang menggelegar seantero GOR Pulogadung. Walaupun gue hafal hampir keseluruhan lirik ultras tersebut, gue lebih memilih untuk berteriak secara asal pada momen-momen penting selama bola basket tersebut masih terus diperebutkan. Mata gue berpindah ke papan skor.</p>

<p>71- 64</p>

<p>Gue menghela napas kasar melihat skor tersebut. Skor sekolah kami memang lebih besar dan ini adalah quarter terakhir. Namun, masih ada sisa waktu 5 menit hingga pertandingan selesai. Dalam waktu 5 menit tersebut, banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Kemungkinannya 1) Sekolah kami mempertahankan kedudukan, atau 2) Sekolah lawan membalap skor yang hanya berselisih 7 poin tersebut.</p>

<p>Gue mulai merasa lemas di sisa-sisa 5 menit ini, berharap skenario terburuk yang ada di kepala gue tidak menjadi kenyataan. Gue pun merasa seperti berkeringat dingin sejak tadi. Perasaan gugup menguasai diri gue sekarang. Rasanya seperti ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perut gue.</p>

<p>Lalu, sekolah kami kembali mencetak three point yang membuat gue berteriak sekencang mungkin hingga anak-anak sekolah gue menengok ke arah gue. Cukup memalukan sehingga gue pun menundukkan kepala sejenak. Setelah merasa perhatian mereka telah teralihkan, gue kembali memfokuskan perhatian ke arah lapangan. Pandangan gue pun tidak sengaja terjatuh kepada seorang cowok dengan baju basket nomor punggung 05 yang kini juga sedang menatap gue.</p>

<p>Kaelan.</p>

<p>Lelaki itu menatap gue selama beberapa saat sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu kepada gue yang membuat gue reflek membaca gerakan bibirnya.</p>

<p>“Jelek lo,” ucap dia dengan memasang wajah tengil sebelum akhirnya melemparkan senyum meledek kepada gue.</p>

<p>Seharusnya gue merasa kesal dengan ejekkan Kaelan itu. Seharusnya gue balik mengejek dia. Tetapi justru tubuh gue mendadak membeku. Detak jantung gue terasa lebih kencang dari sebelumnya. Pandangan gue masih tertuju pada Kaelan yang kini kembali bermain di lapangan. Gue baru menyadari eksistensi Kaelan sebagai pemain dalam pertandingan ini setelah kejadian tadi. Kaelan yang kini memakai baju basket, berbeda ketika gue melihat dia sehari-hari dengan seragam putih abu-abunya. Kaelan yang sekarang tampak berbeda.</p>

<p>Jersey basket dengan nomor punggung 05 inisial KAEL dan celana pendek se-lutut itu terlihat sangat cocok dikenakan oleh Kaelan. Rambutnya yang cukup panjang dan basah terkena keringat itu terlihat berantakan. Sesekali ia menyisir surat rambutnya itu ke belakang menggunakan tangan kirinya. Kakinya yang panjang itu lincah bergerak kesana-kemari sambil membawa bola basket di tangannya. Ia berdiri di posisinya sekarang dengan tangan kanan yang men-dribble bola basketnya dan tangan kirinya menghadang lawan. Wajahnya fokus melihat sekitar sebelum akhirnya melempar bola tersebut kepada kawannya di seberang. Lalu ia berlari mendekati ring basket dan meminta bola kembali sebelum akhirnya ia berhasil mencetak 2 poin.</p>

<p>Sesaat setelah Kaelan berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket, teriakan dari suporter sekolah kami kembali memenuhi GOR Pulogadung ini. Seharusnya, gue pun ikut berteriak, bahkan seharusnya yang paling kencang di antara yang lain. Namun, sebelum itu terjadi, napas gue tercekat ketika Kaelan menengok ke arah gue. Pandangan mata kami berdua kembali bertemu. Sambil menatap gue, dia memberikan senyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih itu dan menggerakkan dagunya ke atas sebelum akhirnya beberapa kawan timnya menghampirinya untuk melakukan selebrasi kecil. Dan selama sisa beberapa menit pertandingan itu, gue menjadi kesulitan untuk fokus menonton pertandingan.</p>

<hr/>

<p>Sekolah kami menang dengan skor akhir 76- 68.</p>

<p>Kaelan mencetak 5 skor di 5 menit terakhir. Setelah sebelumnya dia memberikan 2 skor lalu dengan anehnya melemparkan senyum yang (menurut gue) sekilas cukup berkarisma, dia balik melakukan three-point secara dramatis di 10 detik terakhir pertandingan. Momen dramatis tersebut diakhiri (lagi) dengan Kaelan yang kembali mencari keberadaan gue. Namun, kali kedua ini, dia melemparkan senyum “tengil”-nya yang sering ia tunjukkan setiap hari di kelas dan sukses membuat gue menyernyit lalu berpura-pura mau muntah setelahnya. Kaelan yang melihat itu hanya tertawa-tawa sebelum akhirnya ditarik oleh salah satu kawan tim basketnya untuk melakukan selebrasi kemenangan.</p>

<p>Gue masih setia berdiri di tribun penonton bersama teman-teman gue yang lain. Suasana kemenangan di GOR Pulogadung masih sangat terasa. Semua warga sekolah gue masih merayakan kemenangan ini. Gue pun turut merasa berbahagia karena sekolah kami bisa maju ke babak Championship Series DKI Jakarta. Dari atas tribun, gue bisa melihat dengan jelas momen-momen yang terjadi di lapangan saat ini. Tim basket sekolah kami sedang bersalaman dengan tim basket sekolah lawan. Setelah itu mereka kembali melakukan selebrasi kemenangan. Bukan hanya anak-anak basket saja yang ikut meramaikan suasana kemenangan di lapangan, anak-anak modern dance sekolah kami pun juga berada di sana. Mereka juga ikut berfoto bersama tim basket dengan posisi menghadap ke tribun.</p>

<p>Mata gue pun menangkap dua orang yang entah kenapa menarik perhatian gue.</p>

<p>Kaelan dan Nadia.</p>

<p>Keduanya berdiri bersisian dengan tangan kanan Kaelan merangkul Nadia. Tinggi mereka jauh berbeda sehingga Nadia terlihat sangat mungil di samping Kaelan yang setinggi galah bambu. Setelah melakukan sesi foto bersama, Kaelan pun membawa Nadia ke dalam pelukannya. Kejadian tersebut menyebabkan riuh di tengah lapangan. Keduanya pun menjadi pusat perhatian. Lalu setelah itu gue tidak tahu apa lagi yang terjadi di antara keduanya karena teman gue mengajak gue keluar untuk pulang dan mencari makan malam.</p>

<p>Malam itu, gue meninggalkan GOR Pulogadung dengan perasaan campur aduk yang sulit gue pahami. Seharusnya gue merasa bahagia karena sekolah kami menang tapi entah kenapa ada yang mengganjal di hati gue. Sesuatu hal aneh yang membuat gue menghela napas keras selagi melangkahkan kaki menuju parkiran mobil.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/dbl-dan-kael</guid>
      <pubDate>Mon, 10 Jun 2024 16:04:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bab 2: Nothing Special, Just Him</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/bab-2-nothing-special-just-him?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Namanya Arkafi.&#xA;&#xA;Gue gak pernah tau kalo ada temen seangkatan gue yang namanya Arkafi. Ternyata dia anak kelas 10 IPA 4 yang kelasnya beda lantai sama kelas gue. Sebenernya wajar-wajar aja kalau gue gak kenal dia karena gue pun termasuk yang belum familiar sama tiap anak di angkatan. Awal yang bikin heran, dia itu anggota tim inti basket sekolah gue tapi gue gak kenal dia. Padahal gue cukup familiar sama semua anak inti basket. Setelah gue wawancarain, ternyata dia baru masuk di semester 2 ini dan inti dari wawancara ini sebenernya kayak nyambut dia di tim inti basket.&#xA;&#xA;Kalo kalian bertanya-tanya, gue wawancara buat apa, ini sebenernya kerjaan temen gue yang tidak bertanggung jawab yaitu Nayla. Kita berdua anak ekskul jurnalistik tapi beda bagian. Dia di bagian redaktur news , sedangkan gue bagian public relation. Bulan ini dia kebagian bikin berita dan inilah ide dia, jadiin Arkafi sebagai narasumber berita yang nantinya berjudul &#34;Arkafi, The New Warriors&#34; kalo kata Nayla. Judul yang cukup aneh tapi let her be aja lah. Singkatnya, dia gak bisa buat wawancara di hari janjian mereka berdua dan akhirnya semua kerjaan dia dioper ke gue.&#xA;&#xA;Balik lagi, Arkafi is just an ordinary basketball guy. Dia termasuk tinggi dengan tinggi dia yang katanya 178cm (based on the interview). He really love and passionate with basketball. Team favorit dia itu Golden Warrior State and he is obsessed with Stephen Curry. Dia sangat kooperatif selama wawancara, jawabannya memuaskan dan selalu kasih ide baru untuk diomongin. Gue pikir akan jadi canggung karena kita berdua gak pernah ngobrol atau saling kenal sebelumnya, tapi ternyata salah besar. Dia termasuk cowok yang sangat easy going dan seru buat diajak ngobrol. Selama wawancara pun, dia selalu excited tiap jawab semua pertanyaan yang gue kasih. Gue bisa liat matanya berbinar selama wawancara.&#xA;&#xA;Nothing special from our very first meeting. Setelah selesai wawancara, dia langsung pamit cabut karena harus latihan basket. Dan gue pun juga harus pulang karena gue baru inget gue lupa ngisi air tempat minum kucing gue yang tinggal 1/4 per pagi tadi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Namanya Arkafi.</p>

<p>Gue gak pernah tau kalo ada temen seangkatan gue yang namanya Arkafi. Ternyata dia anak kelas 10 IPA 4 yang kelasnya beda lantai sama kelas gue. Sebenernya wajar-wajar aja kalau gue gak kenal dia karena gue pun termasuk yang belum familiar sama tiap anak di angkatan. Awal yang bikin heran, dia itu anggota tim inti basket sekolah gue tapi gue gak kenal dia. Padahal gue cukup familiar sama semua anak inti basket. Setelah gue wawancarain, ternyata dia baru masuk di semester 2 ini dan inti dari wawancara ini sebenernya kayak nyambut dia di tim inti basket.</p>

<p>Kalo kalian bertanya-tanya, gue wawancara buat apa, ini sebenernya kerjaan temen gue yang tidak bertanggung jawab yaitu Nayla. Kita berdua anak ekskul jurnalistik tapi beda bagian. Dia di bagian redaktur news , sedangkan gue bagian public relation. Bulan ini dia kebagian bikin berita dan inilah ide dia, jadiin Arkafi sebagai narasumber berita yang nantinya berjudul “Arkafi, The New Warriors” kalo kata Nayla. Judul yang cukup aneh tapi let her be aja lah. Singkatnya, dia gak bisa buat wawancara di hari janjian mereka berdua dan akhirnya semua kerjaan dia dioper ke gue.</p>

<p>Balik lagi, Arkafi <em>is just an ordinary basketball guy</em>. Dia termasuk tinggi dengan tinggi dia yang katanya 178cm (<em>based on the interview</em>). <em>He really love and passionate with basketball</em>. Team favorit dia itu Golden Warrior State and <em>he is obsessed</em> with Stephen Curry. Dia sangat kooperatif selama wawancara, jawabannya memuaskan dan selalu kasih ide baru untuk diomongin. Gue pikir akan jadi canggung karena kita berdua gak pernah ngobrol atau saling kenal sebelumnya, tapi ternyata salah besar. Dia termasuk cowok yang sangat <em>easy going</em> dan seru buat diajak ngobrol. Selama wawancara pun, dia selalu excited tiap jawab semua pertanyaan yang gue kasih. Gue bisa liat matanya berbinar selama wawancara.</p>

<p><em>Nothing special from our very first meeting</em>. Setelah selesai wawancara, dia langsung pamit cabut karena harus latihan basket. Dan gue pun juga harus pulang karena gue baru inget gue lupa ngisi air tempat minum kucing gue yang tinggal ¼ per pagi tadi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/bab-2-nothing-special-just-him</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jun 2023 19:20:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bab 1: Apa rasanya jatuh cinta?</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/bab-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cinta dan pertama. Dua kata yang kalau disebutin jadi satu frasa rasanya aneh. Pembahasan soal cinta pertama gak pernah jauh-jauh dari tentang cinta yang bikin susah buat dilupain karena itu kali pertama kita ngerasain yang namanya jatuh cinta.&#xA;&#xA;Teman-teman gue beberapa kali bahas soal cinta pertama mereka. Salah satu dari mereka cerita kalau cinta pertamanya itu adalah teman satu SMP-nya, dia pertama kali jatuh cinta saat liat cinta pertamanya itu main basket ketika class meeting kelas 8.&#xA;&#xA;&#34;Cinta monyet itu mah, masa lo langsung jatuh cinta pas dia lagi dribble bola,&#34; gue nyeletuk saat dia cerita soal cowok basket yang jadi cinta pertamanya itu.&#xA;&#xA;&#34;Kebiasaan nih lo gak percayaan kalo udah ngomongin soal ginian. Tunggu aja nanti lo ngerasain sendiri ketemu cinta pertama lo!&#34;&#xA;&#xA;Ucapan dia saat itu cuma gue balas dengan gidikkan bahu. Emang bener sih, gue gak begitu tertarik tentang pembahasan cinta. Bahkan nyebut kata cinta pun rasanya aneh. Umur gue baru 16 tahun. Rasanya masih terlalu muda untuk tau rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Jangankan tentang cinta, rumus trigonometri aja gue sering lupa.&#xA;&#xA;16 tahun gue hidup, belum pernah sekali pun gue deket sama cowok. Kalau tertarik dan naksir, pernah tapi ya itu tadi. Cinta monyet. Sekadar naksir sesaat, itu pun kebanyakan naksir ke kakak kelas ganteng.&#xA;&#xA;16 tahun gue hidup, gue belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Gue gak paham gimana caranya kita tau kalau sebenarnya kita lagi jatuh cinta. Semua orang di sekitar gue udah sering ngasih tau ke gue gimana rasanya jatuh cinta, bahkan kakak dan ibu gue pun ikut andil dalam memberikan opini mereka. Dari semua penjelasan yang gue denger, belum ada satu pun yang pernah gue rasain.&#xA;&#xA;Ada satu ucapan dari ibu yang sekarang lagi gue inget banget. Katanya, cinta itu datang tanpa kita sadarin. Cinta bisa dateng kapan aja dan di mana aja.&#xA;&#xA;Mungkin cinta bisa muncul di sekolah? Di tempat les? Di JCO deket rumah yang sering gue datengin buat makan JCOOL-nya yang enak itu? &#xA;&#xA;Mungkin cinta bisa hadir saat lo lagi makan JCOOL JCO yang enak itu? Atau lagi upacara di sekolah? Atau lagi nunggu abang gojek di deket sekolah yang gak dateng-dateng?&#xA;&#xA;Atau mungkin sekarang? Saat lo lagi mau wawancarain anak sekolah lo yang bahkan lo cuma tau namanya tapi gak pernah tau wujudnya yang mana sebelumnya?&#xA;&#xA;&#34;Halo, maaf banget gue telat datengnya. Lo udah nunggu lama ya?&#34;&#xA;&#xA;Gue cuma bengong ngeliat cowok yang sekarang lagi berdiri di depan gue dengan dua tangan yang bertumpu di dengkulnya dengan napas yang kayak abis dikejar setan.&#xA;&#xA;&#34;Gue gak salah orang kan? Lo temennya Nayla kan yang gantiin dia buat wawancarain gue?&#34;&#xA;&#xA;Dia balik ngomong lagi, kali ini sambil berdiri tegak sedangkan gue sekarang masih duduk di salah satu bangku panjang taman belakang sekolah. Gue ngerjapin mata beberapa kali dan berusaha balik dari lamunan gue.&#xA;&#xA;&#34;Oh iya iya sorry gue tadi gak fokus. Bener kok, gue temennya Nayla. Lo pasti…&#34;&#xA;&#xA;&#34;Arkafi tapi panggil Kafi aja.&#34;&#xA;&#xA;Ohhh… Jadi ini yang namanya Arkafi…]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Cinta dan pertama. Dua kata yang kalau disebutin jadi satu frasa rasanya aneh. Pembahasan soal cinta pertama gak pernah jauh-jauh dari tentang cinta yang bikin susah buat dilupain karena itu kali pertama kita ngerasain yang namanya jatuh cinta.</p>

<p>Teman-teman gue beberapa kali bahas soal cinta pertama mereka. Salah satu dari mereka cerita kalau cinta pertamanya itu adalah teman satu SMP-nya, dia pertama kali jatuh cinta saat liat cinta pertamanya itu main basket ketika class meeting kelas 8.</p>

<p>“Cinta monyet itu mah, masa lo langsung jatuh cinta pas dia lagi dribble bola,” gue nyeletuk saat dia cerita soal cowok basket yang jadi cinta pertamanya itu.</p>

<p>“Kebiasaan nih lo gak percayaan kalo udah ngomongin soal ginian. Tunggu aja nanti lo ngerasain sendiri ketemu cinta pertama lo!”</p>

<p>Ucapan dia saat itu cuma gue balas dengan gidikkan bahu. Emang bener sih, gue gak begitu tertarik tentang pembahasan cinta. Bahkan nyebut kata cinta pun rasanya aneh. Umur gue baru 16 tahun. Rasanya masih terlalu muda untuk tau rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Jangankan tentang cinta, rumus trigonometri aja gue sering lupa.</p>

<p>16 tahun gue hidup, belum pernah sekali pun gue deket sama cowok. Kalau tertarik dan naksir, pernah tapi ya itu tadi. Cinta monyet. Sekadar naksir sesaat, itu pun kebanyakan naksir ke kakak kelas ganteng.</p>

<p>16 tahun gue hidup, gue belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Gue gak paham gimana caranya kita tau kalau sebenarnya kita lagi jatuh cinta. Semua orang di sekitar gue udah sering ngasih tau ke gue gimana rasanya jatuh cinta, bahkan kakak dan ibu gue pun ikut andil dalam memberikan opini mereka. Dari semua penjelasan yang gue denger, belum ada satu pun yang pernah gue rasain.</p>

<p>Ada satu ucapan dari ibu yang sekarang lagi gue inget banget. Katanya, cinta itu datang tanpa kita sadarin. Cinta bisa dateng kapan aja dan di mana aja.</p>

<p>Mungkin cinta bisa muncul di sekolah? Di tempat les? Di JCO deket rumah yang sering gue datengin buat makan JCOOL-nya yang enak itu? </p>

<p>Mungkin cinta bisa hadir saat lo lagi makan JCOOL JCO yang enak itu? Atau lagi upacara di sekolah? Atau lagi nunggu abang gojek di deket sekolah yang gak dateng-dateng?</p>

<p>Atau mungkin sekarang? Saat lo lagi mau wawancarain anak sekolah lo yang bahkan lo cuma tau namanya tapi gak pernah tau wujudnya yang mana sebelumnya?</p>

<p>“Halo, maaf banget gue telat datengnya. Lo udah nunggu lama ya?”</p>

<p>Gue cuma bengong ngeliat cowok yang sekarang lagi berdiri di depan gue dengan dua tangan yang bertumpu di dengkulnya dengan napas yang kayak abis dikejar setan.</p>

<p>“Gue gak salah orang kan? Lo temennya Nayla kan yang gantiin dia buat wawancarain gue?”</p>

<p>Dia balik ngomong lagi, kali ini sambil berdiri tegak sedangkan gue sekarang masih duduk di salah satu bangku panjang taman belakang sekolah. Gue ngerjapin mata beberapa kali dan berusaha balik dari lamunan gue.</p>

<p>“Oh iya iya sorry gue tadi gak fokus. Bener kok, gue temennya Nayla. Lo pasti…”</p>

<p>“Arkafi tapi panggil Kafi aja.”</p>

<p>Ohhh… Jadi ini yang namanya Arkafi…</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/bab-1</guid>
      <pubDate>Thu, 01 Jun 2023 17:47:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>When a Carnation Blooms For the First Time</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/when-a-carnation-blooms-for-the-first-time?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Perpusat UI adalah comfort zone bagi Anyelir. Sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, bundanya telah membawanya mengunjungi perpustakaan yang terletak di sebelah Danau Kenanga tersebut. Pertama kali menginjakkan kaki di dalam bangunan yang cukup megah itu, matanya berbinar. Sang bunda membawanya mengitari isi perpustakaan sambil bercerita bahwa perpusat menjadi saksi bisu dirinya belajar dan mengerjakan tugas semasa kuliah. Kali pertama itu juga, ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang mengerjakan tugas-tugas kampusnya di perpusat setelah selesai menghadiri kelas.&#xA;&#xA;Mungkin keinginan Anyelir tersebut terdengar remeh, tetapi itu yang menjadi salah satu motivasi dirinya untuk mengejar kampus kuning impiannya tersebut. Ia membuktikan bahwa keinginan sederhana yang ada di hidup kita dapat menjadi motivasi besar untuk mewujudkan mimpi yang kita punya karena sekarang, gadis itu tengah berkutat dengan tugasnya di salah satu ruangan perpusat UI sebagai salah satu mahasiswa kampus tersebut.&#xA;&#xA;Sejak semester 1 hingga kini dirinya berada di semester 2, perpusat menjadi tempat favorit bagi Anyelir untuk mengerjakan tugas atau sekadar duduk menyendiri setelah kelas selesai. Ditambah lagi, perpusat letaknya bersebelahan dengan gedung lama Fasilkom - gedung fakultasnya - membuat Anyelir hampir setiap hari mengunjungi perpusat. &#xA;&#xA;Jadwal kunjungannya ke perpustat setiap harinya tidak menentu, menyesuaikan jadwal kegiatan dan suasana hatinya. Namun, ia akan selalu mengunjungi perpustakaan setiap hari Jumat di mana pada hari itu, dirinya ditugaskan oleh sang bunda untuk menjemput adik keduanya yang masih kelas 3 SD pulang dari sekolahnya. Anyelir selalu menunggu di perpusat sambil mengerjakan tugas atau menonton Netflix (jika ia sedang malas nugas atau tidak ada tugas) hingga jam menunjukkan pukul setengah 5 sore di mana ia harus segera berangkat untuk menjemput adiknya.&#xA;&#xA;Menurutnya, &#34;nongkrong&#34; di perpusat sangat amat nyaman dan membuat dirinya lebih fokus dan produktif saat belajar atau mengerjakan tugas di sana. Sampai-sampai dirinya bisa lupa waktu ketika sudah fokus dan hanyut dalam tugas atau materi yang sedang ia dalami. Anyelir baru akan sadar bahwa dirinya sudah berjam-jam duduk di perpusat saat pemberitahuan perpustakaan akan tutup dalam 15 menit lagi telah terdengar pada pukul 18.45 WIB. Sejak jam 4 sore tadi, ia hanyut mengerjakan PR salah satu mata kuliah yang tenggat waktunya adalah malam ini.&#xA;&#xA;&#34;Huaaahh gila udah malem ternyata.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat pertama yang akan ia ucapkan saat pemberitahuan perpusat akan tutup telah masuk ke telinganya lalu ia menengok ke luar jendela dan menyadari bahwa matahari telah tenggelam digantikan oleh rembulan. Setelahnya, gadis yang pada hari Jumat ini mengenakan cardigan crop berwarna biru muda tersebut membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.&#xA;&#xA;&#34;Pemadaman listriknya kira-kira kapan ya? Atau Mas Mika kemakan hoax,&#34; ucapnya sambil memasukkan laptop ke dalam totebag yang ia gunakan. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, hanya tersisa beberapa orang yang hendak pulang juga. Mereka lebih dulu keluar dari ruangan menyisakan Anyelir seorang diri di sana.&#xA;&#xA;&#34;Duh cepet-cepet pulang deh gue, belom scan jawaban PR matdis.&#34;&#xA;&#xA;Tepat saat Anyelir menyampirkan totebag ke pundak kanannya, semua lampu padam dan keadaan menjadi gelap gulita.&#xA;&#xA;&#34;AAAAAAAAAAAAAAA!&#34;&#xA;&#xA;Teriakan Anyelir mungkin dapat terdengar hingga seluruh kawasan kampus. Ia refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berjongkok. Fakta tentang dirinya adalah ia takut gelap. Dirinya tidak bisa berada di tempat yang gelap dan minim penerangan. Tubuhnya akan membeku ketika berada di tempat yang gelap. Oleh karena itu, sekarang ia masih berteriak walau tidak sekencang sebelumnya, sambil berharap bahwa lampu akan menyala kembali.&#xA;&#xA;Teriakannya terhenti saat ia merasakan ada lampu senter yang menyorot wajahnya.&#xA;&#xA;Ia merasakan tepukan pelan di pundaknya.&#xA;&#xA;&#34;Hey, tenang tenang, lo ga sendirian, ada gue.&#34;&#xA;&#xA;Suara lembut seorang laki-laki membuat Anyelir menurunkan tangannya.&#xA;Rasanya ia ingin berteriak lagi saat ia melihat wajah familiar yang kemarin-kemarin ia hindari untuk bertemu di perpustakaan. Wajahnya terkejut pada saat melihat sosok yang sedang ikut berjongkok di depannya sekarang.&#xA;&#xA;ANJRIT mas mas yang ngomel kemaren yang manggil gue komeng, jeritnya dalam hati.&#xA;&#xA;Sedangkan Raja, laki-laki yang saat ini masih menyorot Anyelir dengan flashlight handphone-nya, menunjukkan wajah yang tenang, &#34;Ayo bangun, gue temenin turun buat keluar.&#34;&#xA;&#xA;Jika Anyelir tidak takut gelap, dirinya akan menolak tawaran tersebut dan berjalan sendiri keluar dari perpustakaan. Sayangnya, untuk berdiri saat ini saja, ia sedikit linglung.&#xA;&#xA;Oleh karena itu, setelahnya ia hanya bisa berjalan dengan kikuk di belakang Raja sambil ikut menyalakan flashlight handphone miliknya untuk memberikan penerangan di sekitar mereka berdua.&#xA;&#xA;Lalu tiba-tiba Raja menengok ke belakang, &#34;jalan di depan gue aja.&#34;&#xA;&#xA;Anyelir hanya bisa menurut dan membiarkan Raja berjalan di belakangnya. Ia tidak mengerti mengapa cowok di belakangnya ini tiba-tiba menyuruhnya pindah ke depan tetapi setelah kembali berjalan, dirinya sadar bahwa penerangan di depan jauh lebih terang dibanding di belakang. Membuatnya lebih mudah untuk berjalan. Ditambah lagi sekarang ia merasa lebih aman karena ia tahu Raja berada di belakangnya.&#xA;&#xA;Sesampainya di dekat pintu masuk perpustakaan, Anyelir menghela napas pelan karena cahaya rembulan di lantai 1 jauh lebih membantu untuk memberikan penerangan di sekitar.&#xA;&#xA;&#34;Thank you, ya. Maaf kalo tadi ngagetin pas gue teriak,&#34; ucap Anyelir sambil sedikir membungkukkan badannya kepada Raja.&#xA;&#xA;&#34;Sama-sama. Gapapa, santai aja.&#34;&#xA;&#xA;Anyelir menggigit bibir bawahnya pelan, &#34;mmmm mau nanya… lo tau ga ini pemadaman listrik di Depok aja atau gimana?&#34;&#xA;&#xA;Raja mengecek handphone-nya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anyelir.&#xA;&#xA;&#34;Kata temen gue Jakarta juga,&#34; jawab Raja.&#xA;&#xA;Anyelir menghela napas kasar. Sekarang ia berdiri dengan bingung yang melanda pikirannya. Jika ia pulang sekarang, sudah pasti rumahnya juga sedang gelap gulita dan akan sulit bagi dirinya untuk scan dan mengumpulkan jawaban PR-nya. Lebih baik ia selesaikan itu sekarang sehingga saat pulang nanti, ia tidak memiliki tanggungan tugas lagi.&#xA;&#xA;&#34;Oohhh oke oke makasih lagi.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu pun pamit meninggalkan Raja, berjalan menuju pintu perpustakaan yang menuju taman lingkar. Dirinya berniat untuk scan jawaban dan mengumpulkan tugasnya di sana.&#xA;&#xA;&#34;Mau ke mana? Pintu keluarnya di sini?&#34; tanya Raja saat melihat Anyelir melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan dengan pintu keluar.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau ngumpulin tugas sebentar sebelum pulang,&#34; ucap Anyelir pelan.&#xA;&#xA;Raja hanya mengangguk pelan lalu berjalan mendekat ke arah Anyelir, &#34;oke ayo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu menatap Raja dengan pandangan bingung.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Lo mau ke taman lingkar kan? Ayo gue temenin, di luar juga lumayan gelap. Lo yakin berani sendirian di sana?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan dari Raja membuat Anyelir terdiam.&#xA;&#xA;Benar juga, ia sudah pasti tidak berani sendirian di taman lingkar yang sekelilingnya banyak pohon dan berada di pinggir danau.&#xA;&#xA;Anyelir memandang punggung Raja yang sekarang berjalan mendahuluinya keluar menuju taman lingkar sebelum akhirnya ia pun juga mengikuti langkah laki-laki itu di belakangnya.&#xA;&#xA;Keduanya duduk di taman lingkar yang menghadap ke hamparan Danau Kenanga yang luas.&#xA;&#xA;Tidak ada pembicaraan di antara keduanya selama Anyelir mengeluarkan buku catatan yang berisi jawaban tugas miliknya bahkan ketika Raja dengan sengaja menyalakan flashlight handphone-nya untuk membantu memberikan penerangan saat Anyelir hendak men-scan jawabannya. Laki-laki itu hanya duduk dengan tenang di samping Anyelir tanpa berbicara atau menanyakan apapun kepada gadis tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34; tanya Raja saat melirik layar handphone gadis tersebut yang telah berhasil mengumpulkan file tugas miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Udah, makasih ya,&#34; jawab Anyelir pelan yang hanya dibalas dengan anggukan karena sang laki-laki tengah memandang langit. Anyelir pun ikut mendongakkan wajahnya ke atas, penasaran dengan apa yang sedang Raja lihat.&#xA;&#xA;&#34;WOAH…. Bintangnya banyak banget???&#34; ucapnya refleks saat pandangannya terjatuh pada gemerlap bintang yang menghiasi langit.&#xA;&#xA;Pandangan Raja berpindah kepada gadis di sampingnya. Ada senyuman tipis yang muncul di wajah Raja ketika melihat Anyelir yang kini sedang mengangkat tangan kanannya, berusaha menggapai bintang-bintang yang bertebaran di langit. Ujung bibirnya semakin berkedut menahan senyum saat menyadari Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya sehingga ada helai-helai rambut yang terurai dengan bebas. Kakinya yang tidak cukup panjang untuk menapakkan kaki ke tanah ia ayunkan ke depan dan belakang layaknya seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku yang terlalu tinggi.&#xA;&#xA;&#34;Depok ternyata langitnya bisa kayak gini juga ya? Tumben,&#34; ucap Anyelir sambil menengok ke arah Raja, mengajak laki-laki itu berbicara.&#xA;&#xA;Raja mengangguk pelan sambil menengok ke arah Anyelir. Ketika pandangan mata keduanya bertubrukan, Raja menyadari satu hal, gadis di sampingnya ini memiliki mata yang cantik. Walaupun penerangan di sana tidak terlalu terang, Raja dapat dengan jelas melihat warna kornea mata hitam legam yang saat ini terlihat memancarkan kilauan milik gadis tersebut. Bulu mata lentik milik Anyelir seakan-akan hadir untuk mempercantik mata miliknya.&#xA;&#xA;Sepersekian detik berikutnya, Raja memutus kontak matanya dengan Anyelir saat sadar ia sempat hanyut ke dalam sorot mata hitam legam tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah danau yang berada di depannya.&#xA;&#xA;&#34;Nama gue bukan komeng, in case setelah ini lo mau manggil gue dengan nama itu,&#34; ucap Anyelir secara tiba-tiba membuat Raja mau tidak mau kembali menengok kepada gadis tersebut sambil menahan senyumnya.&#xA;&#xA;Raja pikir, gadis itu akan berpura-pura tidak tahu tentang hal tersebut. Ia pun sebenarnya tidak ada niatan untuk memanggilnya dengan nama &#34;Komeng&#34; sebelum gadis itu memperkenalkan namanya dengan resmi.&#xA;&#xA;&#34;Kalo bukan komeng, nama lo siapa?&#34; tanya Raja.&#xA;&#xA;&#34;Anyelir tapi panggil aja Anya,&#34; jawab Anyelir, &#34;kalo lo? Nama lo siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Raja. Nama gue Raja.&#34;&#xA;&#xA;Anyelir hanya menangguk pelan dengan pandangannya yang kini kembali memandang langit.&#xA;&#xA;&#34;Gue dari sistem informasi 2020,&#34; ucap Anyelir tanpa ditanya.&#xA; &#xA;&#34;Kalo gue dari arsitektur 2019,&#34; jawab Raja juga sambil memandang langit di atas.&#xA;&#xA;Jawaban Raja membuat Anyelir buru-buru menengok ke arah laki-laki tersebut dengan wajah terkejut, &#34;LO KATING???&#34;&#xA;&#xA;Raja menaikkan salah satu alisnya, &#34;Iya, emang kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Damn…. sorry banget buat airdrop kemaren… lo ga omongin sama temen-temen teknik lo yang lain kan?&#34; tanya Anyelir dengan wajah khawatir.&#xA;&#xA;Kelakuannya 2 minggu yang lalu soal airdrop berisi teguran kepada Raja kalau dipikir kembali cukup nekat dan beresiko. Malam saat setelah Anyelir mengirim airdrop itu pun, ia langsung merenungkan perbuatannya tersebut. Ia khawatir dirinya akan dicari-cari oleh Raja karena merasa tidak terima atas teguran yang ia berikan. Apalagi saat ia tahu bahwa Raja adalah anak fakultas teknik. Hampir 2 semester menjadi mahasiswa, Anyelir selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan cowok teknik setelah diperingatkan oleh orang-orang di sekitarnya untuk tidak nekat PDKT dengan cowok teknik.&#xA;&#xA;Raja tertawa pelan mendengar ucapan anyelir.&#xA;&#xA;&#34;Ya enggak lah. Dan lo ga usah minta maaf soal airdrop itu karena gue yang salah,&#34; jawab Raja.&#xA;&#xA;Anyelir menghela napas lega. Rasa panik yang tadi sempat menjalar di dalam hatinya seketika reda sat mendengar jawaban Raja.&#xA;&#xA;&#34;Lo sering ke perpus?&#34; tanya Raja.&#xA;&#xA;Anyelir mengangguk, &#34;iya, terutama hari Jumat, gue selalu ke perpus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo Kak? Gue kayaknya baru 2 minggu yang lalu pertama kali liat lo di perpus,&#34; tanya Anyelir balik.&#xA;&#xA;Raja mengangkat salah satu alisnya, &#34;kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya…? Is there anything wrong? Lo kan kating?&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, Raja hanya mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Iya emang ga pernah ke perpus, baru 2 minggu yang lalu ke perpus. Niatnya sih mau kerkel. Tapi berujung kerja mandiri. Terus ternyata nugas di perpus oke juga jadinya gue iseng balik lagi tiap Jumat,&#34; jawab Raja dicampur dengan sedikit curhatan sekaligus keluhan tersirat.&#xA;&#xA;&#34;Ih iya kannn! Emang nugas di perpus tuh enaakkk!&#34; jawab Anyelir dengan antusias, &#34;btw inget kak, temen lo nanti bakal kena azabnya. Trust me.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah kok, gue bilang aja ke asdos kalo dia ga kerja.&#34;&#xA;&#xA;Jawaban Raja membuat mata Anyelir membulat kaget. la merasa cowok di sampingnya ini cukup tegas dan berani jika berhubungan dengan urusan tugas dan pekerjaan.&#xA;&#xA;&#34;Terus temen lo gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ditegur asdos. Tobat sementara kayaknya, kemarin akhirnya ikut bantu ngerjain,&#34; jawab Raja sambil menggidikkan bahu.&#xA;&#xA;&#34;Keren…&#34; timpal Anyelir.&#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara malam yang mengisi ruang di antara dua mahasiswa yang sedang duduk bersisian tersebut. Keduanya sibuk memandangi gemerlap bintang.&#xA;&#xA;Suara telfon dari handphone Anyelir masuk membuyarkan keheningan. Anyelir pun menangkat telfon tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Halo Mas? Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Di perpusat, di taman lingkar sih lebih tepatnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Abis submit tugas sebentar. Iya ini mau pulang kok, sorry tadi ga ngecek Whatsapp.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iyaa oke.&#34;&#xA;&#xA;Raja yang sejak tadi memperhatikan Anyelir, beranjak berdiri, &#34;udah mau pulang kan?&#34;&#xA;&#xA;Anyelir hanya mengangguk dan ikut berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Anyelir, lo pulangnya gimana?&#34; tanya Raja.&#xA;&#xA;&#34;Anya aja kak panggilnya, gue bawa mobil sih parkir di fasilkom, lo gimana?&#34; koreksi Anyelir.&#xA;&#xA;&#34;Sorry, iya maksudnya Anya. Oke, mobil gue di depan perpus, sejalan sama lo.&#34;&#xA;&#xA;Setelahnya, Anyelir dan Raja berjalan berisisian. Kembali masuk ke dalam perpusat dan bertemu dengan penjaga perpustakaan. Keduanya menyapa dan berpamitan kepada penjaga tersebut. Sang penjaga perpustakaan sempat meminta maaf kepada mereka perihal pemadaman listrik hari ini sebelum keduanya melangkah menuju pintu keluar. Raja tadi sempat memberi tahu Anyelir bahwa dirinya akan mengantar gadis tersebut sampai ke parkiran Fasilkom di mana mobilnya terparkir.&#xA;&#xA;Seperti yang tadi Raja sempat singgung, Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya yang sepanjang bahu lebih sedikit. Ikatannya tidak terlalu kencang sehingga saat gadis itu banyak bergerak atau berjalan, pulpen tersebut akan dengan mudah terjatuh seperti sekarang. Raja pun mengambilnya sambil terkekeh pelan karena sepertinya Anyelir tidak sadar.&#xA;&#xA;&#34;Anyelir, pulpen lo jatoh,&#34; ucap Raja sambil mensejajarkan lagi langkahnya dengan Anyelir dan memberikan pulpennya kepada gadis itu. Anyelir hanya tertawa kecil, kembali menggulung rambutnya dan menggunakan pulpen tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Anya aja kak, sekali lagi lo panggil Anyelir, dapet piring cantik ya tapi dilempar pas dikasih ke lo,&#34; ucap Anyelir sambil sibuk dengan ikatan rambutnya.&#xA;&#xA;Raja di sampingnya menatap Anyelir, &#34;emang kenapa sih kalau gue panggil Anyelir?&#34;&#xA;&#xA;Anyelir terdiam sejenak. Merangkai kalimat secara sederhana untuk menjawab pertanyaan Raja yang sebenarnya sangat sederhana tapi bagi Anyelir itu adalah pertanyaan yang jawabannya cukup sulit untuk dijelaskan.&#xA;&#xA;&#34;Mmmm gue prefer Anya daripada Anyelir. Dulu pas SMP, ada yang bilang nama gue aneh dan ribet. Terus katanya gue ga cocok sama nama Anyelir karena gue kan anaknya urakan, kayak ga represents a flower gitu guenya HAHAH gue setuju sih. Setelah itu akhirnya gue milih Anya sebagai nama panggilan.&#34;&#xA;&#xA;Hening mengisi rang di antara Raja dan Anyelir sebelum akhirnya Raja mengangkat suara.&#xA;&#xA;&#34;Beneran ga ada yang manggil lo Anyelir?&#34; tanga Raja penasaran.&#xA;Anyelir terkekeh pelan mendengar rentetan pertanyaan dari kakak tingkat yang baru ia kenal itu.&#xA;&#xA;&#34;Adaaa. Either dosen or my family,&#34; jawab Anyelir memberikan jeda, &#34;atau kalo ada orang yang suka nama Anyelir dan ngerasa namanya cantik, mungkin mereka bakal manggil gue Anyelir sih….. GADENG BERCANDA DONG ITU HAHAHAH tapi ga ada sejauh ini yang manggil Anyelir selama gue kenalan gitu ya pada langsung nurut aja pas gue bilang panggilnya Anya.&#34;&#xA;&#xA;Raja mengangguk pelan, paham maksud dari penjelasan perempuan di sampingnya itu. la tidak berniat memberikan jawaban lagi karena keduanya telah sampai di parkiran Fasilkom.&#xA;&#xA;&#34;Nah udah sampe, itu mobil gue di sana. Lo cukup anterin gue sampe sini aja ya kak, thank you banget udah bantuin gue turn dan nemenin di luar tadi. I&#39;ll see you around kalo minggu depan hari Jumat mau ke perpus lagi! Bye!&#34;&#xA;&#xA;Anyelir lalu berbalik memunggungi Raja dan berjalan menjauh.&#xA;&#xA;Raja mengangguk pelan. &#34;Hati-hati nyetirnya, Anyelir,&#34; ucapnya dengan suara agak keras.&#xA;&#xA;Anyelir berhenti melangkahkan kakinya setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Raja. Ia lalu membalikkan badan, menatap Raja dengan heran sambil menahan senyumnya.&#xA;&#xA;&#34;Anyelir?&#34;&#xA;&#xA;Raja hanya tersenyum sambil menaikkan alis kanannya, &#34;iya, Anyelir. Nama lo kan Anyelir?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan Raja disambut dengan tawa pelan dari Anyelir. Ia bukan seseorang yang suka geer tapi untuk saat ini Anyelir paham maksud dari panggilan Raja kepada dirinya itu. Candaan dirinya tentang orang yang memanggilnya dengan nama Anyelir beberapa saat yang lalu sepertinya tidak dianggap candaan oleh Raja.&#xA;&#xA;&#34;Thank you, Kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makasih kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;For calling me Anyelir.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban lagi dari Raja. la hanya tersenyum menatap Anyelir. Senyuman yang tercetak di wajah Raja seakan menvalidasi apa yang sedang Anyelir pikirkan. Anyelir terkekeh pelan sebelum akhirnya gadis itu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari pandangan Raja.&#xA;&#xA;Anyelir bergegas menuju ke mobilnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.&#xA;&#xA;la memang terlahir dengan nama Anyelir. Namanya diambil dari nama bunga yaitu bunga anyelir. Ia selalu mempertanyakan kenapa kedua orang tuanya memilih Anyelir. Menurutnya bunga Anyelir tidak terlalu spesial, tidak banyak orang yang mengetahui bunga ini, menurutnya. Ucapan teman SMP-nya beberapa tahun yang lalu tentang pendapatnya mengenai nama bunga Anyelir yang dijadikan nama orang bersarang di pikirannya hingga sekarang. Hingga akhirnya ia masih kurang menyukai nama yang ia punya tersebut.&#xA;&#xA;Anyelir akan merasa aneh saat ada seseorang yang memanggilnya Anyelir di samping para dosen dan keluarganya. Namun, hari ini ia bertemu seseorang yang baru ia kenal yang memilih untuk memanggilnya Anyelir walaupun dirinya sudah mengingatkan beberapa kali untuk memanggilnya Anya. Dan ketika Raja memanggilnya dengan nama Anyelir, bukan rasa tidak nyaman dan tidak suka yang muncul di dalam hatinya, melainkan rasa hangat yang muncul. Ia merasa rasa tidak sukanya kepada nama Anyelir ini luntur pada detik di mana Raja memanggil nama tersebut. la merasa nama Anyelir terdengar seratus kali lebih cantik dari biasanya. Seakan-akan bunga anyelir adalah bunga paling cantik yang ada di dunia ini.&#xA;&#xA;And when the King called her as a carnation, the &#34;Carnation&#34; inside her blooms for the first time.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Perpusat UI adalah <em>comfort zone</em> bagi Anyelir. Sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, bundanya telah membawanya mengunjungi perpustakaan yang terletak di sebelah Danau Kenanga tersebut. Pertama kali menginjakkan kaki di dalam bangunan yang cukup megah itu, matanya berbinar. Sang bunda membawanya mengitari isi perpustakaan sambil bercerita bahwa perpusat menjadi saksi bisu dirinya belajar dan mengerjakan tugas semasa kuliah. Kali pertama itu juga, ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang mengerjakan tugas-tugas kampusnya di perpusat setelah selesai menghadiri kelas.</p>

<p>Mungkin keinginan Anyelir tersebut terdengar remeh, tetapi itu yang menjadi salah satu motivasi dirinya untuk mengejar kampus kuning impiannya tersebut. Ia membuktikan bahwa keinginan sederhana yang ada di hidup kita dapat menjadi motivasi besar untuk mewujudkan mimpi yang kita punya karena sekarang, gadis itu tengah berkutat dengan tugasnya di salah satu ruangan perpusat UI sebagai salah satu mahasiswa kampus tersebut.</p>

<p>Sejak semester 1 hingga kini dirinya berada di semester 2, perpusat menjadi tempat favorit bagi Anyelir untuk mengerjakan tugas atau sekadar duduk menyendiri setelah kelas selesai. Ditambah lagi, perpusat letaknya bersebelahan dengan gedung lama Fasilkom - gedung fakultasnya - membuat Anyelir hampir setiap hari mengunjungi perpusat.</p>

<p>Jadwal kunjungannya ke perpustat setiap harinya tidak menentu, menyesuaikan jadwal kegiatan dan suasana hatinya. Namun, ia akan selalu mengunjungi perpustakaan setiap hari Jumat di mana pada hari itu, dirinya ditugaskan oleh sang bunda untuk menjemput adik keduanya yang masih kelas 3 SD pulang dari sekolahnya. Anyelir selalu menunggu di perpusat sambil mengerjakan tugas atau menonton Netflix (jika ia sedang malas nugas atau tidak ada tugas) hingga jam menunjukkan pukul setengah 5 sore di mana ia harus segera berangkat untuk menjemput adiknya.</p>

<p>Menurutnya, “nongkrong” di perpusat sangat amat nyaman dan membuat dirinya lebih fokus dan produktif saat belajar atau mengerjakan tugas di sana. Sampai-sampai dirinya bisa lupa waktu ketika sudah fokus dan hanyut dalam tugas atau materi yang sedang ia dalami. Anyelir baru akan sadar bahwa dirinya sudah berjam-jam duduk di perpusat saat pemberitahuan perpustakaan akan tutup dalam 15 menit lagi telah terdengar pada pukul 18.45 WIB. Sejak jam 4 sore tadi, ia hanyut mengerjakan PR salah satu mata kuliah yang tenggat waktunya adalah malam ini.</p>

<p>“Huaaahh gila udah malem ternyata.”</p>

<p>Kalimat pertama yang akan ia ucapkan saat pemberitahuan perpusat akan tutup telah masuk ke telinganya lalu ia menengok ke luar jendela dan menyadari bahwa matahari telah tenggelam digantikan oleh rembulan. Setelahnya, gadis yang pada hari Jumat ini mengenakan cardigan <em>crop</em> berwarna biru muda tersebut membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.</p>

<p>“Pemadaman listriknya kira-kira kapan ya? Atau Mas Mika kemakan <em>hoax</em>,” ucapnya sambil memasukkan laptop ke dalam <em>totebag</em> yang ia gunakan. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, hanya tersisa beberapa orang yang hendak pulang juga. Mereka lebih dulu keluar dari ruangan menyisakan Anyelir seorang diri di sana.</p>

<p>“Duh cepet-cepet pulang deh gue, belom scan jawaban PR matdis.”</p>

<p>Tepat saat Anyelir menyampirkan totebag ke pundak kanannya, semua lampu padam dan keadaan menjadi gelap gulita.</p>

<p>“AAAAAAAAAAAAAAA!”</p>

<p>Teriakan Anyelir mungkin dapat terdengar hingga seluruh kawasan kampus. Ia refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berjongkok. Fakta tentang dirinya adalah ia takut gelap. Dirinya tidak bisa berada di tempat yang gelap dan minim penerangan. Tubuhnya akan membeku ketika berada di tempat yang gelap. Oleh karena itu, sekarang ia masih berteriak walau tidak sekencang sebelumnya, sambil berharap bahwa lampu akan menyala kembali.</p>

<p>Teriakannya terhenti saat ia merasakan ada lampu senter yang menyorot wajahnya.</p>

<p>Ia merasakan tepukan pelan di pundaknya.</p>

<p>“Hey, tenang tenang, lo ga sendirian, ada gue.”</p>

<p>Suara lembut seorang laki-laki membuat Anyelir menurunkan tangannya.
Rasanya ia ingin berteriak lagi saat ia melihat wajah familiar yang kemarin-kemarin ia hindari untuk bertemu di perpustakaan. Wajahnya terkejut pada saat melihat sosok yang sedang ikut berjongkok di depannya sekarang.</p>

<p><em>ANJRIT mas mas yang ngomel kemaren yang manggil gue komeng</em>, jeritnya dalam hati.</p>

<p>Sedangkan Raja, laki-laki yang saat ini masih menyorot Anyelir dengan <em>flashlight handphone</em>-nya, menunjukkan wajah yang tenang, “Ayo bangun, gue temenin turun buat keluar.”</p>

<p>Jika Anyelir tidak takut gelap, dirinya akan menolak tawaran tersebut dan berjalan sendiri keluar dari perpustakaan. Sayangnya, untuk berdiri saat ini saja, ia sedikit linglung.</p>

<p>Oleh karena itu, setelahnya ia hanya bisa berjalan dengan kikuk di belakang Raja sambil ikut menyalakan <em>flashlight handphone</em> miliknya untuk memberikan penerangan di sekitar mereka berdua.</p>

<p>Lalu tiba-tiba Raja menengok ke belakang, “jalan di depan gue aja.”</p>

<p>Anyelir hanya bisa menurut dan membiarkan Raja berjalan di belakangnya. Ia tidak mengerti mengapa cowok di belakangnya ini tiba-tiba menyuruhnya pindah ke depan tetapi setelah kembali berjalan, dirinya sadar bahwa penerangan di depan jauh lebih terang dibanding di belakang. Membuatnya lebih mudah untuk berjalan. Ditambah lagi sekarang ia merasa lebih aman karena ia tahu Raja berada di belakangnya.</p>

<p>Sesampainya di dekat pintu masuk perpustakaan, Anyelir menghela napas pelan karena cahaya rembulan di lantai 1 jauh lebih membantu untuk memberikan penerangan di sekitar.</p>

<p>“<em>Thank you</em>, ya. Maaf kalo tadi ngagetin pas gue teriak,” ucap Anyelir sambil sedikir membungkukkan badannya kepada Raja.</p>

<p>“Sama-sama. Gapapa, santai aja.”</p>

<p>Anyelir menggigit bibir bawahnya pelan, “mmmm mau nanya… lo tau ga ini pemadaman listrik di Depok aja atau gimana?”</p>

<p>Raja mengecek <em>handphone</em>-nya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anyelir.</p>

<p>“Kata temen gue Jakarta juga,” jawab Raja.</p>

<p>Anyelir menghela napas kasar. Sekarang ia berdiri dengan bingung yang melanda pikirannya. Jika ia pulang sekarang, sudah pasti rumahnya juga sedang gelap gulita dan akan sulit bagi dirinya untuk <em>scan</em> dan mengumpulkan jawaban PR-nya. Lebih baik ia selesaikan itu sekarang sehingga saat pulang nanti, ia tidak memiliki tanggungan tugas lagi.</p>

<p>“Oohhh oke oke makasih lagi.”</p>

<p>Gadis itu pun pamit meninggalkan Raja, berjalan menuju pintu perpustakaan yang menuju taman lingkar. Dirinya berniat untuk <em>scan</em> jawaban dan mengumpulkan tugasnya di sana.</p>

<p>“Mau ke mana? Pintu keluarnya di sini?” tanya Raja saat melihat Anyelir melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan dengan pintu keluar.</p>

<p>“Gue mau ngumpulin tugas sebentar sebelum pulang,” ucap Anyelir pelan.</p>

<p>Raja hanya mengangguk pelan lalu berjalan mendekat ke arah Anyelir, “oke ayo.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>Gadis itu menatap Raja dengan pandangan bingung.</p>

<p>“Kenapa? Lo mau ke taman lingkar kan? Ayo gue temenin, di luar juga lumayan gelap. Lo yakin berani sendirian di sana?”</p>

<p>Pertanyaan dari Raja membuat Anyelir terdiam.</p>

<p>Benar juga, ia sudah pasti tidak berani sendirian di taman lingkar yang sekelilingnya banyak pohon dan berada di pinggir danau.</p>

<p>Anyelir memandang punggung Raja yang sekarang berjalan mendahuluinya keluar menuju taman lingkar sebelum akhirnya ia pun juga mengikuti langkah laki-laki itu di belakangnya.</p>

<p>Keduanya duduk di taman lingkar yang menghadap ke hamparan Danau Kenanga yang luas.</p>

<p>Tidak ada pembicaraan di antara keduanya selama Anyelir mengeluarkan buku catatan yang berisi jawaban tugas miliknya bahkan ketika Raja dengan sengaja menyalakan flashlight handphone-nya untuk membantu memberikan penerangan saat Anyelir hendak men-scan jawabannya. Laki-laki itu hanya duduk dengan tenang di samping Anyelir tanpa berbicara atau menanyakan apapun kepada gadis tersebut.</p>

<p>“Udah?” tanya Raja saat melirik layar <em>handphone</em> gadis tersebut yang telah berhasil mengumpulkan <em>file</em> tugas miliknya.</p>

<p>“Udah, makasih ya,” jawab Anyelir pelan yang hanya dibalas dengan anggukan karena sang laki-laki tengah memandang langit. Anyelir pun ikut mendongakkan wajahnya ke atas, penasaran dengan apa yang sedang Raja lihat.</p>

<p>“WOAH…. Bintangnya banyak banget???” ucapnya refleks saat pandangannya terjatuh pada gemerlap bintang yang menghiasi langit.</p>

<p>Pandangan Raja berpindah kepada gadis di sampingnya. Ada senyuman tipis yang muncul di wajah Raja ketika melihat Anyelir yang kini sedang mengangkat tangan kanannya, berusaha menggapai bintang-bintang yang bertebaran di langit. Ujung bibirnya semakin berkedut menahan senyum saat menyadari Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya sehingga ada helai-helai rambut yang terurai dengan bebas. Kakinya yang tidak cukup panjang untuk menapakkan kaki ke tanah ia ayunkan ke depan dan belakang layaknya seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku yang terlalu tinggi.</p>

<p>“Depok ternyata langitnya bisa kayak gini juga ya? Tumben,” ucap Anyelir sambil menengok ke arah Raja, mengajak laki-laki itu berbicara.</p>

<p>Raja mengangguk pelan sambil menengok ke arah Anyelir. Ketika pandangan mata keduanya bertubrukan, Raja menyadari satu hal, gadis di sampingnya ini memiliki mata yang cantik. Walaupun penerangan di sana tidak terlalu terang, Raja dapat dengan jelas melihat warna kornea mata hitam legam yang saat ini terlihat memancarkan kilauan milik gadis tersebut. Bulu mata lentik milik Anyelir seakan-akan hadir untuk mempercantik mata miliknya.</p>

<p>Sepersekian detik berikutnya, Raja memutus kontak matanya dengan Anyelir saat sadar ia sempat hanyut ke dalam sorot mata hitam legam tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah danau yang berada di depannya.</p>

<p>“Nama gue bukan komeng, <em>in case</em> setelah ini lo mau manggil gue dengan nama itu,” ucap Anyelir secara tiba-tiba membuat Raja mau tidak mau kembali menengok kepada gadis tersebut sambil menahan senyumnya.</p>

<p>Raja pikir, gadis itu akan berpura-pura tidak tahu tentang hal tersebut. Ia pun sebenarnya tidak ada niatan untuk memanggilnya dengan nama “Komeng” sebelum gadis itu memperkenalkan namanya dengan resmi.</p>

<p>“Kalo bukan komeng, nama lo siapa?” tanya Raja.</p>

<p>“Anyelir tapi panggil aja Anya,” jawab Anyelir, “kalo lo? Nama lo siapa?”</p>

<p>“Raja. Nama gue Raja.”</p>

<p>Anyelir hanya menangguk pelan dengan pandangannya yang kini kembali memandang langit.</p>

<p>“Gue dari sistem informasi 2020,” ucap Anyelir tanpa ditanya.
 
“Kalo gue dari arsitektur 2019,” jawab Raja juga sambil memandang langit di atas.</p>

<p>Jawaban Raja membuat Anyelir buru-buru menengok ke arah laki-laki tersebut dengan wajah terkejut, “LO KATING???”</p>

<p>Raja menaikkan salah satu alisnya, “Iya, emang kenapa?”</p>

<p>“<em>Damn</em>…. <em>sorry</em> banget buat airdrop kemaren… lo ga omongin sama temen-temen teknik lo yang lain kan?” tanya Anyelir dengan wajah khawatir.</p>

<p>Kelakuannya 2 minggu yang lalu soal airdrop berisi teguran kepada Raja kalau dipikir kembali cukup nekat dan beresiko. Malam saat setelah Anyelir mengirim airdrop itu pun, ia langsung merenungkan perbuatannya tersebut. Ia khawatir dirinya akan dicari-cari oleh Raja karena merasa tidak terima atas teguran yang ia berikan. Apalagi saat ia tahu bahwa Raja adalah anak fakultas teknik. Hampir 2 semester menjadi mahasiswa, Anyelir selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan cowok teknik setelah diperingatkan oleh orang-orang di sekitarnya untuk tidak nekat PDKT dengan cowok teknik.</p>

<p>Raja tertawa pelan mendengar ucapan anyelir.</p>

<p>“Ya enggak lah. Dan lo ga usah minta maaf soal airdrop itu karena gue yang salah,” jawab Raja.</p>

<p>Anyelir menghela napas lega. Rasa panik yang tadi sempat menjalar di dalam hatinya seketika reda sat mendengar jawaban Raja.</p>

<p>“Lo sering ke perpus?” tanya Raja.</p>

<p>Anyelir mengangguk, “iya, terutama hari Jumat, gue selalu ke perpus.”</p>

<p>“Kalo lo Kak? Gue kayaknya baru 2 minggu yang lalu pertama kali liat lo di perpus,” tanya Anyelir balik.</p>

<p>Raja mengangkat salah satu alisnya, “kak?”</p>

<p>“Iya…? <em>Is there anything wrong</em>? Lo kan kating?”</p>

<p>Setelah itu, Raja hanya mengangguk.</p>

<p>“Iya emang ga pernah ke perpus, baru 2 minggu yang lalu ke perpus. Niatnya sih mau kerkel. Tapi berujung kerja mandiri. Terus ternyata nugas di perpus oke juga jadinya gue iseng balik lagi tiap Jumat,” jawab Raja dicampur dengan sedikit curhatan sekaligus keluhan tersirat.</p>

<p>“Ih iya kannn! Emang nugas di perpus tuh enaakkk!” jawab Anyelir dengan antusias, “btw inget kak, temen lo nanti bakal kena azabnya. <em>Trust me</em>.”</p>

<p>“Udah kok, gue bilang aja ke asdos kalo dia ga kerja.”</p>

<p>Jawaban Raja membuat mata Anyelir membulat kaget. la merasa cowok di sampingnya ini cukup tegas dan berani jika berhubungan dengan urusan tugas dan pekerjaan.</p>

<p>“Terus temen lo gimana?”</p>

<p>“Ditegur asdos. Tobat sementara kayaknya, kemarin akhirnya ikut bantu ngerjain,” jawab Raja sambil menggidikkan bahu.</p>

<p>“Keren…” timpal Anyelir.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara malam yang mengisi ruang di antara dua mahasiswa yang sedang duduk bersisian tersebut. Keduanya sibuk memandangi gemerlap bintang.</p>

<p>Suara telfon dari handphone Anyelir masuk membuyarkan keheningan. Anyelir pun menangkat telfon tersebut.</p>

<p>“Halo Mas? Kenapa?”</p>

<p>“Di perpusat, di taman lingkar sih lebih tepatnya.”</p>

<p>“Abis <em>submit</em> tugas sebentar. Iya ini mau pulang kok, sorry tadi ga ngecek Whatsapp.”</p>

<p>“Iyaa oke.”</p>

<p>Raja yang sejak tadi memperhatikan Anyelir, beranjak berdiri, “udah mau pulang kan?”</p>

<p>Anyelir hanya mengangguk dan ikut berdiri.</p>

<p>“Anyelir, lo pulangnya gimana?” tanya Raja.</p>

<p>“Anya aja kak panggilnya, gue bawa mobil sih parkir di fasilkom, lo gimana?” koreksi Anyelir.</p>

<p>“<em>Sorry</em>, iya maksudnya Anya. Oke, mobil gue di depan perpus, sejalan sama lo.”</p>

<p>Setelahnya, Anyelir dan Raja berjalan berisisian. Kembali masuk ke dalam perpusat dan bertemu dengan penjaga perpustakaan. Keduanya menyapa dan berpamitan kepada penjaga tersebut. Sang penjaga perpustakaan sempat meminta maaf kepada mereka perihal pemadaman listrik hari ini sebelum keduanya melangkah menuju pintu keluar. Raja tadi sempat memberi tahu Anyelir bahwa dirinya akan mengantar gadis tersebut sampai ke parkiran Fasilkom di mana mobilnya terparkir.</p>

<p>Seperti yang tadi Raja sempat singgung, Anyelir memakai pulpen untuk mengikat rambutnya yang sepanjang bahu lebih sedikit. Ikatannya tidak terlalu kencang sehingga saat gadis itu banyak bergerak atau berjalan, pulpen tersebut akan dengan mudah terjatuh seperti sekarang. Raja pun mengambilnya sambil terkekeh pelan karena sepertinya Anyelir tidak sadar.</p>

<p>“Anyelir, pulpen lo jatoh,” ucap Raja sambil mensejajarkan lagi langkahnya dengan Anyelir dan memberikan pulpennya kepada gadis itu. Anyelir hanya tertawa kecil, kembali menggulung rambutnya dan menggunakan pulpen tersebut.</p>

<p>“Anya aja kak, sekali lagi lo panggil Anyelir, dapet piring cantik ya tapi dilempar pas dikasih ke lo,” ucap Anyelir sambil sibuk dengan ikatan rambutnya.</p>

<p>Raja di sampingnya menatap Anyelir, “emang kenapa sih kalau gue panggil Anyelir?”</p>

<p>Anyelir terdiam sejenak. Merangkai kalimat secara sederhana untuk menjawab pertanyaan Raja yang sebenarnya sangat sederhana tapi bagi Anyelir itu adalah pertanyaan yang jawabannya cukup sulit untuk dijelaskan.</p>

<p>“Mmmm gue <em>prefer</em> Anya daripada Anyelir. Dulu pas SMP, ada yang bilang nama gue aneh dan ribet. Terus katanya gue ga cocok sama nama Anyelir karena gue kan anaknya urakan, kayak ga <em>represents a flower</em> gitu guenya HAHAH gue setuju sih. Setelah itu akhirnya gue milih Anya sebagai nama panggilan.”</p>

<p>Hening mengisi rang di antara Raja dan Anyelir sebelum akhirnya Raja mengangkat suara.</p>

<p>“Beneran ga ada yang manggil lo Anyelir?” tanga Raja penasaran.
Anyelir terkekeh pelan mendengar rentetan pertanyaan dari kakak tingkat yang baru ia kenal itu.</p>

<p>“Adaaa. <em>Either dosen or my family</em>,” jawab Anyelir memberikan jeda, “atau kalo ada orang yang suka nama Anyelir dan ngerasa namanya cantik, mungkin mereka bakal manggil gue Anyelir sih….. GADENG BERCANDA DONG ITU HAHAHAH tapi ga ada sejauh ini yang manggil Anyelir selama gue kenalan gitu ya pada langsung nurut aja pas gue bilang panggilnya Anya.”</p>

<p>Raja mengangguk pelan, paham maksud dari penjelasan perempuan di sampingnya itu. la tidak berniat memberikan jawaban lagi karena keduanya telah sampai di parkiran Fasilkom.</p>

<p>“Nah udah sampe, itu mobil gue di sana. Lo cukup anterin gue sampe sini aja ya kak, thank you banget udah bantuin gue turn dan nemenin di luar tadi. <em>I&#39;ll see you around</em> kalo minggu depan hari Jumat mau ke perpus lagi! <em>Bye</em>!”</p>

<p>Anyelir lalu berbalik memunggungi Raja dan berjalan menjauh.</p>

<p>Raja mengangguk pelan. “Hati-hati nyetirnya, Anyelir,” ucapnya dengan suara agak keras.</p>

<p>Anyelir berhenti melangkahkan kakinya setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Raja. Ia lalu membalikkan badan, menatap Raja dengan heran sambil menahan senyumnya.</p>

<p>“Anyelir?”</p>

<p>Raja hanya tersenyum sambil menaikkan alis kanannya, “iya, Anyelir. Nama lo kan Anyelir?”</p>

<p>Ucapan Raja disambut dengan tawa pelan dari Anyelir. Ia bukan seseorang yang suka geer tapi untuk saat ini Anyelir paham maksud dari panggilan Raja kepada dirinya itu. Candaan dirinya tentang orang yang memanggilnya dengan nama Anyelir beberapa saat yang lalu sepertinya tidak dianggap candaan oleh Raja.</p>

<p>“<em>Thank you</em>, Kak.”</p>

<p>“Makasih kenapa?”</p>

<p>“<em>For calling me</em> Anyelir.”</p>

<p>Tidak ada jawaban lagi dari Raja. la hanya tersenyum menatap Anyelir. Senyuman yang tercetak di wajah Raja seakan menvalidasi apa yang sedang Anyelir pikirkan. Anyelir terkekeh pelan sebelum akhirnya gadis itu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari pandangan Raja.</p>

<p>Anyelir bergegas menuju ke mobilnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.</p>

<p>la memang terlahir dengan nama Anyelir. Namanya diambil dari nama bunga yaitu bunga anyelir. Ia selalu mempertanyakan kenapa kedua orang tuanya memilih Anyelir. Menurutnya bunga Anyelir tidak terlalu spesial, tidak banyak orang yang mengetahui bunga ini, menurutnya. Ucapan teman SMP-nya beberapa tahun yang lalu tentang pendapatnya mengenai nama bunga Anyelir yang dijadikan nama orang bersarang di pikirannya hingga sekarang. Hingga akhirnya ia masih kurang menyukai nama yang ia punya tersebut.</p>

<p>Anyelir akan merasa aneh saat ada seseorang yang memanggilnya Anyelir di samping para dosen dan keluarganya. Namun, hari ini ia bertemu seseorang yang baru ia kenal yang memilih untuk memanggilnya Anyelir walaupun dirinya sudah mengingatkan beberapa kali untuk memanggilnya Anya. Dan ketika Raja memanggilnya dengan nama Anyelir, bukan rasa tidak nyaman dan tidak suka yang muncul di dalam hatinya, melainkan rasa hangat yang muncul. Ia merasa rasa tidak sukanya kepada nama Anyelir ini luntur pada detik di mana Raja memanggil nama tersebut. la merasa nama Anyelir terdengar seratus kali lebih cantik dari biasanya. Seakan-akan bunga anyelir adalah bunga paling cantik yang ada di dunia ini.</p>

<p><em>And when the King called her as a carnation, the “Carnation” inside her blooms for the first time.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/when-a-carnation-blooms-for-the-first-time</guid>
      <pubDate>Sat, 02 Jul 2022 10:04:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ketika Ajisaka Bertemu Tiga Teman Barunya</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/ketika-ajisaka-bertemu-tiga-teman-barunya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ketika Ajisaka Bertemu Tiga Teman Barunya&#xA;&#xA;Ada banyak hal yang Ajisaka khawatirkan ketika dirinya resmi menjadi mahasiswa. Salah satunya adalah makan di kantin sendirian seperti sekarang ini. Ia duduk sendiri di sisi sudut BelYos - belakang Yoshinoya, salah satu spot kantin fakultasnya - dengan menyantap sate Fasilkom yang katanya legendaris karena harganya murah dan rasanya enak sambil membuka laptopnya.&#xA;&#xA;BelYos pada siang hari itu mulai diisi oleh para mahasiswa yang hendak makan siang. Ajisaka sendiri baru selesai kelas dan memutuskan untuk makan sebentar sebelum kembali ke kost. Sebenarnya duduk dan makan sendirian seperti sekarang ini bukan menjadi masalah besar baginya, ia merasa nyaman sendirian. Namun ia khawatir dirinya akan dianggap sebagai orang ansos yang tidak punya teman - walaupun sebenarnya dirinya memang belum memiliki banyak teman. Teman barunya di perkuliahan ini bisa dihitung jari. Ia hanya berkenalan dengan satu kelompok ospeknya atau orang yang secara tiba-tiba mengajaknya berkenalan. Itu pun hanya ia anggap sebagai teman sekadar kenal karena setelahnya ia jarang berbicara dengan mereka lagi.&#xA;&#xA;Menurutnya, baru dua minggu perkuliahan dimulai, tidak apa-apa jika belum memiliki teman. Mungkin nanti akan ada keajaiban di mana Tuhan akan mengirimkannya seseorang yang akan menjadi teman baiknya di masa perkuliahannya.&#xA;&#xA;Ajisaka kembali menyantap sate yang tinggal tersisa 3 tusuk dengan tenang hingga tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampirinya dan duduk di hadapannya dengan senyum yang tercetak jelas di wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Hai!&#34; sapanya dengan nada yang ramah.&#xA;&#xA;Sedangkan yang disapa masih menunjukkan raut wajah yang bingung karena ia tidak menyangka akan ada orang yang secara random menghampirinya di saat dia sekarang sudah cocok untuk dicap anak ansos.&#xA;&#xA;&#34;Hai?&#34; jawab Ajisaka dengan ragu.&#xA;&#xA;Perempuan di hadapannya tertawa kecil.&#xA;&#xA;&#34;Sorry banget tiba-tiba gue samperin lo gini. Pasti lo kaget, tapi - &#34; ucapannya terhenti sejenak ketika tangannya bergerak menunjuk laptop Ajisaka yang sejak tadi ia pakai, &#34;remember the rules?&#34;&#xA;&#xA;Ajisaka sempat terdiam sebelum akhirnya menyadari apa yang perempuan itu maksud.&#xA;&#xA;Dilarang membuka laptop di meja kantin Fasilkom saat istirahat makan siang, mulai dari jam 11 sampai jam 1 siang. Itu salah satu peraturan yang berlaku di fakultasnya. Tujuannya untuk memberikan tempat bagi orang lain yang ingin makan di kantin karena biasanya kantin akan penuh saat jam makan tiba.&#xA;&#xA;&#34;Oohhh! Iya anjir lupa banget! Makasih udah ngingetin!&#34; ucap Ajisaka sambil bergegas menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam ransel.&#xA;&#xA;&#34;Santai ajaaa! Untungnya gue yang ngingetin lo. Kalo tiba-tiba kating yang nyamperin apa gak pingsan tuh lo?&#34; perempuan di hadapannya tertawa kecil melihat Ajisaka yang terlihat cukup panik saat memasukkan laptopnya.&#xA;&#xA;Ajisaka mengangguk pelan, &#34;iya gue bakal pingsan di tempat.&#34;&#xA;&#xA;Jawabannya mengundang tawa si perempuan, membuat orang-orang di sekitar menengok ke arah mereka berdua.&#xA;&#xA;Ia pikir, perempuan di hadapannya ini akan pergi setelah mengingatkannya tentang laptop. Ternyata ia masih setia duduk di kursinya.&#xA;&#xA;&#34;Kita satu kelompok PMB kan?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, sekelompok,&#34; jawab Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Inget nama gue gak?&#34;&#xA;&#xA;Ajisaka melihat ke arah teman sekelompoknya itu. Ia mengenalnya. Lebih tepatnya, siapa yang tidak kenal perempuan ini? &#xA;&#xA;&#34;Inget lah, siapa yang gak tau Anyelir?&#34; jawab Ajisaka.&#xA;&#xA;Anyelir mengerutkan keningnya, &#34; aneh banget lo ngomongnya kenapa begituuu! Panggil aja Anya jangan Anyelir.&#34;&#xA;&#xA;Faktanya, memang satu angkatan mengenal Anyelir. Ia adalah wakil koordinator angkatan selama masa ospek fakultas berjalan. Ditambah lagi ia adalah orang yang ramah, atau bahkan bisa dibilang sangat ramah dan supel sehingga ia sudah berteman dengan banyak orang walaupun perkuliahan serta ospek baru saja dimulai. Berbanding terbalik dengan Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Ya wakoor masa gue ga kenal?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke gue emang wakoor tapi stop jangan sebut-sebut, gue di sini duduk sebagai teman satu kelompok PMB lo,&#34; ucap Anyelir.&#xA;&#xA;Ajisaka tertawa pelan sebagai bentuk jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Lo Ajisaka kan?&#34; tanya Anyelir.&#xA;&#xA;Ajisaka membulatkan matanya, cukup terkejut karena Anyelir mengingat namanya padahal ia belum pernah berinteraksi secara langsung dengan Anyelir.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa muka lo kayak kaget gitu anjir?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya Kaget lo tau nama gue,&#34; jawab Ajisaka singkat.&#xA;&#xA;&#34;YA TAU LAAHH! Lo kan satu kelompok sama gue masa gue gak tau nama lo, kacau banget itu,&#34; jawab Anyelir dengan wajah heran.&#xA;&#xA;Ajisaka menggidikkan bahunya, &#34;bisa aja ga sih? Gue soalnya jarang nongol di group atau kalo ngumpul ga banyak ngomong.&#34;&#xA;&#xA;Anyelir menggelengkan kepalanya, &#34;inget kok pasti! Temen-temen gue yang sekelompok sama kita berdua aja tau nama lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? Iya? Siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya! Nanti deh pasti lo tau orangnya, mereka masih beli makan. Tunggu aja mereka dateng ke sini,&#34; jawab Anyelir, &#34;BTW! Gapapa kan kalo gue sama temen-temen gue join di sini? Atau lo juga lagi nunggu temen lo makanya sendirian?&#34;&#xA;&#xA;Sebenarnya, Ajisaka berniat untuk segera pulang setelah selesai makan. Namun melihat Anyelir yang sepertinya sengaja menghampiri mejanya untuk makan bersama - bukan hanya untuk menegur Ajisaka - membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi dari kantin.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, gue sendirian juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Duh mana sih ini anak dua lama banget beli makannya di ujung Depok apa gimana deh?&#34; gerutu Anyelir sambil membuka handphone-nya dan menghubungi kedua temannya yang sejak tadi ia tunggu.&#xA;&#xA;&#34;ANTRI ANJIR SABARRR!&#34;&#xA;&#xA;Teriakan tersebut yang Ajisaka dengar saat Anyelir menelfon salah satu temannya. Gadis itu menjauhkan handphone-nya dari telinganya sebelum akhirnya sambungan telfon terputus. Setelah itu, ia meletakkan handphone-nya dan mengalihkan pandangannya kepada Ajisaka yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.&#xA;&#xA;&#34;Jadiii, lo udah mulai ngerjain tugas MA belom?&#34; tanya Anyelir.&#xA;&#xA;Tugas MA, Mengenal Angkatan. Salah satu tugas ospek fakultasnya yang mengharuskan para mahasiswa baru untuk mewawancari minimal 50 teman satu angkatan. Mungkin terdengar sangat membebankan namun sebenarnya tugas tersebut cukup membantu para mahasiswa baru untuk dapat berkenalan dengan teman-teman baru dan lebih mengenal satu sama lain. Ditambah lagi, hasil wawancaranya tidak ditulis tangan melainkan diisi melalui website yang telah dirancang khusus oleh mahasiswa Fasilkom untuk kegiatan ospek.&#xA;&#xA;&#34;Udah, tapi masih dikit. Kalo lo?&#34; jawab Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Udah lumayaaan cuma lagi pengen marathon lagi mau ajak-ajak orang biar cepet selesai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah berapa lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;26, lo berapaa?&#34;&#xA;&#xA;Rasanya seperti ada petir yang menyambar Ajisaka. Mulutnya terbuka sedikit saat mendengar jawaban dari Anyelir. Dua puluh enam orang. Bahkan jumlah orang yang sudah ia wawancari saja belum mencapai setengahnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo bener-bener definisi temennya ada di mana-mana ya. Gue setengahnya punya lo aja belom,&#34; jawab Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.&#xA;&#xA;Anyelir menggelengkan kepalanya, &#34;kemaren tuh pas sore-sore pada ngumpul gituuu buat ngerjain MA, sekitar belasan orang, ya udah deh gue ikutan. Lumayan walaupun kelarnya maghrib.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tetep aja….&#34; jawab Ajisaka.&#xA;&#xA;Anyelir berdecak pelan mendengar jawaban Ajisaka. &#34;Lo tuh… ngiranya gue kayak punya temen dimana-mana gitu ya? Yang temennya segudang? Yang maceman social butterfly abis deh?&#34; tanya Anyelir.&#xA;&#xA;Ajisaka mengangguk pelan, &#34;iya semacam itu. Makanya pas ini lo nyamperin gue tuh aneh aja soalnya gue aja ibaratnya tak kasat mata di angkatan.&#34;&#xA;&#xA;Setelahnya, Anyelir tertawa membuat Ajisaka memandangnya dengan tatapan bingung.&#xA;&#xA;&#34;Anjir lo kenapa gitu sih ngomongnyaaa! Emangnya salah kalo gue ngajak ngobrol lo kayak gini? Kasat atau gak kasat matanya lo di angkatan, gue tetep kenal sama lo kok. Lagian yaaa Ajisaka, gue gak se-social butterfly yang lo pikirin sumpah…. iya gue emang kenal sama banyak orang tapi temen deket gue di sini yang personally kenal gue cuma dikit, gak banyak!&#34; &#xA;&#xA;Jawaban Anyelir mengundang keraguan di benak Ajisaka. Ia merasa perempuan ini hanya mengada-ada.&#xA;&#xA;&#34;Muka lo ga percaya banget ya….&#34; ucap Anyelir yang membuat Ajisaka hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya.&#xA;&#xA;&#34;Gini, kenalan gue banyak tapi temen gue ga banyak? Gue berusaha memperluas koneksi kenalan gue sekarang apalagi ini baru masuk kuliah supaya kedepannya bisa lebih mudah aja karena kenalan yang banyak. Despite all of that, temen yang kenal gue secara lebih personal dan bisa jadi temen buat cerita-cerita di fakultas ini gak banyak.&#34; jelas Anyelir dengan panjang lebar, wajahnya terlihat meyakinkan Ajisaka bahwa dirinya sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.&#xA;&#xA;Ajisaka mengangukkan kepalanya, tanda bahwa ia sekarang percaya dengan ucapan gadis dengan rambut hitam kecoklatan yang bergelombang tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Nah, kalo lo masih ga percaya, tuh temen-temen gue yang emang deket sama gue di sini baru dua itu,&#34; ucap Anyelir sambil menunjuk ke arah belakang Ajisaka membuat lelaki itu ikut menengok ke belakang. Matanya mendapati sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang berjalan ke meja yang sedang keduanya duduki. Sang perempuan berjalan membawa 3 gelas es teh manis dengan wajah tertekuk sedangkan yang laki-laki dengan cengiran yang jelas tercetak di wajahnya berjalan di belakangnya membawa satu nampan berisi 3 piring ketoprak.&#xA;&#xA;&#34;Anya! Gue kapan-kapan gak mau lagi disuruh beli makanan sama ini orang gila satu ini! Ogah gue!&#34; ucap Kiara saat dirinya berhasil mendudukkan diri di samping Anyelir.&#xA;&#xA;Anyelir sedari tadi sudah tertawa karena dirinya tahu kedua temannya pasti terlibat dalam pertikaian saat membeli makanan.&#xA;&#xA;&#34;Dih kok gue dikatain orang gila! Gue kan ga sadar ternyata gue ga bawa cash broooo!&#34; jawab Zaki sambil memindahkan 3 piring ketoprak dari nampan lalu duduk di samping Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Ya lo ga usah belagu anjir bilangnya lu aja yang bayar mau traktir, mending bilangnya pelan, ini ngomongnya kenceng sampe satu antrian kayaknya denger! Terus ternyata lo ga bawa cash HADEEEHHHH GUE JUGA YANG BAYAARRR!&#34; omel Kiara.&#xA;&#xA;Anyelir hanya menepuk-nepuk pundak temannya tersebut lalu memberikan segelas es teh manis kepadanya. &#34;Iya, minum dulu.&#34;&#xA;&#xA;Zaki hendak membalas omelan Kiara namun Anyelir sudah lebih dulu memberi isyarat untuk tidak lagi memperpanjang perdebatannya. Lalu ia menoleh ke samping, melihat ke arah Ajisaka yang sejak tadi terdiam memperhatikan kejadian yang menurutnya berlangsung secara random di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Weits ada Ajisaka! Halo Ji!&#34; sapa Zaki sambil mengajak Ajisaka untuk melakukan tos.&#xA;&#xA;&#34;Halo halo,&#34; jawab Ajisaka dengan canggung.&#xA;&#xA;&#34;Kenal gue gak?&#34; tanya Zaki yang membuat Ajisaka terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat nama kawannya itu. Ia familiar dengan wajah laki-laki tersebut karena mereka satu kelompok PMB.&#xA;&#xA;&#34;Hmmmm… Zaki… kan?&#34; tanya Ajisaka agak ragu.&#xA;&#xA;Zaki memukul pelan meja kantin, &#34;MANTAP BENER! 100 RIBU BUAT LU! Hadiahnya minta ke Kiara aja!&#34; ucapan laki-laki tersebut membuat Kiara yang sedang memegang sebotol handsanitizer reflek menyemprotkannya kepada Zaki.&#xA;&#xA;&#34;MULUT LOOOO SEMBARANGAN!&#34; pekik Kiara, &#34;sori banget, Ji. lo harus kenal sama orang kayak dia padahal masih ada 400 mahasiswa lain yang bisa lo ajak kenalan. Btw gue Kiara ya! Salken!&#34;&#xA;&#xA;Ajisaka hanya tertawa pelan melihat kelakuan kedua teman barunya itu, &#34;iya salken juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ajisaka lo anak ilmu komputer kan? Sama kayak Zaki?&#34; tanya Kiara sambil menyantap ketopraknya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, gue IK.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ooo kalo gue sama Anya sistem informasi,&#34; jawab Kiara.&#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang nanyaaaa!&#34; ledek Zaki.&#xA;&#xA;&#34;UDAHHH udah udah ga usah berantem! Makan dulu!&#34; ucap Anyelir saat Kiara hendak membalas ucapan Zaki.&#xA;&#xA;&#34;Wah anjir sendoknya kurang! Parah banget gimana sih lu Kiara!&#34; protes Zaki saat melihat sendok yang tadi ia bawa hanya dua, lalu ia bergegas pergi sebelum Kiara melemparnya dengan sepatu. Setelah itu Kiara juga pamit untuk ke toilet sebentar meninggalkan Anyelir dan Ajisaka kembali berdua seperti sebelumnya.&#xA;&#xA;Suasana meja menjadi lebih tenang saat Kiara dan Zaki pergi.&#xA;&#xA;&#34;Jadi tenang banget ya tom and jerry lagi pergi?&#34; ucap Anyelir yang disambut tawa Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Kocak temen-temen lo, heboh banget,&#34; timpal Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;Emang begitu mereka tapi sebenernya saling peduli satu sama lain. Gengsi aja mereka.&#34; &#xA;&#xA;Anyelir menatap Ajisaka sambil meminum es teh manis miliknya, &#34;besok-besok kalo mau makan di kantin atau yang lain, join aja sama kita. Biar gue ga sendirian stresnya liat dua orang ribut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini maksudnya gue diajak temenan beneran nih? Bukan temen koneksi?&#34; tanya Ajisaka.&#xA;&#xA;Anyelir hampir menyemburkan minumnya mendengar pertanyaan Ajisaka.&#xA;&#xA;&#34;HAHAH bener bener ya lo… hmmmm tergantung sih lo asik atau engga,&#34; jawab Anyelir.&#xA;&#xA;Ajisaka menegakkan duduknya, &#34;wah gue harus jadi asik nih biar diajak sahabatan sama wakil koordinator angkatan gue!&#34;&#xA;&#xA;Tawa Anyelir pecah, &#34;ANJIIIRRR AJISAKA HAHAHAH RESE BANGET NGOMONGNYA SUMPAH!&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, Kiara kembali ke meja diikuti Zaki yang membawa sendok di tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Ngomongin apa neeehhh? Seru banget sampe ketawa-tawa?&#34; tanya Zaki.&#xA;&#xA;&#34;Ngomongin lo!&#34; jawab Anyelir.&#xA;&#xA;&#34;Weitssss parah banget ngomongin temen di belakang!&#34;&#xA;&#xA;Obrolan-obrolan, candaan, dan ledekan turut hadir menghiasi suasana meja yang tadinya hanya Ajisaka duduki sendirian. Walaupun dirinya adalah orang baru di antara pertemanan tiga orang yang sedang makan ketoprak ini, ia selalu diajak untuk terlibat dalam percakapan mereka. Ketiganya tidak membuatnya merasa tertinggal dalam obrolan mereka. &#xA;&#xA;Sepertinya Tuhan telah mengabulkan doa-nya untuk mengirimkan teman baik untuknya. Karena sejak siang itu, Anyelir, Zaki, dan Kiara secara resmi menjadi teman dekat sekaligus teman pertama Ajisaka di perkuliahan.&#xA;&#xA;Dan sejak ia mengobrol dengan Anyelir, gadis itu mengajaknya untuk mengerjakan tugas MA bersama. Gadis itu pula yang bagaikan penolong Ajisaka, memperkenalkan Ajisaka kepada teman kenalannya yang lain dan membuat Ajisaka mengenal banyak orang di fakultasnya. Sejak saat itu, Ajisaka berterima kasih kepada Kiara, Zaki dan terutama Anyelir yang secara tidak langsung merubah Ajisaka menjadi lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Membuatnya dirinya memiliki banyak teman baru baik itu di angkatan maupun dengan kakak tingkat dan menjadikan sosok Ajisaka lebih terbuka daripada sebelumnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Ajisaka Bertemu Tiga Teman Barunya</strong></p>

<p>Ada banyak hal yang Ajisaka khawatirkan ketika dirinya resmi menjadi mahasiswa. Salah satunya adalah makan di kantin sendirian seperti sekarang ini. Ia duduk sendiri di sisi sudut BelYos - belakang Yoshinoya, salah satu spot kantin fakultasnya - dengan menyantap sate Fasilkom yang katanya legendaris karena harganya murah dan rasanya enak sambil membuka laptopnya.</p>

<p>BelYos pada siang hari itu mulai diisi oleh para mahasiswa yang hendak makan siang. Ajisaka sendiri baru selesai kelas dan memutuskan untuk makan sebentar sebelum kembali ke kost. Sebenarnya duduk dan makan sendirian seperti sekarang ini bukan menjadi masalah besar baginya, ia merasa nyaman sendirian. Namun ia khawatir dirinya akan dianggap sebagai orang ansos yang tidak punya teman - walaupun sebenarnya dirinya memang belum memiliki banyak teman. Teman barunya di perkuliahan ini bisa dihitung jari. Ia hanya berkenalan dengan satu kelompok ospeknya atau orang yang secara tiba-tiba mengajaknya berkenalan. Itu pun hanya ia anggap sebagai teman sekadar kenal karena setelahnya ia jarang berbicara dengan mereka lagi.</p>

<p>Menurutnya, baru dua minggu perkuliahan dimulai, tidak apa-apa jika belum memiliki teman. Mungkin nanti akan ada keajaiban di mana Tuhan akan mengirimkannya seseorang yang akan menjadi teman baiknya di masa perkuliahannya.</p>

<p>Ajisaka kembali menyantap sate yang tinggal tersisa 3 tusuk dengan tenang hingga tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampirinya dan duduk di hadapannya dengan senyum yang tercetak jelas di wajahnya.</p>

<p>“Hai!” sapanya dengan nada yang ramah.</p>

<p>Sedangkan yang disapa masih menunjukkan raut wajah yang bingung karena ia tidak menyangka akan ada orang yang secara random menghampirinya di saat dia sekarang sudah cocok untuk dicap anak ansos.</p>

<p>“Hai?” jawab Ajisaka dengan ragu.</p>

<p>Perempuan di hadapannya tertawa kecil.</p>

<p>“Sorry banget tiba-tiba gue samperin lo gini. Pasti lo kaget, tapi - ” ucapannya terhenti sejenak ketika tangannya bergerak menunjuk laptop Ajisaka yang sejak tadi ia pakai, “<em>remember the rules</em>?”</p>

<p>Ajisaka sempat terdiam sebelum akhirnya menyadari apa yang perempuan itu maksud.</p>

<p>Dilarang membuka laptop di meja kantin Fasilkom saat istirahat makan siang, mulai dari jam 11 sampai jam 1 siang. Itu salah satu peraturan yang berlaku di fakultasnya. Tujuannya untuk memberikan tempat bagi orang lain yang ingin makan di kantin karena biasanya kantin akan penuh saat jam makan tiba.</p>

<p>“Oohhh! Iya anjir lupa banget! Makasih udah ngingetin!” ucap Ajisaka sambil bergegas menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam ransel.</p>

<p>“Santai ajaaa! Untungnya gue yang ngingetin lo. Kalo tiba-tiba kating yang nyamperin apa gak pingsan tuh lo?” perempuan di hadapannya tertawa kecil melihat Ajisaka yang terlihat cukup panik saat memasukkan laptopnya.</p>

<p>Ajisaka mengangguk pelan, “iya gue bakal pingsan di tempat.”</p>

<p>Jawabannya mengundang tawa si perempuan, membuat orang-orang di sekitar menengok ke arah mereka berdua.</p>

<p>Ia pikir, perempuan di hadapannya ini akan pergi setelah mengingatkannya tentang laptop. Ternyata ia masih setia duduk di kursinya.</p>

<p>“Kita satu kelompok PMB kan?” tanyanya.</p>

<p>“Iya, sekelompok,” jawab Ajisaka.</p>

<p>“Inget nama gue gak?”</p>

<p>Ajisaka melihat ke arah teman sekelompoknya itu. Ia mengenalnya. Lebih tepatnya, siapa yang tidak kenal perempuan ini? </p>

<p>“Inget lah, siapa yang gak tau Anyelir?” jawab Ajisaka.</p>

<p>Anyelir mengerutkan keningnya, “ aneh banget lo ngomongnya kenapa begituuu! Panggil aja Anya jangan Anyelir.”</p>

<p>Faktanya, memang satu angkatan mengenal Anyelir. Ia adalah wakil koordinator angkatan selama masa ospek fakultas berjalan. Ditambah lagi ia adalah orang yang ramah, atau bahkan bisa dibilang sangat ramah dan supel sehingga ia sudah berteman dengan banyak orang walaupun perkuliahan serta ospek baru saja dimulai. Berbanding terbalik dengan Ajisaka.</p>

<p>“Ya wakoor masa gue ga kenal?”</p>

<p>“Oke gue emang wakoor tapi <em>stop</em> jangan sebut-sebut, gue di sini duduk sebagai teman satu kelompok PMB lo,” ucap Anyelir.</p>

<p>Ajisaka tertawa pelan sebagai bentuk jawaban.</p>

<p>“Lo Ajisaka kan?” tanya Anyelir.</p>

<p>Ajisaka membulatkan matanya, cukup terkejut karena Anyelir mengingat namanya padahal ia belum pernah berinteraksi secara langsung dengan Anyelir.</p>

<p>“Kenapa muka lo kayak kaget gitu anjir?”</p>

<p>“Iya Kaget lo tau nama gue,” jawab Ajisaka singkat.</p>

<p>“YA TAU LAAHH! Lo kan satu kelompok sama gue masa gue gak tau nama lo, kacau banget itu,” jawab Anyelir dengan wajah heran.</p>

<p>Ajisaka menggidikkan bahunya, “bisa aja ga sih? Gue soalnya jarang nongol di group atau kalo ngumpul ga banyak ngomong.”</p>

<p>Anyelir menggelengkan kepalanya, “inget kok pasti! Temen-temen gue yang sekelompok sama kita berdua aja tau nama lo.”</p>

<p>“Oh? Iya? Siapa?”</p>

<p>“Iya! Nanti deh pasti lo tau orangnya, mereka masih beli makan. Tunggu aja mereka dateng ke sini,” jawab Anyelir, “BTW! Gapapa kan kalo gue sama temen-temen gue <em>join</em> di sini? Atau lo juga lagi nunggu temen lo makanya sendirian?”</p>

<p>Sebenarnya, Ajisaka berniat untuk segera pulang setelah selesai makan. Namun melihat Anyelir yang sepertinya sengaja menghampiri mejanya untuk makan bersama - bukan hanya untuk menegur Ajisaka - membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi dari kantin.</p>

<p>“Gapapa, gue sendirian juga.”</p>

<p>“Duh mana sih ini anak dua lama banget beli makannya di ujung Depok apa gimana deh?” gerutu Anyelir sambil membuka <em>handphone</em>-nya dan menghubungi kedua temannya yang sejak tadi ia tunggu.</p>

<p>“<em>ANTRI ANJIR SABARRR!</em>“</p>

<p>Teriakan tersebut yang Ajisaka dengar saat Anyelir menelfon salah satu temannya. Gadis itu menjauhkan <em>handphone</em>-nya dari telinganya sebelum akhirnya sambungan telfon terputus. Setelah itu, ia meletakkan <em>handphone</em>-nya dan mengalihkan pandangannya kepada Ajisaka yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.</p>

<p>“Jadiii, lo udah mulai ngerjain tugas MA belom?” tanya Anyelir.</p>

<p>Tugas MA, Mengenal Angkatan. Salah satu tugas ospek fakultasnya yang mengharuskan para mahasiswa baru untuk mewawancari minimal 50 teman satu angkatan. Mungkin terdengar sangat membebankan namun sebenarnya tugas tersebut cukup membantu para mahasiswa baru untuk dapat berkenalan dengan teman-teman baru dan lebih mengenal satu sama lain. Ditambah lagi, hasil wawancaranya tidak ditulis tangan melainkan diisi melalui website yang telah dirancang khusus oleh mahasiswa Fasilkom untuk kegiatan ospek.</p>

<p>“Udah, tapi masih dikit. Kalo lo?” jawab Ajisaka.</p>

<p>“Udah lumayaaan cuma lagi pengen marathon lagi mau ajak-ajak orang biar cepet selesai.”</p>

<p>“Udah berapa lo?”</p>

<p>“26, lo berapaa?”</p>

<p>Rasanya seperti ada petir yang menyambar Ajisaka. Mulutnya terbuka sedikit saat mendengar jawaban dari Anyelir. Dua puluh enam orang. Bahkan jumlah orang yang sudah ia wawancari saja belum mencapai setengahnya.</p>

<p>“Lo bener-bener definisi temennya ada di mana-mana ya. Gue setengahnya punya lo aja belom,” jawab Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.</p>

<p>Anyelir menggelengkan kepalanya, “kemaren tuh pas sore-sore pada ngumpul gituuu buat ngerjain MA, sekitar belasan orang, ya udah deh gue ikutan. Lumayan walaupun kelarnya maghrib.”</p>

<p>“Tetep aja….” jawab Ajisaka.</p>

<p>Anyelir berdecak pelan mendengar jawaban Ajisaka. “Lo tuh… ngiranya gue kayak punya temen dimana-mana gitu ya? Yang temennya segudang? Yang maceman <em>social butterfly</em> abis deh?” tanya Anyelir.</p>

<p>Ajisaka mengangguk pelan, “iya semacam itu. Makanya pas ini lo nyamperin gue tuh aneh aja soalnya gue aja ibaratnya tak kasat mata di angkatan.”</p>

<p>Setelahnya, Anyelir tertawa membuat Ajisaka memandangnya dengan tatapan bingung.</p>

<p>“Anjir lo kenapa gitu sih ngomongnyaaa! Emangnya salah kalo gue ngajak ngobrol lo kayak gini? Kasat atau gak kasat matanya lo di angkatan, gue tetep kenal sama lo kok. Lagian yaaa Ajisaka, gue gak se-<em>social butterfly</em> yang lo pikirin sumpah…. iya gue emang kenal sama banyak orang tapi temen deket gue di sini yang <em>personally</em> kenal gue cuma dikit, gak banyak!“ </p>

<p>Jawaban Anyelir mengundang keraguan di benak Ajisaka. Ia merasa perempuan ini hanya mengada-ada.</p>

<p>“Muka lo ga percaya banget ya….” ucap Anyelir yang membuat Ajisaka hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya.</p>

<p>“Gini, kenalan gue banyak tapi temen gue ga banyak? Gue berusaha memperluas koneksi kenalan gue sekarang apalagi ini baru masuk kuliah supaya kedepannya bisa lebih mudah aja karena kenalan yang banyak. <em>Despite all of that</em>, temen yang kenal gue secara lebih personal dan bisa jadi temen buat cerita-cerita di fakultas ini gak banyak.” jelas Anyelir dengan panjang lebar, wajahnya terlihat meyakinkan Ajisaka bahwa dirinya sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.</p>

<p>Ajisaka mengangukkan kepalanya, tanda bahwa ia sekarang percaya dengan ucapan gadis dengan rambut hitam kecoklatan yang bergelombang tersebut.</p>

<p>“Nah, kalo lo masih ga percaya, tuh temen-temen gue yang emang deket sama gue di sini baru dua itu,” ucap Anyelir sambil menunjuk ke arah belakang Ajisaka membuat lelaki itu ikut menengok ke belakang. Matanya mendapati sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang berjalan ke meja yang sedang keduanya duduki. Sang perempuan berjalan membawa 3 gelas es teh manis dengan wajah tertekuk sedangkan yang laki-laki dengan cengiran yang jelas tercetak di wajahnya berjalan di belakangnya membawa satu nampan berisi 3 piring ketoprak.</p>

<p>“Anya! Gue kapan-kapan gak mau lagi disuruh beli makanan sama ini orang gila satu ini! Ogah gue!” ucap Kiara saat dirinya berhasil mendudukkan diri di samping Anyelir.</p>

<p>Anyelir sedari tadi sudah tertawa karena dirinya tahu kedua temannya pasti terlibat dalam pertikaian saat membeli makanan.</p>

<p>“Dih kok gue dikatain orang gila! Gue kan ga sadar ternyata gue ga bawa <em>cash</em> broooo!” jawab Zaki sambil memindahkan 3 piring ketoprak dari nampan lalu duduk di samping Ajisaka.</p>

<p>“Ya lo ga usah belagu anjir bilangnya lu aja yang bayar mau traktir, mending bilangnya pelan, ini ngomongnya kenceng sampe satu antrian kayaknya denger! Terus ternyata lo ga bawa cash HADEEEHHHH GUE JUGA YANG BAYAARRR!” omel Kiara.</p>

<p>Anyelir hanya menepuk-nepuk pundak temannya tersebut lalu memberikan segelas es teh manis kepadanya. “Iya, minum dulu.”</p>

<p>Zaki hendak membalas omelan Kiara namun Anyelir sudah lebih dulu memberi isyarat untuk tidak lagi memperpanjang perdebatannya. Lalu ia menoleh ke samping, melihat ke arah Ajisaka yang sejak tadi terdiam memperhatikan kejadian yang menurutnya berlangsung secara random di hadapannya.</p>

<p>“Weits ada Ajisaka! Halo Ji!” sapa Zaki sambil mengajak Ajisaka untuk melakukan tos.</p>

<p>“Halo halo,” jawab Ajisaka dengan canggung.</p>

<p>“Kenal gue gak?” tanya Zaki yang membuat Ajisaka terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat nama kawannya itu. Ia familiar dengan wajah laki-laki tersebut karena mereka satu kelompok PMB.</p>

<p>“Hmmmm… Zaki… kan?” tanya Ajisaka agak ragu.</p>

<p>Zaki memukul pelan meja kantin, “MANTAP BENER! 100 RIBU BUAT LU! Hadiahnya minta ke Kiara aja!” ucapan laki-laki tersebut membuat Kiara yang sedang memegang sebotol <em>handsanitizer</em> reflek menyemprotkannya kepada Zaki.</p>

<p>“MULUT LOOOO SEMBARANGAN!” pekik Kiara, “sori banget, Ji. lo harus kenal sama orang kayak dia padahal masih ada 400 mahasiswa lain yang bisa lo ajak kenalan. Btw gue Kiara ya! Salken!”</p>

<p>Ajisaka hanya tertawa pelan melihat kelakuan kedua teman barunya itu, “iya salken juga.”</p>

<p>“Ajisaka lo anak ilmu komputer kan? Sama kayak Zaki?” tanya Kiara sambil menyantap ketopraknya.</p>

<p>“Iya, gue IK.”</p>

<p>“Ooo kalo gue sama Anya sistem informasi,” jawab Kiara.</p>

<p>“Gak ada yang nanyaaaa!” ledek Zaki.</p>

<p>“UDAHHH udah udah ga usah berantem! Makan dulu!” ucap Anyelir saat Kiara hendak membalas ucapan Zaki.</p>

<p>“Wah anjir sendoknya kurang! Parah banget gimana sih lu Kiara!” protes Zaki saat melihat sendok yang tadi ia bawa hanya dua, lalu ia bergegas pergi sebelum Kiara melemparnya dengan sepatu. Setelah itu Kiara juga pamit untuk ke toilet sebentar meninggalkan Anyelir dan Ajisaka kembali berdua seperti sebelumnya.</p>

<p>Suasana meja menjadi lebih tenang saat Kiara dan Zaki pergi.</p>

<p>“Jadi tenang banget ya <em>tom and jerry</em> lagi pergi?” ucap Anyelir yang disambut tawa Ajisaka.</p>

<p>“Kocak temen-temen lo, heboh banget,” timpal Ajisaka.</p>

<p>“Emang begitu mereka tapi sebenernya saling peduli satu sama lain. Gengsi aja mereka.“ </p>

<p>Anyelir menatap Ajisaka sambil meminum es teh manis miliknya, “besok-besok kalo mau makan di kantin atau yang lain, <em>join</em> aja sama kita. Biar gue ga sendirian stresnya liat dua orang ribut.”</p>

<p>“Ini maksudnya gue diajak temenan beneran nih? Bukan temen koneksi?” tanya Ajisaka.</p>

<p>Anyelir hampir menyemburkan minumnya mendengar pertanyaan Ajisaka.</p>

<p>“HAHAH bener bener ya lo… hmmmm tergantung sih lo asik atau engga,” jawab Anyelir.</p>

<p>Ajisaka menegakkan duduknya, “wah gue harus jadi asik nih biar diajak sahabatan sama wakil koordinator angkatan gue!”</p>

<p>Tawa Anyelir pecah, “ANJIIIRRR AJISAKA HAHAHAH RESE BANGET NGOMONGNYA SUMPAH!”</p>

<p>Setelah itu, Kiara kembali ke meja diikuti Zaki yang membawa sendok di tangannya.</p>

<p>“Ngomongin apa neeehhh? Seru banget sampe ketawa-tawa?” tanya Zaki.</p>

<p>“Ngomongin lo!” jawab Anyelir.</p>

<p>“Weitssss parah banget ngomongin temen di belakang!”</p>

<p>Obrolan-obrolan, candaan, dan ledekan turut hadir menghiasi suasana meja yang tadinya hanya Ajisaka duduki sendirian. Walaupun dirinya adalah orang baru di antara pertemanan tiga orang yang sedang makan ketoprak ini, ia selalu diajak untuk terlibat dalam percakapan mereka. Ketiganya tidak membuatnya merasa tertinggal dalam obrolan mereka. </p>

<p>Sepertinya Tuhan telah mengabulkan doa-nya untuk mengirimkan teman baik untuknya. Karena sejak siang itu, Anyelir, Zaki, dan Kiara secara resmi menjadi teman dekat sekaligus teman pertama Ajisaka di perkuliahan.</p>

<p>Dan sejak ia mengobrol dengan Anyelir, gadis itu mengajaknya untuk mengerjakan tugas MA bersama. Gadis itu pula yang bagaikan penolong Ajisaka, memperkenalkan Ajisaka kepada teman kenalannya yang lain dan membuat Ajisaka mengenal banyak orang di fakultasnya. Sejak saat itu, Ajisaka berterima kasih kepada Kiara, Zaki dan terutama Anyelir yang secara tidak langsung merubah Ajisaka menjadi lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Membuatnya dirinya memiliki banyak teman baru baik itu di angkatan maupun dengan kakak tingkat dan menjadikan sosok Ajisaka lebih terbuka daripada sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/ketika-ajisaka-bertemu-tiga-teman-barunya</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Jun 2022 10:43:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>79.</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/79?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[79.&#xA;&#xA;Ajisaka POV&#xA;&#xA;Sejak dua jam terakhir, hal yang gue lakukan adalah muter-muter balai sidang tempat lomba Art War cabang solo vokal dilaksanain siang ini sambil bawa kamera dslr warna item yang gue kalungin di leher. &#xA;&#xA;Gue potret semua momen yang terjadi di sekitar karena menurut gue, semua momen yang terjadi di hidup ini harus diabadikan lewat foto. Mungkin mindset itu hadir karena kedua orang tua gue yang selalu motret pertumbuhan gue dan abang gue melalui potret foto demi foto yang dicetak dan tersimpan dengan rapih sesuai kronologi waktunya di dalam album foto yang di pinggir bukunya ditulisin tahun foto-foto itu diambil. Karena hal itu juga, gue dan abang gue punya hobi yang sama yaitu fotografi. Sebenernya abang gue, Nakula, yang lebih mendalami hobi itu sedangkan gue cuma suka fotografi sebagai bagian dari menyimpan kenang-kenangan kejadian yang terjadi sekarang.&#xA;&#xA;Gue jalan di sekitar pinggir panggung sambil membidik tiap sudut ruangan lewat kamera, nyari momen-momen yang menurut gue menarik untuk dipotret sampe akhirnya kamera gue nangkep seorang perempuan lagi sibuk ngomong lewat walkie talkie-nya di pinggir panggung.&#xA;&#xA;“Jingga! Dua peserta terakhir udah standby kan?”&#xA;&#xA;Rambut hitam panjangnya yang diiket ke atas ikut bergerak pas dia noleh ke temennya dan ngangguk pelan. Setelah itu, fokus dia balik lagi ke kertas putih yang sedari tadi dia pegang. Mungkin kertas rundown? Setau gue dia panitia Art War— lomba seni tahunan kampus kita— cabang lomba solo vokal. Tanpa sadar, gue ngangkat kamera dan ngambil foto Jingga yang lagi sibuk dengan kertas di tangannya.&#xA;&#xA;Jangan ngira gue orang creepy yang suka foto-fotoin orang lain tanpa izin, gue cuma menjalanlan tugas gue sebagai panitia dari divisi dokumentasi buat ngedokumentasiin segala momen penting sampe ga penting yang berlangsung di rangkaian acara Art War hari ini.&#xA;Sejak kejadian Jingga yang nge-block gue di Instagram dan Whatsapp beberapa hari yang lalu, gue memutuskan untuk engga ganggu dia lagi walaupun sebenernya gue sedikit ga ikhlas karena rasanya harga diri gue kayak diobral setelah ditinggalin di break out room sendirian.&#xA;&#xA;Gue mutusin buat kembali fokus dokumentasiin acara hari ini yang kayaknya sekitar 15 menit lagi akan selesai karena peserta terakhir lomba solo vokal barusan naik ke atas panggung.&#xA;&#xA;Penonton lomba solo vokal cukup ramai mengingat hari ini bukan weekend, anak-anak kampus pasti banyak yang ada kuliah di jam-jam segini, termasuk gue yang harusnya ikut kelas tapi gue udah izin absen karena ada jadwal dokumentasi Art War hari ini.&#xA;&#xA;Hampir sesuai dugaan gue, sekitar 20 menit setelahnya, semua peserta solo vokal udah tampil semua yang nandain cabang lomba ini selesai dan telah terlaksana dengan baik. Gue baru bisa balik setelah ikut eval hari ini yang makan waktu kurang lebih 15 menit. Jam nunjukkin pukul 3 sore ketika gue keluar dari gedung balai sidang dan bersiap buat nyari mobil gue di parkiran yang sejujurnya gue agak lupa letak persisnya di mana gue parkir. Pas gue berdiri di lobby balai sidang sambil ngeluarin kunci mobil dari ransel yang gue bawa, ternyata Jingga juga lagi berdiri agak jauh dari gue sambil mainin handphone-nya.&#xA;&#xA;“Jingga?”&#xA;&#xA;Gue tarik kata-kata gue sebelumnya yang bilang gue ga mau ganggu Jingga lagi. Nyatanya sekarang mulut gue refleks manggil cewek yang sekarang rambutnya kembali digerai setelah sebelumnya dikucir.&#xA;&#xA;Dia noleh ke gue lalu nunjukkin ekspresi kaget pas tau ternyata gue yang manggil. Dia ga jawab panggilan gue, kayaknya bingung kenapa tiba-tiba gue manggil dia.&#xA;&#xA;“Belom pulang?” tanya gue lagi.&#xA;&#xA;Dia cuma menggeleng pelan, “nunggu dijemput.”&#xA;&#xA;Pertanyaan gue dijawab sama dia aja menurut gue udah bagus banget karena gue berekspektasi dia akan tiba-tiba lari ninggalin gue seakan-akan dia abis liat setan di sore hari yang mulai mendung ini.&#xA;&#xA;“Halo pak? Hah? Serius pak? Kok bisa tiba-tiba sih…”&#xA;&#xA;Gue ngelirik ngeliat Jingga yang lagi telfonan entah sama siapa dengan raut wajah keliatan bete.&#xA;&#xA;“Yaudah deh aku sendiri aja pulangnya.”&#xA;&#xA;Jingga balik ngelirik ke gue sebentar, kayaknya dia sadar gue daritadi nguping pembicaraan dia.&#xA;&#xA;“Ga ada yang jemput lagi?” gue nanya sambil naikin alis kanan gue.&#xA;&#xA;Kali ini pertanyaan gue ga dijawab sama Jingga.&#xA;&#xA;“Balik sama gue ga? Lumayan hemat ongkos pulang,” tawar gue secara impulsif.&#xA;&#xA;“Ga usah. Gue bisa pulang sendiri,” jawab dia tanpa liat ke arah gue.&#xA;&#xA;Setelah itu, hujan mulai turun pelan-pelan. Sebenernya dari tadi udah gerimis, tapi sekarang mulai deres.&#xA;&#xA;“Wow ujan. Serius mau pulang sendiri? Gocar atau grabcar atau apalah ojek online yang mau lo naikin menurut gue ribet kalo lagi ujan gini,” ucap gue sambil ngelangkah ke depan dan nadahin tangan biar kena air hujan.&#xA;&#xA;Kali ini gue serius nawarin Jingga buat pulang bareng karena mau bantu aja. Ga ada alesan spesifik atau mau modus. Kebetulan juga gue tau rumah dia di mana karena pas itu pernah nganter dia pulang.&#xA;&#xA;Gue noleh ke belakang ngeliat dia yang kayaknya lagi mikir. “Kalo lo masih ngehindar karena malu tentang kejadian pas itu, santai aja. Gue ga peduli kok.”&#xA;&#xA;“Gimana?” tanya gue lagi.&#xA;&#xA;Jingga ngehela napas pelan.&#xA;&#xA;“I’ll take that as a yes,&#34; ucap gue pas liat dia menghela napas kayak pasrah gitu&#xA;&#xA;Setelahnya gue jalan mendekat ke Jingga dan nyerahin tas kamera punya gue ke dia. “Nitip, gue mau ambil mobil dulu. Lo tunggu di sini aja.”&#xA;&#xA;Ga butuh lama bagi gue buat ngambil mobil karena ternyata mobil gue diparkir deket lobby balai sidang. Jaket yang gue pake cukup basah jadi gue lepas dan nyisain kaos panitia yang sejak pagi gue pake.&#xA;&#xA;“Ayo naik cepetan!” suruh gue setelah buka kaca mobil penumpang.&#xA;&#xA;Ketika dia masuk dan duduk di kursi penumpang, wow wangi banget. Gue gatau dia pake parfum apa tapi wanginya masih jelas kecium padahal gue yakin dia daritadi udah keringetan karena bolak-balik ngurus acara.&#xA;&#xA;“Rumah lo masih sama kan?” tanya gue basa-basi.&#xA;&#xA;Gue ngelirik Jingga yang lagi ngangguk pelan. Dari pertama ketemu Jingga, gue tau kalo cewek ini rada jutek. Tapi semenjak kejadian dia nangis di mobil gue, setiap dia ketemu gue —baru dua kali sih— dia makin ga banyak ngomong dan milih buat ngehindar dari gue. “Lo emang biasanya diem gini ya?” tanya gue.&#xA;&#xA;“Diem gimana?” jawab dia.&#xA;&#xA;Mata gue masih fokus ke jalanan depan, ga bisa ngeliat ekspresi wajah dia. “Ya kayak sekarang ini.”&#xA;&#xA;“Emangnya sekarang gue harus ngapain?” tanya Jingga balik ke gue.&#xA;&#xA;Pertanyaan Jingga bikin gue mikir sejenak. Iya juga, Jingga harus ngapain selain diem ya kalo kayak sekarang gini?&#xA;&#xA;Mobil yang gue kendarain berhenti di lampu merah. Gue miringin badan gue ke samping buat liat Jingga lebih jelas. Dia make kaos panitia yang gue yakin sengaja dia kecilin karena ga mungkin kaos ukuran S yang disediain panitia bisa ngepas banget di badan sekurus Jingga. Dia make celana jeans warna biru gelap yang ngelekat dengan pas di kaki panjang dia. &#xA;&#xA;Jingga tinggi banget kalo dibandingin sama Aleysha. Dulu pas nyetirin Aleysha, cewek itu mungil banget di samping gue. Sedangkan sekarang kalau gue nengok ke kiri, wajah Jingga setara sama gue. Kayaknya tinggi Jingga hampir nyentuh 170cm, beda 10cm dari gue.&#xA;&#xA;“Lo kesel sama gue karena kejadian kemaren ya?” tanya gue sambil ngeliat Jingga dengan penuh selidik.&#xA;&#xA;Dia ngelirik gue sekilas sebelum balik mandang ke jendela luar di samping dia. “Engga, ngapain gue kesel sama lo padahal lo bantuin gue pulang?”&#xA;&#xA;“Oh Jadi lo ngehindarin gue karena kejadian lama itu.”&#xA;&#xA;Gue berani ngomong itu karena gue tadi ga nyebutin “kejadian kemarin” yang gue maksud itu apa. Dan Jingga dengan sendirinya bahas itu lagi.&#xA;&#xA;“Lampu hijau,” ucap Jingga ngingetin gue tanpa ngasih respon omongan gue sebelumnya.&#xA;&#xA;Gue bawa mobil dengan kecepatan normal condong agak lambat, sengaja karena gue masih mau ngelurusin segala hal-hal yang harus dilurusin antara gue dan Jingga.&#xA;&#xA;“Sorry kalo tindakan gue kemarin dan sekarang yang ngehindarin lo bikin lo ngerasa tersinggung atau bingung. Setiap liat nama lo atau muka lo, yang gue inget malah kejadian 3 minggu yang lalu yang sebenernya ga mau gue inget-inget lagi.”&#xA;&#xA;Jingga cuma nunduk sambil mainin kukunya.&#xA;&#xA;“Terus gimana dong biar tiap lo liat gue, lo ga keinget kejadian yang lalu-lalu?” tanya gue yang cuma dibales dengan Jingga yang ngangkat kedua bahunya.&#xA;&#xA;Helaan napas keluar dari bibir gue dengan pelan. Gue paham Jingga masih agak awkward ketemu sama gue. Kalau ditanya gue malu apa engga kalo inget kejadian gue meluk Jingga pas dia nangis, jawabannya adalah engga.&#xA;&#xA;Keren ga sih seorang Ajisaka Wicaksana yang sebelum masuk kuliah punya temen cewek aja engga, terus sekarang bisa berani ngobrol kayak gini sama Jingga? Menurut gue sendiri sih keren. Awal masuk kuliah di mana ada ospek fakultas yang bikin gue berubah banyak. Gue yang sebelumnya canggung sama cewek selain Aleysha, terpaksa harus bisa interaksi sama cewek-cewek di fakultas gue karena ada satu tugas ospek yang ngewajibin gue buat wawancarain minimal 50 temen seangkatan, 25 cewek dan 25 cowok. Rangkaian tugas yang namanya MA kepanjangannya Mengenal Angkatan itu yang bikin seorang Ajisaka jadi lebih terbuka sama orang lain, terutama sama cewek. Ditambah lagi orang pertama yang ngajak gue temenan di kuliah ini adalah seorang perempuan yaitu Anyelir. Gue berhutang banyak sama Anyelir karena dia yang ngebantu gue untuk kenal sama banyak temen-temen baru di kuliah ini.&#xA;&#xA; “Tapi lo ga risih kan sama gue contohnya kayak sekarang ini?” tanya gue lagi memastikan kalo kehadiran gue seenggaknya masih bisa ditoleransi sama Jingga.&#xA;&#xA;“Engga, cuma kerasa aja malunya.”&#xA;&#xA;Gue ketawa pelan denger jawaban Jingga. “Lucunya kita malah satu break out room di blind date kemarin. Lo masih punya utang sama gue soal itu.”&#xA;&#xA;Jingga ngebenerin posisi duduknya lebih tegap sambil balik nguncir rambutnya lagi. Gue ngelirik ke dia dan merhatiin gerak-gerik tangannya yang ngambil setiap helai rambut hitam panjangnya. Wow gue ga pernah tau kalo ada cewek bisa semenarik ini kalo lagi nguncir rambut.&#xA;&#xA;Setelahnya Jingga noleh ke arah gue. “Gue… minta maaf soal itu juga.”&#xA;&#xA;“Lo kenapa ikut blind date kemarin?” tanya gue penasaran tanpa ada niat buat ladenin permintaan maaf dia yang sebenernya ga perlu.&#xA;&#xA;“Ini gue perlu jawab?” tanya dia.&#xA;&#xA;“Iya perlu, atau gue turunin lo di pinggir jalan sekarang juga.”&#xA;&#xA;Gue bisa denger decakan pelan dari Jingga yang bikin gue ketawa pelan.&#xA;&#xA;“Distraksi,” jawab dia. “Gue butuh distraksi,” lanjut dia dengan kalimat yang lebih jelas.&#xA;&#xA;“Distraksi dari mantan lo yang kayak tai itu?”&#xA;&#xA;Gue langsung diem pas sadar apa yang barusan gue ucapin. Rasanya pengen nonjok diri sendiri karena filter mulut gue ga kerja hari ini.&#xA;&#xA;“Eh sorry maksud gue—“&#xA;&#xA;“Iya bener kok,” ucap Jingga sambil terkekeh pelan. “Bener kok karena itu salah satunya.”&#xA;&#xA;Kayaknya pertanyaan tentang alesan kenapa ikut blind date tadi bukan pertanyaan  yang bagus buat jadi topik pembicaraan gue dan Jingga. Gue ngerasa kayak bikin dia harus nginget-nginget lagi tentang mantan dia padahal dia liat muka gue aja udah keinget insiden kemarin.&#xA;&#xA;“Kalo lo? Kenapa ikut blind date? Butuh distraksi juga? Abis ditinggalin cewek lo?”&#xA;&#xA;Wow, skornya 1-1 alias seri antara gue dan Jingga.&#xA;&#xA;“Diem artinya iya,” ucap dia lagi sambil ketawa kecil sebelum gue sempet jawab.&#xA;&#xA;Akhirnya bongkahan es yang ada di sekitar Jingga mulai mencair. Dia bisa ketawa pelan sekarang kalo sama gue.&#xA;&#xA;“Lucu ya, dua orang yang ikut acara blind date cuma karena butuh distraksi malah satu break out room seakan-akan panitianya tau kalo kita senasib,” celetuk gue.&#xA;&#xA;“Atau mungkin emang takdir nyatuin lo sama gue supaya bisa jadi distraksi satu sama lain,” jawab Jingga dengan asal.&#xA;&#xA;Setelahnya, Jingga langsung nutup mulutnya rapat. Begitu pun gue yang cukup kaget sama celetukan dia.&#xA;&#xA;“Dont take it seriously, gue cuma asal ngomong,” ucap dia sambil benerin posisi duduknya lagi, tanda kalo dia agak salah tingkah sih kayaknya.&#xA;&#xA;“Kalo gue ladenin dengan serius gimana?” ucap gue dengan nekat.&#xA;&#xA;Gue engga tau setan jenis apa yang sekarang ngerasukin gue sampe-sampe gue harus ngomong kayak gitu. Jingga ngeliat gue dengan pandangan cukup kaget dan heran.&#xA;&#xA;“Maksud lo?”&#xA;&#xA;“Lo masih punya utang sama gue soal blind date kemarin. Mungkin bisa dibayar dengan jadi distraksi satu sama lain setelah ini,” ucap gue asal.&#xA;&#xA;Jangan tanya gue kenapa gue ngomong kayak gitu karena gue ga tau juga. Gue bener-bener kayak lagi kerasukan setan gila.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Jingga POV&#xA;&#xA;“Lo masih punya utang sama gue soal blind date kemarin. Mungkin bisa dibayar dengan jadi distraksi satu sama lain setelah ini.”&#xA;&#xA;Gue sama sekali ga nyangka Ajisaka akan ngomong hal semacam itu. Bahkan kalau dia cuma bercanda, gue ga bisa nganggep itu sebagai candaan.&#xA;&#xA;“Bercanda,” jawab dia sambil nyengir.&#xA;&#xA;Kayak tadi yang gue bilang, gue ga bisa nganggep itu sebagai candaan.&#xA;&#xA;“Kalo gue ga nganggep itu bercanda, gimana?” tanya gue sambil beraniin diri buat noleh ke arah dia.&#xA;&#xA;Gue baru sadar Ajisaka punya rahang yang cukup tegas. Gue baru sadar juga dia punya side profile yang cukup menarik kalo diliat dari posisi gue duduk sekarang. Ditambah lagi dengan dia lagi nyetir cuma dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia letakin di atas paha kirinya, jari-jarinya kadang ngetuk-ngetuk pelan sesuai beat lagu yang diputar sama radio.&#xA;&#xA;Ternyata Talitha bener, Ajisaka cukup menarik ditambah lagi dengan tinggi dia yang hampir nyentuh 180cm. Proporsi badannya bagus untuk seukuran cowok berumur 18 tahun.&#xA;&#xA;“Jadinya lo mau gue bercanda atau ga bercanda nih?” tanya dia sambil balik ngeliat ke arah gue.&#xA;&#xA;Wah, kalo kayak gini sih udah jelas dia lagi nantangin gue.&#xA;&#xA;“Ga bercanda juga gapapa,” jawab gue ga mau kalah.&#xA;&#xA;Gue bisa liat Ajisaka senyum tipis setelah denger jawaban dari gue.&#xA;&#xA;“Kalo mau gue ga bercanda, unblock WA sama instagram gue, jangan kabur kalo tiba-tiba gue chat lo. Deal?”&#xA;&#xA;Ajisaka senyum ke gue seakan dia beneran nantangin gue dengan tawaran dia. Dikiranya gue masih mau ngehindar dari dia setelah ini? Jawabannya engga.&#xA;&#xA;“Deal,” jawab gue sambil senyum ke dia nandain kalo gue ga bercanda.&#xA;&#xA;Sekarang gue keinget pembahasan Talitha sama Kaylee di group kemarin. Mungkin ga ada salahnya buat ladenin Ajisaka sebagai bentuk distraksi gue dari dua cowok di hidup gue yang bikin gue hampir sinting.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>79.</strong></p>

<p><strong>Ajisaka POV</strong></p>

<p>Sejak dua jam terakhir, hal yang gue lakukan adalah muter-muter balai sidang tempat lomba Art War cabang solo vokal dilaksanain siang ini sambil bawa kamera dslr warna item yang gue kalungin di leher.</p>

<p>Gue potret semua momen yang terjadi di sekitar karena menurut gue, semua momen yang terjadi di hidup ini harus diabadikan lewat foto. Mungkin <em>mindset</em> itu hadir karena kedua orang tua gue yang selalu motret pertumbuhan gue dan abang gue melalui potret foto demi foto yang dicetak dan tersimpan dengan rapih sesuai kronologi waktunya di dalam album foto yang di pinggir bukunya ditulisin tahun foto-foto itu diambil. Karena hal itu juga, gue dan abang gue punya hobi yang sama yaitu fotografi. Sebenernya abang gue, Nakula, yang lebih mendalami hobi itu sedangkan gue cuma suka fotografi sebagai bagian dari menyimpan kenang-kenangan kejadian yang terjadi sekarang.</p>

<p>Gue jalan di sekitar pinggir panggung sambil membidik tiap sudut ruangan lewat kamera, nyari momen-momen yang menurut gue menarik untuk dipotret sampe akhirnya kamera gue nangkep seorang perempuan lagi sibuk ngomong lewat <em>walkie talkie</em>-nya di pinggir panggung.</p>

<p>“Jingga! Dua peserta terakhir udah <em>standby</em> kan?”</p>

<p>Rambut hitam panjangnya yang diiket ke atas ikut bergerak pas dia noleh ke temennya dan ngangguk pelan. Setelah itu, fokus dia balik lagi ke kertas putih yang sedari tadi dia pegang. Mungkin kertas <em>rundown</em>? Setau gue dia panitia Art War— lomba seni tahunan kampus kita— cabang lomba solo vokal. Tanpa sadar, gue ngangkat kamera dan ngambil foto Jingga yang lagi sibuk dengan kertas di tangannya.</p>

<p>Jangan ngira gue orang <em>creepy</em> yang suka foto-fotoin orang lain tanpa izin, gue cuma menjalanlan tugas gue sebagai panitia dari divisi dokumentasi buat ngedokumentasiin segala momen penting sampe ga penting yang berlangsung di rangkaian acara Art War hari ini.
Sejak kejadian Jingga yang nge-<em>block</em> gue di Instagram dan Whatsapp beberapa hari yang lalu, gue memutuskan untuk engga ganggu dia lagi walaupun sebenernya gue sedikit ga ikhlas karena rasanya harga diri gue kayak diobral setelah ditinggalin di <em>break out room</em> sendirian.</p>

<p>Gue mutusin buat kembali fokus dokumentasiin acara hari ini yang kayaknya sekitar 15 menit lagi akan selesai karena peserta terakhir lomba solo vokal barusan naik ke atas panggung.</p>

<p>Penonton lomba solo vokal cukup ramai mengingat hari ini bukan weekend, anak-anak kampus pasti banyak yang ada kuliah di jam-jam segini, termasuk gue yang harusnya ikut kelas tapi gue udah izin absen karena ada jadwal dokumentasi Art War hari ini.</p>

<p>Hampir sesuai dugaan gue, sekitar 20 menit setelahnya, semua peserta solo vokal udah tampil semua yang nandain cabang lomba ini selesai dan telah terlaksana dengan baik. Gue baru bisa balik setelah ikut eval hari ini yang makan waktu kurang lebih 15 menit. Jam nunjukkin pukul 3 sore ketika gue keluar dari gedung balai sidang dan bersiap buat nyari mobil gue di parkiran yang sejujurnya gue agak lupa letak persisnya di mana gue parkir. Pas gue berdiri di lobby balai sidang sambil ngeluarin kunci mobil dari ransel yang gue bawa, ternyata Jingga juga lagi berdiri agak jauh dari gue sambil mainin <em>handphone</em>-nya.</p>

<p>“Jingga?”</p>

<p>Gue tarik kata-kata gue sebelumnya yang bilang gue ga mau ganggu Jingga lagi. Nyatanya sekarang mulut gue refleks manggil cewek yang sekarang rambutnya kembali digerai setelah sebelumnya dikucir.</p>

<p>Dia noleh ke gue lalu nunjukkin ekspresi kaget pas tau ternyata gue yang manggil. Dia ga jawab panggilan gue, kayaknya bingung kenapa tiba-tiba gue manggil dia.</p>

<p>“Belom pulang?” tanya gue lagi.</p>

<p>Dia cuma menggeleng pelan, “nunggu dijemput.”</p>

<p>Pertanyaan gue dijawab sama dia aja menurut gue udah bagus banget karena gue berekspektasi dia akan tiba-tiba lari ninggalin gue seakan-akan dia abis liat setan di sore hari yang mulai mendung ini.</p>

<p><em>“Halo pak? Hah? Serius pak? Kok bisa tiba-tiba sih…”</em></p>

<p>Gue ngelirik ngeliat Jingga yang lagi telfonan entah sama siapa dengan raut wajah keliatan bete.</p>

<p><em>“Yaudah deh aku sendiri aja pulangnya.”</em></p>

<p>Jingga balik ngelirik ke gue sebentar, kayaknya dia sadar gue daritadi nguping pembicaraan dia.</p>

<p>“Ga ada yang jemput lagi?” gue nanya sambil naikin alis kanan gue.</p>

<p>Kali ini pertanyaan gue ga dijawab sama Jingga.</p>

<p>“Balik sama gue ga? Lumayan hemat ongkos pulang,” tawar gue secara impulsif.</p>

<p>“Ga usah. Gue bisa pulang sendiri,” jawab dia tanpa liat ke arah gue.</p>

<p>Setelah itu, hujan mulai turun pelan-pelan. Sebenernya dari tadi udah gerimis, tapi sekarang mulai deres.</p>

<p>“Wow ujan. Serius mau pulang sendiri? Gocar atau grabcar atau apalah ojek online yang mau lo naikin menurut gue ribet kalo lagi ujan gini,” ucap gue sambil ngelangkah ke depan dan nadahin tangan biar kena air hujan.</p>

<p>Kali ini gue serius nawarin Jingga buat pulang bareng karena mau bantu aja. Ga ada alesan spesifik atau mau modus. Kebetulan juga gue tau rumah dia di mana karena pas itu pernah nganter dia pulang.</p>

<p>Gue noleh ke belakang ngeliat dia yang kayaknya lagi mikir. “Kalo lo masih ngehindar karena malu tentang kejadian pas itu, santai aja. Gue ga peduli kok.”</p>

<p>“Gimana?” tanya gue lagi.</p>

<p>Jingga ngehela napas pelan.</p>

<p><em>“I’ll take that as a yes,”</em> ucap gue pas liat dia menghela napas kayak pasrah gitu</p>

<p>Setelahnya gue jalan mendekat ke Jingga dan nyerahin tas kamera punya gue ke dia. “Nitip, gue mau ambil mobil dulu. Lo tunggu di sini aja.”</p>

<p>Ga butuh lama bagi gue buat ngambil mobil karena ternyata mobil gue diparkir deket lobby balai sidang. Jaket yang gue pake cukup basah jadi gue lepas dan nyisain kaos panitia yang sejak pagi gue pake.</p>

<p>“Ayo naik cepetan!” suruh gue setelah buka kaca mobil penumpang.</p>

<p>Ketika dia masuk dan duduk di kursi penumpang, wow wangi banget. Gue gatau dia pake parfum apa tapi wanginya masih jelas kecium padahal gue yakin dia daritadi udah keringetan karena bolak-balik ngurus acara.</p>

<p>“Rumah lo masih sama kan?” tanya gue basa-basi.</p>

<p>Gue ngelirik Jingga yang lagi ngangguk pelan. Dari pertama ketemu Jingga, gue tau kalo cewek ini rada jutek. Tapi semenjak kejadian dia nangis di mobil gue, setiap dia ketemu gue —baru dua kali sih— dia makin ga banyak ngomong dan milih buat ngehindar dari gue. “Lo emang biasanya diem gini ya?” tanya gue.</p>

<p>“Diem gimana?” jawab dia.</p>

<p>Mata gue masih fokus ke jalanan depan, ga bisa ngeliat ekspresi wajah dia. “Ya kayak sekarang ini.”</p>

<p>“Emangnya sekarang gue harus ngapain?” tanya Jingga balik ke gue.</p>

<p>Pertanyaan Jingga bikin gue mikir sejenak. Iya juga, Jingga harus ngapain selain diem ya kalo kayak sekarang gini?</p>

<p>Mobil yang gue kendarain berhenti di lampu merah. Gue miringin badan gue ke samping buat liat Jingga lebih jelas. Dia make kaos panitia yang gue yakin sengaja dia kecilin karena ga mungkin kaos ukuran S yang disediain panitia bisa ngepas banget di badan sekurus Jingga. Dia make celana jeans warna biru gelap yang ngelekat dengan pas di kaki panjang dia.</p>

<p>Jingga tinggi banget kalo dibandingin sama Aleysha. Dulu pas nyetirin Aleysha, cewek itu mungil banget di samping gue. Sedangkan sekarang kalau gue nengok ke kiri, wajah Jingga setara sama gue. Kayaknya tinggi Jingga hampir nyentuh 170cm, beda 10cm dari gue.</p>

<p>“Lo kesel sama gue karena kejadian kemaren ya?” tanya gue sambil ngeliat Jingga dengan penuh selidik.</p>

<p>Dia ngelirik gue sekilas sebelum balik mandang ke jendela luar di samping dia. “Engga, ngapain gue kesel sama lo padahal lo bantuin gue pulang?”</p>

<p>“Oh Jadi lo ngehindarin gue karena kejadian lama itu.”</p>

<p>Gue berani ngomong itu karena gue tadi ga nyebutin “kejadian kemarin” yang gue maksud itu apa. Dan Jingga dengan sendirinya bahas itu lagi.</p>

<p>“Lampu hijau,” ucap Jingga ngingetin gue tanpa ngasih respon omongan gue sebelumnya.</p>

<p>Gue bawa mobil dengan kecepatan normal condong agak lambat, sengaja karena gue masih mau ngelurusin segala hal-hal yang harus dilurusin antara gue dan Jingga.</p>

<p>“Sorry kalo tindakan gue kemarin dan sekarang yang ngehindarin lo bikin lo ngerasa tersinggung atau bingung. Setiap liat nama lo atau muka lo, yang gue inget malah kejadian 3 minggu yang lalu yang sebenernya ga mau gue inget-inget lagi.”</p>

<p>Jingga cuma nunduk sambil mainin kukunya.</p>

<p>“Terus gimana dong biar tiap lo liat gue, lo ga keinget kejadian yang lalu-lalu?” tanya gue yang cuma dibales dengan Jingga yang ngangkat kedua bahunya.</p>

<p>Helaan napas keluar dari bibir gue dengan pelan. Gue paham Jingga masih agak awkward ketemu sama gue. Kalau ditanya gue malu apa engga kalo inget kejadian gue meluk Jingga pas dia nangis, jawabannya adalah engga.</p>

<p>Keren ga sih seorang Ajisaka Wicaksana yang sebelum masuk kuliah punya temen cewek aja engga, terus sekarang bisa berani ngobrol kayak gini sama Jingga? Menurut gue sendiri sih keren. Awal masuk kuliah di mana ada ospek fakultas yang bikin gue berubah banyak. Gue yang sebelumnya canggung sama cewek selain Aleysha, terpaksa harus bisa interaksi sama cewek-cewek di fakultas gue karena ada satu tugas ospek yang ngewajibin gue buat wawancarain minimal 50 temen seangkatan, 25 cewek dan 25 cowok. Rangkaian tugas yang namanya MA kepanjangannya Mengenal Angkatan itu yang bikin seorang Ajisaka jadi lebih terbuka sama orang lain, terutama sama cewek. Ditambah lagi orang pertama yang ngajak gue temenan di kuliah ini adalah seorang perempuan yaitu Anyelir. Gue berhutang banyak sama Anyelir karena dia yang ngebantu gue untuk kenal sama banyak temen-temen baru di kuliah ini.</p>

<p> “Tapi lo ga risih kan sama gue contohnya kayak sekarang ini?” tanya gue lagi memastikan kalo kehadiran gue seenggaknya masih bisa ditoleransi sama Jingga.</p>

<p>“Engga, cuma kerasa aja malunya.”</p>

<p>Gue ketawa pelan denger jawaban Jingga. “Lucunya kita malah satu break out room di blind date kemarin. Lo masih punya utang sama gue soal itu.”</p>

<p>Jingga ngebenerin posisi duduknya lebih tegap sambil balik nguncir rambutnya lagi. Gue ngelirik ke dia dan merhatiin gerak-gerik tangannya yang ngambil setiap helai rambut hitam panjangnya. Wow gue ga pernah tau kalo ada cewek bisa semenarik ini kalo lagi nguncir rambut.</p>

<p>Setelahnya Jingga noleh ke arah gue. “Gue… minta maaf soal itu juga.”</p>

<p>“Lo kenapa ikut blind date kemarin?” tanya gue penasaran tanpa ada niat buat ladenin permintaan maaf dia yang sebenernya ga perlu.</p>

<p>“Ini gue perlu jawab?” tanya dia.</p>

<p>“Iya perlu, atau gue turunin lo di pinggir jalan sekarang juga.”</p>

<p>Gue bisa denger decakan pelan dari Jingga yang bikin gue ketawa pelan.</p>

<p>“Distraksi,” jawab dia. “Gue butuh distraksi,” lanjut dia dengan kalimat yang lebih jelas.</p>

<p>“Distraksi dari mantan lo yang kayak tai itu?”</p>

<p>Gue langsung diem pas sadar apa yang barusan gue ucapin. Rasanya pengen nonjok diri sendiri karena filter mulut gue ga kerja hari ini.</p>

<p>“Eh sorry maksud gue—“</p>

<p>“Iya bener kok,” ucap Jingga sambil terkekeh pelan. “Bener kok karena itu salah satunya.”</p>

<p>Kayaknya pertanyaan tentang alesan kenapa ikut blind date tadi bukan pertanyaan  yang bagus buat jadi topik pembicaraan gue dan Jingga. Gue ngerasa kayak bikin dia harus nginget-nginget lagi tentang mantan dia padahal dia liat muka gue aja udah keinget insiden kemarin.</p>

<p>“Kalo lo? Kenapa ikut blind date? Butuh distraksi juga? Abis ditinggalin cewek lo?”</p>

<p>Wow, skornya 1-1 alias seri antara gue dan Jingga.</p>

<p>“Diem artinya iya,” ucap dia lagi sambil ketawa kecil sebelum gue sempet jawab.</p>

<p>Akhirnya bongkahan es yang ada di sekitar Jingga mulai mencair. Dia bisa ketawa pelan sekarang kalo sama gue.</p>

<p>“Lucu ya, dua orang yang ikut acara blind date cuma karena butuh distraksi malah satu <em>break out room</em> seakan-akan panitianya tau kalo kita senasib,” celetuk gue.</p>

<p>“Atau mungkin emang takdir nyatuin lo sama gue supaya bisa jadi distraksi satu sama lain,” jawab Jingga dengan asal.</p>

<p>Setelahnya, Jingga langsung nutup mulutnya rapat. Begitu pun gue yang cukup kaget sama celetukan dia.</p>

<p>“<em>Dont take it seriously</em>, gue cuma asal ngomong,” ucap dia sambil benerin posisi duduknya lagi, tanda kalo dia agak salah tingkah sih kayaknya.</p>

<p>“Kalo gue ladenin dengan serius gimana?” ucap gue dengan nekat.</p>

<p>Gue engga tau setan jenis apa yang sekarang ngerasukin gue sampe-sampe gue harus ngomong kayak gitu. Jingga ngeliat gue dengan pandangan cukup kaget dan heran.</p>

<p>“Maksud lo?”</p>

<p>“Lo masih punya utang sama gue soal blind date kemarin. Mungkin bisa dibayar dengan jadi distraksi satu sama lain setelah ini,” ucap gue asal.</p>

<p>Jangan tanya gue kenapa gue ngomong kayak gitu karena gue ga tau juga. Gue bener-bener kayak lagi kerasukan setan gila.</p>

<hr/>

<p><strong>Jingga POV</strong></p>

<p>“Lo masih punya utang sama gue soal blind date kemarin. Mungkin bisa dibayar dengan jadi distraksi satu sama lain setelah ini.”</p>

<p>Gue sama sekali ga nyangka Ajisaka akan ngomong hal semacam itu. Bahkan kalau dia cuma bercanda, gue ga bisa nganggep itu sebagai candaan.</p>

<p>“Bercanda,” jawab dia sambil nyengir.</p>

<p>Kayak tadi yang gue bilang, gue ga bisa nganggep itu sebagai candaan.</p>

<p>“Kalo gue ga nganggep itu bercanda, gimana?” tanya gue sambil beraniin diri buat noleh ke arah dia.</p>

<p>Gue baru sadar Ajisaka punya rahang yang cukup tegas. Gue baru sadar juga dia punya <em>side profile</em> yang cukup menarik kalo diliat dari posisi gue duduk sekarang. Ditambah lagi dengan dia lagi nyetir cuma dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia letakin di atas paha kirinya, jari-jarinya kadang ngetuk-ngetuk pelan sesuai beat lagu yang diputar sama radio.</p>

<p>Ternyata Talitha bener, Ajisaka cukup menarik ditambah lagi dengan tinggi dia yang hampir nyentuh 180cm. Proporsi badannya bagus untuk seukuran cowok berumur 18 tahun.</p>

<p>“Jadinya lo mau gue bercanda atau ga bercanda nih?” tanya dia sambil balik ngeliat ke arah gue.</p>

<p>Wah, kalo kayak gini sih udah jelas dia lagi nantangin gue.</p>

<p>“Ga bercanda juga gapapa,” jawab gue ga mau kalah.</p>

<p>Gue bisa liat Ajisaka senyum tipis setelah denger jawaban dari gue.</p>

<p>“Kalo mau gue ga bercanda, <em>unblock</em> WA sama instagram gue, jangan kabur kalo tiba-tiba gue chat lo. <em>Deal</em>?”</p>

<p>Ajisaka senyum ke gue seakan dia beneran nantangin gue dengan tawaran dia. Dikiranya gue masih mau ngehindar dari dia setelah ini? Jawabannya engga.</p>

<p>“<em>Deal</em>,” jawab gue sambil senyum ke dia nandain kalo gue ga bercanda.</p>

<p>Sekarang gue keinget pembahasan Talitha sama Kaylee di group kemarin. Mungkin ga ada salahnya buat ladenin Ajisaka sebagai bentuk distraksi gue dari dua cowok di hidup gue yang bikin gue hampir sinting.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/79</guid>
      <pubDate>Sun, 08 May 2022 11:49:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>26.</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/26?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[26.&#xA;&#xA;“Siapa lagi yang belom dateng?” tanya kak Indra yang sedari tadi sibuk kesana kemari mengurus persiapan kegiatan hari ini.&#xA;&#xA;“GUE KAK GUE!” seru seorang laki-laki bertubuh tinggi yang kini sedang berlari mendekat dengan tas kamera hitam yang ia sampirkan di pundak kirinya.&#xA;&#xA;Semua pandangan tertuju padanya, tak terkecuali Jingga yang sedang touch up make up-nya.&#xA;&#xA;“Wahhh ngaret nih parah,” canda Kak Indra.&#xA;&#xA;Ajisaka tersenyum menunjukkan deretan gigi rapihnya, “sorry kak gue tadi nganterin nyokap dulu dadakan.” Ia melihat sekelilingnya, “belom mulai kan?”&#xA;&#xA;“Belom kok, masih pada siap-siap.”&#xA;&#xA;Ajisaka menganggukkan kepalanya, pandangannya lalu terjatuh kepada Anya dan Jingga yang sedang duduk menghadap danau.&#xA;&#xA;Pagi ini, kurang lebih 15 orang panitia UI Art War sedang berkumpul di dekat perpustakaan UI. Mereka yang bertugas dalam pembuatan teaser video UI Art War hari ini hendak melakukan shooting yang telah dipersiapkan selama 2 minggu ke belakang.&#xA;&#xA;Ajisaka merupakan staff dari divisi dokumentasi dan videografi sehingga ia bertugas dalam pengambilan video teaser opening UI Art War. Sedangkan Jingga dan Anya merupakan staff dari cabang lomba seni, Jingga dengan lomba teater dan Anya dengan lomba solo vokal. Namun, keduanya ditunjuk untuk menjadi “aktris” dalam teaser video ini.&#xA;&#xA;“Selamat pagi Anyeliirrrr!” sapa Ajisaka yang sekarang berdiri di samping kiri Anya.&#xA;&#xA;“Stop iseng panggil gue Anyelir! Anehhh!” protes Anya sambil memukul lengan Ajisaka.&#xA;&#xA;Ajisaka terkekeh lalu pandangannya beralih kepada Jingga yang kini memainkan handphone-nya.&#xA;&#xA;“Pagi, Jingga,” sapa Ajisaka yang membuat Jingga menoleh ke arah laki-laki itu dengan senyuman kaku.&#xA;&#xA;“Pagi,” sapa Jingga pelan.&#xA;&#xA;Jingga lalu mengalihkan pandangannya ke danau dengan ekspresi wajah yang datar. Sejujurnya, gadis itu masih sedikit malu dan enggan untuk bertemu lagi dengan Ajisaka sejak insiden seminggu yang lalu. Ditambah lagi obrolan tidak langsung mereka melalui Anya yang berakhir kurang baik karena Jingga memanggil Ajisaka “freak” membuatnya semakin tidak ingin bertemu laki-laki itu.&#xA;&#xA;Jingga pikir Ajisaka akan membahas lagi kejadian itu, tetapi ternyata Ajisaka seperti hilang ingatan dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.&#xA;&#xA;“Guys! Mulai aja yuk shooting-nya biar cepet selesai!” ucapan Kak Indra membuyarkan lamunan Jingga.&#xA;&#xA;Jingga menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari duduknya. Dirinya hanya perlu melewatkan beberapa jam ke depan bersama Ajisaka. Setelah itu, mereka bisa berpisah layaknya dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain. Ya, seperti itu. Ia harus bisa melewati hari ini.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>26.</p>

<p>“Siapa lagi yang belom dateng?” tanya kak Indra yang sedari tadi sibuk kesana kemari mengurus persiapan kegiatan hari ini.</p>

<p>“GUE KAK GUE!” seru seorang laki-laki bertubuh tinggi yang kini sedang berlari mendekat dengan tas kamera hitam yang ia sampirkan di pundak kirinya.</p>

<p>Semua pandangan tertuju padanya, tak terkecuali Jingga yang sedang <em>touch up make up</em>-nya.</p>

<p>“Wahhh ngaret nih parah,” canda Kak Indra.</p>

<p>Ajisaka tersenyum menunjukkan deretan gigi rapihnya, “sorry kak gue tadi nganterin nyokap dulu dadakan.” Ia melihat sekelilingnya, “belom mulai kan?”</p>

<p>“Belom kok, masih pada siap-siap.”</p>

<p>Ajisaka menganggukkan kepalanya, pandangannya lalu terjatuh kepada Anya dan Jingga yang sedang duduk menghadap danau.</p>

<p>Pagi ini, kurang lebih 15 orang panitia UI Art War sedang berkumpul di dekat perpustakaan UI. Mereka yang bertugas dalam pembuatan teaser video UI Art War hari ini hendak melakukan shooting yang telah dipersiapkan selama 2 minggu ke belakang.</p>

<p>Ajisaka merupakan staff dari divisi dokumentasi dan videografi sehingga ia bertugas dalam pengambilan video <em>teaser opening</em> UI Art War. Sedangkan Jingga dan Anya merupakan staff dari cabang lomba seni, Jingga dengan lomba teater dan Anya dengan lomba solo vokal. Namun, keduanya ditunjuk untuk menjadi “aktris” dalam <em>teaser</em> video ini.</p>

<p>“Selamat pagi Anyeliirrrr!” sapa Ajisaka yang sekarang berdiri di samping kiri Anya.</p>

<p>“Stop iseng panggil gue Anyelir! Anehhh!” protes Anya sambil memukul lengan Ajisaka.</p>

<p>Ajisaka terkekeh lalu pandangannya beralih kepada Jingga yang kini memainkan <em>handphone</em>-nya.</p>

<p>“Pagi, Jingga,” sapa Ajisaka yang membuat Jingga menoleh ke arah laki-laki itu dengan senyuman kaku.</p>

<p>“Pagi,” sapa Jingga pelan.</p>

<p>Jingga lalu mengalihkan pandangannya ke danau dengan ekspresi wajah yang datar. Sejujurnya, gadis itu masih sedikit malu dan enggan untuk bertemu lagi dengan Ajisaka sejak insiden seminggu yang lalu. Ditambah lagi obrolan tidak langsung mereka melalui Anya yang berakhir kurang baik karena Jingga memanggil Ajisaka “freak” membuatnya semakin tidak ingin bertemu laki-laki itu.</p>

<p>Jingga pikir Ajisaka akan membahas lagi kejadian itu, tetapi ternyata Ajisaka seperti hilang ingatan dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.</p>

<p>“Guys! Mulai aja yuk <em>shooting</em>-nya biar cepet selesai!” ucapan Kak Indra membuyarkan lamunan Jingga.</p>

<p>Jingga menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari duduknya. Dirinya hanya perlu melewatkan beberapa jam ke depan bersama Ajisaka. Setelah itu, mereka bisa berpisah layaknya dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain. Ya, seperti itu. Ia harus bisa melewati hari ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/26</guid>
      <pubDate>Sat, 01 Jan 2022 16:30:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>INTRODUCTION</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/introduction?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kenalin, nama gue Ajisaka Wicaksana. &#xA;&#xA;Mungkin sebagian dari kalian udah ada yang kenal sama gue setelah baca kisah cinta gue sebelumnya. Kalo ada yang belom baca, gue gak tau mau saranin kalian buat baca atau engga sih tapi kalo penasaran, ya udah baca aja.&#xA;&#xA;Sekarang, gue udah 2 bulan jadi mahasiswa jurusan Ilmu Komputer. Selama 2 bulan itu juga, banyak hal yang berubah di hidup gue. Kalo sebelumnya gue selalu nemenin mama di rumah tiap malem buat nunggu papa pulang kerja, sekarang udah engga lagi karena gue ngekost di Depok. Sebenernya gue bisa aja sih tetep di rumah, tapi diliat dari kegiatan dan tugas kuliah gue yang bisa bikin kepala botak, gue milih buat ngekost supaya lebih deket dari kampus dan temen-temen sefakultas gue juga. &#xA;&#xA;Oh iya, ngomongin soal temen, Walaupun baru 2 bulan kuliah, gue udah kenal sama banyak orang dan punya banyak temen baru di fakultas gue. Kalo kalian inget, Ajisaka jaman SMA susah temenan sama cewek dan ga punya temen deket cewek. Gue sekarang mau ngumumin kalo Ajisaka yang dulu bukanlah Ajisaka yang sekarang. Soalnya sekarang, dari 3 orang temen deket gue di Fasilkom, 2-nya itu cewek. Menurut gue itu sebuah pencapaian besar buat gue sih karena akhirnya gue punya character development dalam hal perempuan. Dua orang itu namanya Anya dan Kiara. Ditambah 1 orang cowok namanya Zaki tapi gue sama yang lain manggilnya Jaki. Tiga orang ini adalah temen-temen pertama gue di Fasilkom. Kita berempat temenan karena satu kelompok PMB (ospek fakultasnya Fasilkom). &#xA;&#xA;Selain mereka bertiga, gue juga punya banyak temen lain tapi kalo gue sebutin di sini, bukannya nyeritain tentang gue nanti malah jadi kayak absen kehadiran kuliah. &#xA;&#xA;Gue enjoy banget sama kehidupan gue sekarang sebagai mahasiswa. Walaupun tugas-tugasnya selalu datang tanpa diundang setiap minggunya sampe gue kerjaannya begadang, gue tetep bisa nyelesain banyaknya tugas itu bareng temen-temen yang suportif dan saling bantu.&#xA;&#xA;Banyak hal yang berubah di hidup gue bukan berarti semuanya berubah. Masih ada kok yang tetep sama kayak sebelum gue kuliah. Yang pertama itu pertemanan gue sama Hansel dan Syauqi yang masih anget kayak tai kucing baru keluar. Walaupun gue dan Hansel harus LDR sama Syauqi yang sekarang di Bandung, kita tetep selalu saling kasih kabar. Kadang Syauqi ke Jakarta atau gue dan Hansel yang ke Bandung untuk sekadar main. &#xA;&#xA;Hal kedua yang belum berubah di hidup gue adalah perasaan gue ke Aleysha. Gue belom berhasil move on dari cewek yang sekarang lagi living her life in Melbourne itu. Sampe-sampe temen kuliah gue menobatkan gue sebagai duta sadboy-nya Fasilkom. Sebenernya gue ga se-sadboy itu. Kadang sad dikit sih karena suka kangen sama Aleysha kalo lagi keinget tapi selebihnya gue masih oke oke aja (kayaknya).&#xA;&#xA;Untuk sekarang, gue belum ada niatan untuk move on dari Aleysha. I’m still okay to keep my feelings for Aleysha. Gue males aja mikirin urusan hati karena sekarang gue masih ribet ngurusin tugas kuliah. &#xA;&#xA;Gue yakin, suatu saat nanti, gue akan punya alesan kenapa gue harus move on dari Aleysha. Atau mungkin gue akan punya alesan untuk tetep ngejaga perasaan gue ke Aleysha? Ga ada yang tau kedepannya gimana. I’ll just go with the flow dan gue ga sabar buat liat apa yang akan terjadi kedepannya.&#xA;&#xA;Gue tau kehidupan gue yang baru ini gak akan selalu bahagia dan lancar jaya kayak dulu pas SMA, tapi gue janji akan selalu nikmatin semua yang gue lakuin dan hadapin selama masa muda gue di dunia kuliah ini dengan baik.&#xA;&#xA;Last, welcome to the new journey of my life.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kenalin, nama gue Ajisaka Wicaksana.</p>

<p>Mungkin sebagian dari kalian udah ada yang kenal sama gue setelah baca kisah cinta gue sebelumnya. Kalo ada yang belom baca, gue gak tau mau saranin kalian buat baca atau engga sih tapi kalo penasaran, ya udah baca aja.</p>

<p>Sekarang, gue udah 2 bulan jadi mahasiswa jurusan Ilmu Komputer. Selama 2 bulan itu juga, banyak hal yang berubah di hidup gue. Kalo sebelumnya gue selalu nemenin mama di rumah tiap malem buat nunggu papa pulang kerja, sekarang udah engga lagi karena gue ngekost di Depok. Sebenernya gue bisa aja sih tetep di rumah, tapi diliat dari kegiatan dan tugas kuliah gue yang bisa bikin kepala botak, gue milih buat ngekost supaya lebih deket dari kampus dan temen-temen sefakultas gue juga.</p>

<p>Oh iya, ngomongin soal temen, Walaupun baru 2 bulan kuliah, gue udah kenal sama banyak orang dan punya banyak temen baru di fakultas gue. Kalo kalian inget, Ajisaka jaman SMA susah temenan sama cewek dan ga punya temen deket cewek. Gue sekarang mau ngumumin kalo Ajisaka yang dulu bukanlah Ajisaka yang sekarang. Soalnya sekarang, dari 3 orang temen deket gue di Fasilkom, 2-nya itu cewek. Menurut gue itu sebuah pencapaian besar buat gue sih karena akhirnya gue punya <em>character development</em> dalam hal perempuan. Dua orang itu namanya Anya dan Kiara. Ditambah 1 orang cowok namanya Zaki tapi gue sama yang lain manggilnya Jaki. Tiga orang ini adalah temen-temen pertama gue di Fasilkom. Kita berempat temenan karena satu kelompok PMB (ospek fakultasnya Fasilkom).</p>

<p>Selain mereka bertiga, gue juga punya banyak temen lain tapi kalo gue sebutin di sini, bukannya nyeritain tentang gue nanti malah jadi kayak absen kehadiran kuliah.</p>

<p>Gue <em>enjoy</em> banget sama kehidupan gue sekarang sebagai mahasiswa. Walaupun tugas-tugasnya selalu datang tanpa diundang setiap minggunya sampe gue kerjaannya begadang, gue tetep bisa nyelesain banyaknya tugas itu bareng temen-temen yang suportif dan saling bantu.</p>

<p>Banyak hal yang berubah di hidup gue bukan berarti semuanya berubah. Masih ada kok yang tetep sama kayak sebelum gue kuliah. Yang pertama itu pertemanan gue sama Hansel dan Syauqi yang masih anget kayak tai kucing baru keluar. Walaupun gue dan Hansel harus LDR sama Syauqi yang sekarang di Bandung, kita tetep selalu saling kasih kabar. Kadang Syauqi ke Jakarta atau gue dan Hansel yang ke Bandung untuk sekadar main.</p>

<p>Hal kedua yang belum berubah di hidup gue adalah perasaan gue ke Aleysha. Gue belom berhasil <em>move on</em> dari cewek yang sekarang lagi <em>living her life in</em> Melbourne itu. Sampe-sampe temen kuliah gue menobatkan gue sebagai duta sadboy-nya Fasilkom. Sebenernya gue ga se-<em>sadboy</em> itu. Kadang <em>sad</em> dikit sih karena suka kangen sama Aleysha kalo lagi keinget tapi selebihnya gue masih oke oke aja (kayaknya).</p>

<p>Untuk sekarang, gue belum ada niatan untuk <em>move on</em> dari Aleysha. <em>I’m still okay to keep my feelings for</em> Aleysha. Gue males aja mikirin urusan hati karena sekarang gue masih ribet ngurusin tugas kuliah.</p>

<p>Gue yakin, suatu saat nanti, gue akan punya alesan kenapa gue harus <em>move on</em> dari Aleysha. Atau mungkin gue akan punya alesan untuk tetep ngejaga perasaan gue ke Aleysha? Ga ada yang tau kedepannya gimana. <em>I’ll just go with the flow</em> dan gue ga sabar buat liat apa yang akan terjadi kedepannya.</p>

<p>Gue tau kehidupan gue yang baru ini gak akan selalu bahagia dan lancar jaya kayak dulu pas SMA, tapi gue janji akan selalu nikmatin semua yang gue lakuin dan hadapin selama masa muda gue di dunia kuliah ini dengan baik.</p>

<p><em>Last, welcome to the new journey of my life.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/introduction</guid>
      <pubDate>Sat, 27 Nov 2021 07:22:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>14. The Two Broken Heart</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/14-the-two-broken-heart?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Suasana lantai 2 salah satu cafe yang terletak di pusat Kota Jakarta itu mulai lengang. Sebelumnya, para panitia melakukan rapat di sana, membahas tentang project teaser Artwar —lomba seni tahunan kampus gue.  Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore, para panitia yang tadi ikut rapat mulai pamit untuk pulang. Kini tersisa kurang dari 10 orang panitia, beberapa di antaranya sedang bersiap untuk pulang.&#xA;&#xA;“Engga pulang lo, Ji?” tanya Anya sambil menenteng laptop berwarna abu-abunya di tangan kanan dan totebag yang tersampir di pundak kiri.&#xA;&#xA;“Engga, entaran dulu gue mau kelarin TP,” jawab Ajisaka yang kini masih duduk di kursi tempat tadi ia mengikuti rapat.&#xA;&#xA;Anya mendengus, “ini malming, Aji. Nantian dulu lah lo jangan ambis gitu, keliatan mirisnya kan malmingan gini masih nugas.” Tangan gadis itu dengan sengaja menutup layar laptop yang berada di hadapan Ajisaka.&#xA;&#xA;“Nanggung, bentar lagi juga kelar. Lo emangnya udah kelar?” tanya Ajisaka&#xA;&#xA;Anya menggeleng sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih, “hehe belom.”&#xA;&#xA;Ajisaka hanya tertawa kecil mendengar jawaban dari temannya itu. &#xA;&#xA;Tugas pemrograman memang makanan pokok bagi mahasiswa Fasilkom UI. Biasanya, setiap 3 minggu sekali akan dirilis soal TP. Karena bobot nilai yang terbilang cukup besar, para mahasiswa harus mengerjakannya secara mandiri dan serius. Ditambah lagi setelah hasil TP dikumpulkan, mahasiswa harus mempresentasikan program yang mereka buat kepada asisten dosen.&#xA;&#xA;“Gue pulang duluan ya, Ji. Nyokap gue udah nyariin gue daritadi, lagi pada ngumpul di rumah nenek,” pamit Anya.&#xA;&#xA;“Oh iya, ati-ati nyetirnya. Jangan ngebut, udah mau malem,” jawab Ajisaka sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal, mengajak Anya untuk tos yang sudah biasa mereka lakukan.&#xA;&#xA;Sebelum Anya beranjak, mata Ajisaka menangkap seorang perempuan di pojok ruangan, “temen lo ga pulang sama lo? Tadi berangkat bareng kan?“ tanya Ajisaka.&#xA;&#xA;Mata Anya mengikuti pandangan Ajisaka ke perempuan tersebut, “Jingga? Engga. Dia katanya mau dijemput sama cowoknya, mau pacaran.”&#xA;&#xA;Ajisaka hanya ber-oh ria.&#xA;&#xA;“Yaudah gue duluan ya, bye Aji. BYE JINGGAA!” seru Anya sambil melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah.&#xA;&#xA;Jingga yang dipanggil oleh Anya tersebut langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphone miliknya.&#xA;&#xA;“Dadah, Anya!” seru gadis itu lalu kembali memainkan handphonenya.&#xA;&#xA;Sedangkan Ajisaka membuka layar laptopnya dan kembali fokus membuka VS Code, mengerjakan tugas pemrograman yang progresnya sudah 70%.&#xA;&#xA;Waktu berlalu dengan cepat, jam reservasi untuk rapat sudah lewat sehingga para pengunjung cafe mulai mengisi meja-meja yang kosong di lantai 2. Sudah 1 jam Ajisaka berkutat sengan tugas pemrogramannya, ia pun meregangkan badannya yang terasa pegal.&#xA;&#xA;Ajisaka menarik lengan sweatshirt abu-abunya hingga siku sebelum akhirnya beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju lantai bawah, hendak memesan minuman yang baru.&#xA;&#xA;Ia kembali ke lantai 2 dengan membawa gelas berisi strawberry milkshake di tangan kanannya. Sebelum ia kembali duduk, ia melihat Jingga yang masih berada di sana.&#xA;&#xA;Ajisaka menyernyitkan dahi.&#xA;&#xA;Bukannya tadi dia mau dijemput cowoknya? Kok masih di sini? batin Ajisaka sambil memandang gadis yang masih memainkan handphonenya.&#xA;&#xA;Ajisaka mengangkat bahunya, enggan untuk melanjutkan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan agenda mengerjakan tugasnya yang sedikit lagi selesai.&#xA;&#xA;Setengah jam berlalu dengan Ajisaka yang berhasil menyelesaikan tugas pemrogramannya. Lelaki itu menghela napas kasar sambil menutup laptopnya.&#xA;&#xA;Pandangannya beralih ke pojok ruangan. Matanya melebar saat ia mendapati Jingga masih berada di sana, setia duduk sambil memainkan handphone-nya. Entah apa yang gadis itu buka sampai-sampai matanya tahan memainkan handphone dari ia mulai mengerjakan TP hingga sekarang TP tersebut sudah selesai.&#xA;&#xA;Setelah merapihkan barang bawaannya, Ajisaka beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri Jingga.&#xA;&#xA;“Oy, Jingga,” panggilnya setelah ia berdiri di depan meja yang sedang ditempati Jingga.&#xA;&#xA;Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya kenapa ia dipanggil.&#xA;&#xA;“Lo gak pulang? Udah satu setengah jam rapatnya kelar. Cowok lo belom jemput?” tanya Ajisaka.&#xA;&#xA;Jingga menyernyitkan dahi, “kok lo tau cowok gue mau jemput?”&#xA;&#xA;“Anya tadi bilang pas gue nanya lo kok gak pulang bareng dia.”&#xA;&#xA;Jingga hanya menganggukkan kepalanya.&#xA;&#xA;“Beneran belom dijemput? Emang janjiannya jam berapa?” tanya Ajisaka lagi.&#xA;&#xA;Jingga memandang Ajisaka yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan heran. Ia heran kenapa cowok ini kepo banget sama urusannya?&#xA;&#xA;“Iya belom.”&#xA;&#xA;“Udah ditanyain posisinya udah sampe mana?“&#xA;&#xA;“Udah tapi belom dijawab.”&#xA;&#xA;“Telfon aja lah,” ucap Ajisaka yang membuat ekspresi wajah Jingga menjadi jutek.&#xA;&#xA;“Kok lo ngurusin banget deh kayaknya? Kenapa? Lo mau nganterin gue pulang kalo gue belom dijemput-jemput cowok gue?” tanya Jingga dengan nada sewot.&#xA;&#xA;Anjir kepedean banget nih cewek batin Ajisaka.&#xA;&#xA;“Yaaa nanya aja. Lagian udah jam segini cowok lu kemana sih? Lama banget. Boong kali tuh dia lagi jalan sama ceweknya yang lain.”&#xA;&#xA;Ucapan Ajisaka membuat Jingga berdiri, “maksud lo apaan anjir ngomong kayak gitu? Ngerasa paling tau soal cowok gue?” ucap Jingga dengan suara lumayan keras sehingga seisi lantai 2 menengok ke arah mereka berdua yang kini berhadapan satu sama lain.&#xA;&#xA;Mata Ajisaka melebar. Ia cukup kaget melihat reaksi Jingga yang di luar dugaannya. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan gadis itu dengan kata-katanya. Ajisaka hanya heran kenapa pacar Jingga ini belum menjemputnya hingga sekarang. Ditambah lagi pacarnya belum memberikan kabar kepada Jingga sedangkan hari sudah malam. Ia sebenarnya tadi berniat ingin pulang tetapi melihat Jingga masih setia menunggu pacarnya yang tak kunjung datang, Ajisaka memilih untuk menunggu hingga gadis itu dijemput oleh pacarnya.&#xA;&#xA;“Eh, santai-santai. Duduk dulu, jangan emosi, tenang dulu,” ucap Ajisaka lalu mengajak Jingga untuk kembali duduk karena kini mereka berdua menjadi pusat perhatian.&#xA;&#xA;“Sorry kalo kata-kata gue tadi ga enak didenger, tapi lo coba tanyain cowok lo lagi. Soalnya udah malem juga nih, kalo emang cowok lo gak bisa jemput, ya sesuai ucapan lo tadi, gue mau nawarin lo buat pulang bareng gue aja.” &#xA;&#xA;Ting&#xA;&#xA;Bunyi notifikasi membuat pandangan keduanya beralih ke handphone Jingga yang berada di atas meja. Gadis itu pun buru-buru membuka roomchat dengan pacarnya.&#xA;&#xA;  Dimas &lt;3&#xA;  Jingga sayang, aku kayaknya ga bisa jemput kamu deh. Dari tadi sore ada urusan mendadak, baru selesai sekarang. Kamu langsung ke GI aja gapapa kan? Maaf banget ya sayang :(&#xA;&#xA;Jingga mencebikkan bibirnya saat membaca pesan dari sang pacar.&#xA;&#xA;  Jingga&#xA;  oke dehhh, aku otw ke sana. kamu udah otw juga kann?&#xA;&#xA;  Dimas &lt;3&#xA;  Iyaa, ini lagi di jalan.&#xA;&#xA;  Jingga&#xA;  Okeeeyy 💖&#xA;&#xA;Pandangannya lalu beralih kepada Ajisaka yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya. Jingga pun mengangkat handphone-nya dan menunjukkan chat dengan sang pacar ke depan wajah Ajisaka.&#xA;&#xA;“Nih, udah nih cowok gue udah ada kabar.”&#xA;&#xA;Mata Ajisaka dengan jeli membaca isi chatnya sebelum akhirnya menaikkan alisnya, “oohhh udah ada kabar nih. Mau nebeng ga? Lo mau ke GI kan?”&#xA;&#xA;Tawaran Ajisaka membuatnya berpikir, mempertimbangkannya.&#xA;&#xA;Setelah beberapa saat ia menimbang-nimbang, ia berdiri sambil membawa tasnya, “ya udah ayo. Gue nebeng.”&#xA;&#xA;Persetan dengan namanya gengsi, tawaran tumpangan gratis seperti ini harus ia manfaatkan daripada ia harus membuang duit memesan taksi online.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tidak ada pembicaraan selama Ajisaka dan Jingga berada di mobil. Hanya ada suara lagu dari playlist milik Ajisaka yang ia setel di speaker mobil.&#xA;&#xA;Ajisaka dan Jingga memang tidak mengenal satu sama lain. Ajisaka baru kemarin tahu bahwa ada mahasiswa UI seangkatannya bernama Jingga yang ternyata merupakan temannya Anya. Sedangkan Jingga sebenarnya sudah lama mengetahui eksistensi Ajisaka. Ia tahu Ajisaka karena Anya sering mem-posting tentang teman-teman satu fakultasnya di story Instagram miliknya. &#xA;&#xA;“Cowok lo udah sampe mana?” tanya Ajisaka.&#xA;&#xA;Jingga melirik Ajisaka dengan pandangan jutek, “gak usah kepo.”&#xA;&#xA;“Yeehh ditanya. Kalo masih lama, gue tungguin sampe cowok lo sampe nih.”&#xA;&#xA;“Engga usah, lo turunin gue di lobby drop off aja,” jawab Jingga.&#xA;&#xA;“Ya udah.”&#xA;&#xA;Keadaan kembali hening. Mobil Ajisaka sudah melaju di sekitar bundaran HI yang berarti sebentar lagi mereka sampai di GI.&#xA;&#xA;Ting&#xA;&#xA;Suara notifikasi handphone Jingga terdengar.&#xA;&#xA;Ting&#xA;&#xA;Ting&#xA;&#xA;Ting&#xA;&#xA;“Eh itu hape lo bunyi mulu buset banyak banget notifnya. Artis ya lo—“&#xA;&#xA;Ucapan Ajisaka terputus saat ia menengok ke arah kursi penumpang, Jingga sedang mematung dengan tangannya memegang handphonenya dan matanya yang berkaca-kaca  melihat ke arah layar handphonenya.&#xA;&#xA;“Jingga? Lo kenapa?” tanyanya sambil melihat Jingga dan jalanan depan secara bergantian.&#xA;&#xA;Bukannya mendapat jawaban, ia malah mendengar suara isakan tangis dari Jingga yang membuat Ajisaka refleks menepikan mobilnya di pinggir jalan. Bodoamat dengan pak polisi yang bisa saja menilangnya, Ajisaka hanya ingin memastikan keadaan Jingga.&#xA;&#xA;“Kenapa nangis woy? Jingga?” tanya Ajisaka masih memegang setir mobil, menatap Jingga dengan wajah panik.&#xA;&#xA;Pandangannya beralih ke handphone Jingga yang terjatuh di pangkuan gadis tersebut. Dengan berhati-hati, ia mengambilnya dan melihat layar handphonenya, memperlihatkan isi roomchat group yang Ajisaka duga ini group perkumpulan teman-temannya Jingga.&#xA;&#xA;  Talitha&#xA;  JINGGA ANJING&#xA;  WOY WOYDIWNDK&#xA;  TEMENNYA GUE LIAT DIMAS DI GI SAMA CEWEK LAIN ANJINGGGGGG&#xA;&#xA;  Kaylee&#xA;  HAHH??? BUKANNYA JINGGA BILANG MAU KE GI SAMA DIMAS??? &#xA;  GIMANA SIH??? BOONG LO ANJIR ITU JINGGA KALI&#xA;&#xA;  Talitha&#xA;  SUMPAH BUKAN JINGGAAA&#xA;&#xA;  Sarah&#xA;  BOONG LO&#xA;&#xA;  Talitha&#xA;  GAK PERCAYAAN BANGET SIH&#xA;  nih gue kirim fotonya yg gue dapet&#xA;  /send a photo/&#xA;&#xA;  Kaylee&#xA;  WHAT THE FUCCKKK&#xA;&#xA;“Anjing???” &#xA;&#xA;Kata umpatan secara tiba-tiba keluar dari mulut Ajisaka setelah membaca isi chat tersebut. Lelaki itu lalu menengok ke arah Jingga, mengecek keadaan gadis itu yang justru tangisannya semakin keras. Sedari tadi Jingga menangis dengan kedua tangannya yang menutup wajah kecilnya.&#xA;&#xA;“Shittt gua harus ngapain ya...” bisik Ajisaka dengan wajah panik.&#xA;&#xA;Seumur hidupnya, ia baru dua kali melihat perempuan menangis di hadapannya. Pertama kali itu saat Aleysha menolaknya mentah-mentah sambil menangis. Yang kedua itu sekarang. Namun, situasi sekarang itu berbeda saat dia melihat Aleysha menangis. Kalau dulu Aleysha langsung pergi sambil menangis jadi ia tidak perlu menghadapinya, sekarang ia terjebak di satu mobil dengan Jingga sehingga ia tidak bisa kabur dari sana.&#xA;&#xA;Ajisaka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Otaknya mendadak berhenti bekerja. Menenangkan perempuan yang menangis itu sudah masuk level tinggi bagi Ajisaka dalam menghadapi perempuan. Ia belum sampai di level itu. &#xA;&#xA;“Jing!” panggil Ajisaka, “anjir aneh banget jing jing kayak manggil anjing tapi beneran jing aduhh jangan nangis dong…” ucap Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.&#xA;&#xA;Tenong neng (anjir ringtone iphone gmn sih)&#xA;&#xA;Suara telfon dari handphoen Jingga. Ajisaka buru-buru mengangkatnya, bodoamat siapapun itu yang menelfon.&#xA;&#xA;“Hal—“&#xA;&#xA;“JINGGA LO GAPAPA?”&#xA;&#xA;Ajisaka menjauhkan handphone itu dari telinganya sebentar, teriakan nyaring seorang perempuan di seberang sana bisa saja membuat gendang telinganya pecah.&#xA;&#xA;“Halo?”&#xA;&#xA;“LO SIAPA ANJIR KOK SUARA COWOK??? LO APAIN JINGGA?”&#xA;&#xA;“eh enggaaa, gue ini panitia sama jingga. gue lagi nganterin dia ke GI tadi katanya janjian sama pacarnya di sana. Tapi ya gitu deh cowoknya…”&#xA;&#xA;“oh…. lo udah tau juga ya. Terus jingga gimana?”&#xA;&#xA;Ajisaka melirik Jingga sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari mobil supaya gadis itu tidak mendengar pembicaraannya. &#xA;&#xA;“nah itu! dia lagi nangis ini gue gak tau harus apa.”&#xA;&#xA;“Aduh nangis pula anjir.”&#xA;&#xA;“lo mau ngomong sama dia?”&#xA;&#xA;“Engga usah, percuma diajak ngomong ga akan didenger sama dia kalo nangis.”&#xA;&#xA;“terus gimana anjir?” tanya Ajisaka dengan nada mulai khawatir sekaligus sedikit panik.&#xA;&#xA;“Mmmmm gapapa nih lo mau bantu?”&#xA;&#xA;“Iya lah gue bantu, nangisnya kan di mobil gue! Masa gue turunin dia di pinggir jalan?”&#xA;&#xA;“Iya sih. Ya udah gini, gue minta tolong sama lo. Jingga itu kalo nangis suka ga bisa mikir otaknya, mau diajak ngomong kayak apapun juga ga bakal didenger. Makanya biasanya nunggu dia sampe tenang dulu baru dia bisa diajak ngomong.”&#xA;&#xA;“Nah biar tenang tuh caranya gimana?”&#xA;&#xA;“Dipeluk…”&#xA;&#xA;“SINTING BANGET, TERUS GUA HARUS MELUK DIA GITU SEKARANG?”&#xA;&#xA;“Iya…”&#xA;&#xA;“ADUH EMANG GA ADA CARA LAIN?”&#xA;&#xA;“Ya kalo mau, lo tunggu sampe dia tenang tapi dia nangis tuh biasanya bisa sampe sejam, belom lagi ini abis diselingkuhin, bisa berjam-jam. Makanya biar cepet tenang, dipeluk aja…”&#xA;&#xA;“KALO GUE DIKIRA NGAPA-NGAPAIN DIA GIMANA?”&#xA;&#xA;“Engga sumpah, dia entar juga lupa kalo lo meluk dia. kalo lagi nangis suka lupa ingatan.”&#xA;&#xA;“GA MAU ANJIR!”&#xA;&#xA;“DARIPADA LO NGANTER DIA PULANG DALAM KEADAAN DIA NANGIS? LEBIH DIKIRA NGAPA NGAPAIN??”&#xA;&#xA;“iya juga sih…”&#xA;&#xA;“Ya udah, tolong ya— eh nama lo siapa?”&#xA;&#xA;“Ajisaka.”&#xA;&#xA;“Oh iya ajisaka, tolong ya gue titip jingga. dia anaknya emang gitu kalo udah nangis suka susah ditenanginnya. Maaf kalo ngerepotin lo. Kalo dia udah tenang, suruh chat gue aja lagi.”&#xA;&#xA;“iya, gapapa. ya udah gue matiin ya.”&#xA;&#xA;Setelah panggilan terputus, Ajisaka kembali ke dalam mobil dan melihat Jingga masih menangis— oh ralat, semakin menangis. Lelaki bertubuh tinggi tersebut menyugar rambutnya ke belakang sebelum akhirnya menepuk pundak Jingga pelan.&#xA;&#xA;“Jingga, udahan dong nangisnya. nanti bundaran HI banjir air mata lo, mau tanggung jawab jing nguras satu bunderan?”&#xA;&#xA;“HUHUHUHUHU SURUH COWOK ANJING ITU AJA YANG NGURAS!”&#xA;&#xA;“Waduh gue ga kenal itu cowok anjing lo itu. Susah mintanya, enakan juga udahan nangisnya biar gue ga usah ketemu dia, nanti mata lo bengkak.”&#xA;&#xA;Tangisan Jingga semakin keras.&#xA;&#xA;Ajisaka menghela napas kasar. Benar kata temannya tadi, Jingga ini memang susah untuk ditenangin dengan kata-kata kalau lagi nangis. &#xA;&#xA;Tangan Ajisaka meraih jaket yang selalu ia taruh di kursi belakang mobilnya. Ia menutup kepala Jingga dengan jaket tersebut hingga dari kepala hingga pundaknya tertutup jaket.&#xA;&#xA;“Gua mau peluk lo, jangan kaget.”&#xA;&#xA;Dengan hati-hati, ia menarik Jingga mendekat ke arahnya. Ia merasakan tubuh Jingga menegang, mungkin terkejut atas aksinya sekarang. Ajisaka merengkuh tubuh mungil Jingga, menaruh kepala gadis tersebut di dadanya. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Jingga sedangkan tangan kirinya mengusap pelan kepalanya. Tangisan Jingga semakin keras setelah Ajisaka memeluknya.&#xA;&#xA;&#34;Kenceng banget nangis lo,&#34; ucap Ajisaka terkekeh sambil menaruh dagunya di kepala Jingga masih dengan tangan kirinya yang menepuk masih mengusap pelan kepala Jingga.&#xA;&#xA;“Iya deh gapapa nangis aja sepuas lo, gue temenin. nanti gue yang tanggung jawab nguras jalanannya kalo bunderan HI banjir air mata lo.”&#xA;&#xA;Pada malam itu, dua hati yang retak bertemu untuk pertama kalinya. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Suasana lantai 2 salah satu cafe yang terletak di pusat Kota Jakarta itu mulai lengang. Sebelumnya, para panitia melakukan rapat di sana, membahas tentang <em>project teaser</em> Artwar —lomba seni tahunan kampus gue.  Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore, para panitia yang tadi ikut rapat mulai pamit untuk pulang. Kini tersisa kurang dari 10 orang panitia, beberapa di antaranya sedang bersiap untuk pulang.</p>

<p>“Engga pulang lo, Ji?” tanya Anya sambil menenteng laptop berwarna abu-abunya di tangan kanan dan <em>totebag</em> yang tersampir di pundak kiri.</p>

<p>“Engga, entaran dulu gue mau kelarin TP,” jawab Ajisaka yang kini masih duduk di kursi tempat tadi ia mengikuti rapat.</p>

<p>Anya mendengus, “ini malming, Aji. Nantian dulu lah lo jangan ambis gitu, keliatan mirisnya kan malmingan gini masih nugas.” Tangan gadis itu dengan sengaja menutup layar laptop yang berada di hadapan Ajisaka.</p>

<p>“Nanggung, bentar lagi juga kelar. Lo emangnya udah kelar?” tanya Ajisaka</p>

<p>Anya menggeleng sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih, “hehe belom.”</p>

<p>Ajisaka hanya tertawa kecil mendengar jawaban dari temannya itu.</p>

<p>Tugas pemrograman memang makanan pokok bagi mahasiswa Fasilkom UI. Biasanya, setiap 3 minggu sekali akan dirilis soal TP. Karena bobot nilai yang terbilang cukup besar, para mahasiswa harus mengerjakannya secara mandiri dan serius. Ditambah lagi setelah hasil TP dikumpulkan, mahasiswa harus mempresentasikan program yang mereka buat kepada asisten dosen.</p>

<p>“Gue pulang duluan ya, Ji. Nyokap gue udah nyariin gue daritadi, lagi pada ngumpul di rumah nenek,” pamit Anya.</p>

<p>“Oh iya, ati-ati nyetirnya. Jangan ngebut, udah mau malem,” jawab Ajisaka sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal, mengajak Anya untuk tos yang sudah biasa mereka lakukan.</p>

<p>Sebelum Anya beranjak, mata Ajisaka menangkap seorang perempuan di pojok ruangan, “temen lo ga pulang sama lo? Tadi berangkat bareng kan?“ tanya Ajisaka.</p>

<p>Mata Anya mengikuti pandangan Ajisaka ke perempuan tersebut, “Jingga? Engga. Dia katanya mau dijemput sama cowoknya, mau pacaran.”</p>

<p>Ajisaka hanya ber-oh ria.</p>

<p>“Yaudah gue duluan ya, <em>bye</em> Aji. <em>BYE</em> JINGGAA!” seru Anya sambil melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah.</p>

<p>Jingga yang dipanggil oleh Anya tersebut langsung mengalihkan pandangannya dari layar <em>handphone</em> miliknya.</p>

<p>“Dadah, Anya!” seru gadis itu lalu kembali memainkan handphonenya.</p>

<p>Sedangkan Ajisaka membuka layar laptopnya dan kembali fokus membuka VS Code, mengerjakan tugas pemrograman yang progresnya sudah 70%.</p>

<p>Waktu berlalu dengan cepat, jam reservasi untuk rapat sudah lewat sehingga para pengunjung cafe mulai mengisi meja-meja yang kosong di lantai 2. Sudah 1 jam Ajisaka berkutat sengan tugas pemrogramannya, ia pun meregangkan badannya yang terasa pegal.</p>

<p>Ajisaka menarik lengan <em>sweatshirt</em> abu-abunya hingga siku sebelum akhirnya beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju lantai bawah, hendak memesan minuman yang baru.</p>

<p>Ia kembali ke lantai 2 dengan membawa gelas berisi <em>strawberry milkshake</em> di tangan kanannya. Sebelum ia kembali duduk, ia melihat Jingga yang masih berada di sana.</p>

<p>Ajisaka menyernyitkan dahi.</p>

<p><em>Bukannya tadi dia mau dijemput cowoknya? Kok masih di sini?</em> batin Ajisaka sambil memandang gadis yang masih memainkan handphonenya.</p>

<p>Ajisaka mengangkat bahunya, enggan untuk melanjutkan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan agenda mengerjakan tugasnya yang sedikit lagi selesai.</p>

<p>Setengah jam berlalu dengan Ajisaka yang berhasil menyelesaikan tugas pemrogramannya. Lelaki itu menghela napas kasar sambil menutup laptopnya.</p>

<p>Pandangannya beralih ke pojok ruangan. Matanya melebar saat ia mendapati Jingga masih berada di sana, setia duduk sambil memainkan <em>handphone</em>-nya. Entah apa yang gadis itu buka sampai-sampai matanya tahan memainkan <em>handphone</em> dari ia mulai mengerjakan TP hingga sekarang TP tersebut sudah selesai.</p>

<p>Setelah merapihkan barang bawaannya, Ajisaka beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri Jingga.</p>

<p>“Oy, Jingga,” panggilnya setelah ia berdiri di depan meja yang sedang ditempati Jingga.</p>

<p>Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya kenapa ia dipanggil.</p>

<p>“Lo gak pulang? Udah satu setengah jam rapatnya kelar. Cowok lo belom jemput?” tanya Ajisaka.</p>

<p>Jingga menyernyitkan dahi, “kok lo tau cowok gue mau jemput?”</p>

<p>“Anya tadi bilang pas gue nanya lo kok gak pulang bareng dia.”</p>

<p>Jingga hanya menganggukkan kepalanya.</p>

<p>“Beneran belom dijemput? Emang janjiannya jam berapa?” tanya Ajisaka lagi.</p>

<p>Jingga memandang Ajisaka yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan heran. Ia heran kenapa cowok ini kepo banget sama urusannya?</p>

<p>“Iya belom.”</p>

<p>“Udah ditanyain posisinya udah sampe mana?“</p>

<p>“Udah tapi belom dijawab.”</p>

<p>“Telfon aja lah,” ucap Ajisaka yang membuat ekspresi wajah Jingga menjadi jutek.</p>

<p>“Kok lo ngurusin banget deh kayaknya? Kenapa? Lo mau nganterin gue pulang kalo gue belom dijemput-jemput cowok gue?” tanya Jingga dengan nada sewot.</p>

<p><em>Anjir kepedean banget nih cewek</em> batin Ajisaka.</p>

<p>“Yaaa nanya aja. Lagian udah jam segini cowok lu kemana sih? Lama banget. Boong kali tuh dia lagi jalan sama ceweknya yang lain.”</p>

<p>Ucapan Ajisaka membuat Jingga berdiri, “maksud lo apaan anjir ngomong kayak gitu? Ngerasa paling tau soal cowok gue?” ucap Jingga dengan suara lumayan keras sehingga seisi lantai 2 menengok ke arah mereka berdua yang kini berhadapan satu sama lain.</p>

<p>Mata Ajisaka melebar. Ia cukup kaget melihat reaksi Jingga yang di luar dugaannya. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan gadis itu dengan kata-katanya. Ajisaka hanya heran kenapa pacar Jingga ini belum menjemputnya hingga sekarang. Ditambah lagi pacarnya belum memberikan kabar kepada Jingga sedangkan hari sudah malam. Ia sebenarnya tadi berniat ingin pulang tetapi melihat Jingga masih setia menunggu pacarnya yang tak kunjung datang, Ajisaka memilih untuk menunggu hingga gadis itu dijemput oleh pacarnya.</p>

<p>“Eh, santai-santai. Duduk dulu, jangan emosi, tenang dulu,” ucap Ajisaka lalu mengajak Jingga untuk kembali duduk karena kini mereka berdua menjadi pusat perhatian.</p>

<p>“<em>Sorry</em> kalo kata-kata gue tadi ga enak didenger, tapi lo coba tanyain cowok lo lagi. Soalnya udah malem juga nih, kalo emang cowok lo gak bisa jemput, ya sesuai ucapan lo tadi, gue mau nawarin lo buat pulang bareng gue aja.”</p>

<p><em>Ting</em></p>

<p>Bunyi notifikasi membuat pandangan keduanya beralih ke handphone Jingga yang berada di atas meja. Gadis itu pun buru-buru membuka <em>roomchat</em> dengan pacarnya.</p>

<blockquote><p><strong>Dimas &lt;3</strong>
Jingga sayang, aku kayaknya ga bisa jemput kamu deh. Dari tadi sore ada urusan mendadak, baru selesai sekarang. Kamu langsung ke GI aja gapapa kan? Maaf banget ya sayang :(</p></blockquote>

<p>Jingga mencebikkan bibirnya saat membaca pesan dari sang pacar.</p>

<blockquote><p> <strong>Jingga</strong>
oke dehhh, aku otw ke sana. kamu udah otw juga kann?</p>

<p><strong>Dimas &lt;3</strong>
Iyaa, ini lagi di jalan.</p>

<p><strong>Jingga</strong>
Okeeeyy 💖</p></blockquote>

<p>Pandangannya lalu beralih kepada Ajisaka yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya. Jingga pun mengangkat <em>handphone</em>-nya dan menunjukkan <em>chat</em> dengan sang pacar ke depan wajah Ajisaka.</p>

<p>“Nih, udah nih cowok gue udah ada kabar.”</p>

<p>Mata Ajisaka dengan jeli membaca isi chatnya sebelum akhirnya menaikkan alisnya, “oohhh udah ada kabar nih. Mau nebeng ga? Lo mau ke GI kan?”</p>

<p>Tawaran Ajisaka membuatnya berpikir, mempertimbangkannya.</p>

<p>Setelah beberapa saat ia menimbang-nimbang, ia berdiri sambil membawa tasnya, “ya udah ayo. Gue nebeng.”</p>

<p>Persetan dengan namanya gengsi, tawaran tumpangan gratis seperti ini harus ia manfaatkan daripada ia harus membuang duit memesan taksi online.</p>

<hr/>

<p>Tidak ada pembicaraan selama Ajisaka dan Jingga berada di mobil. Hanya ada suara lagu dari <em>playlist</em> milik Ajisaka yang ia setel di <em>speaker</em> mobil.</p>

<p>Ajisaka dan Jingga memang tidak mengenal satu sama lain. Ajisaka baru kemarin tahu bahwa ada mahasiswa UI seangkatannya bernama Jingga yang ternyata merupakan temannya Anya. Sedangkan Jingga sebenarnya sudah lama mengetahui eksistensi Ajisaka. Ia tahu Ajisaka karena Anya sering mem-<em>posting</em> tentang teman-teman satu fakultasnya di <em>story</em> Instagram miliknya.</p>

<p>“Cowok lo udah sampe mana?” tanya Ajisaka.</p>

<p>Jingga melirik Ajisaka dengan pandangan jutek, “gak usah kepo.”</p>

<p>“Yeehh ditanya. Kalo masih lama, gue tungguin sampe cowok lo sampe nih.”</p>

<p>“Engga usah, lo turunin gue di <em>lobby drop off</em> aja,” jawab Jingga.</p>

<p>“Ya udah.”</p>

<p>Keadaan kembali hening. Mobil Ajisaka sudah melaju di sekitar bundaran HI yang berarti sebentar lagi mereka sampai di GI.</p>

<p><em>Ting</em></p>

<p>Suara notifikasi <em>handphone</em> Jingga terdengar.</p>

<p><em>Ting</em></p>

<p><em>Ting</em></p>

<p><em>Ting</em></p>

<p>“Eh itu hape lo bunyi mulu buset banyak banget notifnya. Artis ya lo—“</p>

<p>Ucapan Ajisaka terputus saat ia menengok ke arah kursi penumpang, Jingga sedang mematung dengan tangannya memegang handphonenya dan matanya yang berkaca-kaca  melihat ke arah layar handphonenya.</p>

<p>“Jingga? Lo kenapa?” tanyanya sambil melihat Jingga dan jalanan depan secara bergantian.</p>

<p>Bukannya mendapat jawaban, ia malah mendengar suara isakan tangis dari Jingga yang membuat Ajisaka refleks menepikan mobilnya di pinggir jalan. Bodoamat dengan pak polisi yang bisa saja menilangnya, Ajisaka hanya ingin memastikan keadaan Jingga.</p>

<p>“Kenapa nangis woy? Jingga?” tanya Ajisaka masih memegang setir mobil, menatap Jingga dengan wajah panik.</p>

<p>Pandangannya beralih ke <em>handphone</em> Jingga yang terjatuh di pangkuan gadis tersebut. Dengan berhati-hati, ia mengambilnya dan melihat layar handphonenya, memperlihatkan isi roomchat group yang Ajisaka duga ini group perkumpulan teman-temannya Jingga.</p>

<blockquote><p><strong>Talitha</strong>
JINGGA ANJING
WOY WOYDIWNDK
TEMENNYA GUE LIAT DIMAS DI GI SAMA CEWEK LAIN ANJINGGGGGG</p>

<p><strong>Kaylee</strong>
HAHH??? BUKANNYA JINGGA BILANG MAU KE GI SAMA DIMAS???
GIMANA SIH??? BOONG LO ANJIR ITU JINGGA KALI</p>

<p><strong>Talitha</strong>
SUMPAH BUKAN JINGGAAA</p>

<p><strong>Sarah</strong>
BOONG LO</p>

<p><strong>Talitha</strong>
GAK PERCAYAAN BANGET SIH
nih gue kirim fotonya yg gue dapet
/send a photo/</p>

<p><strong>Kaylee</strong>
WHAT THE FUCCKKK</p></blockquote>

<p>“Anjing???”</p>

<p>Kata umpatan secara tiba-tiba keluar dari mulut Ajisaka setelah membaca isi <em>chat</em> tersebut. Lelaki itu lalu menengok ke arah Jingga, mengecek keadaan gadis itu yang justru tangisannya semakin keras. Sedari tadi Jingga menangis dengan kedua tangannya yang menutup wajah kecilnya.</p>

<p>“<em>Shittt</em> gua harus ngapain ya...” bisik Ajisaka dengan wajah panik.</p>

<p>Seumur hidupnya, ia baru dua kali melihat perempuan menangis di hadapannya. Pertama kali itu saat Aleysha menolaknya mentah-mentah sambil menangis. Yang kedua itu sekarang. Namun, situasi sekarang itu berbeda saat dia melihat Aleysha menangis. Kalau dulu Aleysha langsung pergi sambil menangis jadi ia tidak perlu menghadapinya, sekarang ia terjebak di satu mobil dengan Jingga sehingga ia tidak bisa kabur dari sana.</p>

<p>Ajisaka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Otaknya mendadak berhenti bekerja. Menenangkan perempuan yang menangis itu sudah masuk level tinggi bagi Ajisaka dalam menghadapi perempuan. Ia belum sampai di level itu.</p>

<p>“Jing!” panggil Ajisaka, “anjir aneh banget jing jing kayak manggil anjing tapi beneran jing aduhh jangan nangis dong…” ucap Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.</p>

<p>Tenong neng (anjir ringtone iphone gmn sih)</p>

<p>Suara telfon dari handphoen Jingga. Ajisaka buru-buru mengangkatnya, bodoamat siapapun itu yang menelfon.</p>

<p>“Hal—“</p>

<p><em>“JINGGA LO GAPAPA?”</em></p>

<p>Ajisaka menjauhkan handphone itu dari telinganya sebentar, teriakan nyaring seorang perempuan di seberang sana bisa saja membuat gendang telinganya pecah.</p>

<p>“Halo?”</p>

<p><em>“LO SIAPA ANJIR KOK SUARA COWOK??? LO APAIN JINGGA?”</em></p>

<p>“eh enggaaa, gue ini panitia sama jingga. gue lagi nganterin dia ke GI tadi katanya janjian sama pacarnya di sana. Tapi ya gitu deh cowoknya…”</p>

<p><em>“oh…. lo udah tau juga ya. Terus jingga gimana?”</em></p>

<p>Ajisaka melirik Jingga sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari mobil supaya gadis itu tidak mendengar pembicaraannya.</p>

<p>“nah itu! dia lagi nangis ini gue gak tau harus apa.”</p>

<p><em>“Aduh nangis pula anjir.”</em></p>

<p>“lo mau ngomong sama dia?”</p>

<p><em>“Engga usah, percuma diajak ngomong ga akan didenger sama dia kalo nangis.”</em></p>

<p>“terus gimana anjir?” tanya Ajisaka dengan nada mulai khawatir sekaligus sedikit panik.</p>

<p><em>“Mmmmm gapapa nih lo mau bantu?”</em></p>

<p>“Iya lah gue bantu, nangisnya kan di mobil gue! Masa gue turunin dia di pinggir jalan?”</p>

<p><em>“Iya sih. Ya udah gini, gue minta tolong sama lo. Jingga itu kalo nangis suka ga bisa mikir otaknya, mau diajak ngomong kayak apapun juga ga bakal didenger. Makanya biasanya nunggu dia sampe tenang dulu baru dia bisa diajak ngomong.”</em></p>

<p>“Nah biar tenang tuh caranya gimana?”</p>

<p><em>“Dipeluk…”</em></p>

<p>“SINTING BANGET, TERUS GUA HARUS MELUK DIA GITU SEKARANG?”</p>

<p><em>“Iya…”</em></p>

<p>“ADUH EMANG GA ADA CARA LAIN?”</p>

<p><em>“Ya kalo mau, lo tunggu sampe dia tenang tapi dia nangis tuh biasanya bisa sampe sejam, belom lagi ini abis diselingkuhin, bisa berjam-jam. Makanya biar cepet tenang, dipeluk aja…”</em></p>

<p>“KALO GUE DIKIRA NGAPA-NGAPAIN DIA GIMANA?”</p>

<p><em>“Engga sumpah, dia entar juga lupa kalo lo meluk dia. kalo lagi nangis suka lupa ingatan.”</em></p>

<p>“GA MAU ANJIR!”</p>

<p><em>“DARIPADA LO NGANTER DIA PULANG DALAM KEADAAN DIA NANGIS? LEBIH DIKIRA NGAPA NGAPAIN??”</em></p>

<p>“iya juga sih…”</p>

<p><em>“Ya udah, tolong ya— eh nama lo siapa?”</em></p>

<p>“Ajisaka.”</p>

<p><em>“Oh iya ajisaka, tolong ya gue titip jingga. dia anaknya emang gitu kalo udah nangis suka susah ditenanginnya. Maaf kalo ngerepotin lo. Kalo dia udah tenang, suruh chat gue aja lagi.”</em></p>

<p>“iya, gapapa. ya udah gue matiin ya.”</p>

<p>Setelah panggilan terputus, Ajisaka kembali ke dalam mobil dan melihat Jingga masih menangis— oh ralat, semakin menangis. Lelaki bertubuh tinggi tersebut menyugar rambutnya ke belakang sebelum akhirnya menepuk pundak Jingga pelan.</p>

<p>“Jingga, udahan dong nangisnya. nanti bundaran HI banjir air mata lo, mau tanggung jawab jing nguras satu bunderan?”</p>

<p>“HUHUHUHUHU SURUH COWOK ANJING ITU AJA YANG NGURAS!”</p>

<p>“Waduh gue ga kenal itu cowok anjing lo itu. Susah mintanya, enakan juga udahan nangisnya biar gue ga usah ketemu dia, nanti mata lo bengkak.”</p>

<p>Tangisan Jingga semakin keras.</p>

<p>Ajisaka menghela napas kasar. Benar kata temannya tadi, Jingga ini memang susah untuk ditenangin dengan kata-kata kalau lagi nangis.</p>

<p>Tangan Ajisaka meraih jaket yang selalu ia taruh di kursi belakang mobilnya. Ia menutup kepala Jingga dengan jaket tersebut hingga dari kepala hingga pundaknya tertutup jaket.</p>

<p>“Gua mau peluk lo, jangan kaget.”</p>

<p>Dengan hati-hati, ia menarik Jingga mendekat ke arahnya. Ia merasakan tubuh Jingga menegang, mungkin terkejut atas aksinya sekarang. Ajisaka merengkuh tubuh mungil Jingga, menaruh kepala gadis tersebut di dadanya. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Jingga sedangkan tangan kirinya mengusap pelan kepalanya. Tangisan Jingga semakin keras setelah Ajisaka memeluknya.</p>

<p>“Kenceng banget nangis lo,” ucap Ajisaka terkekeh sambil menaruh dagunya di kepala Jingga masih dengan tangan kirinya yang menepuk masih mengusap pelan kepala Jingga.</p>

<p>“Iya deh gapapa nangis aja sepuas lo, gue temenin. nanti gue yang tanggung jawab nguras jalanannya kalo bunderan HI banjir air mata lo.”</p>

<p>Pada malam itu, dua hati yang retak bertemu untuk pertama kalinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/14-the-two-broken-heart</guid>
      <pubDate>Wed, 24 Nov 2021 14:50:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>How it ends</title>
      <link>https://bataraily.writeas.com/how-it-ends?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sore itu, langit seakan mendukung agenda pertemuan Ajisaka dan Aleysha. Awalnya Ajisaka khawatir bahwa hujan akan turun saat nanti pergi ke Ancol karena sejak pagi, langit terlihat mendung. Namun, sesampainya Ajisaka di tepi pantai, ia tersenyum lebar melihat langit yang kembali terang.&#xA;&#xA;Sebenarnya, janji temunya dengan Aleysha itu pukul 17.00 WIB tetapi Ajisaka sudah lebih dulu menikmati angin Pantai Ancol setengah jam lebih cepat.&#xA;&#xA;“Ajisaka.”&#xA;&#xA;Lelaki yang sedang duduk di atas hamparan pasir itu membuka matanya saat namanya dipanggil.&#xA;&#xA;“Oh, udah dateng. Hai,” sapa Ajisaka sambil berdiri di hadapan Aleysha.&#xA;&#xA;“Udah lama nunggunya?”&#xA;&#xA;Ajisaka menggeleng cepat, “engga kok. Baru banget 10 menit yang lalu dateng,” ucapnya berbohong.&#xA;&#xA;Wajah Aleysha tampak gusar, ia tidak berani menatap Ajisaka yang ada di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya kasar sambil berusaha menenangkan dirinya yang semakin gugup.&#xA;&#xA;“Sambil jalan aja mau ga?” tawar Ajisaka.&#xA;&#xA;Tawaran tersebut dibalas dengan anggukan pelan dari Aleysha. Keduanya lalu berjalan bersisian menyusuri pantai.&#xA;&#xA;“Lo apa kabar?” tanya Ajisaka, “eh maksudnya, persiapan pindahan lo gimana? Udah aman?”&#xA;&#xA;“Udah. Tadi terakhir buat ngurus segala macem, abis ini tinggal berangkat aja,” jawab Aleysha.&#xA;&#xA;Ajisaka menganggukkan kepalanya. Kakinya sedari tadi tidak bisa diam, menendang-nendang pasir.&#xA;&#xA;“Lo ke sini naik apa, Cha?”&#xA;&#xA;“Mobil. Tadi dianter kakak gue.”&#xA;&#xA;“Nanti pulangnya gimana?”&#xA;&#xA;“Sama kakak gue juga kok, dia nunggu di sini sambil ngerjain kerjaan kantornya.”&#xA;&#xA;“Oohhh, kalo Cili gimana kabarnya? Suka jamuran kayak dulu gitu ga? Inget banget gue ketemu dia pas di petshop itu galak bang—“&#xA;&#xA;“Ajisaka, why do you act like nothing happened between us?”&#xA;&#xA;Pertanyaan Ajisaka terpotong oleh ucapan Aleysha. Gadis itu berhenti dan memberanikan diri menatap manik mata Ajisaka yang sekarang terkejut.&#xA;&#xA;Ajisaka mengerjapkan matanya pelan, “Cha-“&#xA;&#xA;“Dua hari yang lalu, gue secara terang-terangan nolak perasaan lo dan ninggalin lo gitu aja. Kenapa lo masih mau ketemu sama gue? Kenapa lo masih bisa nanyain kabar orang yang nyakitin hati lo? Kenapa lo ga nunjukkin amarah lo ke gue? Kenapa lo masih baik sama gue?”&#xA;&#xA;Aleysha mengucapkan itu semua dengan nada yang tenang tetapi Ajisaka bisa merasakan jeritan di setiap kata yang gadis itu lontarkan.&#xA;&#xA;Ajisaka melangkah mendekat dan memandang Aleysha yang kini berdiri dengan menundukkan kepalanya.&#xA;&#xA;“Cha, lo kenapa?” ucapnya sambil membungkukkan badannya untuk dapat melihat wajah Aleysha.&#xA;&#xA;“Aji, gue lebih pengen lo benci gue daripada lo sekarang baik ke gue dengan nanyain gue kenapa. Rasa bersalah gue makin banyak liat lo masih bisa baik ke gue.”&#xA;&#xA;Ajisaka terkekeh mendengar ucapan Aleysha. Ia lalu meraih tangan kanan Aleysha dan menggeggamnya erat sambil membawa gadis itu untuk lanjut berjalan di sisinya.&#xA;&#xA;Napas Aleysha tersentak, ia terkejut sampai-sampai ia tidak bisa berbuat atau berkata apapun.&#xA;&#xA;“Aleysha, lo ga perlu ngerasa bersalah kayak gitu. Kan yang milih buat suka sama lo itu gue. Kalo gue ditolak atau diterima, itu urusan gue. Lo berhak buat ga bales perasaan gue.”&#xA;&#xA;“Lo juga berhak buat marah sama gue karena gue nyakitin lo,” ucap Aleysha.&#xA;&#xA;Ajisaka menghentikan langkahnya, membuat Aleysha juga berhenti. Keduanya diselimuti keheningan dengan tangan sang lelaki yang masih setia menggenggam milik sang perempuan.&#xA;&#xA;Keduanya kini telah berdiri di jembatan kayu yang dibuat panjang mengelilingi bagian dangkal pantai.&#xA;&#xA;“Gue ga pernah naro dendam ke orang lain, Cha. Gue ga bisa marah ke orang lain. Apalagi kalo marahnya ke orang yang gue sayang,” ucap Ajisaka, “jadi stop minta gue buat marah ke lo karena itu mustahil.”&#xA;&#xA;Ajisaka melepas genggaman tangannya lalu berjalan mendekat ke pagar jembatan kayu tersebut. Ia menatap ke arah laut yang terbentang di hadapannya. &#xA;&#xA;“Tau ga sih, Cha, cara gue buat ngubah hal-hal di hidup gue yang menurut gue rasanya bikin sedih, kecewa, marah jadi sesuatu yang bikin seneng?”&#xA;&#xA;Tanpa disadari, Aleysha sudah berdiri di samping kirinya ikut memandang laut lepas.&#xA;&#xA;Dari ekor mata Ajisaka, ia melihat gadis itu menggeleng pelan.&#xA;&#xA;“Tiap gue dihadapin dengan rasa sedih, kecewa, marah, khawatir, gue selalu nyari sisi baik dari apa yang lagi gue alamin.”&#xA;&#xA;“Maksudnya?”&#xA;&#xA;“Contohnya sekarang. Jujur, gue juga ngerasa sedih dan kecewa pas tau lo ga bisa ngebales perasaan gue. Rasanya kayak pait banget. Tapi makin ke sini, gue makin bisa nerima itu semua. Gue bilang ke diri sendiri, kalo kemarin lo bales perasaan gue, pasti gue bakal ngerasain yang namanya patah hati belakangan dan menurut gue, ngerasain patah hati nanti-nantian tuh lebih parah.”&#xA;&#xA;Ajisaka menatap Aleysha yang masih memfokuskan pandangannya ke laut di hadapannya, “nah, akhirnya gue seneng deh. Seenggaknya gue tau dari sekarang, oh gini rasanya patah hati.”&#xA;&#xA;Ucapan Ajisaka membuat Aleysha menyernyitkan dahi dan menatap balik lelaki itu, “aneh. Lo patah hati tapi bisa-bisanya seneng?”&#xA;&#xA;Ajisaka tertawa pelan, “loh justru itu tujuannya. Recycle yang pait-pait jadi seneng.”&#xA;&#xA;Aleysha tersenyum kecil, “tetep aneh.”&#xA;&#xA;“HAHAH Ya udah berarti tips and trick gue ga mempan di lo. At least gue udah ngasih tau lo gimana cara gue nyenengin diri gue kalo lagi marah, sedih, atau kecewa.”&#xA;&#xA;“Thanks buat tips and tricknya, mungkin itu bakal berguna nanti di masa depan.”&#xA;&#xA;Setelah itu, keduanya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing dengan pandangan yang masih tertuju kepada laut lepas dan langit yang perlahan mulai meredup.&#xA;&#xA;“Cha, makasih ya udah bikin gue jatuh cinta sama lo. Makasih juga udah bikin gue ngerasain rasanya ditolak dan patah hati,” ucapan Ajisaka terhenti sejenak, “gue ngomong gini serius. Selama ini gue penasaran rasanya jatuh cinta tuh gimana sih? Rasanya kasmaran dan deg degan nunggu balessn chat dari orang yang ditaksir tuh gimana? Atau rasanya galau karena gebetan lo nge-friendzone-in? Soalnya gue belom pernah ngerasain itu.”&#xA;&#xA;Ajisaka berdiri menghadap Aleysha, “dan akhirnya gue bisa ngerasain itu sekarang. Gue ngerasa udah official jadi manusia normal yang pernah naksir sama orang.”&#xA;&#xA;Aleysha ikut menghadap Ajisaka yang sekarang sedang menatap manik matanya dengan dalam.&#xA;&#xA;“Aji, lo orang yang baik banget. Gue belom pernah ketemu orang sebaik lo. Makasih banyak udah jatuh cinta sama gue, it makes me feel special to be loved by you. Apalagi gue sebagai first love. Makasih banyak buat waktunya selama 2 bulan terakhir. I cherish it a lot. Dan maaf juga karena harus pergi dari lo.”&#xA;&#xA;Senyum di wajah Ajisaka mengembang, ia maju selangkah dan merentangkan kedua tangannya, membawa tubuh mungil Aleysha ke dalam pelukannya.&#xA;&#xA;“This is my first and last chance to hug you. Tolong kayak gini sebentar aja.”&#xA;&#xA;Aleysha mengangguk pelan. Ia membalas pelukan tersebut.&#xA;&#xA;Hening. Keduanya sama-sama diam. Keduanya memeluk satu sama lain dengan erat seakan-akan tidak ada hari esok untuk bisa seperti ini (kenyataannya memang tidak ada hari esok untuk mereka berdua). Ajisaka menaruh wajahnya di ceruk leher Aleysha sedangkan Aleysha dengan nyaman menyenderkan kepalanya di dada Ajisaka.&#xA;&#xA;“Aleysha, gua harap lo bisa selalu bahagia setelah ini. Tolong jangan pergi dengan rasa bersalah.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, Ajisaka melepas pelukan tersebut dengan pelan. Ia menatap manik mata Aleysha sambil memegang kedua bahu gadis itu, “masih ngerasa bersalah sama gue ga sekaeang?&#xA;&#xA;Aleysha tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.&#xA;&#xA;“Good,” ucap Ajisaka sambil mengusap kepala Aleysha pelan.&#xA;&#xA;Lelaki itu menghela napas lalu menatap langit yang mulai berwarna jingga.&#xA;&#xA;“Ajisaka, makasih banyak. Semoga lo bisa dipertemukan sama orang yang bisa tulus ngebales perasaan lo di masa depan,” tutur Aleysha.&#xA;&#xA;Senyuman masih tercetak jelas di wajah Ajisaka saat mendengar ucapan Aleysha tersebut.&#xA;&#xA;Kini keduanya sama-sama memandangi hamparan laut dan langit yang warnanya semakin jingga, tanda bahwa matahari mulai tenggelam.&#xA;&#xA;“Aleysha,” panggil Ajisaka.&#xA;&#xA;“Yaa?”&#xA;&#xA;“The sunset is beautiful, isn’t it?”&#xA;&#xA;  ”the sunset is beautiful, isn’t it?” means “i love you, but i’m letting you go” but in a beautiful way. sunset is beautiful, but we can’t force it to stay like that, the sun must go down because that’s how it work. same as someone we loved but they doesnt love us back, we can’t force them to stay.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu, langit seakan mendukung agenda pertemuan Ajisaka dan Aleysha. Awalnya Ajisaka khawatir bahwa hujan akan turun saat nanti pergi ke Ancol karena sejak pagi, langit terlihat mendung. Namun, sesampainya Ajisaka di tepi pantai, ia tersenyum lebar melihat langit yang kembali terang.</p>

<p>Sebenarnya, janji temunya dengan Aleysha itu pukul 17.00 WIB tetapi Ajisaka sudah lebih dulu menikmati angin Pantai Ancol setengah jam lebih cepat.</p>

<p>“Ajisaka.”</p>

<p>Lelaki yang sedang duduk di atas hamparan pasir itu membuka matanya saat namanya dipanggil.</p>

<p>“Oh, udah dateng. Hai,” sapa Ajisaka sambil berdiri di hadapan Aleysha.</p>

<p>“Udah lama nunggunya?”</p>

<p>Ajisaka menggeleng cepat, “engga kok. Baru banget 10 menit yang lalu dateng,” ucapnya berbohong.</p>

<p>Wajah Aleysha tampak gusar, ia tidak berani menatap Ajisaka yang ada di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya kasar sambil berusaha menenangkan dirinya yang semakin gugup.</p>

<p>“Sambil jalan aja mau ga?” tawar Ajisaka.</p>

<p>Tawaran tersebut dibalas dengan anggukan pelan dari Aleysha. Keduanya lalu berjalan bersisian menyusuri pantai.</p>

<p>“Lo apa kabar?” tanya Ajisaka, “eh maksudnya, persiapan pindahan lo gimana? Udah aman?”</p>

<p>“Udah. Tadi terakhir buat ngurus segala macem, abis ini tinggal berangkat aja,” jawab Aleysha.</p>

<p>Ajisaka menganggukkan kepalanya. Kakinya sedari tadi tidak bisa diam, menendang-nendang pasir.</p>

<p>“Lo ke sini naik apa, Cha?”</p>

<p>“Mobil. Tadi dianter kakak gue.”</p>

<p>“Nanti pulangnya gimana?”</p>

<p>“Sama kakak gue juga kok, dia nunggu di sini sambil ngerjain kerjaan kantornya.”</p>

<p>“Oohhh, kalo Cili gimana kabarnya? Suka jamuran kayak dulu gitu ga? Inget banget gue ketemu dia pas di petshop itu galak bang—“</p>

<p>“Ajisaka, <em>why do you act like nothing happened between us</em>?”</p>

<p>Pertanyaan Ajisaka terpotong oleh ucapan Aleysha. Gadis itu berhenti dan memberanikan diri menatap manik mata Ajisaka yang sekarang terkejut.</p>

<p>Ajisaka mengerjapkan matanya pelan, “Cha-“</p>

<p>“Dua hari yang lalu, gue secara terang-terangan nolak perasaan lo dan ninggalin lo gitu aja. Kenapa lo masih mau ketemu sama gue? Kenapa lo masih bisa nanyain kabar orang yang nyakitin hati lo? Kenapa lo ga nunjukkin amarah lo ke gue? Kenapa lo masih baik sama gue?”</p>

<p>Aleysha mengucapkan itu semua dengan nada yang tenang tetapi Ajisaka bisa merasakan jeritan di setiap kata yang gadis itu lontarkan.</p>

<p>Ajisaka melangkah mendekat dan memandang Aleysha yang kini berdiri dengan menundukkan kepalanya.</p>

<p>“Cha, lo kenapa?” ucapnya sambil membungkukkan badannya untuk dapat melihat wajah Aleysha.</p>

<p>“Aji, gue lebih pengen lo benci gue daripada lo sekarang baik ke gue dengan nanyain gue kenapa. Rasa bersalah gue makin banyak liat lo masih bisa baik ke gue.”</p>

<p>Ajisaka terkekeh mendengar ucapan Aleysha. Ia lalu meraih tangan kanan Aleysha dan menggeggamnya erat sambil membawa gadis itu untuk lanjut berjalan di sisinya.</p>

<p>Napas Aleysha tersentak, ia terkejut sampai-sampai ia tidak bisa berbuat atau berkata apapun.</p>

<p>“Aleysha, lo ga perlu ngerasa bersalah kayak gitu. Kan yang milih buat suka sama lo itu gue. Kalo gue ditolak atau diterima, itu urusan gue. Lo berhak buat ga bales perasaan gue.”</p>

<p>“Lo juga berhak buat marah sama gue karena gue nyakitin lo,” ucap Aleysha.</p>

<p>Ajisaka menghentikan langkahnya, membuat Aleysha juga berhenti. Keduanya diselimuti keheningan dengan tangan sang lelaki yang masih setia menggenggam milik sang perempuan.</p>

<p>Keduanya kini telah berdiri di jembatan kayu yang dibuat panjang mengelilingi bagian dangkal pantai.</p>

<p>“Gue ga pernah naro dendam ke orang lain, Cha. Gue ga bisa marah ke orang lain. Apalagi kalo marahnya ke orang yang gue sayang,” ucap Ajisaka, “jadi stop minta gue buat marah ke lo karena itu mustahil.”</p>

<p>Ajisaka melepas genggaman tangannya lalu berjalan mendekat ke pagar jembatan kayu tersebut. Ia menatap ke arah laut yang terbentang di hadapannya.</p>

<p>“Tau ga sih, Cha, cara gue buat ngubah hal-hal di hidup gue yang menurut gue rasanya bikin sedih, kecewa, marah jadi sesuatu yang bikin seneng?”</p>

<p>Tanpa disadari, Aleysha sudah berdiri di samping kirinya ikut memandang laut lepas.</p>

<p>Dari ekor mata Ajisaka, ia melihat gadis itu menggeleng pelan.</p>

<p>“Tiap gue dihadapin dengan rasa sedih, kecewa, marah, khawatir, gue selalu nyari sisi baik dari apa yang lagi gue alamin.”</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Contohnya sekarang. Jujur, gue juga ngerasa sedih dan kecewa pas tau lo ga bisa ngebales perasaan gue. Rasanya kayak pait banget. Tapi makin ke sini, gue makin bisa nerima itu semua. Gue bilang ke diri sendiri, kalo kemarin lo bales perasaan gue, pasti gue bakal ngerasain yang namanya patah hati belakangan dan menurut gue, ngerasain patah hati nanti-nantian tuh lebih parah.”</p>

<p>Ajisaka menatap Aleysha yang masih memfokuskan pandangannya ke laut di hadapannya, “nah, akhirnya gue seneng deh. Seenggaknya gue tau dari sekarang, oh gini rasanya patah hati.”</p>

<p>Ucapan Ajisaka membuat Aleysha menyernyitkan dahi dan menatap balik lelaki itu, “aneh. Lo patah hati tapi bisa-bisanya seneng?”</p>

<p>Ajisaka tertawa pelan, “loh justru itu tujuannya. <em>Recycle</em> yang pait-pait jadi seneng.”</p>

<p>Aleysha tersenyum kecil, “tetep aneh.”</p>

<p>“HAHAH Ya udah berarti <em>tips and trick</em> gue ga mempan di lo. At least gue udah ngasih tau lo gimana cara gue nyenengin diri gue kalo lagi marah, sedih, atau kecewa.”</p>

<p>“Thanks buat tips and tricknya, mungkin itu bakal berguna nanti di masa depan.”</p>

<p>Setelah itu, keduanya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing dengan pandangan yang masih tertuju kepada laut lepas dan langit yang perlahan mulai meredup.</p>

<p>“Cha, makasih ya udah bikin gue jatuh cinta sama lo. Makasih juga udah bikin gue ngerasain rasanya ditolak dan patah hati,” ucapan Ajisaka terhenti sejenak, “gue ngomong gini serius. Selama ini gue penasaran rasanya jatuh cinta tuh gimana sih? Rasanya kasmaran dan deg degan nunggu balessn chat dari orang yang ditaksir tuh gimana? Atau rasanya galau karena gebetan lo nge-friendzone-in? Soalnya gue belom pernah ngerasain itu.”</p>

<p>Ajisaka berdiri menghadap Aleysha, “dan akhirnya gue bisa ngerasain itu sekarang. Gue ngerasa udah <em>official</em> jadi manusia normal yang pernah naksir sama orang.”</p>

<p>Aleysha ikut menghadap Ajisaka yang sekarang sedang menatap manik matanya dengan dalam.</p>

<p>“Aji, lo orang yang baik banget. Gue belom pernah ketemu orang sebaik lo. Makasih banyak udah jatuh cinta sama gue, it makes me feel special to be loved by you. Apalagi gue sebagai <em>first love</em>. Makasih banyak buat waktunya selama 2 bulan terakhir. <em>I cherish it a lot</em>. Dan maaf juga karena harus pergi dari lo.”</p>

<p>Senyum di wajah Ajisaka mengembang, ia maju selangkah dan merentangkan kedua tangannya, membawa tubuh mungil Aleysha ke dalam pelukannya.</p>

<p>“<em>This is my first and last chance to hug you</em>. Tolong kayak gini sebentar aja.”</p>

<p>Aleysha mengangguk pelan. Ia membalas pelukan tersebut.</p>

<p>Hening. Keduanya sama-sama diam. Keduanya memeluk satu sama lain dengan erat seakan-akan tidak ada hari esok untuk bisa seperti ini (kenyataannya memang tidak ada hari esok untuk mereka berdua). Ajisaka menaruh wajahnya di ceruk leher Aleysha sedangkan Aleysha dengan nyaman menyenderkan kepalanya di dada Ajisaka.</p>

<p>“Aleysha, gua harap lo bisa selalu bahagia setelah ini. Tolong jangan pergi dengan rasa bersalah.”</p>

<p>Setelah itu, Ajisaka melepas pelukan tersebut dengan pelan. Ia menatap manik mata Aleysha sambil memegang kedua bahu gadis itu, “masih ngerasa bersalah sama gue ga sekaeang?</p>

<p>Aleysha tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.</p>

<p>“Good,” ucap Ajisaka sambil mengusap kepala Aleysha pelan.</p>

<p>Lelaki itu menghela napas lalu menatap langit yang mulai berwarna jingga.</p>

<p>“Ajisaka, makasih banyak. Semoga lo bisa dipertemukan sama orang yang bisa tulus ngebales perasaan lo di masa depan,” tutur Aleysha.</p>

<p>Senyuman masih tercetak jelas di wajah Ajisaka saat mendengar ucapan Aleysha tersebut.</p>

<p>Kini keduanya sama-sama memandangi hamparan laut dan langit yang warnanya semakin jingga, tanda bahwa matahari mulai tenggelam.</p>

<p>“Aleysha,” panggil Ajisaka.</p>

<p>“Yaa?”</p>

<p>“The sunset is beautiful, isn’t it?”</p>

<blockquote><p>”the sunset is beautiful, isn’t it?” means “i love you, but i’m letting you go” but in a beautiful way. sunset is beautiful, but we can’t force it to stay like that, the sun must go down because that’s how it work. same as someone we loved but they doesnt love us back, we can’t force them to stay.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bataraily.writeas.com/how-it-ends</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Oct 2021 13:47:37 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>