14. The Two Broken Heart
Suasana lantai 2 salah satu cafe yang terletak di pusat Kota Jakarta itu mulai lengang. Sebelumnya, para panitia melakukan rapat di sana, membahas tentang project teaser Artwar —lomba seni tahunan kampus gue. Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore, para panitia yang tadi ikut rapat mulai pamit untuk pulang. Kini tersisa kurang dari 10 orang panitia, beberapa di antaranya sedang bersiap untuk pulang.
“Engga pulang lo, Ji?” tanya Anya sambil menenteng laptop berwarna abu-abunya di tangan kanan dan totebag yang tersampir di pundak kiri.
“Engga, entaran dulu gue mau kelarin TP,” jawab Ajisaka yang kini masih duduk di kursi tempat tadi ia mengikuti rapat.
Anya mendengus, “ini malming, Aji. Nantian dulu lah lo jangan ambis gitu, keliatan mirisnya kan malmingan gini masih nugas.” Tangan gadis itu dengan sengaja menutup layar laptop yang berada di hadapan Ajisaka.
“Nanggung, bentar lagi juga kelar. Lo emangnya udah kelar?” tanya Ajisaka
Anya menggeleng sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih, “hehe belom.”
Ajisaka hanya tertawa kecil mendengar jawaban dari temannya itu.
Tugas pemrograman memang makanan pokok bagi mahasiswa Fasilkom UI. Biasanya, setiap 3 minggu sekali akan dirilis soal TP. Karena bobot nilai yang terbilang cukup besar, para mahasiswa harus mengerjakannya secara mandiri dan serius. Ditambah lagi setelah hasil TP dikumpulkan, mahasiswa harus mempresentasikan program yang mereka buat kepada asisten dosen.
“Gue pulang duluan ya, Ji. Nyokap gue udah nyariin gue daritadi, lagi pada ngumpul di rumah nenek,” pamit Anya.
“Oh iya, ati-ati nyetirnya. Jangan ngebut, udah mau malem,” jawab Ajisaka sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal, mengajak Anya untuk tos yang sudah biasa mereka lakukan.
Sebelum Anya beranjak, mata Ajisaka menangkap seorang perempuan di pojok ruangan, “temen lo ga pulang sama lo? Tadi berangkat bareng kan?“ tanya Ajisaka.
Mata Anya mengikuti pandangan Ajisaka ke perempuan tersebut, “Jingga? Engga. Dia katanya mau dijemput sama cowoknya, mau pacaran.”
Ajisaka hanya ber-oh ria.
“Yaudah gue duluan ya, bye Aji. BYE JINGGAA!” seru Anya sambil melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah.
Jingga yang dipanggil oleh Anya tersebut langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphone miliknya.
“Dadah, Anya!” seru gadis itu lalu kembali memainkan handphonenya.
Sedangkan Ajisaka membuka layar laptopnya dan kembali fokus membuka VS Code, mengerjakan tugas pemrograman yang progresnya sudah 70%.
Waktu berlalu dengan cepat, jam reservasi untuk rapat sudah lewat sehingga para pengunjung cafe mulai mengisi meja-meja yang kosong di lantai 2. Sudah 1 jam Ajisaka berkutat sengan tugas pemrogramannya, ia pun meregangkan badannya yang terasa pegal.
Ajisaka menarik lengan sweatshirt abu-abunya hingga siku sebelum akhirnya beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju lantai bawah, hendak memesan minuman yang baru.
Ia kembali ke lantai 2 dengan membawa gelas berisi strawberry milkshake di tangan kanannya. Sebelum ia kembali duduk, ia melihat Jingga yang masih berada di sana.
Ajisaka menyernyitkan dahi.
Bukannya tadi dia mau dijemput cowoknya? Kok masih di sini? batin Ajisaka sambil memandang gadis yang masih memainkan handphonenya.
Ajisaka mengangkat bahunya, enggan untuk melanjutkan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan agenda mengerjakan tugasnya yang sedikit lagi selesai.
Setengah jam berlalu dengan Ajisaka yang berhasil menyelesaikan tugas pemrogramannya. Lelaki itu menghela napas kasar sambil menutup laptopnya.
Pandangannya beralih ke pojok ruangan. Matanya melebar saat ia mendapati Jingga masih berada di sana, setia duduk sambil memainkan handphone-nya. Entah apa yang gadis itu buka sampai-sampai matanya tahan memainkan handphone dari ia mulai mengerjakan TP hingga sekarang TP tersebut sudah selesai.
Setelah merapihkan barang bawaannya, Ajisaka beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri Jingga.
“Oy, Jingga,” panggilnya setelah ia berdiri di depan meja yang sedang ditempati Jingga.
Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya kenapa ia dipanggil.
“Lo gak pulang? Udah satu setengah jam rapatnya kelar. Cowok lo belom jemput?” tanya Ajisaka.
Jingga menyernyitkan dahi, “kok lo tau cowok gue mau jemput?”
“Anya tadi bilang pas gue nanya lo kok gak pulang bareng dia.”
Jingga hanya menganggukkan kepalanya.
“Beneran belom dijemput? Emang janjiannya jam berapa?” tanya Ajisaka lagi.
Jingga memandang Ajisaka yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan heran. Ia heran kenapa cowok ini kepo banget sama urusannya?
“Iya belom.”
“Udah ditanyain posisinya udah sampe mana?“
“Udah tapi belom dijawab.”
“Telfon aja lah,” ucap Ajisaka yang membuat ekspresi wajah Jingga menjadi jutek.
“Kok lo ngurusin banget deh kayaknya? Kenapa? Lo mau nganterin gue pulang kalo gue belom dijemput-jemput cowok gue?” tanya Jingga dengan nada sewot.
Anjir kepedean banget nih cewek batin Ajisaka.
“Yaaa nanya aja. Lagian udah jam segini cowok lu kemana sih? Lama banget. Boong kali tuh dia lagi jalan sama ceweknya yang lain.”
Ucapan Ajisaka membuat Jingga berdiri, “maksud lo apaan anjir ngomong kayak gitu? Ngerasa paling tau soal cowok gue?” ucap Jingga dengan suara lumayan keras sehingga seisi lantai 2 menengok ke arah mereka berdua yang kini berhadapan satu sama lain.
Mata Ajisaka melebar. Ia cukup kaget melihat reaksi Jingga yang di luar dugaannya. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan gadis itu dengan kata-katanya. Ajisaka hanya heran kenapa pacar Jingga ini belum menjemputnya hingga sekarang. Ditambah lagi pacarnya belum memberikan kabar kepada Jingga sedangkan hari sudah malam. Ia sebenarnya tadi berniat ingin pulang tetapi melihat Jingga masih setia menunggu pacarnya yang tak kunjung datang, Ajisaka memilih untuk menunggu hingga gadis itu dijemput oleh pacarnya.
“Eh, santai-santai. Duduk dulu, jangan emosi, tenang dulu,” ucap Ajisaka lalu mengajak Jingga untuk kembali duduk karena kini mereka berdua menjadi pusat perhatian.
“Sorry kalo kata-kata gue tadi ga enak didenger, tapi lo coba tanyain cowok lo lagi. Soalnya udah malem juga nih, kalo emang cowok lo gak bisa jemput, ya sesuai ucapan lo tadi, gue mau nawarin lo buat pulang bareng gue aja.”
Ting
Bunyi notifikasi membuat pandangan keduanya beralih ke handphone Jingga yang berada di atas meja. Gadis itu pun buru-buru membuka roomchat dengan pacarnya.
Dimas <3 Jingga sayang, aku kayaknya ga bisa jemput kamu deh. Dari tadi sore ada urusan mendadak, baru selesai sekarang. Kamu langsung ke GI aja gapapa kan? Maaf banget ya sayang :(
Jingga mencebikkan bibirnya saat membaca pesan dari sang pacar.
Jingga oke dehhh, aku otw ke sana. kamu udah otw juga kann?
Dimas <3 Iyaa, ini lagi di jalan.
Jingga Okeeeyy 💖
Pandangannya lalu beralih kepada Ajisaka yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya. Jingga pun mengangkat handphone-nya dan menunjukkan chat dengan sang pacar ke depan wajah Ajisaka.
“Nih, udah nih cowok gue udah ada kabar.”
Mata Ajisaka dengan jeli membaca isi chatnya sebelum akhirnya menaikkan alisnya, “oohhh udah ada kabar nih. Mau nebeng ga? Lo mau ke GI kan?”
Tawaran Ajisaka membuatnya berpikir, mempertimbangkannya.
Setelah beberapa saat ia menimbang-nimbang, ia berdiri sambil membawa tasnya, “ya udah ayo. Gue nebeng.”
Persetan dengan namanya gengsi, tawaran tumpangan gratis seperti ini harus ia manfaatkan daripada ia harus membuang duit memesan taksi online.
Tidak ada pembicaraan selama Ajisaka dan Jingga berada di mobil. Hanya ada suara lagu dari playlist milik Ajisaka yang ia setel di speaker mobil.
Ajisaka dan Jingga memang tidak mengenal satu sama lain. Ajisaka baru kemarin tahu bahwa ada mahasiswa UI seangkatannya bernama Jingga yang ternyata merupakan temannya Anya. Sedangkan Jingga sebenarnya sudah lama mengetahui eksistensi Ajisaka. Ia tahu Ajisaka karena Anya sering mem-posting tentang teman-teman satu fakultasnya di story Instagram miliknya.
“Cowok lo udah sampe mana?” tanya Ajisaka.
Jingga melirik Ajisaka dengan pandangan jutek, “gak usah kepo.”
“Yeehh ditanya. Kalo masih lama, gue tungguin sampe cowok lo sampe nih.”
“Engga usah, lo turunin gue di lobby drop off aja,” jawab Jingga.
“Ya udah.”
Keadaan kembali hening. Mobil Ajisaka sudah melaju di sekitar bundaran HI yang berarti sebentar lagi mereka sampai di GI.
Ting
Suara notifikasi handphone Jingga terdengar.
Ting
Ting
Ting
“Eh itu hape lo bunyi mulu buset banyak banget notifnya. Artis ya lo—“
Ucapan Ajisaka terputus saat ia menengok ke arah kursi penumpang, Jingga sedang mematung dengan tangannya memegang handphonenya dan matanya yang berkaca-kaca melihat ke arah layar handphonenya.
“Jingga? Lo kenapa?” tanyanya sambil melihat Jingga dan jalanan depan secara bergantian.
Bukannya mendapat jawaban, ia malah mendengar suara isakan tangis dari Jingga yang membuat Ajisaka refleks menepikan mobilnya di pinggir jalan. Bodoamat dengan pak polisi yang bisa saja menilangnya, Ajisaka hanya ingin memastikan keadaan Jingga.
“Kenapa nangis woy? Jingga?” tanya Ajisaka masih memegang setir mobil, menatap Jingga dengan wajah panik.
Pandangannya beralih ke handphone Jingga yang terjatuh di pangkuan gadis tersebut. Dengan berhati-hati, ia mengambilnya dan melihat layar handphonenya, memperlihatkan isi roomchat group yang Ajisaka duga ini group perkumpulan teman-temannya Jingga.
Talitha JINGGA ANJING WOY WOYDIWNDK TEMENNYA GUE LIAT DIMAS DI GI SAMA CEWEK LAIN ANJINGGGGGG
Kaylee HAHH??? BUKANNYA JINGGA BILANG MAU KE GI SAMA DIMAS??? GIMANA SIH??? BOONG LO ANJIR ITU JINGGA KALI
Talitha SUMPAH BUKAN JINGGAAA
Sarah BOONG LO
Talitha GAK PERCAYAAN BANGET SIH nih gue kirim fotonya yg gue dapet /send a photo/
Kaylee WHAT THE FUCCKKK
“Anjing???”
Kata umpatan secara tiba-tiba keluar dari mulut Ajisaka setelah membaca isi chat tersebut. Lelaki itu lalu menengok ke arah Jingga, mengecek keadaan gadis itu yang justru tangisannya semakin keras. Sedari tadi Jingga menangis dengan kedua tangannya yang menutup wajah kecilnya.
“Shittt gua harus ngapain ya...” bisik Ajisaka dengan wajah panik.
Seumur hidupnya, ia baru dua kali melihat perempuan menangis di hadapannya. Pertama kali itu saat Aleysha menolaknya mentah-mentah sambil menangis. Yang kedua itu sekarang. Namun, situasi sekarang itu berbeda saat dia melihat Aleysha menangis. Kalau dulu Aleysha langsung pergi sambil menangis jadi ia tidak perlu menghadapinya, sekarang ia terjebak di satu mobil dengan Jingga sehingga ia tidak bisa kabur dari sana.
Ajisaka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Otaknya mendadak berhenti bekerja. Menenangkan perempuan yang menangis itu sudah masuk level tinggi bagi Ajisaka dalam menghadapi perempuan. Ia belum sampai di level itu.
“Jing!” panggil Ajisaka, “anjir aneh banget jing jing kayak manggil anjing tapi beneran jing aduhh jangan nangis dong…” ucap Ajisaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tenong neng (anjir ringtone iphone gmn sih)
Suara telfon dari handphoen Jingga. Ajisaka buru-buru mengangkatnya, bodoamat siapapun itu yang menelfon.
“Hal—“
“JINGGA LO GAPAPA?”
Ajisaka menjauhkan handphone itu dari telinganya sebentar, teriakan nyaring seorang perempuan di seberang sana bisa saja membuat gendang telinganya pecah.
“Halo?”
“LO SIAPA ANJIR KOK SUARA COWOK??? LO APAIN JINGGA?”
“eh enggaaa, gue ini panitia sama jingga. gue lagi nganterin dia ke GI tadi katanya janjian sama pacarnya di sana. Tapi ya gitu deh cowoknya…”
“oh…. lo udah tau juga ya. Terus jingga gimana?”
Ajisaka melirik Jingga sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari mobil supaya gadis itu tidak mendengar pembicaraannya.
“nah itu! dia lagi nangis ini gue gak tau harus apa.”
“Aduh nangis pula anjir.”
“lo mau ngomong sama dia?”
“Engga usah, percuma diajak ngomong ga akan didenger sama dia kalo nangis.”
“terus gimana anjir?” tanya Ajisaka dengan nada mulai khawatir sekaligus sedikit panik.
“Mmmmm gapapa nih lo mau bantu?”
“Iya lah gue bantu, nangisnya kan di mobil gue! Masa gue turunin dia di pinggir jalan?”
“Iya sih. Ya udah gini, gue minta tolong sama lo. Jingga itu kalo nangis suka ga bisa mikir otaknya, mau diajak ngomong kayak apapun juga ga bakal didenger. Makanya biasanya nunggu dia sampe tenang dulu baru dia bisa diajak ngomong.”
“Nah biar tenang tuh caranya gimana?”
“Dipeluk…”
“SINTING BANGET, TERUS GUA HARUS MELUK DIA GITU SEKARANG?”
“Iya…”
“ADUH EMANG GA ADA CARA LAIN?”
“Ya kalo mau, lo tunggu sampe dia tenang tapi dia nangis tuh biasanya bisa sampe sejam, belom lagi ini abis diselingkuhin, bisa berjam-jam. Makanya biar cepet tenang, dipeluk aja…”
“KALO GUE DIKIRA NGAPA-NGAPAIN DIA GIMANA?”
“Engga sumpah, dia entar juga lupa kalo lo meluk dia. kalo lagi nangis suka lupa ingatan.”
“GA MAU ANJIR!”
“DARIPADA LO NGANTER DIA PULANG DALAM KEADAAN DIA NANGIS? LEBIH DIKIRA NGAPA NGAPAIN??”
“iya juga sih…”
“Ya udah, tolong ya— eh nama lo siapa?”
“Ajisaka.”
“Oh iya ajisaka, tolong ya gue titip jingga. dia anaknya emang gitu kalo udah nangis suka susah ditenanginnya. Maaf kalo ngerepotin lo. Kalo dia udah tenang, suruh chat gue aja lagi.”
“iya, gapapa. ya udah gue matiin ya.”
Setelah panggilan terputus, Ajisaka kembali ke dalam mobil dan melihat Jingga masih menangis— oh ralat, semakin menangis. Lelaki bertubuh tinggi tersebut menyugar rambutnya ke belakang sebelum akhirnya menepuk pundak Jingga pelan.
“Jingga, udahan dong nangisnya. nanti bundaran HI banjir air mata lo, mau tanggung jawab jing nguras satu bunderan?”
“HUHUHUHUHU SURUH COWOK ANJING ITU AJA YANG NGURAS!”
“Waduh gue ga kenal itu cowok anjing lo itu. Susah mintanya, enakan juga udahan nangisnya biar gue ga usah ketemu dia, nanti mata lo bengkak.”
Tangisan Jingga semakin keras.
Ajisaka menghela napas kasar. Benar kata temannya tadi, Jingga ini memang susah untuk ditenangin dengan kata-kata kalau lagi nangis.
Tangan Ajisaka meraih jaket yang selalu ia taruh di kursi belakang mobilnya. Ia menutup kepala Jingga dengan jaket tersebut hingga dari kepala hingga pundaknya tertutup jaket.
“Gua mau peluk lo, jangan kaget.”
Dengan hati-hati, ia menarik Jingga mendekat ke arahnya. Ia merasakan tubuh Jingga menegang, mungkin terkejut atas aksinya sekarang. Ajisaka merengkuh tubuh mungil Jingga, menaruh kepala gadis tersebut di dadanya. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Jingga sedangkan tangan kirinya mengusap pelan kepalanya. Tangisan Jingga semakin keras setelah Ajisaka memeluknya.
“Kenceng banget nangis lo,” ucap Ajisaka terkekeh sambil menaruh dagunya di kepala Jingga masih dengan tangan kirinya yang menepuk masih mengusap pelan kepala Jingga.
“Iya deh gapapa nangis aja sepuas lo, gue temenin. nanti gue yang tanggung jawab nguras jalanannya kalo bunderan HI banjir air mata lo.”
Pada malam itu, dua hati yang retak bertemu untuk pertama kalinya.