45.
Sejujurnya, Ajisaka sedikit heran dengan dirinya yang tiba-tiba ingin melihat kucing milik teman barunya yang ingin dimandikan.
“Gue ngapain ya mau liat kucingnya? Random banget tapi bosen juga kalo bengong nungguin mama,” ucapnya yang tengah duduk di kursi kemudi.
Mobilnya telah terparkir di parkiran petshop yang tadi Aleysha beri tahu setelah Ajisaka meminta share locationnya. Ajisaka meletakkan dagunya di atas kemudinya, “terus nanti gue harus ngomong apa pas ketemu Aleysha?” ucapnya kepada diri sendiri.
Ajisaka menegakkan badannya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Halo Aleysha!”
“Anjir sok akrab banget lo, Ji, kalo kayak gitu.”
“Hey,” ucapnya sambil melambaikan tangannya pelan.
“NAJIS HEY HEY HEY caca marica hey hey aja sekalian dah gue.”
“Aleysha, apa kabar?”
Ajisaka mengidikkan bahunya pelan, “engga engga. Ga banget dah lo, Ajisaka kalo kayak gitu.”
Lelaki bertubuh jangkung itu akhirnya keluar dari mobilnya setelah mematikan mesin mobil.
“Ga tau deh liat aja nanti di otak gue keluar kata-kata apa,” lalu ia melangkah masuk ke dalam petshop tersebut.
Saat di dalam, ia langsung disambut oleh keberadaan Aleysha yang tengah memainkan handphonenya dengan sebuah tas besar berwarna hitam di sampingnya. Ajisaka mematung sejenak di pintu masuk karena jantungnya yang berdetak sangat cepat.
“Anjir apa kabur aja ya gue ga jadi liat,” ucapnya dalam hati.
Tapi sebelum Ajisaka melangkahkan kakinya mundur-
“Ajisaka! Lo ngapain diem di pintu gitu? Sini masuk!” panggil Aleysha saat menyadari kehadiran lelaki yang sekarang tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berjalan pelan menghampiri Aleysha.
“Mba, ini temen saya yang mau ikut ke dalem udah dateng. Langsung digrooming aja sekarang,” ucap Aleysha sambil berdiri dan mengangkat tas hitam di sampingnya.
“Kucingnya mana?” tanya Ajisaka dengan wajah bingung.
Aleysha mengangkat tas hitam di tangannya dan mendekatkannya ke depan wajah Ajisaka, “Cilinya di siniiii!”
Ajisaka mundur selangkah saat di hadapan wajahnya kini terdapat seekor kucing berwarna krem yang tengah memasang wajah garangnya saat melihat Ajisaka.
“Wow ini serius kucing? Kok galak banget mukanya,” ucap Ajisaka sambil menutupi wajahnya agar si kucing tidak melihatnya dengan ekspresi garang lagi.
“Iyalah kucing! Ada-ada aja lo, nih bawa cili ke dalem.”
“Lah lo ga ikut masuk?” tanya Ajisaka.
“Ngapain? Gue ga pernah ikut masuk tiap cili grooming. Nungguinnya di sini.”
Ajisaka terdiam sejenak, “ya udah kali ini lo ikut masuk. Aneh banget nanti gue kayak bocah nyasar.”
Aleysha terkekeh pelan, “oke tapi ini lo yang bawa. Katanya lo mau liat kucing kesurupan kan?”
Ajisaka menyesali kenapa ia terang-terangan bilang ke perempuan di depannya kalau dia mau liat kucing kesurupan. Iya memang dia mau tapi seharusnya tadi bisa pakai bahasa yang lebih normal.
Sambil mengerutkan hidung, Ajisaka membawa tas berisi Cili-nama kucing aleysha- dengan perlahan.
“Berat juga ya ini kucing lo,” ucap Ajisaka sambil menaik turunkan tas hitam yang ia bawa.
Aleysha hanya tersenyum kecil menanggapi celetukan Ajisaka.
Setelah itu, sepanjang melihat proses grooming, Ajisaka menampakkan wajah heran sekaligus tertegun. Menurut Aleysha, Ajisaka seperti anak TK yang sedang kunjungan wisata ke ternak sapi dan melihat sapi diperah.
“Mas, santai aja kali liatinnya, kayak ga pernah liat kucing aja,” goda Aleysha saat Ajisaka melihat Cili sedang dipotong kukunya dengan mulut sedikit terbuka.
“Emang ga pernah liat.”
“EH MAKSUDNYA GA PERNAH LIAT KUCING POTONG KUKU!” koreksi Ajisaka.
Lalu ia refleks melihat jari kukunya, memastikan apakah kukunya sudah panjang.
“Itu kukunya dipotong biar ga nyakar pas dimandiin,” jelas Aleysha.
“Cili pernah nyakar pas lagi mandi?” tanya Ajisaka sambil menengok ke arah Aleysha.
“Hmmm pernah tapi udah lama banget pas dia lagi bete.”
“KUCING BISA BETE???” seru Ajisaka lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sadar suaranya terlalu keras. Bahkan Cili sampai terlonjak mendengar teriakan Ajisaka.
Tawa Aleysha pecah melihat kelakuan teman barunya yang sepertinya baru pertama kali mendengar hal-hal tentang kucing.
“Bisaaaa! Hari ini Cili agak bete soalnya kayaknya sih dia jamuran,” jawab Aleysha.
Kali ini Ajisaka memilih tidak merespon dengan suara, terlalu banyak hal. baru yang ia tahu hari ini tentang kucing. Ia bahkan baru tahu kucing bisa bete.
“Meoooweerr.”
“MEOOOOWWWRRR.”
“MEEOOOWW.”
“Anjir beneran kesurupan,” ucap Ajisaka saat Cili mulai agresif saat hendak dimandikan.
Ajisaka lalu mengeluarkan handphonenya lalu merekam kejadian langka yang ada di depan matanya saat ini.
“Iya Cili mandi dulu ya sebentar aja kok,” ucap mba petshop yang memandikan Cili.
Namun bukannya tenang, Cili makin agresif dan mulai mencoba untuk mencakar.
“Aduh bener kan. Tadi tuh dia emang udah bete. Pas ngeliatin lo juga galak banget kan, Ji?” tanya Aleysha dengan wajah mulai panik.
“Waduh kok dia panik, jadi takut nih,” batin Ajisaka.
Aleysha lalu mendekat ke Cili dan mengusap Cili dengan lembut, “Cili kesel ya? Cili bete ya?”
“Meoonggg.”
Ajisaka terdiam sambil melihat interaksi dua makhluk di depannya ini.
“Iyaa, echa tau. Tapi Cili harus mandi. Kemarin kan Cili abis main-main keluar rumah sampe kotor,” ucap Aleysha sambil menatap Cili dan mengelus kepalanya dengan lembut.
“Meoongg.”
Ajisaka tertegun melihat cara Aleysha berbicara dengan kucingnya. Ia baru pertama kali melihat komunikasi antara manusia dan kucing seperti ini.
“Oke abis mandi nanti echa beliin makanan yang banyak ya?”
“Meoonggg.”
“Yeyy oke mandi dulu!” ucap Aleysha lalu menyuruh mba petshop untuk segera memandikan Cili.
Mata Ajisaka membesar saat percobaan selanjutnya memandikan Cili, kucing buntal itu lebih tenang dan mau untuk dimandikan. Ia lalu menatap Aleysha dengan wajah tertegun.
“Kenapa?” tanya Aleysha saat ditatap oleh Ajisaka.
“Itu lo tadi beneran ngobrol sama dia?”
Aleysha hanya mengangguk sambil menahan senyumnya saat melihat wajah Ajisaka yang ekspresinya sekarang sangat lucu.
“Kok bisa?”
“Bisa, coba aja lo ajak ngobrol dia. Panggil Ciliiii gitu.”
“Beneran ga?”
“Iyaa coba aja.”
Jawaban dari Aleysha membuat Ajisaka tertantang dan berjalan mendekat ke arah Cili yang sedang dimandikan. Ia membungkuk untuk mendekatkan wajahnya ke Cili.
“Halo cili. Seger ga mandi gini?”
“MMEEEOWAARRR”
“ANJIR KOK MAU NYAKAR SIH LO!” pekik Ajisaka sambil bergegas mundur menjauhi Cili.
Sepertinya pertemuan pertama Ajisaka dan Cili tidak terlalu bagus. Kesan pertama Ajisaka di mata Cili lebih tepatnya yang tidak bagus.
Namun, bagi Ajisaka, pertemuan keduanya dengan Aleysha ini menimbulkan perasaan yang berbeda. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang menggelitik di perutnya saat tadi melihat Aleysha mengobrol dengan Cili. Seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya saat sekrang melihat Aleysha menertawakannya setelah tadi hampir dicakar oleh kucing miliknya.