26.

“Siapa lagi yang belom dateng?” tanya kak Indra yang sedari tadi sibuk kesana kemari mengurus persiapan kegiatan hari ini.

“GUE KAK GUE!” seru seorang laki-laki bertubuh tinggi yang kini sedang berlari mendekat dengan tas kamera hitam yang ia sampirkan di pundak kirinya.

Semua pandangan tertuju padanya, tak terkecuali Jingga yang sedang touch up make up-nya.

“Wahhh ngaret nih parah,” canda Kak Indra.

Ajisaka tersenyum menunjukkan deretan gigi rapihnya, “sorry kak gue tadi nganterin nyokap dulu dadakan.” Ia melihat sekelilingnya, “belom mulai kan?”

“Belom kok, masih pada siap-siap.”

Ajisaka menganggukkan kepalanya, pandangannya lalu terjatuh kepada Anya dan Jingga yang sedang duduk menghadap danau.

Pagi ini, kurang lebih 15 orang panitia UI Art War sedang berkumpul di dekat perpustakaan UI. Mereka yang bertugas dalam pembuatan teaser video UI Art War hari ini hendak melakukan shooting yang telah dipersiapkan selama 2 minggu ke belakang.

Ajisaka merupakan staff dari divisi dokumentasi dan videografi sehingga ia bertugas dalam pengambilan video teaser opening UI Art War. Sedangkan Jingga dan Anya merupakan staff dari cabang lomba seni, Jingga dengan lomba teater dan Anya dengan lomba solo vokal. Namun, keduanya ditunjuk untuk menjadi “aktris” dalam teaser video ini.

“Selamat pagi Anyeliirrrr!” sapa Ajisaka yang sekarang berdiri di samping kiri Anya.

“Stop iseng panggil gue Anyelir! Anehhh!” protes Anya sambil memukul lengan Ajisaka.

Ajisaka terkekeh lalu pandangannya beralih kepada Jingga yang kini memainkan handphone-nya.

“Pagi, Jingga,” sapa Ajisaka yang membuat Jingga menoleh ke arah laki-laki itu dengan senyuman kaku.

“Pagi,” sapa Jingga pelan.

Jingga lalu mengalihkan pandangannya ke danau dengan ekspresi wajah yang datar. Sejujurnya, gadis itu masih sedikit malu dan enggan untuk bertemu lagi dengan Ajisaka sejak insiden seminggu yang lalu. Ditambah lagi obrolan tidak langsung mereka melalui Anya yang berakhir kurang baik karena Jingga memanggil Ajisaka “freak” membuatnya semakin tidak ingin bertemu laki-laki itu.

Jingga pikir Ajisaka akan membahas lagi kejadian itu, tetapi ternyata Ajisaka seperti hilang ingatan dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.

“Guys! Mulai aja yuk shooting-nya biar cepet selesai!” ucapan Kak Indra membuyarkan lamunan Jingga.

Jingga menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari duduknya. Dirinya hanya perlu melewatkan beberapa jam ke depan bersama Ajisaka. Setelah itu, mereka bisa berpisah layaknya dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain. Ya, seperti itu. Ia harus bisa melewati hari ini.