Gue selalu suka nonton pertandingan basket. Walaupun gue gak bisa main basket, seenggaknya gue paham istilah-istilah dan peraturan main dalam dunia perbasketan ini. Semua itu berkat adik laki-laki dan ayah gue yang selalu mengajak gue untuk menjadi penonton 1-on-1 match mereka setiap hari minggu pagi setelah kami sekeluarga selesai jogging. Jadi, gak mengherankan kalau gue berteriak penuh api semangat sejak pertandingan final DBL East Region antara sekolah gue dan sma lain dimulai.

“FOUL WOY FOUL!!!” teriak gue.

“Mal minum dulu, Mal. Tenggorokan lu sakit nanti,” ucap teman gue yang sejak tadi justru lebih mengkhawatirkan pita suara gue daripada menang-kalah pertandingan yang ada di depan mata. Gue pun meraih botol minum yang disodorkan olehnya tanpa mengalihkan perhatian dari bola basket yang kini hendak dilempar ke dalam ring basket. Dan ketika bola tersebut berhasil masuk, riuh teriakan pun pecah di bagian tribun suporter sekolah kami.

Suporter sekolah kami pun mulai kembali menyanyikan ultras kebangaan kami dengan diiringi suara perkusi yang menggelegar seantero GOR Pulogadung. Walaupun gue hafal hampir keseluruhan lirik ultras tersebut, gue lebih memilih untuk berteriak secara asal pada momen-momen penting selama bola basket tersebut masih terus diperebutkan. Mata gue berpindah ke papan skor.

71- 64

Gue menghela napas kasar melihat skor tersebut. Skor sekolah kami memang lebih besar dan ini adalah quarter terakhir. Namun, masih ada sisa waktu 5 menit hingga pertandingan selesai. Dalam waktu 5 menit tersebut, banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Kemungkinannya 1) Sekolah kami mempertahankan kedudukan, atau 2) Sekolah lawan membalap skor yang hanya berselisih 7 poin tersebut.

Gue mulai merasa lemas di sisa-sisa 5 menit ini, berharap skenario terburuk yang ada di kepala gue tidak menjadi kenyataan. Gue pun merasa seperti berkeringat dingin sejak tadi. Perasaan gugup menguasai diri gue sekarang. Rasanya seperti ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perut gue.

Lalu, sekolah kami kembali mencetak three point yang membuat gue berteriak sekencang mungkin hingga anak-anak sekolah gue menengok ke arah gue. Cukup memalukan sehingga gue pun menundukkan kepala sejenak. Setelah merasa perhatian mereka telah teralihkan, gue kembali memfokuskan perhatian ke arah lapangan. Pandangan gue pun tidak sengaja terjatuh kepada seorang cowok dengan baju basket nomor punggung 05 yang kini juga sedang menatap gue.

Kaelan.

Lelaki itu menatap gue selama beberapa saat sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu kepada gue yang membuat gue reflek membaca gerakan bibirnya.

“Jelek lo,” ucap dia dengan memasang wajah tengil sebelum akhirnya melemparkan senyum meledek kepada gue.

Seharusnya gue merasa kesal dengan ejekkan Kaelan itu. Seharusnya gue balik mengejek dia. Tetapi justru tubuh gue mendadak membeku. Detak jantung gue terasa lebih kencang dari sebelumnya. Pandangan gue masih tertuju pada Kaelan yang kini kembali bermain di lapangan. Gue baru menyadari eksistensi Kaelan sebagai pemain dalam pertandingan ini setelah kejadian tadi. Kaelan yang kini memakai baju basket, berbeda ketika gue melihat dia sehari-hari dengan seragam putih abu-abunya. Kaelan yang sekarang tampak berbeda.

Jersey basket dengan nomor punggung 05 inisial KAEL dan celana pendek se-lutut itu terlihat sangat cocok dikenakan oleh Kaelan. Rambutnya yang cukup panjang dan basah terkena keringat itu terlihat berantakan. Sesekali ia menyisir surat rambutnya itu ke belakang menggunakan tangan kirinya. Kakinya yang panjang itu lincah bergerak kesana-kemari sambil membawa bola basket di tangannya. Ia berdiri di posisinya sekarang dengan tangan kanan yang men-dribble bola basketnya dan tangan kirinya menghadang lawan. Wajahnya fokus melihat sekitar sebelum akhirnya melempar bola tersebut kepada kawannya di seberang. Lalu ia berlari mendekati ring basket dan meminta bola kembali sebelum akhirnya ia berhasil mencetak 2 poin.

Sesaat setelah Kaelan berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket, teriakan dari suporter sekolah kami kembali memenuhi GOR Pulogadung ini. Seharusnya, gue pun ikut berteriak, bahkan seharusnya yang paling kencang di antara yang lain. Namun, sebelum itu terjadi, napas gue tercekat ketika Kaelan menengok ke arah gue. Pandangan mata kami berdua kembali bertemu. Sambil menatap gue, dia memberikan senyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih itu dan menggerakkan dagunya ke atas sebelum akhirnya beberapa kawan timnya menghampirinya untuk melakukan selebrasi kecil. Dan selama sisa beberapa menit pertandingan itu, gue menjadi kesulitan untuk fokus menonton pertandingan.


Sekolah kami menang dengan skor akhir 76- 68.

Kaelan mencetak 5 skor di 5 menit terakhir. Setelah sebelumnya dia memberikan 2 skor lalu dengan anehnya melemparkan senyum yang (menurut gue) sekilas cukup berkarisma, dia balik melakukan three-point secara dramatis di 10 detik terakhir pertandingan. Momen dramatis tersebut diakhiri (lagi) dengan Kaelan yang kembali mencari keberadaan gue. Namun, kali kedua ini, dia melemparkan senyum “tengil”-nya yang sering ia tunjukkan setiap hari di kelas dan sukses membuat gue menyernyit lalu berpura-pura mau muntah setelahnya. Kaelan yang melihat itu hanya tertawa-tawa sebelum akhirnya ditarik oleh salah satu kawan tim basketnya untuk melakukan selebrasi kemenangan.

Gue masih setia berdiri di tribun penonton bersama teman-teman gue yang lain. Suasana kemenangan di GOR Pulogadung masih sangat terasa. Semua warga sekolah gue masih merayakan kemenangan ini. Gue pun turut merasa berbahagia karena sekolah kami bisa maju ke babak Championship Series DKI Jakarta. Dari atas tribun, gue bisa melihat dengan jelas momen-momen yang terjadi di lapangan saat ini. Tim basket sekolah kami sedang bersalaman dengan tim basket sekolah lawan. Setelah itu mereka kembali melakukan selebrasi kemenangan. Bukan hanya anak-anak basket saja yang ikut meramaikan suasana kemenangan di lapangan, anak-anak modern dance sekolah kami pun juga berada di sana. Mereka juga ikut berfoto bersama tim basket dengan posisi menghadap ke tribun.

Mata gue pun menangkap dua orang yang entah kenapa menarik perhatian gue.

Kaelan dan Nadia.

Keduanya berdiri bersisian dengan tangan kanan Kaelan merangkul Nadia. Tinggi mereka jauh berbeda sehingga Nadia terlihat sangat mungil di samping Kaelan yang setinggi galah bambu. Setelah melakukan sesi foto bersama, Kaelan pun membawa Nadia ke dalam pelukannya. Kejadian tersebut menyebabkan riuh di tengah lapangan. Keduanya pun menjadi pusat perhatian. Lalu setelah itu gue tidak tahu apa lagi yang terjadi di antara keduanya karena teman gue mengajak gue keluar untuk pulang dan mencari makan malam.

Malam itu, gue meninggalkan GOR Pulogadung dengan perasaan campur aduk yang sulit gue pahami. Seharusnya gue merasa bahagia karena sekolah kami menang tapi entah kenapa ada yang mengganjal di hati gue. Sesuatu hal aneh yang membuat gue menghela napas keras selagi melangkahkan kaki menuju parkiran mobil.