238.
“Nih telen nih rokok 12 batang.”
Ajisaka dengan refleks yang bagus menangkap satu kotak rokok yang barusan Hansel lempar ke arahnya.
Ia terkekeh, “hehe makasih ya my 911 call.”
“Geli.”
Asap rokok mulai hadir mengisi keheningan di antara dua lelaki yang telah bersahabat sejak di bangku SMP itu.
“Echa pindah tanggal 10 juni,” Ajisaka membuka suara setelah menghembuskan asap dari mulutnya.
Ucapan Ajisaka membuat Hansel melebarkan kedua matanya, “hah? Bentar lagi dong anjir?”
Ajisaka mengangguk pelan, “emang. Tadi gue confess ke dia tapi ditolak mentah-mentah. Katanya dia ga bisa bales perasaan gue. Dia bilang dia ga mau kalo gue ngerasain LDR. Selama ini dia maunya temenan doang sama gue.”
Tawa Hansel pecah setelah itu.
“Kenapa ketawa anjir?” tanya Ajisaka.
“Lo tuh beneran goblok ya soal ginian,” Hansel mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap dan menatap Ajisaka yang ada di hadapannya dengan wajah serius, “dia tuh juga suka sama lo. Tapi pasti dia ga mau ngasih tau lo.”
“Kenapa dia ga mau?”
“Ya kalo dia bilang, lo bakal mikir ada kesempatan buat tetep deket sama dia walaupun dia udah pindah nanti. Dia mau lo stop naksir dia dengan cara itu.”
Ajisaka hanya terdiam setelah itu. Ia hanya menghela napas kasar sambil terus menghisap tembakau yang berada di tangannya.
“Gimana rasanya, Ji?”
“Apa?”
“Patah hati. Mantep ga?”
Kalau Ajisaka memiliki tenaga lebih untuk sekarang, mungkin ia akan menonjok wajah sahabatnya itu setelah kata-kata yang ia lontarkan.
“Pait rasanya,” jawab Ajisaka singkat.
“Pait atau asem? Keknya asem dah sampe balik ngerokok lagi,” ledek Hansel.
Ajisaka menatap Hansel dengan pandangan sinis, “lo ke sini mau nemenin gue atau mau ngeledekin gue dah?”
Hansel hanya menangkat bahu.
Sedangkan Ajisaka mulai menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya. Mata Hansel terbelalak saat ia mendengar isakan kecil dari Ajisaka.
“LAHHHH? LO NANGIS Ji?” ucap Hansel dengan nada terkejut.
Bukannya mendapat jawaban dari kawannya tersebut, isakan Ajisaka semakin terdengar membuat Hansel bingung harus berbuat apa.
“Anjir yaudah lah nangis aja. Gue temenin.”
Dan malam itu, tangisan Ajisaka pecah bersamaan dengan hatinya yang retak.