Ajisaka dan Sang Mama

“Mamaaaaa! Aji pulaanggg,” ucap Ajisaka sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

Hari Senin ini, Ajisaka baru saja pulang setelah seharian main bersama Hansel dan Syauqi. Sebenarnya Syauqi sih yang mengajak mereka untuk menemaninya belajar di luar, katanya dia hampir gila belajar untuk ujian-ujian mandiri.

“Mbak, mama di manaa?” tanyanya kepada pembantu keluarganya yang sedang makan di dapur, “oh iya mba masak apaaa? Aji udah makan sih tapi kalo mba masak, Aji mau dong.”

Lelaki bertubuh jangkung itu berjalan ke meja makan dan membuka tudung saji, “YAAAH kok sayur begini.”

“Ibuk tadi minta dimasakkin itu, ibuk tadi habis makan langsung balik ke kamar,” ucap pembantunya.

“Pantesan, ya udah Aji ke atas ya, mba. Ati-ati di bawah sendirian suka ada yang nemenin,” goda Ajisaka lalu bergegas lari ke lantai dua sebelum ia kena lemparan kain lap oleh pembantunya.

tok tok tok

“Mamaaa! Aji mau masukk.”

Hening.

Tidak ada jawaban dari sang mama, akhirnya lelaki itu membuka kenop pintunya pelan dan terkejut saat melihat mamanya yang sudah tertidur lelap.

Ajisaka menyernyitkan dahi, “perasaan baru jam 9 deh kok udah tidur aja?” ucapnya lalu berjalan perlahan ke arah kasur. Pelan-pelan ia ikut menidurkan badannya dan memeluk tubuh kecil mamanya.

“Katanya mau ditemenin tapi udah keburu tidur,” ucapnya lalu ikut memejamkan matanya.

Sadar sedang dipeluk, mamanya terbangun dan memukul pelan pundak anak bungsunya itu, “HEH! Bikin kaget aja kamu, dek! Main tidur aja pula, ini baju abis dipake keluar, ke mana-mana malah langsung tidur di kasur. Mandi dulu sama ganti baju dulu!”

“Bentaaarrr, 2 menit lagi,” jawab Ajisaka masih dengan memeluk manja mamanya dengan kedua matanya yang terpejam.

“Bangun! Mandi dulu!”

“Aduh iya iya,” Ajisaka langsung bergegas berdiri saat mamanya tidak henti menepuk pundaknya, “jangan tidur lagi. Ajisaka mau cerita.”

“Iyaa mandi dulu dekkk, bau asem kamu,” jawab mamanya.

“FITNAAHH!”


Setelah bergegas mandi dan memakai baju rumah, Ajisaka kembali ke kamar mama papanya lagi dengan membawa guling kecil kesayangan miliknya yang kalau tidak ada guling tersebut, maka Ajisaka tidak bisa tidur.

Mama Irni, iya nama mamanya Ajisaka itu Irni. Mama Irni sekarang sedang menonton drama korea di kasur dengan Ajisaka di sampingnya yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh menceritakan tentang apa saja yang ia lakukan hari itu.

Setiap malam jika papanya belum pulang, Ajisaka memang selalu menemani mama Irni di kamar. Ajisaka akan bercerita tentang rekapan kegiatannya hari itu.

“Terus ya ma, pas lagi seneng-seneng selesai dari Sea World tiba-tiba ratusan notif masuk ke handphone Aji. Soalnya kan di dalem sana ga ada sinyal ya, begitu keluar langsung kayak kena bombardir. Aji gak tau kalo ternyata rapat prom dimajuin jadi jam 1. Ya udah akhirnya Aji ngebut ke tempat rapat! Takut banget nabrak untungnya selamat,” cerita Ajisaka yang sekarang sedang memakan yoghurt stroberi.

Ajisaka baru saja menceritakan kejadian hari Sabtu kemarin. Ia memang belum sempat bercerita kepada mamanya.

“Temen cewek adek gimana? Ikut ke sana juga?”

“Iyaa, rencana awalnya kan abis selesai, ya dianter pulang. Tapi ga sempet mam kalo Aji anter pulang dulu. Aji keburu dicakar-cakar sama Tasya. Mama tau kan Tasya? Yang Aji bilang galak tapi baik. Yang pernah ngomelin cowok-cowok angkatan Aji.”

“Tauu, tapi temen cewek kamu— eh namanya siapa dek tadi?”

“Aleysha mam, Echa kalo udah deket. Kalo mama Aleysha aja soalnya belom deket hehe,” Ajisaka menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Aleysha ini pulang naik apa?”

“Naik gocar.”

Mama Irni menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menepuk pelan kaki Ajisaka, “udah minta maaf ke Aleysha?”

Ajisaka menundukkan wajahnya, tau bahwa apa yang dia lakukan memang salah kepada Aleysha, “udah kok mam. Aji udah minta maaf.”

“Lain kali jangan kayak begitu lagi, dek. Apalagi adek ngajak jalan perempuan, tandanya adek punya tanggung jawab buat menjaga dia.”

“Iyaa, itu pertama dan terakhir. Aji juga ga enak sama Echa.”

Setelah mendengar perkataan anak bungsunya, Mama Irni menatap Ajisaka dengan pandangan curiga. Sadar sedang ditatap, Ajisaka yang masih menyendokkan yoghurt ke mulutnya lalu menaikkan kedua alisnya, “kenapa liatin Aji kayak gitu?”

“Echa?” tanya Mama Irni.

“Iya Echa kenapa?”

“Echa atau Aleysha nihh?”

Wajah Ajisaka seketika merah padam, ia salah tingkah sampai-sampai ia lupa di mana letak tong sampah di kamar tersebut saat hendak membuang bungkus yoghurtnya.

“Echaaa?” ledek Mama Irni lagi.

“MAAAA! Aji kan deket sama Echa temenan gitu, ya jelas mangilnya Echa dongg biar lebih cepet!” sangkal Aji yang sekarang sudah menutup wajahnya dengan guling kecilnya.

“Ya ga usah malu gitu dong dek. Mama kan cuma nanya,” ucap Mama Irni.

“Ga malu, orang ngantuk.”

“Yah padahal Mama mau nanya lagi tapi adek keburu ngantuk.”

Ucapan Mama Irni membuat Ajisaka menyingkirkan guling kecil dari wajahnya dan buru-buru duduk yang sebelumnya tiduran.

“Apa mau nanya apa?”

Mama Irni menatap wajah Ajisaka dengan serius. Sedangkan Ajisaka menatap mamanya dengan pandangan penasaran sekaligus menanti pertanyaan yang akan dilontarkan mamanya.

“Kamu suka sama Aleysha ya?”

“ASTAGAAA!” teriak Ajisaka lalu balik menutup wajahnya dengan guling kecil.

“Nah kalo tingkahnya gini sih beneran suka. Adek kan ga pernah cerita tentang perempuan sebelumnya ke mama,” ucap Mama Irni sambil mengusak-usak rambut anak bungsunya itu.

Masih dengan wajah tertutup, Ajisaka angkat bicara, “tapi mama jangan cerita-cerita ke papa sama bang nakul ya. Rahasia kita berdua aja!” ucapnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya kepada mamanya.

“Terus adek mau cerita ke papa sama abang kapan? Pas udah pacaran?”

“Iya eh- MAMAAAAAAA! STOP LEDEKIN AJIIII!!!!”

Teriakan Ajisaka disambut tawa kencang dari mamanya.